Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Manusia tak bermoral



"Maaf Celo, aku tau kau jatuh cinta padaku. Maka dari itu aku harus pergi menjauh karena aku mencintai wanita lain dan tak mau kau jatuh lebih dalam lagi."


■■■■


"Aku tau ini salah, tapi kenapa hati ini sangat berat melepasmu?"


Zach, masih terus menatap lurus kearah perginya Celo ia merasa berat jika harus melepas gadis itu dari hidupnya. Egois memang ia ingin gadis itu tetap dalam jangkauan matanya, tapi hatinya hanya untuk mencintai wanita lain.


"Kenapa aku seperti ini? Apa karena rasa kasihan yang begitu besar? Ah..sudahlah, keputusan sudah diambil. Memang seharusnya aku menunggu Melodi kembali kesisiku lagi." Setelah meyakinkan dirinya, Zach melajukan mobil meninggalkan sekitaran rumah Celo.


°°°°


Didalam kamarnya, Celo terus saja terbayang wajah Zach. Disaat mendengar Zach akan pergi jauh dan tak tau kapan akan kembali, Celo merasa dunianya runtuh, tak cukupkah dia mencintai pria itu dalam diam sehingga ia harus pergi. Untuk kesekian kalinya Celo merasa hidup benar-benar tak adil padanya.


"Apa aku tak berhak untuk dicintai? Untuk mencintai saja aku harus mendapat kenyataan sepahit ini. Hikss…hiks.."


Drtt…drrt..


Larut dalam tangisnya, Celo merasa ponselnya bergetar tanda panggilan masuk. Tak munafik ia berharap banyak jika yang menghubunginya itu ialah Zach. Mengharap pria itu berubah pikiran dan mencoba membuka hati untuknya.


Saat melihat siapa yang menghubunginya, seketika harapan Celo buyar. Ternyata yang menghubunginya ternyata Audrey, bukannya ia tak senang melainkan ia terlalu banyak berharap tadinya. Celo coba menetralkan suara dan detak jantungnya agar Audrey tak tau keadaannya yang sekarang.


"Hh-haloo kak Audrey.." sambut Celo begitu ia menggeser icon berwarna hijau pada layar ponselnya.


"Celo…syukurlah kau mengangkatnya. Kakak sangat khawatir padamu. Kenapa kau tak pernah menghubungi kakak sekalipun?" Terdengar helaan nafas lega dari seberang sana dan juga serentetan pertanyaan.


"Maaf kak, Celo lupa. He he hee…" jelas sekali tawanya ia buat.


"Kali ini kakak maafkan, tapi tidak ada lain kali. Oke!!" Tukas Audrey.


"Ya kak." Jawabnya layaknya anak kucing.


"Tunggu, kenapa kau belum tidur?" Audrey tersadar akan sesuatu.


"Tidak apa-apa. Kakak sendiri kenapa juga belum tidur? Lalu kenapa kakak menghubungi Celo saat larut begini?" Celo balas bertanya dengan polosnya.


"Belum saja. Itu .. itu karena kau sangat sulit untuk dihubungi adik kecil." Ucap Audrey saat menemukan jawaban yang tepat.


"Maaf kak."


"Lupakan. Besok bisakan kita bertemu?" Sudah lama Audrey ingin bertemu dengan Celo.


"Baiklah kak."


"Kalau begitu besok siang kakak mampir ke toko bunga ya." Audrey nampak sangat antusias dengan jawaban Celo.


"Ya kak. Celo tunggu."


"Baiklah, kakak tutup. Lansung istirahat. Mengerti adik kecil! Hehehee."


"Kakak juga." Mereka sama-sama mengakhiri panggilan melalui ponsel tersebut.


Sejenak Celo lupa akan masalah dan perasaan yang dialaminya. Hal yang perlu di syukurinya, ia selalu dikelilingi orang-orang baik. Begitupun dengan Zach, pria itu baik hanya saja dia tidak bisa membalas perasaan Celo begitu saja.


°°°°


Disudut lain, tepatnya berbeda negara. Melodi tengah menikmati makan malamnya dengan pria yang merupakan ayah dari bayi yang dikandungnya.


"Apa yang kalian lakukan saat bertemu kemarin?" Tanya si pria sarkastis.


"Apa? Melakukan apa maksudmu?" Memang mereka tak melakukan apa-apa bukan.


"Jangan bohong ...kau bahkan sering tidur denganku setelah kau juga tidur dengannya." Ejeknya lagi.


"Sayang…kau cemburu ya?" Melodi beralih duduk dipangkuan si pria.


"Heh…pria mana yang tak cemburu saat wanita dan calon anaknya dikunjungi laki-laki lain!!" Ucapnya sedikit meninggi.


"Sungguh. Kami tidak berbuat apa-apa, dia hanya istirahat sebentar." Jujurnya.


"Baiklah. Lalu apa saja yang kalian bicarakan?" Rasanya ia masih belum sepenuhnya percaya dengan ucapan Melodi. Karena prianya masih meragukannya, maka Melodi menceritakan semua yang ia bicarakan dengan Zach tempo hari itu.


"Brengsekk!!" Pria itu kesal, ia tak suka wanitanya diganggu.


"Bagaimana bisa tenang? Besok kita akan pindah!" Titahnya.


"Pindah? Lagi? Tapi aku senang disini." Tolak Melodi.


"Kau senang tinggal disini karena dia sudah menemukanmu bukan!" Pria itu masih saja kesal dan terus memojokkan Melodi dengan ejekannya.


"Sayangg…" rengeknya lagi.


"Baiklah. Baiklah… tapi kita akan tetap pindah besok! Baby…sekarang kita kekamar ya nak." Sesegera mungkin dibopongnya Melodi kekamar mereka.


Entah apa maksud dan tujuan Melodi pada Zach, ia mencintai Zach namun ia memilih pria lain dan juga mencintainya. Mungkin mereka termasuk dua dari sekian banyak manusia tak bermoral didunia ini.


°°°°


Seperti janji mereka semalam, Audrey menghampiri Celo ke toko bunga. Setibanya disana, Audrey melihat Celo yang tengah kerepotan karena pelanggannya kebetulan sangat ramai. Bahkan bibi kedai juga nampak kerepotan sendiri, Audrey lalu menghampiri mereka dan segera membantu apa yang ia bisa.


"Kak Audrey." Sapa Celo begitu melihatnya.


"Haii…"


"Maaf kak, silakan duduk dulu Celo melayani pelanggan sebentar." Pintanya dengan sedikit rasa bersalah.


"Tak apa. Sini biar kakak bantu." Tawarnya.


"Tidak usah kak. Nanti merepotkan, juga nanti baju kakak bisa terkena getah bahkan juga bisa kena duri." Celo menolak karena merasa tak enak.


"Santai saja." Audrey sedikit menggulung lengan kemeja yang dipakainya agar tak merasa terganggu.


"Nona, anda mau pesan apa?" Tanya Audrey melayani salah satu pelanggan dengan ramahnya.


"Saya mau satu keranjang bunga krisan putih nona."


"Baiklah tunggu sebentar." Dengan sigapnya Audrey menyusun satu persatu tangkai bunga krisan putih, dengan lihai tangannya menyusun dan merangkainya dalam sebuah keranjang khusus untuk bunga. Tak butuh waktu lama, Audrey bisa menyelesaikannya dengan rapi dan indah bibi dan Celo dibuat cengo olehnya.


Setelah semua pelanggan mulai sepi berkat bantuan Audrey, bibi mengizinkan Celo keluar sebentar.


Celo dan Audrey singgah disebuah coffe shop diujung jalan dekat toko bunga. Mereka menikmati secangkir minuman ditemani sepotong kue pilihan mereka masing-masing.


"Kenapa kau harus bekerja part time segala?" Tanya Audrey to the point.


"Celo butuh uang lebih untuk berobat ayah kak." Jujurnya.


"Kau bisa minta pada kakak atau Eric. Tidak harus bekerja siang malam begitu." Celo hanya tersenyum mendengarnya, ia sangat senang ada orang yang dengan tulus bersimpati padanya.


"Tidak kak. Celo tidak mau dikasihani, selagi mampu kenapa kita harus meminta bantuan orang lain." Masih dengan senyumnya.


"Kenapa tidak minta dicarikan pekerjaan dengan Eric? Kau bisa bekerja disalah satu Club milik Eric."


"Tidak kak. Celo mau melupakan semua yang berhubungan dengan mas Zach." Seketika Audrey tersenyum, nampak ada kesedihan dimatanya. Melihat itu, Celo jadi merasa bersalah.


"Maaf kak, Celo tidak bermaksud menyinggung atau menyakiti perasaan kakak. Celo hanya tak mau orang-orang merasa kasihan, dan juga cepat atau lambat Celo tetap harus melupakan mas Zach. Untuk sementara Celo mau menghindari semua yang berhubungan dengannya, akan sangat sulit jika Celo masih berada disekitarnya." Terangnya jujur.


"Baiklah. Jika itu sudah keputusanmu dan baik menurutmu, kakak hanya bisa mendukungmu. Tapi ingat, jika ada sesuatu yang sangat mendesak jangan sungkan untuk menghubungi kakak atau Eric. Kami akan selalu mendukungmu, kau sudah seperti adik kami sendiri. Dan datanglah saat kau telah melupakannya." Audrey memperjelas posisi Celo sebagai adiknya.


"Terima kasih banyak kak. Celo sangat senang kakak sudah sudi menganggap Celo sebagai adik." Celo memeluk Audrey lama.


Terkadang tak semua kebaikan datang dari orang terdekat termasuk keluarga kita. Kebaikan biasanya selalu datang dari berbagai arah, bahkan dari seorang yang tak pernah kita kenal sebelumnya dan pada akhirnya merekalah keluarga, dan sahabat kita sesungguhnya. Yang menerima kita apa adanya dan bahu membahu menyelesaikan masalah satu dan lainnya. __Areum Kang__


■■■■


Ketemu lagi…


Gak bosan-bosannya saya minta maaf karena ngaret lagi…


Dan juga ga pernah bosan berterima kasih dan minta bantu LIKE, COMMENT dan VOTE nya bagi yang bersedia.


Thanks so much


Turut berduka ya bagi yang mengidolakan KOBE BRYANT or The BLACK MAMBA bersama putri tercintanya GIANNA BRYANT


#ripkobebryant #ripkobebryantanddaughter #ripgianna