Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Super Junior



●●●●


Hari ketujuh sepeninggal Zach yang berarti sudah seminggu Celo tidur sendiri. Tak jarang, terkadang pikiran buruk melingkupi hatinya misalnya Zach bertemu wanita yang dicintainya atau Zach tergoda perempuan cantik diluar sana.


Walau demikian Celo tetap mempercayai suami tercintanya. Karena suatu hubungan akan utuh jika dilapisi dengan kepercayaan.


Hari ini Celo berencana akan pergi keluar bersama Audrey untuk membantu segala persiapan pernikahannya dengan Eric. Semalam ia sudah minta izin pada Zach dan juga mertuanya.


Tok tok


Celo yang tengah bersiap mendengar ada suara ketukan pintu. Bergegas ia membukanya, benar saja ternyata sang mertua yang naik ke atas.


"Mi.." sapa Celo.


"Sudah siap sayang? Tu Audrey udah nungguin di bawah." Ucap Mami.


"Sudah Mi. Apa kak Audrey udah lama datangnya Mi?"


"Belum. Baru sebentar ini kok." Mami berkata sambil matanya mematut menantunya dari atas hingga ke bawah. Seperti biasanya, Celo selalu manis dan juga pakaiannya selalu sopan dan tidak terbuka dan inilah salah satu point plus Celo baginya.


"Sudah sana pergi, nanti kalian terlambat." Mami mendorong pelan punggung menantu yang rasa putri baginya itu.


"Kak." Sapa Celo melihat Audrey sedang memainkan ponselnya.


"Celo…wahh…semenjak menjadi istri adik kecil ku ini semakin cantik saja." Goda Audrey seraya memperhatikan Celo.


"Kak Audrey ada-ada saja. Kakak juga semakin cantik kok." Puji balik Celo pada Audrey.


"Sudah, sudah. Sana pergi, jika kalian saling puji terus kapan selesainya." Mami datang dari arah atas dan menginterupsi pembicaraan menantu dan sahabatnya.


"Iya Bibi." Saut Audrey tersenyum.


"Oh ya, Audrey. Bibi sudah menghubungi dan men-deal kan WO dan MUA kenalan Bibi. Jadi kalian tak perlu pusing lagi cukup urus saja yang berhubungan dengan kalian saja, seperti gaun, cincin dan lain sebagainya. Jika ada sesuatu yang kalian butuhkan atau tidak mengerti beri tau Bibi atau Paman." Ujar Mami panjang lebar.


"Ya Bi, sekali lagi terima kasih banyak." Imbuh Audrey sungkan.


"Tidak apa-apa sayang. Kalian sudah seperti putra dan putri Bibi." Saut Mami tulus.


••••


Usai pembicaraan kecil di rumah Mami, mereka segera pergi ke tempat tujuan. Partama-tama Audrey harus memesan wedding dress dahulu, karena itu yang membutuhkan proses lama.


"Selamat siang Nona, selamat datang di boutique kami. Apa anda sudah ada janji sebelumnya?" Tanya salah satu karyawan disana saat menyambut kedatangan kami.


"Sudah. Atas nama Nyonya Alterio." Saut Audrey dengan senyum.


"Ahh…silakan Nona, lewat sini."


Audrey dipersilakan masuk kedalam suatu ruangan yang sepertinya ruangan desainer nya. Tak lupa ia mengajak Celo ikut kedalam kalau-kalau ia ragu akan model yang akan dipilihnya.


Butuh waktu tiga jam untuk Audrey mendapatkan gaun yang sesuai seleranya. Celo dengan sabar menemani sahabat yang sudah seperti kakak baginya itu. Karena semalam suaminya sudah mewanti-wanti kalau Audrey itu simple tapi ribet.


••••


Sore hari Audrey mengajak Celo singgah di cafe favoritnya, ia mau mengajak gadis itu bersantai menikmati waktu.


"Selama hampir dua minggu ini, apa Zach memperlakukan mu dengan baik?" Sebenarnya Audrey penasaran bagaimana cara mereka menjalani pernikahan dan juga dari jarak jauh begitu.


"Mm…Mas Zach selalu perhatian, bahkan semenjak ke Holland, dia selalu menyempatkan waktu untuk menghubungi Celo kak." Senyum tak pernah lepas dari wajah manisnya.


"Bagus lah. Lalu apa dia sudah mencintai mu?" Pertanyaan Audrey barusan sukses membuat Celo menahan nafas. Pasalnya ia juga tidak tau akan hal itu.


"Itu…Celo tidak tau kak. Tapi Mas Zach bilang dia sudah membuka hatinya untuk Celo." Ia sedikit menunduk, dan memainkan jari tangannya.


"Maaf, jika pertanyaanku mengganggu mu. Tapi percayalah, kalau Zach bicara begitu, itu artinya dia memang sedang membuka hatinya untuk mu. Kau harus sabar menunggu sampai saat itu tiba." Audrey menggenggam tangan Celo untuk meyakinkan sahabatnya itu.


"Ya Kak, selama masih punya kesempatan itu Celo akan terus berusaha membuat Mas Zach mencintai Celo." Ucapnya penuh semangat.


"Bagus itu." Sorak Audrey senang.


Mereka hanya berbicara ringan setelah itu sambil menikmati pesanan yang diminta Audrey.


"Ya?"


"Celo penasaran dengan ucapan Mas Zach waktu malam romantis itu."


"Tentang apa?"


"Super Junior." Ucap Celo seraya mengingatnya.


"Ahh…kau mau tau?" Calon istri Eric itu nampak sangat bersemangat, Celo mengiyakan nya karena juga penasaran


"Super Junior itu, salah satu boy gruop asal korea selatan. Meski pun mereka tak lagi muda, tapi mereka masih tampan dan memiliki kemampuan yang tak kalah dari boy group junior lainnya. Lagunya bagus-bagus kok, Celo mau dengar?" Tanya Audrey dengan menggebu-gebu. Sedangkan Celo hanya mengangguk kecil mengiyakan.


"Bagus bukan?" Lagi ia bertanya dengan antusiasnya.


"Mm…tapi Celo paling suka lagu yang tadi. Itu apa judulnya?" Celo yang baru diperdengarkan tentu tak lansung ingat. Ia coba menirukan irama yang di ingatnya.


"Ohh yang itu. Itu, judulnya One More Chance. Kakak juga suka yang itu, eh bukan cuma itu sih semuanya suka. Hehee…"


"Celo mau lihat photo-photo mereka?" Bukan Audrey namanya jika dia tidak antusias tentang idolanya.


"Hehheee…boleh kak." Celo enggan untuk menolaknya.


"Ini. Ini namanya Leeteuk, yang ini Heechul, ini Hangeng, lalu yang ini Yesung, Kangin, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, terus ini Siwon, dan ini Zhoumi, Donghae, Ryeowook, Kibum, dan Kyuhyun, terus yang terakhir Henry. Mereka tampan-tampan bukan." Audrey menyebutkan nama mereka satu persatu khas dengan aksen nya.


"Wah..banyak sekali kak." Salut Celo.


"Sekarang sudah gak ber lima belas lagi. Sudah ada beberapa orang yang mengundurkan diri, dan satu orang yang sudah menikah." Ia nampak sedih setelahnya.


"Kakak kenapa sedih?" Terang saja Celo heran, Audrey yang tadi ceria berubah jadi sedih.


"Gak apa-apa, cuma sedih aja, kenapa mereka harus keluar dari group." Imbuhnya.


"Mungkin memang itu pilihan terbaik bagi mereka kak. Sebagai fans nya kakak harus tetap mendukung mereka." Ujar Celo bijak.


"Tentu saja. Bahkan cinta kakak ke mereka lebih besar dibanding ke Eric. Tapi jangan bilang-bilang ya. Heheee…" pertemuan mereka hari itu di akhiri dengan canda tawa lepas. Audrey kembali mengantarkan Celo ke rumah Mami saat jam makan malam.


••••


Seperti biasa selama seminggu terakhir ini, rutinitas baru Celo sebelum tidur yaitu berbincang dengan suaminya melalui ponsel.


"Kemana saja kalian seharian ini? Lalu apa saja yang kalian bicarakan?" Zach selalu menanyakan kegiatan istrinya sehari-hari sebagai bahan pembicaraan.


"Ke Boutique. Kak Audrey mau memesan Wedding Dress. Benar kata Mas, kak Audrey harus butuh waktu tiga jam untuk memilihnya." Adu Celo pada Sang suami.


"Benar kan. Duhh…kasian sekali istri Mas." Zach mengusap-usap layar ponsel layaknya ia sedang mengusap wajah istrinya. Melihat itu Celo tersenyum bahagia.


"Lalu, apa lagi?" Lanjut Zach.


"Tadi kak Audrey memberi tau Celo tentang Super Junior." Ujar Celo.


"Ahh…sudah Mas duga, cepat atau lambat dia pasti akan meracuni mu." Sungut Zach di seberang sana.


"Memang kenapa? Mereka tampan dan suara mereka juga bagus kok Mas." Celo memuji pria lain di depan suaminya, walaupun tidak secara lansung.


"Celo, suami mu ada disini sekarang!! Awas saja kalau kau berani macam-macam tidak akan Mas beri kau anak." Ancam Zach dengan wajah kesalnya.


"Anak?" Tanya Celo polos.


"Ya anak. Kau tidak mau punya anak?" Ancam suaminya lagi.


Zach terus saja menyudutkan istrinya dengan ancaman. Sementara Celo yang polos hanya diam, patuh menuruti suaminya itu. Tapi dalam hati ia sangat bahagia akan perubahan hangat suaminya.


Apa yang dikatakan orang tetua itu benar tentang kesabaran berbuah manis. Asal kita tidak pernah mengeluh meski itu sangat sulit. Dan jangan sesekali berkata hidup tidak adil karena akan ada saat dimana kita akan meraih bahagia. Tapi tentu saja itu semua harus diiringi dengan usaha dan doa. __Areum Kang__


●●●●


Teman-teman jangan lupa ya tetap dukung saya. terima kasih semuanya.