
▪︎▪︎▪︎
"Apa yang kau lakukan pada ku Chris?" Bryan bertanya disela kesadarannya yang mulai menipis. Sementara Chris, ia hanya melempar senyum tipis penuh kemenangan.
"Bukan apa-apa Bry, hanya sesuatu yang akan membuat mu menjadi milik ku. Seutuhnya."
Brukk
Tepat pada kalimat terakhir Chris, Bryan tersungkur menimpa tubuhnya dan dengan sigapnya wanita itu menangkap untuk kemudia dipapahnya ke dalam kamar yang ditempati pria itu.
***
Paginya, Bryan terbangun karena silaunya matahari yang menembus sela-sela gorden. Namun bukan itu yang mengganggunya, melainkan seseorang yang mendekap erat tubuhnya dan terlelap didadanya.
Rasa pusing yang semalam ia rasakan masih tersisa sedikit. Namun demikian, Bryan harus memastikan sesuatu, sesuatu yang menimbulkan gemuruh didadanya.
Perlahan tapi pasti, dilihatnya siapa wanita yang kini tidur satu ranjang dengannya itu. Dan tepat seperti dugaannya, Chrislah orangnya, wanita itu menjebaknya.
"Bangun kau!" Bentak Bryan mengguncang dan mendorong kasar tubuh Chris yang nyatanya masih polos tanpa sehelai benang presisi seperti dirinya, mereka hanya berbalut selembar selimut tebal dan tidak lupa kondisi kamar yang sangat berantakan.
"Eunghh..." dengan tidak tau malunya, wanita itu melenguh dan kembali menggapai Bryan.
"Menyingkir dari ku si****n! Jauhkan tubuh kotor mu dari ku!" Bryan turun dari ranjang, dengan tak punya hati di tariknya selimut hingga menyisakan Chris yang tertidur meringkuk masih dalam keadaan t*******g. Bryan memang sangat menghormati wanita, namun terkecuali untuk Chris. Baginya, wanita itu tidak pantas untuk di hormati terlebih setelah kejadian semalam.
***
"Bry, kau harus bertanggung jawab! Kau sudah meniduri ku dan mengambil keperawanan ku." Sentak Chris melihat Bryan yang bersiap, sepertinya pria itu akan pergi. Sedang Chris sendiri wanita itu masih berada diatas ranjang, duduk bersila. Bedanya, kali ini ia sudah mengenakan pakaian dan itu pun kemeja putih kebesrama milik Bryan.
"Heh! Bukannya terbalik. Kau yang sudah menjebakku!" Tolak Bryan tak terelakkan, toh dia memang tidak ikut andil atas accident semalam.
"Jika kau tidak mau bertanggung jawab, akan ku perlihatkan bukti ini pada Kakak. Dia akan memaksa mu untuk bertanggung jawab karena sudah menodai ku!" Tidak mau rencananya gagal, Chris meraih ponselnya yang ada di atas nakas samping temlat tidur. Memperlihatkan rekaman yang memang sengaja ia ambil sebagai senjata untuk mengancam pria yang dicintainya itu.
"Oh, jadi sedari awal kau memang sudah mempersiapkannya." Bryan melihatnya acuh, tak dihiraukan sama sekali bukti yang dikuatkan Chris.
"Asal kau tau. Saat kau menyuntikku di depan, itu semua juga terekam CCTV. Let's see, siapa yang akan dipercayai Kakak mu itu." Bryan mendekat ke arah Chris, menampakkan senyum kemenangannya.
"Meski begitu, kau tetap harus bertanggung jawab Bry. Aku sudah menyerahkan milikku paling berharga untuk mu,-"
"Memang kau yang menyerahkannya, namu aku sama sekalj tidak menginginkannya." Bryan bercakap tegas, masih di posisi dekat Chris.
"Aku mencintai u Bry. Kurang apa lagi diri ku?" Chris menangis, tidak disangka rencananya gagal dan malah membuat Bryan semakin membencinya.
"Dan aku membenci mu. Sangat." Tukas pria itu, beranjak meninggalkan Chris dengan kekecewaan yang besar.
Flashback off
"Kenapa kau lakukan itu? Kau tau, kau sudah merendahkan harga diri mu sebagai perempuan Chris. Seandainya kau bisa sedikit bersabar dan merubah sifat mu, bisa saja Bryan membalas cinta mu." Suara Shane merendah, namun dimatanya masih tergambar kemarahan.
"Tapi aku berubah setelahnya Kak." Wanita itu membela dirinya sendiri.
"Kesalahan yang sama tidak akan terjadi untuk kedua kalinya jika kau berubah." Lagi, Shane kembali tersulut emosinya.
"Itu semua karena Celo Kak. Waktu itu aku terlalu frustasi dan marah pada semua orang, Melodi, wanita s****n itu menawarkan sesuatu. Tapi pada kenyataannya dia menjual ku pada pria itu, pria yang menghamilinya juga menghamili ku!" Pekik Chris, ingatannya melayang pada masa lalunya yang kelam.
"Kau ingin membela diri lagi, karena telah merekam perbuatan asusila mu dengan pria tua itu?"
"Bukan membela diri, namun itu kenyataannya. Aku takut hal yang sama terulang kembali, dan benar. Pria itu tetap tidak mau bertanggung jawab, karena lebih memilih Melodi, mereka berdua jugalah yang menghabisi anak ku." Chris menangis pilu, Ibu mana yang tidak sedih jika mengingat kepergian anaknya secara sadis dan tragis. Shane mengepalkan jemarinya, kesal dan marah menjadi satu.
"Kak, percayalah. Aku hanya tidur dengan dua pria itu saja, aku sama sekali tidak pernah menghianati pernikahan kita. Aku mohon mengertilah dengan masa lalu ku. Maafkan aku Kak." Chris menghampiri suaminya, memeluk erat tubuh tegap itu, membenamkan wajahnya di dada Shane.
"Tidak kak. Jangan ceraikan aku. Sungguh, aku mencintai mu kak." Chris melonggarkan pelukannya, ia mendongakkan wajahnya agar bisa bersitatap dengan sang suami.
"Ini yang terbaik untuk kita Chris. Pernikahan yang di bangun diatas kebohongan tidak akan pernah berhasil." Shane melepas pelukan Chris, menjauhkan tubuh mereka.
"Tidak Kak. Pernikahan kita pasti berhasil, bukankah aku sudah jujur atas segalanya." Chris berusaha untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
"Maaf, aku tidak bisa. Untuk alasan kenapa kita bercerai, biar aku saja yang mengatakannya. Juga rahasia mu, itu akan menjadi rahasia yang akan ku bawa hingga mati." Shane melangkah menjauh, meninggalkan Chris yang kini sedang hancur.
"Jangan tinggalkan aku Kak. Aku mencintai mu." Chris lemas, rasanya kedua kakinya tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Seketika itu juga, wanita ambruk di lantai dapur, jatuh terduduk dengan keadaan yang sangat berantakan.
***
Shane masuk ke dalam mobilnya, melajukannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Pikirannya kalut, ia harus memikirkan ulang keputusannya tadi. Bagaimana jadinya Chris tanpa dirinya, karena ia tau bahwa istrinya itu sudah jatuh cinta padanya.
"Arghh…bodoh kau Shane. Kau tega meninggalkan istri mu hanya karena masa lalu. Bodoh. Bodoh." Sepanjang jalan, terus saja ia mengumpat dirinya.
Shane meraih ponselnya, belum terlambat untuk menarik kembali kata-katanya. Ia harus menghubungi Chris untuk meminta maaf pada istrinya itu. Masih sangat akan peraturan tidak boleh menggunakan ponsel saat sedang berkendara, Shane menepikan mobilnya ditempat seharusnya.
Tutt
Tuut
"Kemana dia? Apa dia tidak mau memperbaiki semuanya?" Shane kesal sebab Chris tak kunjung menjawab panggilannya.
Tutt
"Shitt!!" Shane berniat untuk mengakhiri, sampai terdengar suara serak nan sendu milik Chris, istrinya.
"K-kak,-"
"…."
"Kak, maafkan aku. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri. Aku membutuhkan mu Kak, aku, aku sangat mencintai mu." Nampaknya Chris tidak membuang kesempatan yang ada.
"Baiklah. Aku juga minta maaf Chris, dan aku ingin kau berjanji satu hal."
"Apapun itu Kak, aku mau. Asal kau kembali dan mau memperbaiki rumah tangga kita." Sela Chris cepat dari seberang sana.
"Berubahlah jadi lebih baik lagi, lupakan masa lalu mu."
"Baiklah Kak. Aku berjanji."
"…." Hening, Shane hanya mendengarkan suara Chris.
"Kapan Kakak pulang? Aku merindukan mu." Wanita itu mulai kembali bersifat manja, satu hal yang di sukai Shane.
"Sekarang. Aku akan pulang sekarang juga."
"Aku menunggu mu Kak."
"Teri,-"
Brakk
▪︎▪︎▪︎