Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Tidak boleh ada kata maaf dan terima kasih



▪︎▪︎▪︎▪︎


"Siapa?" Nate yang berada di hotel tempat Shane menginap untuk membahas permasalahan mereka dengan Zach.


"Eric. Sebentar." Shane menerima panggilan dari Eric, ia belum tau bahwa sahabatnya itu sedang berada dinegara yang sama dengannya.


"Dimana kau?" Tanya Eric di seberang sana.


"Di hotel."


"Temui aku di apartement Zach makan siang nanti. Ajak juga dia." Perintah yang diberikan oleh Eric itu mutlak hukumnya, dan Shane tak bisa membantah itu.


"Baiklah." Sautnya pasrah tidak bisa menolak.


"Apa yang dia katakan?" Nate menangkap raut muka Shane berubah.


"Eric disini." Lirihnya.


"Lalu?" Tanya Nate heran.


"Dia akan membantu kita, karena Eric tau semuanya." Shane kembali bersemangat dengan senyum berbinar.


"Kau ini. Ku pikir apa." Nate kesal dibuatnya.


^^^


Pagi ini Zach nampak sudah rapi dengan busana khas orang kantoran. Baru saja membuka pintu kamar, ia sudah disambut senyum cerah Audrey yang mungkin akan membangunkannya.


"Uncle mau kemana?" Tanya Audrey melihatnya.


"Ada meeting penting pagi ini, Garret tidak sanggup menanganinya." Saut Zach seraya merapikan penampilannya.


"Garret? Siapa?" Eric yang juga keluar dari kamar lansung bergabung dengan perbincangan istri dan sahabatnya.


"Asistenku di kantor." Zach lupa belum menceritakan bagaiman bisa Bryan di rumahkannya sementara waktu.


"Bryan kemana?" Ia merasa tak tau apa-apa.


"Nanti saja ku ceritakan. Aku terburu-buru sekarang. Baby, jangan nakal ya. Sebentar lagi kita akan menjemput aunty Celo, oke." Zach berucap pada perut Audrey yang belum terlalu menonjol itu.


"Hati-hati dijalan, ingat jangan lupa sarapan uncle." Teriak Audrey saat Zach hampir menghilang di balik pintu utama.


"Honey, baby lapar." Rengeknya ringan dan bergelayut manja di lengan Eric.


"Ayo kita cari sarapan." Ajak Eric mengiyakan keinginan istri dan anaknya.


"Tapi kita ajak Chris, kasihan dia sendirian."


"Tentu saja."


^^^


"Kau yakin akan turun disini Chris?" Eric heran karena Chris yang sudah dianggapnya adik itu, minta di turunkan dijalanan.


"Iya kak Eric. Kalau mengantar Chris dulu kakak akan bolak balik nanti." Tolaknya halus. Alasan sebenarnya bukan itu, Chris malu jika harus bertatap muka dengan Bryan sekarang. Selain itu ia juga sangat menginginkan sesuatu ditempat ia turun saat ini.


"Baiklah. Hati-hati, jika terjadi sesuatu secara hubungi kakak atau Audrey." Perasaan Eric sedikit tidak enak tapi dihiraukan saja.


"Siap Bos." Sautnya hormat layaknya angkatan bersenjata memberi penghormatan.


Usai saling melambai, Eric kembali melajukan mobilnya ke arah apartement Bryan. Sebelumnya ia sudah menghubungi pria itu dimana, saat itu pula ia tau alasan kenapa ia dirumahkan.


Sesampainya di apartement milik Zach, Eric memasukkan sandi pintu tanpa harus mengetuknya dahulu.


Klik


Pintu terbuka, hal pertama yang mereka tangkap ialah Nate yang sedang bersandar di sofa. Hanya seorang diri tak ada Shane maupun Bryan


"Eric…" sapa Nate beranjak dari duduknya menghampiri sahabat dan istrinya yang juga merupakan sahabatnya. Mereka berbagi pelukan layaknya pria.


"Hai Nate. Apa kabar?" Dari Eric Nate beralih ke Audrey.


"Baik. Kalian bagaimana? Kau dan baby? Aku tau kabar baik ini dari Shane." Imbuhnya.


"Kami baik." Jawab Audrey dengan penuh senyum.


"Aura ibu hamil memang beda kau sangat cantik sekarang." Puji Nate, dan Eric tak keberatan akan hal itu selagi mereka sahabat dan keluarganya.


^^^


Lewat waktu makan siang, Zach datang kesana. Terkejut dan juga marah saat tau Eric mengumpulkan semua penghianat disana.


"Melangkah selangkah saja kau tau akibatnya Zach." Jika Eric sudah berucap datar semua orang akan paham, tak terkecuali Zach sendiri.


"Kau mau apa? Menertawakan ku karena sudah dibodohi orang-orang ini!!" Ucapnya geram.


"Zach, setidaknya dengarkan dulu penjelasan mereka." Audrey ikut angkat bicara.


"Kalian semua bersekongkol dibelakang ku!" Persetan dengan Eric, Zach tetap akan melanjutkan langkahnya.


"Tetap. Disini. Zachery!!" Ucapan dingin Eric membuat siapa saja disana jadi merinding.


Sudah satu jam, belum jua ada seorang pun yang mau bicara. Eric jengah, ingin rasanya ia menghajar adik-adiknya ini. Semua orang duduk berdekatan sedangkan Zach ia duduk menyendiri agak ke sudut karena tak mau duduk bersisian bahkan berhadapan dengan siapapun


"Mau diam sampai kapan kalian hah! Jangan seperti anak kecil." Suara lantangnya menggema disetiap sudut ruangan.


"Ini." Bryan berinisiatif meletakkan memory card diatas meja, masih sunyi tak ada yang mengambilnya.


"Apa ini? Data palsu apa lagi yang akan kalian lihatkan pada ku?" Kekeras kepalaanya itu yang membuat siapa saja naik pitam.


"Ini Bos." Lagi, Bryan berinisiatif memberikan tab nya.


"Tidak perlu. Aku punya sendiri dari pada kalian akan terus menipu ku.!" Ia menyambungkan memory itu ke tab nya, tak lama sebuah rekaman cctv tampil di sana.


"Shit!!" Umpatnya kasar. (Isi rekamannya baca eps awal mula kesalah pahaman)


"Apa yang kau lihat?" Eric bertanya datar.


"Apa? Yang kalian inginkan dari aku melihat semua ini?" Ia masih gengsi untuk mengakuinya.


"Zach, sungguh aku tidak pernah menggoda wanita yang saat itu masih kekasihmu. Bahkan mempunyai niat seperti itu pun tidak, dia sama sekali bukan tipe ku lagi pula kau tau bahwa aku tidak suka bermai-" Zach memotong ucapannya.


"Pengecut. Kenapa baru sekarang kau membuktikannya? Kau bisa, tapi malah memilih kabur seperti pecundang." Ejeknya, sebenarnya ia sudah mempercayai segalanya dan juga menyesalinya.


"Itu karena kau selalu menolak mendengarkan penjelasan ku." Jawabnya masam.


"Maksud mu aku yang salah disini?" Tak mau disalahkan begitu saja.


"Tak ada yang salah, hanya saja kau lebih mengutamakan logika, tanpa mengikuti hati dan perasaan mu. Karena obsesimu pada wanita itu kau sampai hati membuang sahabat yang selalu ada bersama mu." Jika tadi Zach memotong perkataan Nate, sekarang Eric melakukan hal yang sama.


"Kenapa kalian jadi memojokkan ku begini?" Zach berkilah lagi.


"Tidak ada yang memojokkan Zach, hanya saja kami sulit menyentuh hatimu saat bersama wanita itu, lain sekarang saat bersama Celo." Audrey ikut menimpali karena ia juga bagian dari persahabatan mereka.


Merek sama-sama terdiam sesaat, jika Zach sibuk dengan pemikirannya sendiri yang lainnya entah sibuk dengan apa.


"Maaf Nate-" ucap Zach kembali terpotong.


"Jangan mint maaf, kau ingat. Seseorang pernah berkata, dalam persahabatan tidak boleh ada kata maaf dan terima kasih karena kita satu, saling membantu dan melengkapi" seseorang itu Eric, ia mengajarkan pada adik-adiknya hal itu.


Perlahan Nate mendekat ke arah Zach, ia mengulurkan tangannya. Cukup lama menanti sampai akhirnya ia akan menarik tangannya saat itu juga Zach meraihnya. Ia berdiri, lalu mereka berbagi pelukan khas para pria.


"Sorry Nate, i'm so sorry." Ujar Zach dalam penuh penyesalan.


"Lupakan masa lalu Zach, kita perbaiki dimasa depan." Mereka saling menepuk punggung satu sama lain.


Kini semua Zach sudah bergabung bersama mereka, pria sudah tidak mengasingkan diri lagi.


"Zach.." suara Shane.


"Aku tau Shane, semua itu juga hanya salah paham. Audrey benar, Celo telah banyak membawa pengaruh positif di diriku. Wanita sederhana itu mampu merasuk hatiku yang keras dan karena itulah dia spesial." Zach menerawang saat dia dulu menyakiti wanita itu, wanita yang kini teramat sangat dicintainya.


Pembicaraan mereka jauh lebih santai sekarang, tak ada lagi ketegangan. Persahabatan mereka yang dulu tenggelam kini mangapung lagi ke permukaan.


Drtt drrt


Asik-asiknya berbagi kenangan masa lalu, ponsel Bryan bergetar. Dilihatnya Chris yang menghubunginya, tak ambil pusing di acuhkannya saja. Acap kali panggilan itu, karena jengah Bryan menerimanya.


"Ada apa hah?" Bentaknya, karena kesal selalu diganggu.


"B-bbry…tol-tohl-tol-long akk-uh…."


▪︎▪︎▪︎▪︎


Jangan lupa LIKE & COMMENT ya teman-teman.


Semoga nanti bisa nyicil lagi..


TERIMA KASIH