
●●●●
"Masuklah." Celo begitu terkejut begitu menoleh dan mendapati papan nama pemilik toko disana.
"Mas, ini..?"
"Surprise…."
"Ya. Toko bunga ini milik mu sayang." Dengan senyumnya Zach memberi kejutan tak terduga untuk Celo.
"Mas…" tanpa diminta lansung saja Celo memeluk tubuh Zavh yang tak begitu jauh dari jangkauannya.
"Terima kasih Mas."
"Tentu sayang." Disela pelukan mereka, Zach mengecil pucuk kepala istrinya.
"Kau tidak keberatan bukan, jika ini berdekatan dengan kantor Mas?" Dengan hati-hati Zach bertanya.
"Tidak. Kenapa Celo harus keberatan?"
"…." Selama bersama Celo, Zach lebih sering tersenyum dan tak lupa pula ia selalu memeluk istrinya untuk mengungkapkan seberapa besar cintanya. Seperti saat ini ia sedang memeluk erat tubuh mungil Celo.
"Kebetulan sekali ya Mas, tokonya bisa berseberangan dengan kantor Mas." Ujarnya disela pelukan mereka.
"Karena dengan begitu kau akan selalu berada dalam jarak pandang Mas, kita juga bisa berangkat dan pulang bersama, kita juga bisa selalu makan siang bersama. Selain itu, tempat ini lokasinya juga sangat strategis." Zach memperhatikan Celo hanya dia saja dan beralih menatap sekeliling.
"Bagaimana? Apa kau suka?" Entah kenapa Zach merasa bahwa istrinya sedikit keberatan.
"Suka. Sangat suka Mas." Tapi ekspresinya berkata lain.
"Sepertinya istri Mas tidak suka." Sekarang giliran Zach yang menunjukkan rasa kecewanya.
"Bukan begitu Mas. Celo merasa bersalah saja, disela kesibukan Mas. Mas masih saja mememuhi keinginan Celo tanpa tau pekerjaan Mas yang banyak dan juga rasa lelah ditubuh Mas." Ternyata itulah yang ada dipikirkannya sekarang.
"Hei..hei..Celo dengar, Mas melakukannya dwngan senang hati. Asal kau tau dengan melihat senyum mu semua rasa lelah setelah seharian bekerja lenyap seketika. Itulah kenapa Mas lansung membeli tempat ini, karena dengan begitu kita akan selalu berdekatan dan Mas tidak akan kelelahan lagi." Zach mengusap wajah Celo penuh kasih.
"Sudah. Ayo kita keluar, sepertinya pelanggan sudah mulai berdatangan." Kembali, Zach merangkul pinggangnya.
Mereka saling berbagi bahagian dan senyum selalu menghiasi rumahtangga mereka.
••••
Saat ini, Zach tengah menopang kepalanya dengan satu tangan memperhatikan istrinya yang sangat cekatan melayani pelanggan. Zach menyadari satu hal, ia belum pernah melihat Celo yang bekerja seperti saat ini. Ia jadi berpikir, pantas saja istrinya itu tak pernah merasa lelah dan keberatan menjadi tulang punggung di keluarganya dan harus bekerja keras. Karena segala sesuatunya ia terima dan dikerjakan dengan ikhlas dan senang hati meski umurnya masih sangat belia dan harusnya menikmati masa-masa remajanya.
Mengingat soal umur, Zach baru teringat sekarang bahwa ia memperistri seorang gadis ramaja yang harusnya merasakan kebebasan. Bagaiman jadinya jika istrinya hamil kelak, semua masa remajanya sudah pasti akan hilang karena statusnya sudah menjadi ibu muda.
Tapi Zach juga merasa bersyukur karena Celo lah yang menjadi istrinya dan bukan Melodi. Jika itu melodi pasti akan sulit menjalani hari-hari rumah tangga mereka.
"Mas. Mas kenapa senyum-senyum sendiri?" Ditengah lamunan nya, Zach dikejutkan oleh Celo yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya.
"Ah…sayang. Kau mengagetkan Mas saja." Zach menyentuh dadanya yang tadi baru saja terkejut.
"Mas kenapa?" Bukannya menjawab Zach malah memeluk perut Celo karena posisi istrinya itu yang berdiri di depannya.
"Tidak ada. Hanya Mas pikir, kenapa istri Mas jadi sangat sexy begini saat bekerja ya. Mas jadi merasa cemburu saat kau melayani para pria itu. Apa mereka tidak tau kalau disini ada suami mu." Ujarnya cemberut dan mempoutkan bibirnya.
" heheh…maaf Mas."
"Sayang, Mas sudah carikan karyawan yang akan membantu mu disini. Mas tidak mau kau sampai kelelahan."
"Ya Mas."
"Mas balik ke kantor sekarang ya. Kita akan pulang bersama nanti dan seterusnya."
"Iya suami ku." Kerana gemas Celo mencubit kedua pipi suaminya.
Sepeninggal Zach, Celo masih saja disibukkan dengan pelanggannya yang selaku saja datang silih berganti.
••••
Malam ini selesai dengan pekerjaan masing-masing mereka tidak lansung pulang kerumah. Melainkan Zach mengajak istrinya untuk dinner diluar.
"Mau apa kau?" Tanya Zach ketus.
"Santai Bos. Bolehkan numpang, mobilku lagi di bengkel Bos."
"Tidak! Kami mau keluar makan malam." Zach jadi kesal karena dinner romantisnya harus terganggu dan ia tak suka itu.
"Sekalian saja Bos, aku juga belum makan malam." Dengan tampang menjengkelkan Bryan bersikeras untuk ikut.
"Pergi saja sana sendiri!" Zach benar-benar kesal sekarang.
"Mas…kasian Bryan. Biarkan saja dia ikut kita." Pinta Celo yang membuat Bryan bersorak kemenangan.
"Yeayy…thanks kakak ipar." Bryan bermaksud akan memeluk Celo yang lansung saja ditarik oleh Zach.
"Berani kau peluk dia, akan ku habisi kau sekarang juga." Ancamnya. Bryan yang melihat tatapan Zach lansung saja ciut.
"Bos, seharian ini sudah dua kali kau mengancamku. Ingat Bos, aku masih mau menikah."
"Terserah. Ayo sayang." Zach beralih keistrinya dan membukakan pintu untuk Celo.
Mereka makan malam bertiga di restoran biasa saja, tak ayal pertengkaran Zach dan Bryan menghiasi suasana malam itu.
"Mas, bagaimana kalau di toko dibuat dapur mini? Disela bekerja Celo bisa memasak untuk makan siang sekalian malam kita. Sayang kalau kita harus makan di luar atau pesan makanan cepat saji."
"Mas sih terserah kamu saja, asal jangan sampai kelelahan."
"Bagus tuh kakak ipar. Makan di luar tak seenak masakan buatan kakak ipar." Ujar Bryan dengan mulut masih penuh dengan makanan.
"Heh…kalau mai bicara habiskan dulu makanan di mulut mu itu." Nampaknya Zach masih saja kesal dengan Bryan karena sudah mengganggu makan malamnya dengan Celo.
"Celo tidak lelah Mas. Celo tidak mau kalau sampai peran Celo sebagai istri harus berkurang karena bekerja, Celo mau semuanya seimbang." Mereka kembali ke pembahasan mereka dan mengacuhkan Bryan.
"…." Hati Zach menghangat karena ungkapan hati Celo yang sederhana.
••••
"Bry, kau yang menyetir. Enak saja sudahlah makan malam gratis, menumpang pula, kau pikir aku ini supir mu." Zach menyuruh Bryan menyupirinya dan Celo.
"Tapi aku kan bukan supir Bos." Tolaknya.
"Ohh…jadi aku yang akan menyupiri mu begitu. Bagus sekali. Baiklah." Dengan geramnya Zach berucap.
"Bukan begitu Bos, ahh…baiklah." Saat ini sepasang suami istri itu duduk dibelakang, sementara Bryan menjadi supir mereka malam ini.
Selama di perjalanan, tak ada habisnya Zach dan Celo beromantis ria. Senyum selalu terukir diwajah mereka.
"Ahh…senangnya melihat Bos bisa tersenyum lepas seperti ini. Selama bersama Melodi yang ada dia selalu saja kesal karena wanita keras kepala itu." Batin Bryan.
Pukul sembilan malam, mereka sampai dirumah. Baru saja Bryan akan membuka pagar rumah, ia melihat seorang wanita sedang berdiri didepannya.
"Kau! Sedang apa kau disini hah?" Bentak Bryan penuh kebencian.
"Aku? Tentu saja kemari untuk menemui kakak ku dan mencari ayah dari anak ini!" Jawabnya tak kalah sengit.
Bryan sendiri tak tau lagi bagaimana harus bertindak jika sudah seperti ini. Chris mengejarnya sampai ke sini, jika Zach tau semua akan kacau apa yang akan dia jelaskan nanti.
●●●●
Mampir yuk teman-teman ke judul baru
UNEXPECTED LOVE
jangan lupa dukungannya dengan cara LIKE & COMMENT
FREE
TERIMA KASIH