Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Ganti baju



●●●●


"Celo.." panggil Zach, namun tak ada respon sama sekali.


"Nona…Nona muda…" panggil Paman Sam.


"Ah, ya…yya Paman. Apa sudah samm- pai? Mass.." tersadar dari lamunan nya, Celo yang melihat Zach lansung saja berlari memeluk suaminya meski terlihat jelas bahwa ia kesulitan dan menahan sesuatu.


"Kenapa heum?" Tanya Zach seraya membalas pelukan istri kecil.


"Kenapa Mas tidak memberitahu Celo akan berangkat sepagi itu?"


"Maaf, aku tidak tega membangunkan mu, kau nampak sangat kelelahan dan juga tidur mu sangat pulas." Jelas Zach seraya mengecup pucuk kepala Celo.


"Celo takut Mas. Celo pikir setelah semalam, Mas akan membuang Celo." Ucapnya jujur lalu menoleh menatap Zach.


"Bodoh. Kita hanya berpisah sementara, akan ku usahakan agar kau cepat menyusul ke sana." Tiba-tiba saja Celo merasa malu akan kelakuan bodohnya.


"Maaf Mas." Sesalnya dan semakin mempererat pelukannya.


"Tunggu, apa kau belum sarapan?" Celo hanya menggelengkan kepalanya.


Zach melepas pelukannya agar leluasa memandang wajah wanitanya.


"Mandi?" Lagi, ia cuma menggeleng.


"Pantas saja." Zach melepas kemeja denim yang dikenakannya lalu membungkus tubuh mungil istrinya. Ya, saat ini Celo masih menggunakan gaun tidur berbahan sutra. Memang tidak tembus pandang, namun cukup untuk membangkitkan hasrat lelaki karena membentuk lekukan tubuhnya.


"Lain kali, ganti baju dulu." Bisik Zach, usai memakai kan kemejanya di tubuh sang istri yang hasilnya sangat kebesaran.


"Maaf Mas." Celo menunduk malu.


"Heii…aku hanya tidak mau semua orang menatap istri ku." Perkataan kecil Zach yang seperti itu sukses membuat Celo blushing.


Tak hanya itu, Zach juga membawanya dalam lagi kedalam pelukannya.


"Kita hanya berpisah sebentar, jangan khawatirkan apapun. Ingat sekarang kita sudah terikat lahir maupun batin, jadi jangan cemaskan apapun lagi. Kau milik ku dan selamanya akan begitu, mengerti." Jelas Zach masih dalam posisi saling berpelukan.


Sebagian orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka. Banyak dari mereka yang menilai mereka pasangan romatis dan tak sedikit pula mereka menilai Zach dan Celo sepasang adik kakak. Ya, karena di lihat dari segi manapun Celo sangat jauh lebih kecil dari Zach baik umur dan ukuran tubuhnya.


"Apa yang semalam masih sakit?" Bisik Zach. Pertanyaan yang membuat Celo semakin memerah saja, sehingga ia hanya mampu menjawabnya dengan gerakan pelan saja menggelengkan kepalanya.


"Maaf. " Ucap Zach merasa bersalah dan kasihan akan istrinya.


"Tidak apa-apa Mas, hanya ngilu sedikit saja." Gadis yang sudah menjadi wanita itu berujar seraya membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Sebaiknya kau pulang sekarang, mandi dan sarapan. Ini sudah hampir siang, sebentar lagi pesawatnya juga akan berangkat." Zach melepas pelukan mereka, dan menangkup kedua sisi wajah istrinya.


"…." Dengan ke terdiaman Celo membuat Zach gemas dan memberi kecupan singkat di bibir istrinya.


"Paman Sam, bawa Celo pulang dengan selamat." Titah Zach pada supir kepercayaan Papi nya.


"Baik Tuan muda." Saut Paman Sam.


"Sana pulang. Nanti setelah sampai disana akan aku kabari." Zach meyakinkan istrinya untuk pulang.


Perlahan Celo menjauh dengan berat hati berpisah dari suami yang dicintainya. Baru beberapa meter berjalan terdengar suara suaminya bersorak.


"Celo, sebenarnya Mas sudah mulai membuka hati untuk mu." Ungkapan Zach berhasil membuat Celo menegang, ia senang akan ungkapan itu, dan juga suaminya itu tak lagi memanggil aku dan kau melainkan dia memanggil Mas pada dirinya sendiri mengikuti istrinya.


Celo berbalik dan tersenyum, namun enggan untuk berbalik mengejar suaminya karena itu hanya akan semakin terasa berat baginya.


••••


"Mi, sabar kenapa sih. Memang apa yang Mami cemaskan?" Papi heran akan sikap aneh istrinya.


.


"Papi ini bagaimana sih? Apa Papi tidak lihat pakaian menantu kita, karena terlalu takut kehilangan anak nakal itu dia sampai lupa bahwa belum ganti baju bahkan mandi juga." Kesal Mami.


"Ya udah lah Mi. Mami lihat saja nanti, apa yang akan dilakukan anak nakal itu." Ucap Papi dengan mata yang tak lepas dari koran paginya.


"Aishh…anak dan Papi sama saja sama-sama nyebelin. Semoga nanti Celo bisa kuat seperti Mami menghadapi Zach." Mami terus saja mengomel san menggerutu tidak jelas.


"Heh..bukannya selama ini kami yang kuat menghadapi Mami." Bisik Papi pelan, bisa bahaya jika istrinya mendengar.


"Papi bilang apa?" Seperti mendengar bisikan suaminya, Mami seketika menoleh dan membuat Papi salah tingkah.


"Siapa yang bicara. Orang Papi lagi baca koran ini." Yes, alasan yang tepat dipilih Papi.


••••


Malam ini, malam pertama Celo tidur sendiri. Sebenarnya sedari dulu Celo memang selalu tidur sendiri, namun semenjak menikah dengan Zach ia jadi ketergantungan akan pelukan suaminya itu.


Drtt drrt


Baru saja akan merebahkan tubuh diatas ranjang untuk tidur. Celo merasakan ponselnya bergetar, tapi bukan panggilan suara melainkan panggilan video.


"Mas Zach…" Celo kegirangan jadinya.


Celo me-swipe ke kanan icon berwarna hijau dilayar ponselnya. Kemudian terpampang lah wajah lelah suaminya tapi tetap tak mengurangi kadar ketampanan nya.


"Haii…" sapa Zach dari seberang sana.


"Mas.. Mas sudah sampai disana?" Itulah pertanyaan pertama yang keluar dari bibir tipisnya. Dalam hati ia merutuki diri sendiri "tentu saja sudah sampai Celo bodoh, ini saja sudah jam berapa?" Begitulah suara ejekan dirinya sendiri.


"Sudah dari tadi sebenarnya, maaf baru menghubungi mu sekarang. Tadi Mas lansung ke kantor ada masalah disana." Ujar Zach dengan wajah lelahnya.


"Gak apa-apa Mas, Mas sudah makan?" Zach hanya menjawab dengan anggukan kecil. Tatapan matanya beralih celingak celinguk memperhatikan sesuatu.


"Ada apa Mas? Apa ada hantu di kamar ini?" Celo juga ikut menatap sekeliling dengan tatapan horor.


"Hahahaaa…" Zach menertawakan istrinya yang menurutnya itu lucu.


"Bukan itu, Mas cuma mau lihat kamu pakai baju apa?" Lanjut Zach. Saat Celo melihat sekitar tadi, kesempatan Zach mencuri pandang pakaian apa yang dikenakan istrinya itu.


Seperti dugaannya, Celo memang memakai gaun tidur seperti saat di airport tadi. Karena memang sudah kebiasaannya berpakaian begitu saat tidur mungkin karena nyaman.


"Memang kenapa Mas?" Lagi Celo bertanya dengan polosnya.


"Tidak apa-apa. Tapi jangan memakai gaun malam saat Mas tidak dirumah? Mas tidak mau ada orang lain lagi yang melihatnya." Imbuh Zach seraya melontarkan alasannya.


"Maaf Mas, akan Celo ganti." Saat akan beranjak, terdengar suara suaminya dari seberang.


"Jangan. Tidak usah maksudnya, sekarang kan hanya Mas yang lihat. Tapi kalau besok jangan dipakai lagi." Suaminya itu mengutarakan ketidak sukaan nya.


"Baiklah Mas." Ujar Celo patuh.


"Sudah, tidur sana. Sudah malam juga." Suruh Zach.


"Ya. Mas juga ya."


"Mmm…" pasangan suami istri baru itu saling melambai sebelum akhirnya memutus sambungan panggilan.


●●●●