Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Kencan



●●●●


"Kau baru pulang?" Seru Zach melihat Bryan di dapur sedang meminum air dingin dari dalam lemari pendingin.


"Mm…."


"Tidur dimana kau semalam?" Tanyanya lagi dengan tampang innocent nya.


"Tidak tidur Bos." Bryan berjalan lunglai ke arah meja makan, lalu menarik salah satu bangku untuk didudukinya.


"Kak Bryan, baru bangun?" Celo datang dengan wajah segar seperti sehabis mandi. Memang begitu kebiasaannya setelah memasak dan membereskan rumah barulah ia bebersih.


"Mm…." Gumam Bryan masih setengah sadar.


"Eh kakak ipar kapan kau pulang?" Ia menoleh kearah Celo, lalu menepuk sebelah pipinya untuk mengembalikan kesadarannya.


"Kemarin, sebelum makan malam. Kenapa Kak?" Dengan santai nya Celo menjawab, karena ia juga tak tau apa yang sebenarnya terjadi.


Sementara, disudut meja seseorang yang tak lain adalah Zach ia merasa Bryan sedang menatapnya tajam.


"Kenapa kau menatap ku begitu?" Imbuhnya tak kalah garang.


"Bosss….aku tidak pulang dan tak tidur semalaman karena mencari kakak ipar. Tapi kau malah tak memberi tau ku kalau dia sudah pulang. Tega kau Bos." Bryan mendramatisir suasana agar lebih berpihak lagi padanya.


"Mas…" Celo memperingati suaminya itu.


"Lalu kau mau apa? Menyalahkan ku?" Zach sama sekali tak menanggapi peringatan istri kecilnya.


"Tidak. Mana berani aku. Tapi, izinkan aku tidur dua jam lagi Bos."


"Terserah. Hari ini kau tidak usah ke kantor."


"Yes. Thanks Bos." Teriak Bryan senang.


"Kau pikir kau bisa libur dan bersenang-senang? Kau harus mencarikan kedai untuk istriku membuka toko bunga." Sanggah Zach cepat membuat kebahagiaan Bryan hanya bertahan sebentar.


"Mas…tidak usah terburu-buru juga." Celo kembali ambil suara.


"Sayang, Mas tidak mau kau sampai kebosanan lagi." Zach berucap seraya menyentuh wajah istrinya.


"Eheumm… kalian tidak hanya berdua saja disini. Masih ada aku!" Kesal Bryan.


••••


"Pi, Chris sedang apa ya Pi diluar sana? Anak kita tinggal dimana? Makan atau nggak ya Pi? Mami kangen sama Chris Pi." Saat bersantai berdua, tiba-tiba Mami teringat akan Christa putri semata wayangnya.


"Pasti karena kesepian nih, Mami jadi kepikiran Chris lagi." Batin Papi


"Sabar ya Mi, orang Papi, juga orangnya Eric masih terus mencari putri kita." Papi menggenggam tangan wanita yang sudah melahirkan sepasang anak untuknya itu.


"Tapi sampai kapan pi?" Mami mulai menitikkan air matanya.


"Papi janji sebentar lagi Chris pasti ketemu." Beliau mengusap cairan bening yang mengalir diwajah istrinya.


"Apa kita salah sudah menjodohkan Zach dengan Celo?" Mami berbicara dengan pandangan mata kosong.


"Apa maksud Mami bicara begitu?" Papi tak habis pikir dengan apa yang melintasi pikiran Mami.


"Bisa saja Chris pergi karena ia tak menyukai Celo kan, tapi pada kenyataannya Celo sudah sah menjadi istri Zach dan menantu di keluarga kita." Tatapan kosong itu berubah menjadi sendu dan tersirat penyesalan disana.


"Hus…Mami tidak boleh menyangkut paut kan masalah ini dengan pernikahan Zach. Mami sendiri bukan yang sangat gigih agar Zach mau menerima Celo, jika sekarang Mami malah menjadikan Celo alasan kepergiannya Christa Papi rasa Mami keterlaluan." Papi harus meluruskan apa yang sedang di kalutkan oleh otak istrinya itu.


"Maaf Pi, Mami hanya terbawa perasaan saja."


"Jangan sekali lagi Mami berpikiran seperti tadi, apalagi dihadapan menantu kita kasihan Celo." Beliau mengusap pundak istrinya.


"Tapi bagaimana jika Zach masih tidak bisa mencintai Celo Pi?" Mami yang belum tau akan pernyataan cinta Zach jadi sangsi akan masa depan rumah tangga anak sulungnya itu.


"Mi, berapa kali harus Papi ingatkan. Itu hidup mereka dan mereka lah yang telah memilihnya. Apapun itu keputusan mereka kelak, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung apapun itu nanti jadinya."


"Ya. Pi, Mami mengerti."


••••


"Mm…"


"Mas sakit?" Celo mengangkat tangannya, menyentuh dahi suaminya itu.


"Tidak. Kenapa?" Tentu Zach heran akan perlakuan istrinya.


"Tidak biasanya Mas pulang siang, Celo pikir Mas sakit."


"Maafkan Mas ya, Mas selalu tidak punya waktu untuk mu." Ujar Zach seraya membelai lembut wajah istrinya.


"Mas gak usah minta maaf, Celo ngerti Mas sedang sibuk. Maaf ya Mas, Celo pergi diam-diam hari itu pasti membuat Mas jadi merasa bersalah."


"…." Tanpa menjawab Zach hanya menatap dan tersenyum lalu belaiannya beralih ke kepala Celo.


"Kamu siap-siap sana." Puas menatap wajah manis istrinya ia minta Celo bersiap entah untuk apa.


"Kita mau kemana Mas?"


"Sudah ganti baju saja dulu." Zach tak mau dulu memberi tau Celo kemana mereka akan pergi.


"Tunggu sebentar ya Mas." Dengan wajah sumringah Celo bergegas berganti pakaian ke kamar mereka. Zach yang melihatnya hanya bisa geleng kepala seraya menyunggingkan senyum.


Sekitar lima belas menit menunggu, Celo kembali ke hadapan Zach dengan memakai dress dibawah lutut. Pria itu sampai tak berkedip melihat istrinya yang begitu manis tanpa ada sentuhan gula sedikit pun.


"Mas…mmm..kenapa? Tidak cocok ya?" Celo juga ikut meneliti penampilannya sendiri, tatkala suaminya menatap lekat penampilannya.


"Mas…" tak ada reaksi sedikit pun.


"Mas." Kali ini suara Celo sedikit agak di keraskan, dan juga ia menepuk lengan atas suaminya itu.


"Eum….eh iya. Ada apa?" Tanyanya seperti orang bodoh.


"Ada apa? Celo bertanya Mas kenapa? Apa baju ini tidak cocok?" Perhatian Celo kembali beralih pada pakaiannya.


"…." Lagi, pria itu tak bersuara ia malahan mendekati istrinya lalu memeluknya.


"Sangat cantik. I love you my wifey…" bisiknya tepat di telinga wanitanya.


"Celo juga sangat mencintai Mas…" wanita itu balas memeluk erat suaminya.


"Ayo kita jalan, jika berpelukan begini terus yang ada kita ke kamar dan tidak jadi pergi sayang." Goda Zach.


"Mas…"


Usai saling melepas pelukan masing-masing, Zach masih dengan satu tangannya memeluk pinggang kecil istrinya dari samping. Menuntun wanitanya memasuki mobil, untuk kemudian melaju dijalan raya dengan kecepatan sedang.


Jelas sekali mereka tidak terburu karena mereka sedang menikmati suasana berdua saja.


"Pekerjaan Mas sudah selesai?" Celo memecah keheningan diantara mereka.


"Tenang saja sayang. Tidak akan pernah ada gangguan di kencan kita seperti drama-drama yang ada di televisi." Di elusnya kepala Celo dengan satu tangannya.


"Kencan? Jadi kita sedang berkencan?" Pertanyaan yang terang saja membuat pipi wanita itu merona seperti buah tomat.


"Kenapa? Kau tidak suka kita menyebutnya kencan?"


"Bukan begitu. Celo sangat suka Mas, terima kasih." Lagi dan lagi ia berterima kasih atas apa yang diperbuat oleh suaminya sendiri.


"Tentu sayang." Mereka terus melanjutkan perbincangan dengan candaan dan tertawa ringan. Sampai tak terasa mobil yang dikendarai Zach berhenti di sebuah tempat, tempat kencan pertama mereka.


●●●●


teman-teman jangan lupa LIKE & COMMENT ya


VOTE nya juga