
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Kenapa? Aku yang seharusnya bertanya, kenapa harus kau orangnya? Kenapa harus kau ayah dari bayi yang dikandung Melodi Shane?" Dengan mata yang sudah memerah Zach buka suara.
"Zach…"
"Kau penghianat Shane! Kau dan dia sama saja!" Bentak Zach dan mengarahkan telunjuknya ke arah Nate yang memang kebetulan berada disana juga. Saat baru masuk kekamar Shane, Zach sudah menangkap sosok siluet Nate sedang duduk di sofa.
Nate bukannya tidak mau membantu atau melerai kedua sahabatnya, maksudnya sahabat dan mantan sahabat kalau dari porsi Zach. Hanya saja, ia sedang dalam posisi sulit saat ini jika ia melerai, Zach akan semakin membencinya dan benar-benar beranggapan mereka berdua pengkhianat.
"Pantas saja kau sangat terkejut saat bertemu dengan ku kemarin. Ternyata kau takut bangkai yang selama ini kau simpan akan terendus juga, dan hari itu akhirnya datang. Hari ini." Ketus Zach penuh emosi.
"Ohh...aku tau sekarang alasan kau sering bepergian ke luar negeri." Lanjut Zach lagi.
"Tenang Zach, aku bisa menjelaskan semuanya." Lirih Shane.
"Tidak akan pernah!" Tolaknya mentah-mentah.
"Tolong, dengarkan dulu." Pintanya lagi.
"Mati saja kau sana si***n." Bentaknya, nyaris akan memukul lagi kalau saja Nate tak mencegahnya.
"Anak itu bukan anak Shane, dengarkan lah dulu Zach." Kali ini Nate yang bicara. Jika dulu dia diam saja, lain sekarang ia tak mau pengorbanan Shane hanya akan berakhir sia-sia.
"Diam kau!" Pria itu beralih mencengkeram kerah kemeja Nate.
"Ini. Kau lihat saja hasilnya sendiri." Nate meraih sebuah amplop yang tergeletak diatas meja di dekatnya saat ini.
Dengan kasar Zach melepas tangannya, dengan kasar pula ia mengambil amplop itu dan membaca isinya.
"Shitt!!" Umpatnya.
"Kalian pikir aku akan percaya dengan semua ini? Bisa saja kalian mengarangnya, terlebih kau dengan akal licik dan juga status mu kau bisa melakukan apa saja." Ujarnya melecehkan profesi Nate sebagai seorang dokter.
Beruntung Nate sabar, karena ia tau mantan sahabatnya itu masih membencinya apalagi sekarang kejadian hampir serupa baru saja terjadi.
"Kau sudah dibutakan oleh wanita itu Zach, sampai kau tidak tau lagi cara menghargai teman." Tukas Shane kecewa dan marah.
"Diam kau! Jangan berlagak seolah kau lebih baik darinya." Bentak Zach balik.
"Lantas sekarang kau mau apa hah? Menarik wanita itu kembali dan membuang Celo begitu??" Suara Shane tak kalah kerasya dari bentakan Zach.
Deg
Zach tertegun mendengarnya, benar juga. Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan sekarang? Kenapa ia sampai marah seperti ini?
"Itu rumah tangga ku dan kau tak berhak mencampurinya!" Tak mau kelihatan gundah, Zach kembali melanjutkan amarahnya.
"Begitu pun akau Zach, kau tak berhak mencampuri urusan mantan kekasih mu!" Shane tak mau kalah begitu saja.
Tak tahan berada disana lebih lama lagi, Zach pergi dari sana. Saat keluar dia membanting pintu kamar hotel yang ditempati Shane dengan cukup keras.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Nate sepeninggal Zach. Ia tak menyangka akan jadi seperti ini, pikirnya dengan adanya DNA itu Zach akan percaya tapi sayang pria itu mengacaukan segalanya.
"Kau tenang saja. Kita tidak hanya berdua, bersama kita bongkar ke busukannya. Wanita itu harus mengembalikan persahabatan kita lagi." Tekad Shane menepuk bahu Nate.
^^^
"Kak Eric, Audrey." Sapa Chris begitu melihat dua sahabat kakaknya berkunjung kesana.
"Chris? Kau disini?" Timpa Audrey melihat adik Zach yang sedang dicari-cari orang tuanya itu.
"Mmm…ya. Begitulah, seperti yang kalian lihat." Ujarnya pelan.
"Bagaimana kabar mu?" Kali ini Eric yang bertanya. Sebenarnya dia sudah tau Chris disini dan apa yang terjadi dia juga tau semuanya.
"Baik, juga tidak baik." Keluhnya.
Eric mendekat ia merengkuh Chris dalam peluangnya, Chris sudah seperti adik baginya. Melihat keadaan yang sebenarnya membuat Eric sedih tapi bisa apa, jika dia masih tetap keras kepala.
Masih melepas rindu, Melodi datang mengacau kegiatan mereka. Ia berjalan dengan santainya seperti sedang berada dirumah sendiri.
"Kau!! Sedang apa kau disini hah?" Pekik Audrey. Selalu saja itu yang dilontarkan orang-orang saat melihatnya dirumah zach. Emang apa salahnya tinggal di rumah mantan kekasih atau masih kekasih karena mereka tidak pernah mengakhiri hubungan mereka.
"Kau yang sedang apa disini?" Balasnya tak kalah kencang.
"Dasar ja**ng!! Sini ku pukul kau!!" Audrey hendak meraih Melodi untuk di hajarnya, tapi sayang Eric menahan istrinya takut terjadi apa-apa dengan anak mereka nanti.
"Honey, sudahlah." Cegah Eric lembut.
"Tapi…" Audrey mau menolak tapi keburu ada yang datang.
"Ada apa ini?" Seru suara dari arah punggung mereka.
"Zachery…" teriak Audrey girang begitu ia membalikkan tubuhnya. Secepat kilat wanita itu merangsek kedalam delapan Zach.
"I miss you uncle Zach." Ujarnya lirih.
"Hey bro, apa kabar?" Dari Audrey Zach beralih ke Eric, mereka saling peluk layaknya pria.
"Seperti yang kau lihat, aku semakin tua saat menikahi wanita manja itu." Eric mendelik ke arah Audrey yang kini sedang memasang wajah kesalnya.
"Mati aku. Bisa tidur diluar ini." Ujar Eric lirih yang hanya dapat terdengar oleh Zach.
"Sabar. Ingat ini bukan sepenuhnya kelakuan istri mu, tapi juga anak yang kau buat." Ejek Zach. Tak ayal kedatangan dua sahabatnya sedikit menurunkan emosi Zach.
Yang bertanyankemana Melodi, wanita itu pergi sendiri karena tak ada yang mengacuhkannya. Sedangkan Chris, ia mencari Bibi untuk menyuguhkan minuman juga camilan untuk Eric dan Audrey.
^^^
Malamnya Zach mengajak Eric dan Audrey keluar untuk menikmati suasana malam. Sebenarnya bukan hanya itu tujuannya, melainkan ia mau menceritakan apa yang sedang terjadi.
"Apa terjadi sesuatu?" Eric yang menyadari kegundahan sahabatnya.
"Ntahlah. Aku bingung bagaimana mulai menceritakannya." Nada suaranya penuh dengan kebingungan.
"Cerit-"
"Zachh…" belum usai Eric berucap, Audrey menghampirinya dengan wajah panik.
"Ada apa?" Eric yang melihat ekspresi panik istrinya juga ikut cemas.
"Celo.. Celo tidak ada." Ucapnya panik.
"Astaga. Apalagi ini? Kenapa dia baru sadar sekarang?" Eric kembali menggerutu tapi tetap dengan suara pelan. Sekuat apapun Eric, jika sudah menyangkut Audrey yang sedang hamil ia akan berubah penakut dan patuh seperti anak kucing.
"Dari tadi Celo memang tidak bersama kita dry." Jawab Zach santai.
"Kenapa? Kemana dia?" Tanyanya lagi.
"Celo sudah kembali ke rumah Mami, sudah satu minggu juga." Jawabnya lesu.
"Apa?" Yang bertanya bukan lagi Audrey tapi Eric.
"Demi keselamatannya Ric. Kau lihat sendiri kan Melodi sudah mengacau rumah tangga ku ditambah lagi Chris yang tidak menyukai Celo." Jelasnya sebelum Eric marah.
"Kenapa dia bisa ada dirumah mu?" Tanyanya datar.
"Panjang ceritanya." Kilah Zach, karena pikirannya masih kacau.
"Jika panjang mulailah dari sekarang." Jika nada suara Eric sudah datar, itu artinya dia sudah tidak bisa dibantah.
"…." Zach menceritakan semua tanpa terlewat satu pun, mulai dari kedatangan Chris dan Melodi hingga kejadian hari ini ia memukuli Shane.
"Aku harus apa Ric??" Eric memandangnya prihatin, biar bagaiman pun semua sahabatnya sudah seperti adik baginya.
Drtt drrt
Ponsel Zach bergetar pertanda ada panggilan masuk. Saat melihat siapa yang menghubunginya Zach merasa ada yang aneh.
"Ya mi, ada apa?" Saut Zach setelah menerima panggilan yang ternyata Maminya.
"Zach…hikss..Celo…" suara beliau terdengar bergetar khas orang menangis.
"Celo kenapa Mi?"
"Celo pergi dari rumah. Dia tidak berpamitan akan kemana? Mami, Mami…takut terjadi sesuatu nanti karena…karena sepertinya menantu Mami ha- hammil Zach." Tutur beliau masih bergetar. Kalimat terakhir Mami membuat jantung Zach berdesir kencang.
"Mi…Mami tenang ya. Zach yang menyuruh Celo pergi karena ada sesuatu dan Zach belum bisa cerita sekarang. Untuk masalah hamil, Zach rasa Mami salah karena belum lama ini Celo melakukan test dan hasilnya negative." Terang Zach menenangkan Maminya.
"Tapi nak."
"Mami tenang, secepatnya Zach akan pulang dan menjemput Celo." Yakinnya.
"Baiklah." Ibu dan anak itu mengakhiri panggilan mereka.
"Astaga, apa lagi ini?" Namun Zach tak terlalu ambil pusing karena menurutnya Celo pergi sesuai arahannya.
Belum usai satu masalah timbul lagi masalah baru yang tak disadari oleh Zach. Tanpa ia ketahui Celo telah memilih pergi dari hidupnya.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Buat yang gak kuat sama konflik boleh mundur dulu, ntar kalo dah END balik baca lagi, tapi tetap beri dukungannya dengan tekan LIKE & tinggalkan COMMENT. Bagi yang ga punya masalah sama konfliknya, lanjut terus ya.
Yang masih stay read sama karya ini jangan lupa LIKE & COMMENT nya ya..
Author juga sangat membutuhkan VOTE ya..biar makin semangat. Siapa tau bisa update gila (crazy up).
**TERIMA KASIH
LUV U ALL**