Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Entah kenapa dan untuk apa



"Celo, ayah dan neneknya meninggal."


"Apa? Kenapa bisa?" Zach tak percaya dan tak habis pikir. Tiba-tiba saja Eric menghubunginya dan bicara omong kosong.


"Ada orang yang menyerang mereka dan Celo nyaris saja akan dijual pada lelaki hidung belang. Kembalilah sebentar saja, mungkin kau bisa menenangkannya." Terkejut itu pasti, tapi siapa yang berani mengganggu keluarga Celo.


"Bukannya aku tak mau Ric, tapi aku tak bisa. Maaf." Jika ia kembali, semua akan semakin kacau.


"Zach…Zachery…." Masih terdengar suara Eric diseberang sebelum panggilan mereka berakhir, tepatnya Zach yang memutus secara sepihak ia tak mau hatinya goyah.


■■■■


Mereka masih menunggu proses untuk kepulangan jenazah ayah dan nenek Celo. Semua diselesaikan oleh Eric sementara Audrey menemani Celo.


Celo tak lagi menangis histeris seperti tadi, sekarang ia hanya diam dengan tatapan mata kosong. Tak baik jika ia terus diam seperti ini, karena bisa saja ia jatuh sakit dan lebih parah lagi jika ia berpikiran yang tidak-tidak.


"Cel-…" mami Zach yang sebelumnya sempat dikabari oleh Eric segera menyusul ke rumah sakit. Terlepas dari gagalnya pernikahan antara putranya dan gadis itu, beliau sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Terlebih sekarang, Celo sudah tak punya siapa-siapa lagi sepengetahuannya.


"Audrey….bagaimama keadaannya?" Mami mengurungkan niatnya bertanya pada Celo melihat keadaannya. Makanya, beliau bertanya pada Audrey yang memang sudah sedari tadi mendampingi Celo.


"Celo hanya diam saja sekarang bi. Audrey jadi takut." Tutur Audrey mengutarakan ketakutannya. Mami Zach beralih ke Celo, beliau coba mendekatinya layaknya seorang ibu.


"Sayang.." dibelainya rambut gadis itu penuh kasih sayang. Celo meresponnya, ia menatap kearah mami.


"Nyonya…." Mami tak membantah panggilan Celo terhadapnya, meski beliau sangat ingin Celo seperti sebelumnya memanggilnya dengan sebutan mami. Namun yang terpenting sekarang membuat gadis itu nyaman dan tak merasa sendiri.


"Celo tak sendiri. Semua orang ada disini." Mami membawa Celo dalam dekapannya. Tak ada air mata sama sekali, entah ia menyembunyikan kesedihannya ataukah ia sangat-sangat shock.


°°°°


Kurang lebih hampir dua jam menunggu, akhirnya mereka membawa ayah dan nenek Celo kerumah untuk disemayamkan malam ini. Barulah keesokan harinya dikebumikan, segala sesuatunya diambil alih oleh keluarga Alterio yang tak lain papinya Zach. Karena selain tak mempunyai sanak saudara lagi, Papi juga sudah terlanjur menyayangi Celo bagai putrinya.


"Ric, apa kau sudah coba menghubungi Zach?"


"Sudah paman, tapi dia tak bisa membatalkan keberangkatannya."


"Ya. Mungkin lebih baik begitu, jika ia kembali dan akhirnya akan tetap pergi. Kasihan gadis itu harus berharap padanya."


"Ya. Paman benar."


"Bagaimana nasib Celo kedepannya? Kasian anak itu. Sedari kecil kesusahan sudah menjadi bayang-bayangnya."


"Paman tak usah khawatir, Audrey akan membawanya bersama kami." Saut Eric yakin.


"Ya. Begitu sangat baik. Paman sangat ingin membawanya kerumah, tapi mengingat Christa yang sedang bertingkah dan juga ia sepertinya tak menyukai Celo. Akan buruk bagi Celo jika dia tinggal bersama kami karena harus ditekan oleh Christa."


"Paman benar."


"Dimana Shane? Dari tadi paman belum melihat anak itu?"


"Oh..ada paman. Dia sedang keluar membeli beberapa makanan untuk para tetangga yang berjaga."


"Ah iya. Paman sampai lupa." Mereka terdiam beberapa saat.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Paman yakin kau tak akan begitu mudahnya menyerahkan mereka kepolisi begitu saja." Papi juga turut marah akan perlakuan para penjahat itu.


"Itu akan sangat mudah bagi mereka. Tapi untuk sekarang biar mereka beristirahat dulu, kita juga harus menyelesaikan pemakaman dulu untuk menghormati ayah dan nenek Celo." Terpancar jelas kemarahan disorot mata Eric.


"Ya. Kau benar. Berikan mereka sesuatu yang pantas karena mereka tak layak mendapatkannya." Papi tak kalah marahnya dengan Eric. Siapa pun orangnya jika bertemu kasus demikian pasti akan ikut marah dan merasakannya.


°°°°


Dari semalam mami, Audrey dan bibi kedai selalu mendampingi Celo. Takut-takut gadis itu akan histeris atau sebagainya, nyatanya itu tak terjadi. Celo masih saja tetap diam tanpa setetes air mata pun yang menetes.


"Celo…mari kita pulang nak. Langit mulai mendung sepertinya sebentar lagi akan turun hujan lebat." Mami membujuk Celo agar mau meninggalkan tiga pusara orang-orang tercintanya.


"Celo mau disini dulu. Kalian pergilah." Pintanya. Tentu saja tak mereka iyakan, bagaimana kalau dia berbuat sesuatu yang aneh.


Melihat mereka tak bergeming Celo kembali buka suara.


"Tak perlu khawatir, Celo akan baik-baik saja, Celo hanya butuh waktu sendiri." Ia meyakinkan semua orang bahwa ia tidak akan aneh-aneh.


"Baiklah. Setelah itu pulanglah sayang." Ucap mami.


"Ya mi. Terimakasih. Terimakasih banyak semuanya." Semua orang pergi meninggalkan Celo sendiri meski keberatan. Tapi gadis itu juga butuh waktu seperti katanya barusan.


Sepeninggal semua orang yang hanya menyisakan Celo seorang diri. Nampak dari kejauhan seorang pria memakai pakaian serba hitam dan juga kaca mata hitam membungkus matanya. Ia terus saja dari tadi mengikuti setiap gerak gerik Celo.


Pria itu melihat Celo berbicara sendiri dengan mengusap-usap tiga buah nisan yang sudah bertuliskan nama secara bergantian. Tak lupa juga ia melihat Celo menangis dengan pilunya meski tak jelas apa yang diucapkan gadis itu.


Cukup lama memperhatikan, nampak Celo mulai berdiri dan berjalan tertatih-tatih meninggalkan semua makan tersebut. Baru beberapa langkah melangkah, tubuhnya terhuyung nampak tak sanggup lagi menopang berat badannya. Benar saja hanya dalam hitungan se per sekian detik tubuhnya ambruk nyaris saja menghantam tanah jika saja pria itu tak segera meraihnya.


"Mmas Zach…" sebelum kesadarannya hilang Celo sempat menggumamkan nama pria yang menolongnya.


Ya, pria yang memantau Celo dari jauh ialah Zach. Ia kembali dan datang pada Celo entah kenapa dan untuk apa.


°°°°


Semua orang yang menunggu kepulangan Celo dirumahnya terkejut melihat apa yang ada dihadapan mereka. Nampak jelas Zach membopong tubuh Celo kedalam kamarnya. Ia tidurkan gadis itu dengan pelan dan sangat hati-hati seolah gadis itu sangat rapuh dan bisa pecah kapan saja.


"Kau kembali. Terimakasih Zachery." Audrey menghampiri Zach setelahnya lalu memeluk pria itu. Zach membalas pelukannya dan mengusap pelan pucuk kepala Audrey.


"Kita bicara diluar." Ucap Zach.


"Mm…"


Mereka keluar dan bicara disebuah bangku dipinggir jalan. Zach tau ada yang ingin disampaikan oleh tunangan sahabatnya itu.


"Ada apa?" Tanya Zach lansung.


"Aku tak tau ini ada hubungannya dengan kalian atau tidak. Waktu itu Celo bicara tentang kebohongan, membawa pergi kebohongan yang dikatakannya. Apa maksudnya Zach?" Audrey ingin tau maksud dari perkataan Celo, ia yakin itu pasti ada hubungannya dengan Zach.


"Kenapa kau berasumsi bahwa aku tau akan hal itu?" Tanya Zach.


"Entahlah." Lalu tak ada lagi percakapan antara mereka.


"Zach.."


"Heumm.."


"Kenapa kau bisa kembali??"


■■■■


LIKE & COMMENT ya teman-teman….


Bagi yang mau, sangat diterima VOTE nya


Hehehee


Thanks so much…