
▪︎▪︎▪︎
Bryan, tertidur terlentang di ranjang hotel dengan kedua tangan di gunakan sebagai bantalan. Awalnya, pria itu ingin menginap di rumah utama Alterio, namun karena kejadian beberapa jam yang lalu memgurungkan niatnya.
Pria itu mendudukkan tubuhnya malas, kemudian tangannya terulur untuk meraih ponsel yang tadi ia letakkan di nakas samping ranjang. Tidak lama berkutat dengan ponselnya, Bryan menempelkan alat komunikasi tersebut ke telinganya.
"Hai sayang." Sapa suara lembut dari seberang sana menyejukkan pikiran Bryan yang sedang dilanda ke kalutan. Bryan beranjak dari atas kasur menuju ke balkon kamar hotel yang kini ia tempati. Menikmati udara sejuk sembari mendengarkan suara sang istri nampaknya menjadi obar rindu bagi pria itu.
"Hai juga Baby, bagaimana disana? Kau tidak nakal bukan?"
"Ei, mana ada aku nakal sayang, yang ada kau. Siapa tau, kau disana yang sedang apa dan bersama siapa?" Ledek Sesyil balik dengan nada khas orang kesal.
"Aku hanya bercanda. Baby, aku merindukan mu." Ungkap Bryan akan kerinduannya pada wanita yang berstatus istrinya tersebut.
"Aku juga sayang, cepatlah pulang." Sahut Sesyil membalas ungkapan rasa rindu suaminya itu. Tidak lama, mereka saling terdiam. Hanya ada suara deru nafas dari masing-masing mereka.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu disana?" Sesyil memang selalu peka akan perubahan prilaku suaminya. Sontak itu membuat Bryan kelimpungan, tidak tau harus jujur atau tidak.
"Tidak. Maksud ku tidak ada Baby, disini semua baik-baik saja. Mungkin karena aku masih tidak percaya jika Shane sudah pergi, makanya jadi terbawa suasana." Bryan berkilah, toh tidak nyaman juga jika ia bercerita melalui ponsel.
"Baiklah. Apa kau sudah makan?"
"Sudah.Tadi siang aku mampir ke rumah Paman dan Bibi, lalu mereka menawari ku makan siang bersama."
"Apa Chris juga ada disana?" Pertanyaan Sesyil terdengar ragu.
"Kenapa? Kau cemburu?" Disaat seperti ini pun, Bryan masih saja sempat untuk menggoda sang istri.
"Astaga kau ini. Bukan itu maksud ku, apa dia baik-baik saja?"
"Ku rasa tidak. Paman bilang, dia nyaris mencelakai dirinya juga anak mereka." Jelas Bryan, pandangannya menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong.
"Anak? Chris hamil?" Sesyil mastikan melalui pertanyaannya.
"Ya. Dan Shane belum mengetahuinya."
"Kasihan sekali Chris. Apa tidak sebaiknya, dia minta untuk menikah lagi?" Nampaknya semua orang sependapat akan masa depan Chris dan anak dalam kandungannya.
"Dan Ayahnya meminta suami mu ini untuk menikahinya, menduakan mu, Sesyil." Batin Bryan kesal bercampur marah.
"Kenapa kau malah ikut mengurusinya! Itu bukan urusan kita, terlebih urusan mu!" Karena kesal, tanpa sadar Bryan membentak Sesyil.
"Kenapa kau jadi marah? Apa tidak sedikit pun, kau menaruh simpati terhadap mereka heh? Ingat Bry, jasa mereka begitu besar bagi kita, terlebih bagi mu." Mereka jadi berdebat melalui ponsel.
"Ya. Dan karena jasa itu, rumah tangga kita bisa kacau, Se." Lagi, Bryan hanya mampu berkata didalam hati.
"Maafkan aku. Aku,- aku hanya merindukan mu."
"Jangan menggombal."
"Sungguh. Aku merindukan mu, setelah kita di pertemukan kembali hingga akhirnya menikah. Sepenuhnya, aku sudah menggantungkan hidup ku pada mu. Aku mencintai mu, istri ku. Sangat." Entah apa maksud Bryan dengan mengungkapkan cintanya, mungkin juga karena biasanya ia lebih menunjukkan dengan sikap. Maka di saat berjauhan, ia hanya menuangkan melalui kalimat.
***
"Bry, kau datang." Chris yang tidak sengaja melihat Bryan datang dari balkon kamarnya, bergegas menyambut kedatangan pria tersebut.
"…" tidak mempedulikan Chris, Bryan melenggang masuk begitu saja. Rasa ibanya kemarin seolah lenyap di telan bumi setelah pembahasannya dengan Ayah wanita itu.
"Bry, kau datang nak." Mami yang tadi tidak sengaja melihat putrinya berlarian, mengekor di belakangnya.
"Ya Bi. Saya hanya sebentar, untuk berpamitan."
"Kau kembali hari ini? Kenapa cepat sekali?" Mami berdiri tepat di samping Chris persis di hadapan Bryan.
"Iya Bi. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan disana terlalu lama."
"Benar juga. Ah, sayang sekali Bibi belum sempat membuatkan masakan kesukaan mu." Sesal Mami. Ya, beliau memang sudah menganggap sahabat anak-anaknya sebagai anak sendiri.
"Tidak apa Bi. Kapan hari nanti, jika ada waktu senggang saya akan berkunjung kemari lagi bersama Sesyil."
"Wah, bagus itu. Bibi tunggu." Mami maju selangkah, wanita yang telah menjadi nenek itu merengkuh Bryan dalam pelukannya penuh kasih.
"Jaga diri di sana heum."
"Ya, Bi. Bibi juga. Em, Paman di mana Bi?" Usai menguraikan pelukan mereka, Bryan menoleh ke ada dalam rumah untuk mencari tau keberadaan Papi.
"Seperti biasa, di ruang kerja."
"Saya ke Paman dulu Bi." Ia melangkah menuju ruangan dimana Papi berada.
***
"Eh, Bry. Kau datang nak." Sapa Papi penuh harap. Beliau pikir Bryan berubah pikiran, lalu menerima tawarannya kemarin.
"Ya. Paman." Dengan senyum tipis, Bryan membalas sapaan dari Papi. Pria itu mendudukkan tubuh jangkungnya di kursi yang berseberangan dengan Tua rumah.
"Paman senang kau mau menerima tawaran itu." Beliau meletakkan buku tebal yang tadi berada di genggamannya untuk di baca, juga kaca mata yang tebal yang tadi tersampir di panggkal hidungnya.
"Ma,-" belum jadi Bryan berucap, Papi kembali menyelanya cepat.
"Ah ya, kemarin Paman lupa memberitahu mu. Sebaiknya, pernikahan di lansungkan saat anak mereka lahir nanti. Karena kita masih dalam masa berduka sekarang. Unt,-"
"Cukup Paman! Maaf sebelumnya, bukannya saya tidak sopan, namun Paman tidak memberi saya untuk berkata sebelumnya." Bryan menetralkan nafasnya sejenak, karena terpancing emosi.
"Maaf Paman, sampai kapan pun saya tidak akan pernah berubah pikiran. Selamanya, saya hanya akan menikahi satu orang wanita, dan itu adalah istri saya, Sesyil. Mungkin Paman akan menyebut saya cantoh manusia tidak tau terima kasih, namun saya tetap tidak bisa. Cinta itu tidak bisa di paksakan, lagi pula ini pernikahan, dan sangat sakral. Saya tidak mau bermain dengan yang namanya pernikahan. Sekali lagi, maafkan saya Paman." Di tatapnya dalam-dalam sorot mata tajam itu. Seperti dugaan Bryan sebelumnya, pria itu dapat membaca sorot kemarahan juga kecewa di sana.
"Jika tidak ada lagi, saya permisi Paman. Saya kemari, hanya untuk berpamitan untuk kembali ke Holland." Lepas berpamitan, Bryan bangkit dari posisinya. Ia berdiri, setelahnya melangkah untuk keluar dari sana.
"Ingat Bry, ku tekankan untuk terkhir kalinya, kau bisa jadi seperti sekarang ini karena siapa? Tidak ada salahnya, kau mengalah dan menikahi putri ku. Hitung-hitung sebagai bentuk membalas kebaikan kami." Tepat di langkah terakhirnya untuk mencapai pintu, kembali ucapan Papi tertangkap telinga Bryan, namun ia tidak tergoda dan tetap kekeh dengan keputusannya.
▪︎▪︎▪︎