Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Karena dirimu



▪︎▪︎▪︎


Bryan mengantar Chris kembali ke rumah utama, wanita itu memaksa untuk diantar pulang dengan alasan butuh teman. Ingin Bryan menolak, namun ia tidak sampai hati.


"Hei, Bangun. Kita sudah sampai." Ia hanya bersuara, tanpa ada niatan untuk mengguncang tubuh Chris atau bahkan sekedar menepuk wajahnya untuk membangunkan. Dan tentu saja itu tidak ada hasil sama sekali, sedikitpun wanita itu tidak bergeming dari tidurnya.


"Chris bangun! Mau sampai kapan kau akan tidur di mobil ini?" Sentak Bryan denagn suara yang agak di tinggikan volumenya. Berhasil, wanita itu terbangun. Ia sampai terlonjak dalam tidurnya karena suara Bryan barusan.


"Kenapa Bry? Kita sudah sampai rumah Papi ya?" Sembari menjernihkan pandangannya, Chris bertanya pertanyaan yang seharusnya sudah ia tau.


"Kau pikir, aku membangunkan mu karena ada hal apa?" Bryan masih saja berucap sinis, walau ada rasa iba terbersit di hatinya. Ia tidak mau berbaik hati pada wanita disampingnya, karena tidak ingin wanita itu berpikir memiliki kesempatan untuk menyukainya kembali.


"…." Tidak menjawab kalimat sinis Bryan, ia malah tersenyum layaknya orang bodoh.


***


Usai mengantar Chris, Bryan tidak lansung pulang sebab Ayah Zach, Tuan Alterio menahannya. Begitu pun Ibunya, beliau menahan Bryan untuk ikut makan siang bersama mereka. Baru akan menikmati hidangan siang itu, Celo datang bersama dua anak kembarnya, selang beberapa menit saja mereka sudah ikut bergabung untuk santap siang.


Sayang, Zach tidak bisa ikut makan siang bersama karena harus ke luar kota untuk meeting penting. Sebab itulah Celo datang kesana, selain sendirian di rumahnya wanita itu juga merindukan putra-putranya.


"Bagaimana masakan Bibi Bry?" Mami melontarkan pertanyaan sembari menyendokkan beberapa lauk untuk sang suami. Yang lainnya sibuk dengan makanan sendiri kecuali Celo yang harus di sibukkan dengan kedua anaknya.


"Seperti biasa. Selalu enak Bi." Puji Bryan dengan mengacungkan kedua jempol tangannya.


Lain halnya Chris, wanita itu sesekali tersenyum dengan ekor mata mencuri pandang ke arah Bryan dan itu semua tidak luput dari pengawasan Ayahnya.


"Ada apa dengan Chris? Apa dia masih mencintai Bryan? Jadi benar yang di katakan Ane, mereka bertengkar karena putri ku masih mencintai pria lain." Papi mendengus dalam hati, sorot matanya tersirat ketidak sukaan atas sikap Chris yang tidak bisa menghargai suaminya.


Selepas makan siang, Mereka semua berkumpul di taman belakang. Tawa bahagia terpancar dari masing-masing orang menyaksikan tumbuh kembang si kembar. Tidak terasa, dua bayi lucu akan terlahir kembali dan semakin melengkapi dan meramaikan keluarga Alterio.


"Bry, bisa ikut Paman sebentar? Ada suatu hal penting yang harus Paman sampaikan." Ujar Papi disela keseruan mereka menyaksikan tingkah polah Aldric dan Archie.


"Tentu Paman." Bryan mengiyakan. Ia ikut berdiri, kemudian turut mengekor dibelakang Papi menuju ruang kerja beliau.


***


"Bagaimana pernikahan kalian?" Papi membuka pembicaraan dengan menanyakan kabar pernikahan Bryan. Mereka duduk berhadapan di sofa yang tesedia di ruangan itu, setelah sebelumnya asisten rumah tangga mengantarkan dua cangkir teh untuk teman bicara mereka.


"Sejauh ini kami sangat menikmatinya Paman. Kami sangat bahagia sekarang." Tutur Bryan, ia semangat sekali membahas perihal pernikahannya dengan Sesyil, sang istri tercinta.


"Baguslah kalau begitu." Tukas Papi sendu.


"Kau tau Bryan. Malamnya, usai pemakaman Shane Chris mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Beruntung kala itu Celo berniat untuk menemaninya, sehingga gagal ia lakukan. Paman benar-benar terpukul kala itu. Rasanya, Paman sudah gagal untuk menjaga dan mengurusi putri Paman satu-satunya." Bryan terkesiap, terkejut juga tidak mengerti kenapa Papi Zach sampai menceritakan hal ini kepadanya.


"Terlebih ia sedang mengandung sekarang, kasihan sekali putri ku itu." Papi melepas kaca mata yang selalu ia gunakan itu, guna menghapus air mata yang perlahan menggenangi mata tuanya.


"…." Tanpa suara, pria yang sudah menua usianya itu hanya menggelengkan kepala singkat sebagai bentuk jawabannya.


"Saat Dokter mengatakan Shane tidak bisa di selamatkan, Chris jatuh tak sadarkan diri. Di situlah kami tau bahwa ia sedang hamil muda, ia semakin terpukul karena suaminya tidak mengetahui kehadiran buah hati yang lama mereka tunggu." Tangan yang hampir mengeriput itu saling bertautan dan meremas satu sama lain.


"Apa yang harus Paman lakukan Bry? Paman takut Chris tidak bisa menghadapi hari-harinya kelak setelah bayinya lahir. Di tambah lagi anak itu pasti akan menanyakan keberadaan Ayahnya dan ia juga membutuhkan sosok seorang Ayah kelak." Lirik Papi.


"Maaf, Paman. Apa tidak sebaiknya kita carikan saja pengganti Shane? Maksud saya tidak sekarang, nanti setelah Chris sudah menerima semua keadaan ini dan tidak bersedih lagi." Saran Bryan. Papi mengangkat kepalanya yang semula tertunduk karena menyembunyikan kesedihannya, beliau menatap Bryan dengan sorot penuh maksud.


"Ya. Paman juga berpikiran sama dengan mu Bry." Mereka saling mengangguk satu sama lain.


"Bagaimana dengan kau sendiri?"


"Ada apa dengan saya Paman?" Heran Bryan, sama sekali ia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan orang yang sudah berjasa dalam hidupnya tersebut.


"Apa kau sama sekali tidak pernah mempunyai perasaan terhadap chris?"


"Apa maksud Paman? Saya tidak mengerti." Bukannya mengerti, Bryan malah di buat semakin keheranan.


"Kau pasti tau bagaimana perasaan Chris pada mu, lalu apa kau sama sekali tidak memilik rasa terhadap putri Paman itu?" Papi menatap Bryan intens, beliau membaca sendiri dari sorot matanya.


"Maaf Paman. Tapi saya harus jujur. Saya sama sekali tidak pernah memiliki rasa terhadap Chris, tidak sekali pun." Ia jujur dan Papi dapat membaca dari sorot matanya.


"Meski begitu, Paman menaruh harapan besar untuk kau bisa menggantikan Shane di masa depan Chris juga anaknya kelak."


"Apa maksud Paman?"


"Menikahlah dengan Chris. Tidak masalah jika kau tidak mencintainya dan hanya menjadikannya sebagai istri simpanan,-" belum selesai dengan kalimatnya, segera Bryan menyela.


"Maaf Paman, saya akan menolaknya sekarang juga. Kalau begitu saya permisi." Ia beranjak dari duduknya, wajah Bryan nampak tegang menahan emosi. Jikalau saja pria di hadapannya saat ini bukanlah Ayahnya Zach, sudah di pastikan ia akan menghajarnya habis-habisan.


"Chris masih mencintai mu hingga sekarang Bry. Kau harus tau, Shane meninggal karena dirimu, dan kau harus bertanggung jawab!" Sontak saja, kalimat Papi barusan menghentikan langkah Bryan yang akan mencapai pintu, tangannya mengambang di udara karena tertahan untuk memutar handle pintu berwarna coklat tua tersebut. Bryan memutar tubuhnya lalu bersitatap dengan Papi yang saat ini juga sudah berdiri dari duduknya.


▪︎▪︎▪︎


jangan lupa dukungannya ya teman-teman, berikan VOTE, LIKE juga tinggalkan COMMENT kalian.


bagi yang belum mampir, silakan baca Season 2 nya, disana menceritakan kehidupan anak-anak mereka. bagiamana jika putra Celo bertemu dan menjalin hubungan dengan putri Melodi, orang yang pernah mengacau rumah tangga mereka?


ada juga "ISTRI SIMPANAN DOKTER TAMPAN" cast nya, masih berhubungan dengan Season 2. silakan mampir, lumayan buat nunggu Novel Favorites kalian Update.


ikuti juga saya di IG @areumkang16


TERIMA KASIH