Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Aku mau jujur



▪︎▪︎▪︎


"Aku,- terima kasih banyak Baby. Aku sangat mencintai mu." Bryan ikut mendudukkan tubuhnya, pria itu merengkuh tubuh Sesyil yang kini hanya berbalutkan selimut. Sesyil menyandarkan kepalanya tepat di dada Byan, mendapat kenyamanan disana perlahan wanita itu memejamkan mata karena sudah telalu mengantuk, dan itu terlihat jelas dari matanya yang berair juga dari acap kali ia menguap.


"Baby, aku mau jujur tentang sesuatu." Bryan berucap lirih sembari kedua tangannya semakin mengerutkan pelukan di tubuh sang istri.


"Heum.." terdengar sahutan dari Sesyil. Entah wanita itu sudah tertidur atau hanya sekedar kelelahan. Yang pasti, Bryan terus saja bercakap dengan hanya di dengar tanpa ada sahutan dari sang wanita.


"Sebenarnya,-"sekejap pria itu menghentikan kalimatnya lantaran mendengar dengkuran halus yang berasal dari bibir manis istrinya tercinta.


"Hah, dia sudah tertidur rupanya." Bryan bernafas berat. Rasanya beban itu semakin berat manakala ia belum jujur pada wanita yang di takdirkan menjadi jodohnya itu.


"Sudahlah. Sebaiknya, besok saja pagi aku jujur padanya." Bryan membaringkan tubuhnya, masih dengan posisi memeluk Sesyil tanpa mau repot memindahkan wanita itu. Toh biasanya mereka juga tidur sabtu berpelukan, hanya saja sekarang Sesyil setengah menindih tubuh tegapnya.


***


Paginya, rutinitas sepasang suami istri itu berjalan sebagaimana mestinya. Mulai dari Sesyil yang selalu susah membangunkan Bryan padahal pria itu sebenarnya sudah bangun, kemudian menyiapkan segala kebutuhan sang suami, juga sarapan bersama.


Tidak ada angin, tidak ada hujan tetiba saja suara asisten rumah tangga mereka berteriak memanggil Bryan. Pria itu saat ini, masih bersiap di kamar mereka. Sementara Sesyil, istrinya itu tentu saja menyiapkan sarapan untuknya.


"Ada apa Bi? Kenapa berteriak seperti itu pagi-pagi begini?" Bryan membuka pintu kamar dengan satu tangan berada di leher guna merapikan dasinya.


"Maaf Tuan. Itu, Nyonya jatuh pingsan di dapur." Reaksi Bryan, pria itu tanpa mau repot untuk bertanya, ia memilih berlari untuk menghampiri dan memastikan sendiri keadaan wanita yang sudah menjadi bagian dari hidupnya itu.


Baru mencapai dapur, kedua bola matanya membesar sempurna lantaran melihat sang istri berbaring tak sadarkan diri di atas dinginnya lantai dapur. Kembali berlari, Bryan merengkuh tubuh dengan wajah pucat itu dalam pangkuannya.


"Baby, kau kenapa? Bangunlah. Jangan menakuti ku." Seperti tertular, kini wajah Bryan pun sama pucatnya dengan sang istri.


"Tuan, sebaiknya Nyonya di bawa ke rumah sakit saja. Saya khawatir terhadap Nyonya." ucapan asisten rumah tangga yang akrab di panggil Bibi Wu, menyentak ketertegunan Bryan akan kondisi Sesyil.


Tidak perlu menyahuti saran dari wanita paruh baya itu, segera Bryan mengangkat istrinya ke dalam gendongan. Seperti halnya orang panik, Bryan berlari ke arah mobilnya. Namun sebelum itu ia mengajak Bibi Wu untuk ikut, karena kebetulan hari itu supir mereka sedang izin karena anaknya sakit.


"Bi, tolong jaga Sesyil di belakang. Jika dia di dudukkan di depan, takut tidak nyaman." Sambar Bryan sebelum wanita itu mencapai mobil.


"Baik Tuan." Bryan menunggu Bibi Wu masuk ywrlebih dahulu barulah ia menutup pintu mobil bagian belakang, untuk kemudian berlari memutari mobil menuju pintu tepat di mana posisi kemudi berada. Sebelum melajukan mobil, pria itu memastikan lebih dahulu posisi istrinya sudah nyaman atau belum. Kelegaan menerpa Bryan manakala ia melihat Bibi Wu memeluk kepala Sesyil diatas paha beliau.


***


"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" Tanya Bryan cepat. Ia kini tengah menggenggam tangan sang istri yang baru saja siuman dari pingsannya. Wajahnya mengeras karena belum mengetahui keadaan istrinya saat ini. Sementara Sesyil, wanita itu tersenyum. Ia sangat senang karena Bryan begitu perhatian terhadapnya, sehingga ia semakin mencintai pria itu.


"Sayang, tenanglah. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing dan mual saja." Bryan menoleh sekilas menatap sang istri, lalu kembali menatap Dokter yang tadi memberi pertolongan terhadap wanita yang dicintainya itu. Dokter yang di tatap begitu menundukkan kepalanya, ada rasa ketakutan menjalar di wajah Dokter muda itu.


"Sayangg," rengek Sesyil mencegah suaminya melototi Dokter, sembari mengguncang pelan lengan kokoh yang jemarinya masih setia menggenggam tangannya.


"Apa yang kau rasakan heum? Dimana yang sakit?" Bryan bertanya lembut. Sorot matanya menggambarkan kecemasan juga ketakutan.


"Tidak ada. Hanya pusing saja sayang. Mungkin masuk angin." Tangan Sesyil yang di pasang jarum infus ia angkat untuk balas menggenggam tangan besar Bryan. Ia menepuk pelan seperti mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.


"Kau tidak bekerja sayang?" Sesyil tersadar dengan pakaian yang saat ini melekat di tubuh sang suami, pakaian yang harusnya rapi itu kini sudah berantakan juga acak-acakan.


"…." Bryan menggeleng pelan sebagai bentuk jawabannya.


"Pas,-"


"Selamat siang Tuan, Nyonya, kami permisi untuk membawa Nyonya sebentar ke ruang Obgyn." Seorang perawat wanita datang menghampiri juga menginterupsi pembicaraan kecil mereka.


"Tempat apa itu? Ada apa dengan istri saya?" Tidak hanya Bryan, Sesyil pun sama reaksinya. Sebagai pengantin baru juga sama-sama hidup sebatang kara sebelumnya, membuat hal yang barusan di sampaikan perawat merupakan hal asing bagi mereka.


"Tidak apa-apa Tuan, Nyonya. Ini hanya periksaan biasa untuk memastikan jika Nyonya ha,-"


Drtt


Getar ponsel Bryan menyela penjelasan dari perawat barusan. Ia benda pipih itu dari saku celana bahannya, lalu di tempelkan ke telinganya.


"Pergilah dulu, nanti akan saya susul. Katakan saja dimana letak ruangannya." Imbuh Bryan sebelum menyahuti suara dari seberang panggilan. Kemudian pria itu mengecup sekilas kening sang istri sebelum Sesyil di pindahkan ke kursi roda untuk di bawa pergi.


***


Tidak begitu sulit untuk Bryan menemukan ruangan Obgyn yang di maksudkan perawat tadi lantaran ia meminta bantuan salah satu petugas kebersihan yang tidak sengaja ia temui. Selain itu, ia juga bisa melihat Bibi Wu menunggu di depan ruangan itu.


"Dimana Sesyil Bi?"


"Masih di dalam Tuan. Sebaiknya Tuan temani." Seru Bibi Wu dengan senyum penuh arti.


Singkatnya, usai melakukan dan melihat serangkain pemeriksaan. Dokter menyampaikan hasil yang cukup mengejutkan bagi mereka berdua.


"Apa Dokter? Istri saya hamil?" Sentak Bryan dengan wajah terkejut. Untuk ukuran kabar bahagia, reaksi Bryan di luar dugaan orang yang melihatnya.


"Iya Tuan. Selamat Tuan, Nyonya, tidak lama lagi kalian akan menjadi orang tua." Imbuh Dokter wanita tersebut dengan wajah menahan tawa.


"B-Bry,-" Sesyil takut melihat reaksi suaminya, pikirannya buruk jikalau sang suami tidak menginginkan kehamilannya ini.


Bruk


***