
▪︎▪︎▪︎
Tuan besar Alterio tengah menikmati sarapan paginya di balkon kamar hotel yang ia tempati selama di Holland. Sebenarnya beliau bisa saja menginap di rumah Zach, putranya yang kini di tempati oleh Bryan serta istri. Namun karena keegoisannya, beliau jadi gengsi untuk menginap disana, jadilah sekarang ia berada di salah satu hotel ternama di kota itu.
"Sebaiknya aku kembali saja ke Kanada. Toh percuma juga berada disini, jika semua rencana ku tidak berjalan lancar sebagaimana mestinya. Lagi pula, Bryan dan istrinya sudah bahagia. Tidak mungkin rasanya jika aku terus meminta mereka untuk berpisah atau sekedar menduakan istrinya." Papi melipat koran yang tadi sudah selesai beliau baca. Kini tangan yang perlahan di makan keriput itu meraih cangkir kopi yang disediakan pihak hotel sesuai permintaan beliau.
"Aku harus minta maaf pada Bryan, tidak seharusnya aku berlaku kasar. Bagaimana jika sampai Zach tau? Bisa-bisa dia meninggalkan perusahaan dan hidup sendiri lagi. Dia akan pergi membawa menantu serta cucu-cucu kesayangan ku." Papi terus menyalahkan diri dan menyesali tindakannya. Benar kata pepatah, penyesalan selalu datang terlambat.
"Sebaiknya aku bersiap sekarang, aku harus mendatangi Bryan untuk meminta maaf." Tubuh renta pria sepuh itu bangun dari duduknya, beliau melangkah ke arah kamar mandi untuk bersiap. Baru dua langkah, Papi di hentikan oleh suara bel pintu hotel.
"Siapa ya? Rasanya, aku tidak memesan layanan kamar." Berbalik arah, beliau menuju pintu untuk melihat siapa yang bertamu.
Titt
"Eh Bry, kau datang, baru saja Paman akan mengunjungi mu dan Sesyil di rumah. Sudahlah, mari masuk." Beliau menuntun Bryan yang sudah seperti anaknya sendiri masuk ke dalam kamar hotelnya.
"Cukup Paman! Tidak usah berbasa-basi lagi dengan saya. Juga, Paman tidak perlu lagi mengunjungi kami karena mulai hari ini saya akan melepas semua apa yang sudah Paman dan Zach berikan." Bryan menghentikan langkah Papi dengan tatapan muaknya. Selama mereka hidup berdampingan, baru kali inilah Bryan berucap tidak sopan pada Tuan besar Alterio itu.
"A,- apa maksud ucapan mu itu nak?"
"Cukup Paman! Jangan berpura lagi. Apa sekarang Paman sudah puas menghancurkan kebahagiaan saya? Keluarga saya?" Bentak Bryan. Ia masih setia berdiri di ambang pintu, menolak untuk di persilakan masuk oleh Papi.
"Ap,-"
Flashback
"Tidak Bry. Jangan minta maaf. Akulah seharusnya yang meminta maaf, aku sudah menyembunyikannya dari mu. Aku, aku juga minta maaf karena demi aku juga anak kita, kau memendam segalanya sendiri. Aku,- hiks, aku,-" Sesyil mengucapka kalimat cukup panjang yang sama sekali tidak di mengerti oleh Bryan. Terlihat dari pria itu mengerutkan keningnya.
"Apa maksud mu Baby? Apa yang sedang kau bicarakan? Bicaralah yang jelas." Tukas Bryan masih mengernyit heran.
"kenapa Bry? Kenapa kau menyimpan semuanya sendiri? Bukankah kita telah berjanji untuk saling berbagi dan tidak ada rahasia diantara kita? Tapi kenapa? Kenapa kau memendam semua beban itu sendiri? Apa kau akan meninggalkan ku?" Air mata Sesyil jatuh seiring kalimat yang keluar dari bibirnya yang masih pucat itu.
"Apa yang kau bicarakan Baby? Siapa yang akan meninggalkan siapa?" Sebisa mungkin pria itu menyembunyikan segalanya, walau mereka telah kehilangan calon bayi mereka namun rahasia itu akan tetap pada simpan karena ia telah bertekad untuk pergi jauh membawa sang istri dan hidup bahagia kelak.
"Mau sampai kapan kau menyimpan rahasia itu Bry? Sampai kau menduakan ku atau pergi meninggalkan ku? Aku sudah tau semuanya." Air mata Sesyil mengalir semakin deras, wanita itu memalingkan wajahnya agar Bryan tidak melihatnya.
"Apa? Dari mana kau tau semua itu?" Bryan menegang. Tubuhnya meremang sebab terkejut.
"Paman menghampiriku,-"
"Jadi Paman yang sudah membuat mu stress hingga kita kehilangan calon anak kita hah!" Bryan tidak sengaja membentak sang istri.
"Jangan menyalahkan orang lain! Ini semua sudah takdir!" Sesyil balas membentak Suaminya itu.
"Tidak ada yang namanya takdir jika itu di sengaja Sesyil!" Bryan masih geram atas tindakan Papi yang mendatangi istrinya diam-diam di belakangnya. Ia bangkit dari duduknya, lalu berdiri memungungi sang istri, tangannya terkepal erat bentuk dari pelampiasan emosi.
"Ya. Dan kau juga sengaja menyembunyikannya dari ku." Sesyil meredam isak tangisnya dengan bersikap datar.
"Kau ingat malam sebelum kau di nyatakan hamil? Sebenarnya aku ingin menceritakannya pada mu, namun kau sudah tertidur." Mendengar penuturan Bryan, ingatan Sesyil menerawang pada malam itu. Dimana Bryan menanyakan kesiapannya jika kelak mereka hanya hidup sederhana.
"Lalu paginya, kau dinyatakan hamil oleh Dokter dengan kondisi yang lemah. Lalu, apa menurut mu aku siap menceritakan segala dan kehilangan calon anak kita? Tidak. Meski pada akhirnya, ia tetap pergi meninggalkan kita."
"B-Bry,-"
Grep
Bryan memeluk erat tubuh sang istri, menyembunyikan tangisnya. Ia begitu terluka mendapati calon anak mereka telah pergi, sekarang di tambah lagi kekecewaan sang istri.
Sesyil melepas pelukan sang suami. Di rengkuhnya kedua pundak Bryan, menatap dalam dua bola mata pria yang dicintainya itu.
"Sekarang semua sudah terjadi, dan anak kita tidak akan pernah kembali lagi. Sekarang aku bebaskan kau, tinggalkan aku dan menikahlah dengan Chris, jadilah pengganti Ayah untuk anak mereka." Sesyil tersenyum tipis, mencoba untuk kuat sebisanya.
"Ap,-"
"Mereka lebih membutuhkan mu dibanding aku Bry, terlepas dari semua hutang budi kita terhadap Zach."
"Tidak. Tidak. Jangan berkata seperti itu. Kaulah hidup ku, tanpa mu aku bisa mati." Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak usulan sang istri.
Flashback off
"Selama ini saya selalu menghormati Paman, karena saya sudah menganggap Paman sebagai sosok Ayah yang tidak pernah saya rasakan selama ini. Tapi sayang, Paman tidak menghargai itu!" Usai meluapkan emosinya, Bryan berbalik hendak meninggalkan Papi yang terdiam dengan segala kesalahannya. Di langkah pertama, Bryan merasa kaki berat sebab tertahan sesuatu.
Brugh
"Apa yang paman lakukan? Bangunlah Paman." Tepat saat Bryan menoleh, ia mendapati Papi berlutut sembari memegangi sebelah kakinya. Tak ayal hal itu membuat Bryan mematung, disatu sisi memang ia marah dan kecewa terhadap Ayah dari sahabat baik yang sudah berjasa besar dalam hidupnya itu, namun di sisi lain ia juga tidak menginginkan hal seperti ini. Dimana Papi yang sudah ia anggap sebagai sosok Ayah berlutut di kakinya.
"Paman, Ayo bangun." Bryan membungkukkan tubuhnya untuk meraih Papi agar pria yang telah sepuh itu berdiri, namun tidak berhasil. Papi bertahan dengan posisinya, di tambah lagi kepala beliau yang menunduk dalam.
"Tidak Bryan. Paman akan terus seperti ini hingga kau memaafkan Paman. Paman pantas melakukan hal ini, karena Paman tau kata maaf saja tidak akan cukup untuk menghapus kesalahan Paman." Dengan suara bergetar, Papi menyampaikan maafnya yang belum tentu termaafkan.
"Jangan begini Paman. Bangunlah." Bryan meraih bahu orang tua itu untuk membantu beliau bangun.
"Tidak Bry. Paman bersalah. Paman mohon maafkan Paman, meski setelah ini kau akan tetap membenci Paman." Papi mendongakkan kepalanya menatap Bryan. Mata yang mulai redup penerangannya itu tampak memerah dan sedetik kemudian setetes cairan bening mengalir dari salah satu sudut mata beliau.
***
Di rumah mereka, tampak Sesyil sedang sibuk mengemasi semua pakaiannya ke dalam sebuah koper besar. Selesai dengan pakaian, ia berjalan mendekati meja nakas tepat di samping ranjang yang biasa mereka tiduri. Wanita itu duduk di tepinya, ia meraih figura berukuran sedang dimana ada foto mereka berdua yang menggambarkan betapa bahagianya mereka kala itu.
"Maafkan aku Bry." Setetes air mata kembali jatuh hingga menimpa foto tersebut.
"Semoga keputusan ku kali ini tepat dan ku harap tidak menyakiti siapapun."
▪︎▪︎▪︎