Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Keras kepala



▪︎▪︎▪︎


Bryan kembali ke rumah dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan. Ia tidak menyangka jikalau Papi, akan berlutut memohon maaf padanya.


Flashback


"Tidak Bry. Paman bersalah. Paman mohon maafkan Paman, meski setelah ini kau akan tetap membenci Paman." Papi mendongakkan kepalanya menatap Bryan. Mata yang mulai redup penerangannya itu tampak memerah dan sedetik kemudian setetes cairan bening mengalir dari salah satu sudut mata beliau.


Mau tidak mau, Bryan mensejajarkan tubuh mereka dengan bertumpu pada kedua lututnya. Ia kembali merengkuh kedua pundak Papi, pun sorot matanya menatap dalam kedua iris pria sepuh itu.


"Tidak Paman. Saya tidak akan membenci Paman. Kecewa itu memang ada, hanya saja tidak sampai tahap saya membenci Paman." Imbuh Bryan, suaranya melunak menandakan emosinya telah kembali stabil.


Bryan membantu Papi berdiri, kemudian menuntun beliau untuk duduk di sofa panjang di kamar tersebut. Tidak sampai di situ, Bryan juga menuangkan air ke dalam gelas kosong yang tersedia di atas meja tidak jauh dari sana. Di sodorkan gelas yang telah terisi air tersebut pada Papi, agar pria itu sedikit lebih tenang setelah minum.


"Ini, sebaiknya Paman minum dulu agar lebih tenang." Di saat seperti ini, kemarahan Bryan menguar entah kemana.


"Bry, Paman mohon maafkan ke salahan Paman. Paman juga berjanji tidak akan lagi mengulanginya." Usai minum, Bryan membantu Papi dengan kembali meletakkan gelas yang isinya masih tersisa setengah itu ke atas meja.


"Saya maafkan Paman."


"Satu lagi. Paman mohon jangan pergi Bry, siapa yang akan membantu Zach jika kau benar-benar pergi?" Ujar Papi sendu.


"Maaf Paman. Jika untuk memaafkan, maka saya akan memaafkan Paman. Namun kecewa itu tetap ada, biar bagaimana pun keputusan yang sudah di ambil tidak bisa di batalkan lagi." Tukas Bryan. Kalimat yang tidak terlalu panjang itu sontak membuat Papi terhenyak. Beliau kehabisan kata-kata untuk membujuk Bryan.


"Tapi Bry,-"


"Maaf Paman, tapi saya harus pergi." Bryan berdiri dari duduknya, ia melangkah menjauh dari sana menuju pintu.


"…." Papi hanya bisa menatap punggung Bryan yang semakin lama semakin hilang tertelan daun pintu.


Flashback Off


Sebelum sampai di depan pintu utama, Bryan memasang senyum. Ia tidak mau jika istrinya tau bahwasanya ia baru saja memdatangi Papi hingga menyebabkan pria sepuh itu harus berlutut di kakinya.


"Baby, aku pulang." Teriak Bryan memberitahukan kedatangannya di rumah.


"Baby," tidak mendapati sahutan, Bryan kembali memanggil sang istri.


"Se. Sesyil." Bryan sedikit meninggikan suaranya. Kali ini ia memanggil dengan menyebut nama wanita yang telah menjadi teman hidupnya itu.


"Shitt!" Kata berupa umpatan itu lolos begitu saja dari bibirnya.


***


Bryan memasuki kamar yang mereka tempati. Di sana ia melihat dua tiga koper besar dan beberapa box dari ukuran kecil hingga menengah. Sementara, di atas ranjang tampak Sesyil tertidur dengan nyamannya sembari memeluk guling.


"Astaga. Sudah di katakan untuk tidak menyusun semua sendiri, tapi dia malah mengerjakan semuanya. Dasar, keras kepala." Meski kesal, senyum tetap menghiasi wajah Bryan manakala mendapati wanita yang di cintainya itu tertidur sebab kelelahan mengerjakan semua yang ia larang.


Ya, mereka telah memutuskan untuk pergi dan memulai hidup bari di suatu tempat.


Flashback


Setelah percakapan mereka hari itu, Bryan mengambil keputusan untuk meninggalkan semua titipan Zach dan memilih hidup sederhana bersama sang istri. Apalah artinya hidup bergelimpangan harta, tapi kehilangan orang yang dicintai.


"Kemana kita akan pergi Bry? Bahkan kita saja tidak memiliki sanak saudara." Ujar Sesyil lesu.


"Ke suatu tempat. Mungkin benar kita tidak memiliki sanak saudara, namun kita masih bisa menemukan teman dan saudara di luaran sana." Jelas Bryan yang memeluk sang istri, sebelah tangannya mengusap lembut naik turun panggung Sesyil dan sesekali mengecup pucuk kepalanya.


"Besok malam." Jawab Bryan pelan masih dengan kegiatan sama.


"Kenapa harus malam?" Pertanyaan tiada habisnya terlontar dari bibir yang masih pucat milik Sesyil.


"Karena,- Baby, sebaiknya kita istirahat saja. Aku mulai lelah." Rengek Bryan membawa Sesyil berbasing disisinya dengan berbantalakan lengan kekar pria itu.


Pagi menyongsong, Bryan bersiap hendak keluar rumah. Ia tidak mengatakan pada Sesyil jikalau ia akan menemui Papi, karena wanita itu pasti akan melarangnya sebab tidak mau muncul lebih banyak masalah lain.


"Baby, aku ke luar sebentar. Tunggu aku dan jangan mengerjakan sesuatu yang berat." Ingat pria itu ke Sesyil. Dokter berpesan, agar istrinya itu jangan dulu melakukan pekerjaan berat karena bisa saja kembali mengalami pendarahan karena belum sepenuhnya pulih.


"Baiklah."


Flashback Off


"Dia benar-benar tidak mendengarkan perkataan ku. Lihatlah, dia membereskan semuanya sendiri, bahkan sampai tertidur dan tidak menyadari kedatangan suaminya." Cibir Bryan, ia melangkahkan kakinya mendekati sang istri. Ia duduk dengan pelan di tepi ranjang karena tidak ingin jika wanitanya akan terganggu tidurnya.


Bryan merapikan anak rambut yang menerpa wajah Sesyil. Tidak lama ia pun ikut membaringkan tubuhnya hingga akhirnya ikut terlelap.


***


Flashback


"Maafkan aku Bry." Setetes air mata kembali jatuh hingga menimpa foto tersebut.


"Semoga keutusan ku kali ini tepat dan ku harap tidak menyakiti siapapun. Maafkan aku Chris, untuk kali ini aku tidak akan mengalah. Sudah cukup sekali aku meninggalkan Bryan, tidak akan untuk kedua kalinya.


Ya, Sesyil menarik kata-katanya yang akan melepaskan Bryan. Atas semua perkataak sang suami, ia tersadar bahwa sekaranglah saatnya dia untuk memperjuangan prianya, miliknya, suaminya.


Wanita itu berjanji pada dirinya sendiri, apapun yang akan terjadi dia tidak akan pernah lagi meninggalkan Bryan.


Flashback off


Malam harinya, seperti ucapan Bryan kemarin. Mereka berangkat ke sebuah kota terpencil dimana Zach maupun Felix tidak akan dapat melacaknya. Dan sesuai ucapannya pada Papi, dia meninggalkan segala fasilitas yang selama ini telah ia nikmati. Maka dari itu mereka pergi dengan menaiki kendaraan umum serta diikuti sebuah mobil box ukuran sedang yang berisikan beberapa keperluan mereka.


"Kau benar tidak apa-apa sayang?" Sesyil memastikam keadaan sang suami.


"…" seulas senyum terbit di wajahnya sebagai jawaban. Namun jauh di lubuk hati kecilnya, jujur saja Bryan berat melepas semua ini. Bukan karena sudah terbiasa hidup mewah dan serba ada, namun karena merasa bersalah telah meninggalkan kepercayaan yang telah Zach limpahkan pada dirinya.


Mereka tidak hanya pergi berdua, namun juga membawa serta Bibi Wu. Mereka sudah menganggap wanita itu sebagai sosok Ibu maka dari itu mereka membawanya.


Entah akan apa jadinya masa depan mereka kelak, yang pasti Bryan sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Sudah ada rumah dan usaha kecil-kecilan yang akan mereka rintis dari awal.


▪︎▪︎▪︎


Hayoo, siapa yang nebak kalo Sesyil bakal ninggalin Bryan..


Jangan lupa dukungannya ya teman-teman semua…


Mampir juga ke profil saya, siapa tau ada yang bakal buat kalian tertarik..


TERIMA KASIH


Salanghaeo…