Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Kau harus jujur Shane-Chris



▪︎▪︎▪︎


Bryan tidak mau berlama-lama. Sehari setelah pernikahannya, mereka lansung terbang ke negara tempat honeymoon yang dihadiahi oleh Shane juga Eric. Alasannya, karena mereka sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan masing-masing. Terutama Sesyil, perempuan itu sudah sangat lama meninggalkan Toko bunga yang sudah dirintis Celo karena kesalah pemahamannya.


"Sudah siap untuk hidup baru kita Baby?" Bryan menggenggam tangan wanita yang sudah terikat sehidup semati dengannya itu. Tidak lupa, mereka saling melempar senyum bahagia satu sama lain.


"Siap." Jawaban meyakinkan dikeluarkan Sesyil setelah sebelumnya menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya pelan. Seperti, wanita itu melepaskan segala beban dan bersiap menghadapi suasana baru.


Mereka berpamitan dengan keluarga besar Zach, juga para sahabat. Mereka juga diantar oleh Eric dan tak ketinggalan Zach serta Celo, istrinya.


"Karena kita sudah menikah, itu artinya tidak ada lagi rahasia diantara kita. Aku mau kau selalu berkata jujur atas apa yang tidak kau sukai dari tindakan ku."


"Kau B, kau harus selalu mengingatkan ku jika berbuat suatu kesalahan. Dan maaf perihal kejadian yang lalu." Sesyil bergelayut manja disalah satu lengan pria yang kini sudah berstatus suaminya itu.


Saat ini sepasang pengantin baru itu baru saja duduk di pesawat yang akan membawa mereka ke negara Indonesia, tepatnya kota Sumba. Shane memesan first class, agar mereka lebih nyaman selama diperjalan karena perjalanan dari Kanada ke Indonesia bisa memakan waktu lebih dari dua puluh jam, ditambah lagi harus transit ke Jakarta lebih dahulu.


"Tentu Baby, apapun akan ku lakukan agar rumah tangga kita selalu harmonis dan juga romantis tentunya." Dengan gerakan cepat, Bryan berhasil mencuri ciuman di bibi sexy istrinya.


"B! Dasar mesum! Tidak tau malu!" Sesyil beranjak dari posisinya yang tadi bergelayut manja, menjadi duduk tegap. Dengan wajah cemberutnya, Sesyil memalingkan wajah menunjukkan bahwa ia sedang merajuk.


"Hei. Kau kenapa heum? Apa salah seorang suami mencium istrinya sendiri? Lagi pula hanya ada kita berdua disini." Tukas Bryan, sebelah tangannya meraih wajah sang istri yang tadi berpaling darinya.


"Kau mengesalkan!" Wajah Sesyil masih memerah sebab kesal.


"Maafkan aku heum. Jangan cemberut lagi, aku lebih suka jika kau terus bermanja-manja pada ku." Bryan terus melayangkan godaan-godaannya, agar sang istri tidak cemberut dan mendiamkannya lagi. Berhasil. Sesyil kembali tersenyum dan malah tersipu malu akan godaan sang suami.


"Tidurlah. Perjalanan kita masih lama." Bryan membimbing kepala Sesyil untuk bersandar didadanya.


***


Di kediaman kecil keluarga Pranata, Shane terlibat perdebatan kecil dengan istrinya Chris. Beberapa waktu belakangan mereka memang acap kali bertengkar.


"Sekarang kau kenapa lagi hah?" Sentak Shane melihat Chris yang mendiaminya sepanjang siang ini. Mereka sedang menikmati makan siang berdua, dan tidak seperti biasa mereka makan dalam diam.


"Apa Kak? Aku hanya lelah saja." Seperti tidak bertenaga, Chris hanya menjawab seadanya tanpa menoleh ke arah Shane. Wanita itu juga hanya mengacak makanannya tanpa di nikmati sama sekali.


"Lelah? Kau pikir aku tidak lelah dengan sikap diam mu itu!" Bentak Shane.


Brakk


Pria itu menggebrak meja dengan cukup keras hingga menimbulkan suara dentuman kencang. Shane sudah cukup banyak bersabar hingga seperti sudah tak dihargai lagi sebagai suami.


"Kau yang kenapa? Oh, atau kau marah sebab pria yang kau cintai menikah dengan wanita lain heh!" Papar Shane tak kalah sengitnya. Ia juga berdiri dari duduknya, dan kini mereka sama-sama berdiri saling berhadapan dengan tatapan sengit.


"A-apa maksud Kak Shane? Pria siapa?" Seketika, Chris yang tadi penuh emosi tergagap seketika. Ia sudah seperti pencuri yang tertangkap basah.


"Jangan berpura bodoh Chris. Mau sampai kapan kau menyembunyikan cinta terpendam mu itu? Mau sampai kapan kau memperlakukan ku seperti pria bodoh yang tidak tau apa-apa jika istriku mencintai pria lain?" Emosi Shane perlahan melunak, masalah mereka tidak akan selesai jika saling beradu emosi. Ia mendekat ke arah istrinya, meraup kedua belah bahu wanita itu yang kini bibirnya berubah pucat.


"K-kak,-" lirih Chris hanya berupa bisikan.


"Jujurlah tentang perasaan mu. Rumah tangga kita akan kacau jika berdiri diatas rahasia masing-masing. Jika kau tidak bisa menerima ku, katakan. Akan ku bebaskan kau secara baik-baik, seperti halnya dulu aku menikahi mu." Tutur Bryan. Meski awalnya pernikahan mereka memang tidak didasari cinta, tapi selama ini mereka saling menghargai perasaan masing-masing.


"Tidak Kak. Jangan tinggalkan aku. Aku, aku mencintai mu, Kak." Chris masih tergagap. Air mata jatuh berderai dari sela matanya. Ia tidak berbohong tentang mencintai sang suami, hanya saja ia juga belum bisa melupakan Bryan sepenuhnya.


"Chris. Jangan tutupi kebohongan mu dengan kebohongan yang lain." Shane tidak percaya begitu saja atas apa yang diungkapkan istrinya itu. Ia melepas rengkuhannya, untuk kemudian beranjak dari hadapan Chris.


"Kak. Aku benar-benar mencintai mu Kak. Kau pikir kenapa aku mau menikah dengan mu jika tidak mempunyai perasaan untuk mu?" Chris menahan lengan Shane yang akan pergi meninggalkannya. Air matanya semakin jadi saat Shane tidak mempercayai perasaannya.


"Chris hentikan sekarang. Aku lelah jika kita terus saja bertengkar seperti ini. Kemarin kau mempermasalahkan tentang anak, sekarang apa lagi?" Shane melepas genggaman tangan Chris, lalu benar-benar pergi dari sana. Tapi Chris tidak menyerah, ia mengejar suaminya, mereka harus menyelesaikan masalah mereka. Ia tidak mau hal yang sama akan terus terulang.


***


"Kak. Kak Shane. Argh.." Shane yang awalnya tidak memperdulikan panggilan Chris, seketika berbalik karena erang kesakitan wanitanya.


"Kau kenapa?" Dengan langkah besarnya, Shane menghampiri Chris, menutup kembali pintu mobil yang tadi sempat ia buka untuk pergi meninggalkan rumah.


"Kaki ku sakit Kak, sepertinya terkilir." Chris memanfaatkan kesempatan kakinya terkilir untuk mencegah suaminya pergi, ditambah dengan sedikit wajah kesakitannya.


"Kau ini, selalu saja ceroboh dan terburu-buru." Shane berjongkok di hadapannya. Pria itu menyelipkan lengannya di lipatan kaki juga leher istrinya untuk di bopong masuk kedalam rumah mereka.


Sesampainya didalam, Shane mendudukkan Chris di sofa. Setengah berlari ia mengambil kotak obat, lalu kembali ketempat istrinya duduk.


Kembali Shane berjongkok, diraihnya kaki Chris yang sakit untuk diletakkan diatas pahanya. Dengan telaten tangan besarnya menyemprotkan spray khusus untuk pereda nyeri otot atau terkilir. Semua itu tidak lepas dari tangkapan mata Chris, ditatapnya lekat-lekat setiap inci wajah suaminya itu.


"Kak, aku sungguh mencintai mu. Apa yang harus ku lakukan agar kau percaya dengan perasaanku?" Chris berujar sendu. Sementara Shane, pria itu terdiam.


"Jujur. Kau harus jujur dan terbuka pada ku tentang segala hal, tidak terkecuali tentang masa lalu mu yang tidak ku ketahui dan kau sembunyikan."


▪︎▪︎▪︎