Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Menceritakan kisah cinta



■■■■


Sepeninggal Celo, Zach benar-benar berpikir bagaimana gadis itu menjalani hidupnya selama ini? Ini semua benar-benar diluar dugaannya. Apa ia sudah salah besar melibatkan dan memerangkap gadis polos itu dalan hidupnya yang penuh dengan hiruk pikuk.


°°°°


Siapa yang menghidupi mereka selama ini? Lalu jika ayahnya sudah lama sakit, berarti selama itu pulalah gadis ini yang menjadi tulang punggung keluarganya. Entah kenapa Zach menerka-nerka kehidupan Celo jauh kebelakang.


Sementara Celo dikamar ayahnya, setelah memastikan ayahnya minum obat ia coba menarik neneknya kesudut lain. Ia tak ingin jika ayahnya mendengar dan tau akan hal ini.


"Nek ada yang mau Celo dan mas Zach bicarakan, nenek maukan ikut sebentar?" Ucap Celo pada neneknya dengan sedikit memelas bercampur kecemasan.


"Bicara apa nak?"


"Nenek ikut Celo kedepan ya…"


"Baiklah sayang."


Mereka segera kedepan menghampiri Zach yang tengah menunggu diluar, nampak disana ia sedang duduk dengan melipat satu kakinya kelutut sebelahnya.


Zach melihat kedatangan Celo dengan menggandeng neneknya. Disana perasaan Zach campur aduk antara melanjutkan atau ia sudahi disini. Namun bayangan akan maminya yang sangat bahagia begitu mengetahui bahwa Celo yang akan menjadi ganti calon istrinya Zach membulatkan tekadnya.


"Mm…apa yang mau kalian bicarakan? Kenapa terlihat sangat serius begitu? Dan siapa sebenarnya anak ini?" Nenek bertanya pada mereka lalu mengarah pada Zach.


"Mm…ini…ini mas Zach, mm..di-dddia-…" Celo tergagap menjelaskannya seperti apa.


"Selamat pagi nek. Saya Zachery, maaf jika kedatangan saya pagi-pagi begini mengganggu kenyamanan nenek." Zach memperkenalkan diri seraya menyalami nenek, semua perlakuannya tampak sangat alami tanpa kesan bersandiwara.


"Iya nak tak apa-apa. Hanya saja nenek merasa ada hal penting yang akan kalian sampaikan, benar begitu." Tentu saja sebagai seorang nenek beliau telah hidup begitu lama dan sangat mengerti akan gerak-gerik seseorang terlebih lagi cucunya.


Zach menatapa Celo seolah memberitaukan "biar aku saja" dalam tatapan matanya.


"Begini nek, Zach datang pagi-pagi begini hanya untuk memberitaukan bahwa nanti malam kedua orangtua Zach akan mengunjungi nenek dan ayah. Kami, mm.. Zach akan melamar Celo." Ia menjelaskan tanpa rasa gugup sedikitpun, banding terbalik dengan Celo tangannya sudah basah dengan keringat dingin.


"Melamar. Tapi seingat nenek Celo belum pernah berkencan dengan siapapun. Apa kau berbohong selama ini nak?" Nenek bertanya pada cucunya karena tak mungkin jika Celo berbohong.


"Mm…sebenarnya. Mm.." melihat kegugupan Celo, Zach mengambil alih jawabannya.


"Kami memang tidak sedang berkencan nek." Jawab Zach.


Tentu saja dengan ucapan tersebut nenek dan cucu itu serempak menatap kearah Zach.


"Sebenarnya apa maksud mas Zach ini?" Celo jadi semakin bingung.


"Begini nek, kami memang tidak sedang berkencan tapi Zach sudah lama mengamati dan menyukai Celo jauh sebelum Zach keluar negeri. Sekembalinya Zach dari luar, Zach kembali bertemu dengan Celo, ya meski dalam sebuah kecelakaan kecil. Disana Zach tau bahwa Celo belum punya kekasih, maka lansung saja Zach putuskan untuk menikahi Celo secepatnya. Nenek tau sendiri bukan, cucu nenek ini sangat cantik pasti sangat banyak pria diluar sana yang menginginkannya." Zach menceritakan kisah cintanya dan Celo yang sesungguhnya tidaklah ada, ingin rasanya Celo memberi tepuk tangan meriah atas kelancaran acting calon suaminya itu.


"Benar begitu nak?" Nenek rasanya masih belum percaya akan cerita calon cucu menantunya begitu saja.


"Iya nek. Mas Zach benar." Celo berucap, namun sebelumnya dia mati-matian menormalkan detak jantungnya.


"Lalu apa kau juga mencintainya?" Lagi, nenek mengajukan pertanyaan tak terduga.


Zach yang melihat ketidak yakinan nenek menggenggam tangan Celo, tentu saja yang digenggam tangannya terkejut. Celo menoleh kearah Zach dan seketika itu mereka beradu pandang.


Celo yang merasa gugup mengalihkan padangannya sesegera mungkin, jantungnya terasa mau lepas dari rongganya dan serasa ada kupu-kupu berterbangan diperutnya.


"Ya nek. Celo sangat mencintai mas Zach." Celo mengatakannya dengan sangat lancar seakan itu datang dari hati terdalamnya.


"Baiklah. Maaf jika nenek terkesan memojokkan kalian, nenek hanya ingin tau berapa besar cinta antara kalian hehehe…"


Nenek tertawa melihat ketegangan diwajah cucu dan calon cucunya.


"Baiklah nak Zach, katakan pada orangtuamu kami akan dengan senang hati menyambut kalian."


"Ya nek. Terimakasih." Zach memeluk nenek Celo, mereka benar-benar seperti akan menikah karena cinta dan sangat bahagia bukan.


Zach dan Celo berpamitan karena Celo juga akan berangkat ke toko bunga sementara Zach juga akan kekantor.


°°°°


"Terimakasih mas." Kini Zach dan Calo sedang berjalan beriringan kearah toko bunga karena mobil Zach juga ia titip disana tadi.


"Mm??"


"Untuk meyakinkan nenek tadi." Ucap Celo.


"Ini menguntungkanku juga jadi jangan sungkan. Ahh satu lagi untuk masalah cantik, itu memang benar kau cantik nona." Lagi Zach berhasil membuat Celo merona.


"Tter-terimakassih."


Sesampainya ditoko bunga mereka memisahkan diri Celo bekerja dan Zach segera pergi kekantornya karena ia ada meeting segera.


°°°°


Dirumah Celo, nenek coba mengatakan hal baik kepada anaknya ayah Celo.


"Will, ibu mau menyampaikan suatu hal baik padamu."


"…." Ayah Celo menjawab dengan senyumnya.


"Kau tau, putri kecilmu putri kecil kalian dia sudah menemukan pria yang sangat mencintainya. Baru saja anak muda itu mendatangi ibu dan nanti malam keluarga mereka akan kemari." nenek menceritakan perihal kedatangan Zach tadi.


"…." Tanpa menjawab ayah Celo menitikkan air matanya.


"Kau kenapa Will?? Kenapa sedih? Apa kau tak setuju nak?"


"…." Beliau menggelengkan kepalanya. Agar ibunya tak bingung ayah Celo menuliskan sesuatu dikertas. Meski struk beliau masih bisa menggerakkan tangan dan kepala karena itu beliau hanya berada diranjang dan kursi roda.


"Tidak ibu, will sangat bahagia mendengarnya. Hanya saja apa mereka akan menerima Celo dan keadaan kita yang seperti ini?"


Begitulah tulisan tangan ayah Celo.


"Jangan khawatir nak. Anak muda itu nampak sangat baik dan ibu melihat ketulusan dimatanya. Kita hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan Celo." Nenek meyakinkan ayah Celo bahwa cucunya akan baik-baik saja.


"Bu, Celo pasti sedih. Disaat-saat bahagianya keadaanku malah seperti ini. Aku sungguh sudah gagal menjadi seorang istri dan ayah." Tulisnya lagi.


"Jangan berkata seperti itu, justru itu yang akan membuatnya sedih. Kau tau, bagi Celo kau adalah ayah terbaik dan sebagai suami kau juga yang terbaik kau masih mempertahankan cintamun pada Jamie bahkan hingga saat ini disaat dia sudah tak lagi disini bersama kita." Nenek meyakinkan anaknya akan hal baik pada dirinya.


"Terimaksih sudah merawat aku dan juga Celo bu. Maaf jika Will belum bisa membahagiakan ibu dan juga Celo." nenek tersenyum, beliau usap pundak putra semata wayangnya itu.


Semua cinta dan kebaikan yang kita beri dan kita terima dalam keluarga. Maka semua akan selalu ada timbal baliknya tidak hanya satu arah, melainkan segala arah.


■■■■


Yang sudah bersedia baca


Minta like vote dan commentny ya


Terimakasih