
■■■■
Zach sudah bertekad untuk mengikuti semua ucapan maminya. Hari ini ia berencana akan datang kerumah Celo dan melamarnya dihadapan orangtuanya.
Pagi-pagi sekali setelah menyelesaikan ritual sarapan bersama mami dan papinya, Zach pamit akan pergi kerumah Celo.
Tentu saja maminya sangat senang dan tak lupa memberi semangat untuk sang putra.
°°°°
"Ahh…kenapa baru ingat sekarang?? Dimana rumah gadis itu?? Bodoh kau Zach!!" Zach mengatai dirinya sendiri dengan kesal.
"Apa ketempat dia bekerja saja? Bibi itu pasti tau rumahnya. Ya…begitu saja." Segera Zach melanjutkan laju mobilnya menuju toko tempat Celo bekerja.
°°°°
Zach beberapa kali mengetuk pintu yang ada disamping toko bunga itu. Hingga ia merasa bosan dan berniat akan melangkahkan kakinya pergi.
Ceklekk
Baru saja dua langkah Zach menjauh lansung saja ia memutar balikkan badannya.
"Siapa? Apa anda mencari saya anak muda?" Bibi kedai akhirnya keluar dan membukakan pintunya sedikit untuk Zach.
"Mm..itu…yya bibi. Saya ingin menanyakan sesuatu pada bibi."
"Menanyakan apa nak?"
"Boleh saya tau dimana alamat rumah karyawan bibi? Celo."
"Celo? Tapi ada perlu apa anak kesana?" Bibi itu seperti ingin memastikan kalau Zach tidak punya niat buruk pada gadis polos itu.
"Saya ini sebenarnya calon suaminya." Zach berkata demikian karena ia pikir Celo tidak mungkinkan memberi taukannya pada orang lain.
"Jadi anak muda ini yang diceritakan Celo, tapi dia tampak seperti orang baik-baik. Apa yang sebenarnya terjadi ya? Sudahlah. Lebih baik aku berpura tidak tau saja masalah mereka atau Celo akan terkena masalah lagi nantinya." Pikir bibi dalam hati.
"Ah…begitu rupanya. Baikah, anak jalan saja lurus kekiri nanti akan ada gang kecil, masuklah kesana rumahnya sangat mudah dicari. Jika anak melihat rumah yang dipenuhi oleh bunga-bunga yang cantik, nah disanalah gadis itu tinggal." Bibi memberi tau Zach
"Baiklah. Terimakasih bibi, kalau begitu saya pamit dulu." Zach segera mencari alamat yang diberitaukan bibi tadi.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja bagi Zach untuk menemukan rumah Celo, karena itu tak begitu jauh. Sesampainya disana Zach benar-benar terkejut dibuatnya. Rumah yang disebutkan bibi tadi rasanya tak layak untuk disebut sebagai rumah.
"Apa benar ini rumahnya? Tapi dari ciri yang disebutkan bibi tadi benar ini rumahnya, ada banyak bunga disini. Tapi, ini rumah atau kandang kucing? Bahkan gazebo dibelakang rumah jauh lebih besar dari ini?" Zach sungguh tak percaya dengan semua yang dilihatnya. Bukannya menghina, tapi sungguh rumah ini sangat-sangatlah kecil. Dia heran kenapa Celo masih bisa betah tinggal disana?
Tok tokk
Zach lansung saja mengetuk pintu rumah Celo, ia mengetuk dengan sangat hati-hati, karena takut jika lebih keras lagi diketuk ia takut akan merubuhkan pintu itu yang menurutnya sangatlah rapuh.
Ceklek
Terdengar suara pintu dibuka dan nampaklah seorang gadis manis dari dalam sana yang tak lain ialah Celo.
"Ttuan Zach, kenapa pagi-pagi begini anda kemari?" Celo memperhatikan Zach dari atas hingga kebawah seperti meyakinkan sesuatu.
"Tentu saja mencari kau nona.." jawab Zach bersedekap.
"Mencari saya? Kenapa?" Dia bingung dengan kedatangan Zach pagi-pagi begini dirumahnya.
"Tta-tapi tunggu dulu! Dari mana tuan tau rumah saya?" Celo kembali juga kekesadarannya dari kebingungan.
"Rumah? Dia sungguh menganggap ini rumah? Ahh…ternyata begini kehidupan gadis ini." Zach berkata dalam hati serta celingak celinguk kesana kemari.
"Tidak sulit untuk mencari tempat ini bagi saya nona." Ucap Zach dengan sombongnya.
"Ahh..ya ya..hehehee…" Celo hanya nyengir tak jelas dengan kesombongan calon suaminya itu.
"Apa kita akan disini saja? Kau tak ada niat mengajakku masuk kedalam begitu? Atau kau ingin semua tetanggamu tau bahwa ada penagih hutang nan tampan datang pagi-pagi hanya untuk menagih kerumahmu nona?" Ada nada sindiran dalam kata-kata Zach meski itu hanya candaan saja.
"Ahh…maaf saya lupa. Silakan masuk tuan, maaf jika anda merasa tak nyaman." Celo akhirnya mempersilahkan Zach masuk kedalam gubuk kecilnya.
"Silakan duduk tuan, saya kebelakang sebentar."
"Hmm…"
Celo meninggalkan Zach seorang diri diruang depan rumahnya sementara ia mengambilkan sesuatu yang bisa ia suguhkan untuk pria itu.
"Siapa yang datang sayang?" Nenek yang tidak mengetahui tamu cucunya bertanya pada Celo.
"Ii-iitu teman Celo nek. Yah..teman. hehehee…" Celo tak tau harus bagaimana memposisikan Zach saat ini.
Nenek hanya mengangguk tanda beliau mengerti.
"Apa ayah sudah selesai sarapannya nek?"
"Sudah, ini nenek baru mau memberi obat untuk ayahmu." Nenek menunjukkan sebotol obat yang isinya tinggal beberapa butir lagi.
"Iya nak." Terlihat sangat jelas raut sedih diwajah nenek yang tak lagi muda itu.
"Nenek tenang saja, Celo sudah menyiapkan uangnya. Nanti sepulangnya dari toko akan lansung Celo beli." Ia menyunggingkan senyum terbaiknya, memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja.
"Baiklah. Sudah sana cepatlah keluar, kasian temanmu dari tadi menunggu nak." Nenek mengingatkan Celo yang sempat lupa akan kehadiran Zach.
"Oo iya. Hampir saja Celo lupa, untung nenek ingatkan." Ia bergegas menghampiri Zach yang tadi ia tinggal sendiri.
"Maaf tuan sudah menunggu." Zach hanya diam, ia sibuk memperhatikan setiap sudut rumah calon istri dan mertuanya itu.
°°°°
"Pi, apa sebaiknya kita juga ikut melamar Celo nanti malam, sekalian kita membawa hantaran. Bagaimana pi?" Mami begitu antusias saat tau Zach mau melamar Celo secara pantas.
"Papi sih setuju aja mi. Tapi semua tergantung Zach, jika anak itu mengizinkan. Papi sih ayoklah aja."
"Iya juga ya pi. Baiklahh, mami juga gak mau jika Zach menganggap mami egois lagi." Mami merasa sedikit menyesal karena selalu memaksa anak-anaknya.
"Mi…papi tau mami gak punya maksud begitu, tapi semua balik lagi pada pribadi anak-anak kita dan juga cara penyampaian mami."
"Ya pi. Lain kali mami akan lebih jelas lagi dalam komunikasi dengan anak-anak kita."
"Nah gitu dong. Itu baru istrinya papi…" papi mencubit gemas pipi wanita yang sudah menjadi tulang rusuknya selama ini.
Setiap anak akan selalu berprasangka buruk pada orangtuanya tanpa tau maksud sebenarnya. Begitu juga orang tua, terkadang cara penyampaian mereka tak tertangkap seluruhnya oleh anak mereka. Maka dari itu, komunikasi sangatlah penting dalam suatu ikatan apapun itu.
°°°°
"Jadi…ada apa tuan pagi-pagi begini mencari saya?" Celo bertanya dengannya herannya.
"Mami menyuruhku untuk melamarmu secara baik-baik. Aku harus datang kerumahmu dan menemui orangtuamu." Zach menyampaikan maksud dan tujuannya kemari adalah untuk niat baik.
"Tapi itu sungguh tidak usah tuan." Celo menolaknya secara halus.
"Tapi ini harus. Kita akan menikah sungguhan, bukan main-main." Tukas Zach lagi.
"Baiklah jika itu kata tuan. Lalu kita harus bagaimana?" Celo hanya menurut saja.
"Baiklah, biarkan aku bicara dengan ayah atau ibumu. Dan satu lagi, jangan bicara dengan formal, dan jangan panggil saya tuan akan sangat aneh rasanya.
"Baiklah…mm-mas.."
"Heumm.."
"Mmas Zach."
"Terdengar bagus. Ya begitu sajalah." Zach menyetujuinya entah kenapa ia nyaman dengan panggilan itu.
"Jadi bisa kau panggilkan ayah atau ibumu?" Celo lalu menggeleng pelan.
"Kenapa?"
"I-ibbu sudah lama meninggal, dan ayah juga sedang sakit struk beliau tidak bisa bangun." Dia berucap dengan suara bergetar seakan menahan tangis dan kepalanya juga menunduk.
"Maaf aku tidak tau. Lalu bagaimana?"
"Celo punya nenek mas." Dia sedikit mengangkat kepalanya.
"Baiklah dengan nenek saja."
"Sebentar, Celo panggilkan."
"Mm.."
Sepeninggal Celo, Zach benar-benar berpikir bagaimana gadis itu menjalani hidupnya selama ini? Ini semua benar-benar diluar dugaannya. Apa ia sudah salah besar melibatkan dan memerangkap gadis polos itu dalan hidupnya yang penuh dengan hiruk pikuk.
■■■■
Hai…
Haii….
Yang sudah sudi mampir minta likenya ya..
Juga kasi masukannya dong
Kritik dan sarannya sangat dibutuhkan
Tapi tetep yang sopan
Saling menghargai aja.
Terimakasih banyak….