
"Setiap orang mempunyai jalan hidup mereka masing-masing dan cara mereka menjalaninya juga pasti berbeda-beda. Kebetulan kami dipertemukan dijalan yang sama, namun jalan itu tak selalu sama dan akan terpisah cepat atau lambat. Bukankah hidup memang begitu."
■■■■
Malam ini selepas mengantar Celo, Eric lansung pulang ke apartnya.
"Belum tidur kau?" Baru saja masuk, Eric melihat Zach sedang bersantai disofa sambil menonton televisi
"Belum. Sesekali aku ingin menikmati hidup sebagai seorang pengangguran. Enak lo Ric, bisa bagadang sampai malam trus besoknya bisa bangun siang." Cengir Zach dengan tampang bodohnya.
"Ku rasa kau mulai gila sekarang!" Ejeknya. Eric mengambil tempat disamping Zach.
"Tadi, aku bertemu gadis itu. Apa kau tak ingin mengatakan sesuatu padanya, misalnya kau akan pergi begitu." Ucap Eric lansung.
"Ya. Aku akan menemuinya, tapi belum sekarang."
"Terserah kau sajalah."
"Apa yang akan kau lakukan di Holland?"
"Ntahlah, menunggu mungkin." Jawab Zach asal.
"Menunggu apa?" Tanya Eric.
"Menunggu sampai dia melahirkan, dan kami akan menikah setelahnya." Ucapnya cuek.
"Kau gila HAH!!" Emosi Eric akhirnya meledak juga.
"Kau tak tau apa-apa. Dan juga aku akan menetap selamanya disana."
"Aku benar-benar tak habis pikir dengan isi otakmu itu!! Dia sudah menghianatimu!! Kau bodoh Zach!! Sangat bodoh!!" Eric mengeluarkan semua sumpah serapahnya.
"Kau tak tau apa-apa Ric!!" Mereka mulai bersitegang setelahnya.
"Kau yang tak tau siapa dirimu Zach. Aku sungguh tak lagi mengenal kau yang sekarang." Nada suara Eric mulai melunak, namun penuh tekanan dan mengena dihati Zach.
Tak mau berdebat lebih lama lagi dan berakhir dengan mereka beradu otot, Eric yang lebih tua mengalah. Ia berjalan masuk kekamarnya tak baik jika ia terus-terusan beradu mulut dengan Zach yang menurutnya sudah berada di luar jangkauannya.
"Mau kemana kau? Kau selalu saja pergi saat kita bicara, apa kau mau menunjukkan bahwa aku yang salah HAH!!" Zach berteriak melihat Eric yang pergi meninggalkannya.
"Mereka yang salah. Mereka semua salah tapi mereka semua juga benar. Hiks…hikss.." Zach jadi lebih cengeng belakangan, semua orang menentangnya dan membuat ia mengalami guncangan emosi.
°°°°
Eric belum juga bisa memejamkan matanya, sebenarnya ia tak mau berdebat dengan Zach, karena ia tau tujuan sahabatnya menginap ditempatnya untuk menenangkan diri. Ia juga tau kalau Zach tertekan beberapa hari belakangan.
Dia bingung harus bagaimana menghadapi sikap Zach yang sekarang. Ia tau Zach sangat mencintai Melodi, tapi wanita itu sangat tidak baik untuknya dan segala yang berhubungan dengan Zach entah itu keluarga dan persahabatan mereka.
Semua orang tau bahwa Eric sangat menjunjung tinggi wanita, dimatanya setiap wanita harus dihormati dan dilindungi tak peduli siapa mereka, dan apa pekerjaan mereka. Itu semua jelas terlihat dari cara ia membantu mba-mba pelayan restoran dan juga Celo. Tapi tidak untuk Melodi, mungkin sebagian orang akan berpikir ia cemburu atau apalah. Namun itulah kenyataannya.
Bagi Eric, Melodi tak pantas untuk dilahirkan sebagai seorang wanita. Entah apa alasannya, itu hanya Eric dan Melodi sendiri yang mengetahuinya.
Terlalu larut dalam lamunannya, terdengar suara ketukan pintu.
"Ric, dengarkan aku. Jangan tinggalkan aku sendiri Ric. Disini sangat dingin, semuanya dingin." Terdengar suara Zach dibalik pintu kamarnya sepertinya dia sedang mengigau karena mabuk.
"Ric, Melodi tidak menghianatiku, pria itu yang memaksanya. Mamaksa, lalu membawanya pergi. Pria itu jahat…hik..hik.." ucapnya diselingi cegukan.
"Kami sudah berjanji hik…hik akan selalu bersama selamanya."
"Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi hik.. sedangkan Celo, hik…gadis itu masih punya keluarga hik.."
"Semua orang sayang padanya…"
"Sementara Melodi, hanya aku yang sayang padanya. Kenapa kalian membencinya?"
"Kami akan hidup berdua selamanya. Hanya kami..hik…"
"Lalu..hik…lalu…"
Brakk
Kata-kata Zach terputus, nampaknya dia sudah kehilangan kesadarannya. Tubuhnya ia sandarkan didaun pintu kamar Eric.
Didalam kamar, Eric tak bergeming sedikitpun, ia merasa sangat jijik dengan kata-kata yang baru saja diungkapkan Zach. Kata orang, perkataan orang mabuk selalu jujur. Tapi itu sangat menjijikkan menurutnya. Dan dengan teganya Eric membiarkan Zach tidur dipintunya semalaman.
Menjelang fajar, Zach terbangun dengan kepala serasa terhantam batu besar berat sekali, belum lagi tubuhnya yang pegal karena posisi tidur yang tak nyaman. Ia beranjak menuju kamar, dan menyambung tidurnya.
°°°°
"Dia benar-benar marah." Gumam Zach.
Eric sangatlah dewasa dalam berpikir, jika ia melakukan kesalah akan segera diperbaikinya begitupun dengan maaf. Jika ia tak pernah minta maaf pada Zach, karena perbuatannya itu berarti Zachlah yang bersalah dan sepenuhnya ia menyadari itu. Namun tetap saja ia kekeh untuk mempertahankan keegoisannya.
Zach berencana pulang kerumahnya hari ini, ia merindukan maminya dan juga berniat membujuknya.
"Tuan muda sudah pulang?" Bibi melihat kedatangan tuannya menyambut dengan hangat.
"Mm…mana mami bi?"
"Dibelakang tuan muda. Mau bibi ambilkan minum?" Tawar bibi Yan.
"Tidak usah bi, Zach sudah minum. Bagaimana kabar mami?"
"Huft…kesehatan nyonya sudah membaik, hanya saja nyonya jarang sekali bicara apalagi tersenyum tuan. Lebih baik tuan temui nyonya, barangkali beliau bisa senang." Ucap bibi.
"Baiklah. Zach kebelakang dulu."
"Baik tuan."
"Bagaimana mami bisa senang jika biang masalahnya aku sendiri." Batin Zach sedih.
°°°°
Zach mendekat kearah maminya, nampak disana beliau sedang menyemprot sebuah tanaman kaktus.
"Mi…" Zach menyapa maminya dengan mengusap perlahan pundak sang mami. Tapi sayang, beliau hanya menoleh sekilas tanpa membalas sapaan putranya.
"Mami sudah makan?"
"Sudah." Kali ini beliau menjawab basa basi putranya. Sebenarnya ia juga tak ingin begini pada Zach, tapi jika hati sudah kecewa akan sangat sulit memulihkannya.
"Zach cuma mau lihat keadaan mami. Syukurlah mami sudah membaik, Zach senang malihatnya." Tangannya beranjak menggenggam tangan maminya.
"Mm.."
"Zach kangen mi, Zach merindukan mami." Pemuda itu menghambur memeluk maminya, wanita yang sangat dirindukannya.
Sebaliknya, mami yang juga merindukan anaknya juga balas memeluk putranya. Zach terkejut, ia sangat senang dibuatnya.
Zach merasakan bahunya basah, jelas nampak dari kemejanya.
"Mami kenapa menangis?" Zach melepas pelukannya, beralih menatap wajah maminya yang basah karena air mata, perlahan diusap air mata kesedihan itu.
"Maafkan mami nak." Ucapnya, namun terdengar pilu dan menyakitkan.
"Nggak mi, jangan minta maaf. Tak pantas seorang ibu minta maaf pada anaknya." Zach menggelengkan kepalanya.
"Tidak nak. Harusnya dari kemarin mami minta maaf, mami sudah kelewatan, mami egois. Mami hanya mengemukakan kesedihan dan kekecewaan mami tapi mami lupa, bahwa kaulah yang paling kecewa dan tersakiti." Jelas mami seraya mengusap wajah putranya yang belakangan tampak tak terurus lagi, bulu-bulu halus menggerayangi wajah anaknya.
"Nggak mi, jangan katakan itu." Tolak Zach lagi, ia merasakan sesak yang luar biasa.
"Zach, dengarkan mami, mulai sekarang carilah kebahagiaanmu. Jika kau bahagia bersama wanita itu kejarlah dia, mami ikhlas nak." Beliau memejamkan matanya.
Deg
"Mm-makksud mm-mammi apa?" Ia merasa ada yang tak beres dengan maminya itu.
"Ya. Pergilah nak, kau bebas mulai sekarang. Mami melepaskanmu."
Zach merasa dunianya runtuh seketika itu, apa jadinya dia jika tanpa dorongan dan dukungan dari maminya. Wanita yang merupakan separuh dari hidupnya.
■■■■
maaf baru bisa up...
terima kasih buat semua teman-teman yang sudah mampir.
especially, buat yang Like, Vote dan Comment...🥰🥰🥰
btw, untuk kali ini focus ke Zach dulu, kalo kemaren kan focus ke Celo.
temen-temen jangan lupa tiap habis baca tekan Like ya...
biar lebih semangat ngetiknya...
terimakasih....😘😘😘