
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Nona kembali." Sapa Bi Welma terkejut melihat istri majikannya itu.
"Ya Bi. Celo merindukan rumah." Bibi hanya bisa tersenyum, meski sebenarnya ia cemas jika Celo tetap berada di rumah ini.
"Siapa yang da-ttang? Ow..ow.oww..Nyonya besar kita datang." Dari arah dalam muncul seorang wanita hamil.
Deg
"K-kkauu.." wajah tak asing itu membuat Celo terkejut, rasa sesak menyerang dadanya.
"Ya. Ini aku Melodi. Kenapa?" Celo memperhatikan wanita itu dari atas hingga kebawah dengan seksama. Ia harus memastikan bahwa wanita itu tidak tinggal di rumah mereka, satu rumah dengan suaminya. Sayang, kenyataan pahit harus diterima Celo karena Melodi benar tinggal disana terlihat jelas dari pakaian rumah yang dikenakan wanita itu.
"Kenapa kau ada disini Melodi?" Tak ada lagi sebutan formal bagi Celo, ia sangat marah dan kecewa sekarang.
"Inikah alasannya Mas? Inikah kenapa Celo harus pergi Mas?" Batin Celo sedih.
"Tidak. Tidak. Celo harus percaya sama Mas Zach, tidak mungkin Mas kembali ke Melodi dan meninggalkan Celo." Batinnya lagi.
"Tidak sopan sekali kau pada Nyonya rumah ini. Tentu saja mengambil tempat yang memang seharusnya aku yang berada di posisi itu. Nyonya Alterio, istri Zachery" Marahnya, juga penuh ejekan.
"Apa yang kau bicarakan Nona?" Celo coba tidak ambil pusing dengan hasutan wanita itu, terus dilanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah.
"Heh! Mau kemana kau Hah??" Teriak Melodi melihat kepergian Celo.
Celo sungguh tak mengerti situasi macam apa ini? Situasi apa yang sedang dihadapinya sekarang? Cobaan apa yang sedang menghantam rumah tangganya?
^^^
"Apa kau bilang? Istri ku kembali ke rumah? Kenapa kau biarkan begitu saja bodoh!" Maki Zach saat Bryan menghubunginya perihal kepulangan Celo ke rumah.
"Lalu aku harus berbuat bagaimana lagi? Kalian sama-sama keras kepala!" Ketus Bryan menimpali makian Boa nya.
"Sudahlah. Biar ku urus istriku." Bermaksud akan mengakhiri sambungan.
"Biarkan aku pulang Zach." Pintanya, bertujuan untuk menjaga Celo.
"Kau gila! Tidak!" Tolak Zach cepat.
"Aku harus menjaga celo."
"Aku mengerti itu, tapi semua akan semakin kacau Bry." Bukannya Zach tak paham, tapi ia coba agar masalah tidak semakin rumit.
"Baiklah. tapi ingat! Jangan biarkan Celo terluka." Pintanya juga mengingatkan.
"Pasti. Karena dia wanita paling berharga di hidup ku." Tak lagi menunggu tanggapan Bryan, Zach lansung memutus sambungan.
^^^
Melodi menghampiri Celo yang tengah berkutat dengan segala peralatan masak di dapur. Wanita itu tentunya akan membuat makan malam untuk suaminya setelah satu minggu Zach tak memakan masakannya.
"Ehemm…." Dengan angkuh juga dengan memakai pakaian sexy, entah apa lagi yang akan di tunjukkannya pada Celo. Sayangnya Celo tak terpengaruh sama sekali, ia sibuk dengan kegiatannya sendiri yang di bantu oleh Bi Welma.
"Bi, tolong bantu Celo merebus ayam ini ya Bi." Pinta Celo membutuhkan bantuan Bibi itu.
"Baik Nona." Segera Bi Welma meraihnya lalu mengerjakan apa yang di beri tahukan tadi.
"Bi, rebusnya agak lama saja sampai kaldunya keluar." Tambah Celo lagi.
"Baik Nona." Mereka sama-sama tak menganggap keberadaan Melodi disana.
Menunggu selama itu membuat emosi Melodi jadi naik, ia tak sesabar yang orang lihat karena menunggu Celo sedari tadi.
"Nona Celo, aku butuh kita bicara." Ucapnya to the point, lalu tatapannya beralih ke Bi Welma pertanda ia butuh bicara empat mata dengan majikannya.
"Bibi, pergilah melihat jemuran di belakang." Celo yang paham tatapan mata Melodi mengusir Bibi, lebih dulu meminta secara sopan.
"Baik Nona." Paham akan situasi, Bibi pamit ke belakang meski khawatir meninggalkan majikannya dengan wanita jahat.
"Apa yang mau kau bicarakan?" Masih dengan melanjutkan pekerjaannya.
"Kenapa kau kembali lagi ke rumah ini?" Tanyanya sarkas.
"Hehh!! Anak? Kau harusnya sadar, bahwa Zach sudah membuang mu karena kau tidak bisa memberinya anak seperti yang kau banggakan tadi. Sementara aku, aku sedang hamil dan jelas akan melahirkan seorang anak. Meski bukan darah dagingnya akan ku pastikan Zach akan sangat menyayangi anak ini dan anak-anak kami kelak." Hasut Melodi membalikkan kalimat Celo barusan. Tak dapat di pungkiri Celo sedikit termakan akan ucapan Melodi.
"Bagus. Teruslah dengarkan ucapan ku Celo." Batin Melodi jahat.
"Kau juga harusnya sadar kalau kau hanya seorang pengganti. Sebelum dibuang, sebaiknya kau mundur perlahan. Tinggalkan Zach biarkan dia mengejar kebahagiaannya yang hanya ada bersama ku, jangan biarkan rasa bersalah dan rasa ibanya terhadap mu mengikatnya. Jika kau memang mencintainya, kau pasti mengerti maksud ku." Merasa berhasil, senyum terbit di wajah Melodi ia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Celo.
"Maaf, tapi sampai kapan pun Celo tidak akan pernah meninggalkan Mas Zach. Tak peduli meski hanya sebagai seorang pengganti, meski hanya ada rasa iba dan cinta bertepuk sebelah tangan. Celo akan tetap mempertahankan apa yang memang seharusnya milik Celo. Lain hal nya jika Mas Zach sendiri yang akan melepas Celo." Meski berat harus ia katakan, karena Celo yakin Zach tidak akan pernah benar-benar meninggalkannya.
"Kita lihat saja nanti." Melodi yang sempat terhenti langkahnya karena ucapan Celo, kembali tersenyum melihat kesempatan yang ada.
Selepas kepergian Melodi, kaki Celo seperti mati rasa tubuhnya lemas jatuh terduduk begitu saja di lantai dapur yang dingin. Tak kuat lagi menahan segalanya, ia takut karena semua yang dikatakan Melodi itu ada benarnya.
"Nona….astaga. Nona kenapa?" sekembalinya Bi Welma, beliau melihat Celo di lantai bergegas menghampiri majikannya yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Nona baik-baik saja?" Dengan wajah penuh khawatir wanita paruh baya itu membantu Celo duduk di kursi meja makan.
"Mau saya hubungi Tuan Nona?" Tanyanya lagi, kali ini seraya menyodorkan segelas air minum.
"Tidak Bi. Tidak usah, Celo baik-baik saja." Elaknya meyakinkan Bibi, tapi sayang wanita setengah tua itu tidak bisa dibohongi. Beliau membawa Celo kepelukannya.
"Maaf jika Bibi lancang Nona karena sudah menganggap Nona seperti putri Bibi. Makan dari itu Bibi sedih melihat Nona seperti ini." Imbuhnya tulus, ia juga mengusap lembut punggung Celo.
"Terima kasih Bi." Celo mulai menangis, ia menceritakan segalanya.
"Maaf Nona, Bibi bukannya berpihak ke Tuan tidak sama sekali. Semua yang Nona dengar mungkin saja itu semua benar, tapi ini…" seraya meletakkan tangannya di dada Celo dimana orang menyebut hati mereka terletak disana.
"Hati ini bisa merasakannya. Rasakanlah perasaan dan ketulusan Tuan sebelum Nona mengambil keputusan. Hati tidak bisa dibohongi bahkan dipungkiri Nona." Bukannya mau ikut campur tapi sangat disayangkan jika beliau melihat majikannya harus berpisah.
"Bibi…" Celo merasa lega akan nasehat Bibi yang benar adanya.
^^^
Malam harinya Zach pulang sedikit terlambat karena ada client yang minta bertemu secara dadakan. Padahal Zach sangat ingin cepat pulang dan melepas rindu pada wanitanya.
Sesampainya dirumah tempat pertama yang paling ingin Zach masuki ialah kamarnya. Karena ia tau saat jam ini istrinya pasti berada di kamar untuk menyiapkan pakaiannya.
Ceklek
Taraa
Benar saja Celo sedang membelakangi menghadap lemari pakaian. Pastinya ia sedang memilih pakaian suaminya. Dengan gerakan pelan, Zach mengendap layaknya seorang maling dan Hap. Ia memeluk Celo erat dari belakang.
"Mass…" teriak Celo senang juga terkejut.
"Mas sangat merindukan mu." Saat Celo menoleh, Zach memanfaatkannya untuk mengecup kilat bibir istrinya. Bibir yang sangat dirindukannya dan juga yang sudah menjadi candu baginya.
"Sebaiknya Mas mandi dulu, sudah Celo siapkan air hangatnya. Tidak bagus mandi terlalu malam Mas." Ujarnya dengan senyum, tangan mungilnya juga mengelus lembut wajah suaminya itu.
"Baiklah sayang…" Dengan berat hati, Zach melepas dekapannya menuruti kata sang istri agar lebih leluasa berduaan nantinya.
Usai suaminya menghilang di balik pintu kamar mandi, Celo mulai memunguti barang dan pakaian Zach yang berserakan diberbagai tempat.
"Ii-in-nni…." Celo membekap mulutnya sendiri.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Bagi teman-teman yang berpuasa, sambil nunggu bedug adzan maghrib di kota masing-masing.
Kita buka MangToon/ NovelToon yuk
Mana tau Komik/ Novel favorite nya ada yang Up
Jangan lupa beri dukungannya
Tekan LIKE & tinggalkan COMMENT
VOTE juga untuk memberi Author semangat
TERIMA KASIH