Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Bryan dan Sesyil



▪︎▪︎▪︎▪︎


"Tapi semakin hari semakin berat rasanya. Semakin lama Celo hamil semakin besar rasa takut akan kehilangan Mas Zach."


"Bersabarlah."


Sementara di luar ruangan Zach yang sudah sedari tadi datang hanya mendengarkan curahan hati istrinya.


"Sayang, Mas tidak pernah mendesak agar kau segera hamil. Ketakutan mu tidak lah beralasan, sampai kapan pun Mas tidak akan meninggalkan mu." Janji Zach pada dirinya sendiri.


Tak mau membuat istrinya terkejut dan juga malu, Zach memutuskan kembali keluar untuk menunggu di mobil. Ia menghubungi Celo seakan dia benar-bener baru sampai.


Tut


"Ya Mas." Saut wanitanya dari seberang sana.


"Sayang, Mas sudah didepan." Ujarnya usai menetralkan nada suaranya.


"Didepan? Loh, Mas tidak masuk?" Herannya.


"Jadi istri Mas mau di jemput ke dalam? Oke, Mas ke dalam sekarang." Berhasil lah Zach menutupi apa yang ia dengar tadi.


"Bukan begitu Mas." Sanggah Celo cepat.


"Tidak apa-apa kok sayang. Sebentar, Mas ke dalam." Ia memutus panggilan mereka lalu masuk ke dalam toko milik istrinya.


Zach tak pernah main-main dengan ucapannya, jika iya itu pasti ya jika tidak makan tidak. Se per sekian detik saja ia sudah berdiri di pintu ruangan istrinya itu.


"Mas.." sapa Celo begitu juga Sesyil ia memberikan senyumnya menyapa suami Bos nya.


"Ayo kita pulang."


"Ayo. Nona Sesyil, ikut kami saja. Rumah kita searah bukan." Ajak Celo pada karyawannya itu.


"Terima kasih Miss, tapi saya bisa pulang dengan bus." Tolaknya sopan.


"Tidak apa Nona, jika satu arah apa masalahnya." Kali ini Zach yang bicara.


"Mmm….baiklah." dengan sedikit segan, ia akhirnya menerima tawaran Bos dan suaminya itu.


Selama di perjalanan, Zach terus saja memperhatikan istrinya melalui spion depan yang tengah asyik bercengkrama dengan Sesyil. Ya, istrinya itu memutuskan duduk dibelakang bersama Sesyil, alhasil sekarang Zach menjadi seorang supir.


Drtt


"Ya Bi, ada apa?" Saut Zach begitu menerima panggilan yang berasal dari rumahnya.


"Tuan, Nona Chris di bawa ke rumah sakit oleh tuan Bryan." Jawab Bibi dengan nada tergesa-gesa di seberang.


"Baiklah, saya dan Celo segera kesana." Zach memutus sambungannya.


"Kenapa Mas?" Celo yang penasaran pun menanyakannya.


"Chris dibawa Bryan ke rumah sakit."


"Apa Mas?" Celo panik seketika.


"Tenang sayang, kita ke rumah sakit sekarang."


^^^


"Bryan…." Panggil Zach dari arah ujung lorong diikuti Celo disampingnya.


"Aishh…kenapa baru datang sekarang?" Saut Bryan kesal.


"Kau pikir dari toko ke mari dekat hah!" Jika Bryan kesal maka Zach sedang marah sekarang.


"Sorry…" mimik muka Bryan berubah jadi cengiran tak bersalah.


"Kenapa dengan kak Chris Bry? Dia baik-baik saja kan?" Menengahi situasi antara suaminya dan Bryan, Celo buka suara.


"Mm..ituu…maaf Zach, Celo, tadi dia minta dibelikan makanan pedas. Karena sedang mengidam aku jadi kasihan makanya aku belikan." Bryan menjelaskan situasi saat itu.


"Kenapa malah di belikan Bry? Kak Chris tidak boleh makan makanan pedas, berbahaya." Bukannya Zach yang marah melainkan Celo.


"Sudahlah sayang, ini bukan sepenuhnya kesalahan Bryan. Sudah pasti anak keras kepala itu meminta pada Bi Welma, karena Bibi melarangnya jadilah ia merengek ke Bryan." Tentu saja Zach sudah sangat hapal akan watak adik satu-satunya itu.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" Lanjut Zach lagi.


"Tadi dokter bilang tidak apa-apa Zach. Hanya saja karena masih muda, jadi agak berpengaruh. Dia juga memakan semuanya makanan itu." Jelas Bryan.


"Syukurlah." Desah Celo lega.


"Dasar anak itu." Gumam Zach yang masih kesal.


"Bry, kau pulang lah. Antarkan Celo dan juga temannya." Suruh Zach.


"Oke." Sautnya dengan senang hati.


"Tapi kak Chris Mas?"


"Tidak apa, dia baik-baik saja. Mas mengurusi administrasinya dulu sebentar, setelah itu lansung pulang."


"Baiklah."


^^^


"Siap Nyonya. Hehe…"


Usai mengantar istri Bosnya ke rumah, Bryan melanjutkan perjalanan mengantar Sesyil.


"So, dimana rumah anda Nona manis?" Berbicara dengan Bryan harus punya banyak stock kesabaran extra. Tapi kali ini ia berbicara manis begitu penuh godaan ditambah wajahnya yang bisa kita sebut tampan.


"Nama saya Sesyil, bukan manis." Sesyil menatap horor kearah pria itu.


"Oke oke. Nona Sesyil yang manis, dimana rumah anda? Atau mau pulang ke tempat saya saja?" Benar-benar penuh godaan.


"Saya rasa anda harusnya tinggal di rumah sakit saja. Karena tingkat kewarasan anda sudah mulai berkurang Tuan." Celetuknya gemas juga geram.


"Gila karena love at first sight tak masalah Nona Sesyil yang manis."


"Dasar gila! Antar kan saya ke jalan xxxx." Titahnya tak mau tertular gila bersamaan dengan Bryan.


"Tuan, ini bukan jalan menuju ke rumah saya." saat mengetahui itu bukan jalan menuju rumahnya.


"Ya, saya tau Nona. Tenang saja, saya tidak berniat buruk kok." Timpal Bryan melihat air muka Sesyil yang cemas.


"Maaf." Sesyil sedikit merasa bersalah.


"Saya belum makan malam, mau kan menemani saya makan malam sebentar?" Entah apa ini, semacam ajakan atau tawaran. Hanya Bryan dan Tuhan yang tau.


"Mm…baiklah Tuan."


Mereka memutuskan makan malam di restoran seafood, rupanya mereka juga memiliki selera yang hampir sama. Selain itu mereka juga cepat akrab satu sama lain.


"Nona, kau mau berkencan dengan ku?" To the point, Bryan mengungkapkan keinginannya.


"Berkencan? Tapi kita baru saja berkenalan dan belum saling mengenal." Sesyil tidak menolak juga tidak menerima lansung.


"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita saling mengenal setelah kita berkencan." Bryan tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


"Apa? Anda sungguh pria menyebalkan Tuan!" Meski berkata demikian, tetap ia tersenyum pertanda ia menyukainya.


"Tersenyum. Saya anggap itu sebagai jawaban setuju." Senyum Bryan semakin lebar di buatnya.


"Hahh…jika anda terus memaksa." Tawa mereka pecah seketika.


"Baiklah, ayo kita pulang teman kencan." Ia mengulurkan tangannya untuk di genggam oleh Sesyil.


Malam membahagiakan untuk Bryan dan juga Sesyil tentunya. Terkadang cinta tak memandang berapa lama dan siapa itu. Cinta mengalir begitu saja seperti air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah.


^^^


Siang ini Chris sendirian di rumah sakit, karena pagi-pagi sekali Bi Welma yang diminta Kakaknya untuk menjaganya harus kembali ke rumah.


Sebenarnya Celo mau menemani adik iparnya itu, tapi Zach melarangnya dengan alasan bahwa istrinya itu tidak boleh terkena angin malam.


"Bosan sekali rasanya." Keluh Chris.


Tak berapa lama ia berkata begitu, seseorang masuk ke dalam ruangan rawatnya. Seseorang yang tak di duganya sama sekali.


"Melodi?" Seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Ya. Ini aku Chris, apa kabar? " Sahutnya dengan senyum yang sulit diartikan.


"Sedang apa kau disini hah! Pergi sana." Tanya nya penuh emosi.


"Tentu saja menjenguk adik ipar ku." Dengan penuh percaya dirinya ia menjawab pertanyaan Chris.


"Seenaknya kau bilang kakak ipar setelah apa yang sudah kau perbuat pada kakak ku! Dan lagi kakak ipar ku itu Celo." Chris seakan menantang Melodi.


"Ya, akak ipar yang tak memperdulikan mu. Di saat kau sakit begini ia malah asyik-asyiknya menggoda kakak mu." Bak kompor, Melodi memanas-manasi Chris.


"Tau apa kau hah! Pergi! Aku jijik melihat ja**ng seperti mu!" Sedari awal Chris memang tak pernah menyukai Melodi menjalin hubungan dengan kakaknya.


"Jika aku ja**ng, maka kau apa heh? Ja**ng kecil begitu!" Mereka bersitegang sekarang.


"Bre****k!! Keluar dari kamar ku!!" Teriak Chris.


"Tentu. Setelah kau mendengar tawaran ku." Seringai licik kembali menghiasi wajah menor mirip tante-tante peng**da.


▪︎▪︎▪︎▪︎


Maaf baru Up


Meski begitu tetap beri dukungannya ya teman-teman dengan LIKE & COMMENT


VOTE juga sangat mempengaruhi kapan Up nya…


TERIMA KASIH buat semua yang sudah sedia memberi dukungan dan Vote nya


***Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga di bulan penuh berkah ini di hapuskan segera Wabah COVID-19


Aamiin...🙏🙏🙏***