
■■■■
"Kenapa kau kesini? Mamimu akan sedih jika kau tidak menghabiskan hari terakhirmu dirumah." Eric mendapati Zach ada di apartnya saat baru saja pulang dari Clubnya.
"Niatnya aku cuma mau cari angin saja." Jawab Zach ringan.
"Terus apa yang membawamu kesini?"
"Tadi dijalan aku bertemu Celo. Dan kau tau Ric, gadis bodoh itu menyatakan perasaannya padaku." Ucap Zach dengan tatapan lurus kedepan.
"Wajar jika ia jatuh cinta, kenapa kau harus mengatainya bodoh." Kesal Eric.
"Ya. Dia bodoh karena jatuh cinta pada pengecut sepertiku" zach mengakui kejelekan dirinya.
"Ya." Hanya jawaban singkat yang diberikan Eric.
"Tidurlah disini malam ini. Besok pagi-pagi sekali kau baru pulang dan sarapan bersama dirumah." Saran Eric.
"Ya. Aku tidur dulu Ric, selamat malam." Zach berjalan kearah kamar yang biasa ditempatinya.
"Mmm…" Eric juga berlalu kekamarnya.
°°°°
Pagi-pagi sekali, Eric sudah membangunkan Zach untuk pulang segera kerumahnya.
"Zach…bangun. Pulanglah sekarang, jangan buat mami bersedih lagi." Zach segera membuka matanya.
"Mm…" Zach berlalu kekamar mandi membasuh wajah agar kantuknya hilang.
"Minumlah sedikit dulu." Eric yang sudah siap dimeja makan meminta Zach minum secangkir kopi yang sudah buatkannya.
"Thanks bro." Dalam sekali teguk kopi itu habis, dengan terburu Zach menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar.
"Hati-hati…" teriak Eric. Zach hanya melambai saja.
°°°°
Zach melihat mobil-mobil tersusun berjajar rapi di garasi rumahnya. Itu berarti semua orang ada dirumah karena hari masih sangat pagi sekali. Zach naik keatas lalu masuk kekamarnya, sebenarnya ia masih sangat mengantuk tapi malas untuk tidur lagi. Menunggu semua orang bangun sekali lagi Zach memeriksa barang-barang yang akan dibawanya nanti malam.
Tok tokk
"Zach, sudah bangun nak." Terdengar suara mami mengiringi ketukan pintu.
"Masuk aja mi, Zach udah bangun."
"Mami kira masih tidur, bebersihlah, kita sarapan bersama." Ajak mami.
"Ya mi, Zach mandi sebentar, nanti Zach turun." Lalu tersenyum kearah maminya.
"Ya…" mami meninggalkan Zach dikamarnya dan beralih kekamar adiknya tepat disebelah kamar Zach.
Sesuai waktu sarapan, semua anggota keluarga Alterio berkumpul bersama untuk sarapan pagi. Terlihat papi sudah rapi dengan baju kebesarannya, serta disana juga nampak Christa dengan tampang yang masih awut-awutan.
"Ini pi…" mami mengambilkan sarapan papi karena memang itulah kewajiban seorang istri.
"Makasi mi." Papi tak lupa selalu berterimakasih pada setiap pelayanan dari istrinya itu.
"Jam berapa keberangkatanmu Zach?"
"Malam pi, pukul 9. Biar tiba disananya pagi." Jawab Zach, menatap kearah papinya.
"Jam berapa meetingnya?" Ya, papi tau karena beliaulah yang mengatur segala sesuatunya.
"Siang, pukul 10 pi."
"Bagaimana persiapannya?" Tambah papi lagi.
"Beres pi, Bryan sudah mempersiapkan semuanya."
"Baguslah."
"Bryan? Apa Bryan ikut denganmu Zach?" Ditengah pembicaraan serius Zach dan Papinya, mami ikut menimpali karena beliau menyimak sedari tadi.
"Ya mi. Tapi hanya sementara." Jawab Zach.
"Syukurlah. Mami tenang kalau ada Bryan bersamamu disana." Mami mulai menitikkan air matanya ketika akan melepas kepergian putranya.
"Mi…" Zach menghampiri maminya lalu memeluk baliau.
"Zach akan sering-sering pulang. Mami tenang aja." Zach masih dengan mendekap maminya.
"Sudah-sudah lanjutkan makannya." Ucap papi.
Tak seperti mereka bertiga, Christa hanya diam saja. Beberapa hari belakangan ia lebih sering nampak diam. Entah apa lagi kali ini yang ada diotaknya.
°°°°
"Celo…belum berangkat ke toko nak?"
"Ini Celo mau berangkat. Nenek sudah sarapan?"
"Sudah. Ayahmu juga sudah sarapan dan minum obat." Jelas nenek sebelum Celo bertanya.
"Hehee…Celo berangkat dulu ya nek." Celo menghampiri neneknya yang masih berdiri dipintu kamarnya lalu mengecup pipi beliau.
"Celo, hati-hati. Ingat jaga dirimu ya nak." Baru beberapa langkah berjalan ucapan nenek menghentikan langkahnya.
"Ya nek." Celo mengiyakannya kemudian melanjutkan langkahnya.
Seperti biasa, sebelum pergi Celo akan selalu menghampiri ayahnya terlebih dahulu. Namun ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, kata-kata neneknya membuat sedikit ada rasa tak tenang. Mungkin itu hanya perasaannya saja karena ia sedang sedih. Celo coba menenangkan hati dan pikirannya agar ia tak lalai lagi dalam bekerja.
Sesampainya di toko, Celo melihat bibi sudah menata sebagian bunga. Celo menghampirinya, tentu saja untuk ikut membantu.
"Biar Celo saja bi." Celo mengambil alih bunga yang sedang diangkat oleh bibi.
"Ah Celo, sudah datang nak." Ucap beliau tersenyum dan menyerahkan pekerjaannya pada Celo untuk digantikan.
"Iya bi, maaf Celo terlambat." Ucapnya denga sungkan.
"Ya sudah sana bekerja. Dasar anak nakal." Marah bibi dengan candaan.
Drtt drrt
Ponsel Celo bergetar dalam kantong celemeknya. Celo melihat siapa yang menghubunginya pagi ini.
"Kak Audrey. Ada apa ya?" Gumamnya.
"Siapa?" Bibi ikut bertanya, beliau penasaran mungkin suami gadis itu yang menghubunginya.
"Kak Audrey."
"Ah, gadis cantik yang tempo hari itu?" Celo hanya mengangguk sekilas lalu menerima panggilan itu.
"Kak Audrey." Sapa Celo.
"Hai adik kecil, apa nanti sore kau mau ikut kami?" Audrey lansung saja, karena ia tau Celo sedang bekerja sekarang tak bagus jika ia berlama-lama bicara.
"Pergi kemana kak?" Tanya Celo, tak enak jika lansung menolak sementara ia belum tau kemana akan diajak.
"Mengantar Zach ke airport."
Deg
Mendengar namanya saja Celo sudah sangat sedih, apalagi harus ikut mengantar pria itu. Lagi pula ia juga harus bekerja, apalagi Celo sedang dalam masa hukuman sekarang.
"Mm..sepertinya Celo tidak ikut kak. Celo harus bekerja." Tolaknya dengan segan.
"Benar karena hal itu?" tanya Audrey tak yakin.
"Y-yya kak. Apalagi, sekarang Celo dipindahkan ke dapur. Tidak mungkin jika Celo minta izin."
"Begitu ya. Lalu apa kalian tidak saling berpamitan?"
"Sebenarnya sudah kak. Semalam Celo bertemu dengannya. Celo titip salam saja ya kak, Selamat jalan dan perjalanannya baik-baik saja."
"Baiklah. Kakak tutup ya. Bye adik kecil." Mereka memutus panggilan diponsel masing-masing.
Celo memang bersedih, tapi tak ia tampakkan kerana takut bibi akan bertanya-tanya. Bukannya takut, namun ia lelah jika harus terus berbohong.
°°°°
Zach berpamitan pada semua orang dirumahnya. Sebenarnya ia sudah sangat sering bepergian untuk liburan maupun urusan pekerjaan. Tapi kali ini berbeda karena, ia pergi bukan untuk dua hal tersebut terlebih lagi ia pergi dan meninggalkan banyak masalah.
"Hati-hati disana ya nak. Ingat, sesekali kunjungilah mami." Ingat mami disertai tangisnya.
"Tentu saja mi, Zach akan sering pulang." Ia berkata seakan jarak antara mereka dekat. Zach beralih kepapinya dan memeluk beliau.
"Zach, kau disana bukan untuk bersenang-senang. Carilah jati dirimu dan kembali jadi putra papi yang dulu." Papi menepuk pelan pundak anaknya.
"Ya pi." Sebenarnya dalam pikiran Zach sudah menyusun rencana untuk menikahi Melodi disana.
"Paman, kami berangkat dulu." Shane pamit, begitu juga dengan Eric dan Audrey.
Zach diantar sahabatnya saja, karena ia yang minta agar orang tuanya tak ikut. Ia tak mau maminya semakin bersedih nantinya.
■■■■