Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
DNA Test



●●●●


"Bryan. Bryan ayah dari bayi ini." Ucap Chris saat Zach sudah berada diujung pintu.


••••


Mereka kembali ke rumah bersama Chris, karena cairan nya sudah habis artinya ia sudah bisa pulang. Selama di perjalanan mereka hanya diam saja, tak ada satu orang pun yang bersuara.


Bahkan hingga sampai mereka tiba dirumah pun tak ada yang bicara.


"Bos…kalian dari mana saja? Orang kantor bilang tad-"


Bugh


Belum selesai Bryan bicara, satu pukulan mendarat pas di wajahnya. Serangan kilat yang tentunya Bryan tak siap itu membuat sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.


"Mas…" " Kakk…" jerit Celo dan Chris berbarengan.


"Berdiri kau!" Zach meraih kerah baju Bryan dan untuk kedua kalinya ia melayangkan pukulannya.


"Mas…hentikan!! Kita selesaikan ini baik-baik, tenang Mas." Celo memeluk Zach dari belakang dan menangis memohon untuk menghentikan tindakannya.


Merasakan tubuh istrinya yang bergetar hebat, itu mengingatkan akan sesuatu bahwa istrinya masih punya trauma tentang kekerasan yang menyebabkan nenek dan ayahnya meninggal.


Ia melepaskan cengkeraman di leher Bryan untuk kemudian meraih Celo dalam pelukannya.


"Maaf, maafkan Mas sayang…maaf.." berkali maaf terlontar dari bibirnya. Ia juga mencicipi hampir seluruh wajah istrinya itu.


Saat ini mereka tengah duduk di sofa diruang tengah, Zach harus memastikan semuanya. Pria itu sangat anti dengan yang namanya penghianatan, jika benar Bryan ayah dari bayi yang kandung adiknya. Dapat dipastikan Bryan akan bernasib sama seperti Nate.


"Aku akan bertanya sebagai kakak Bry, tolong jawab dengan jujur. Apa benar kau Ayah dari Bayi itu?" Tanya Zach To the point.


"Bo- Kak, bukan aku Ayahnya. Percayalah. Berapa usia janinnya sekarang?" Sekarang Bryan yang balik bertanya.


"Lima minggu." Jawab Zach.


"See, bagaimana mungkin itu anak ku Kak. Sementara saja aku sudah disini semenjak tiga bulan yang lalu." Bryan yakin akan jawaban dan alibinya.


"Benar juga. Lalu kenapa Chris berbohong, apa dia dan Bryan pernah terlibat hubungan 'itu'?" Batin Zach


"Apa kau pernah 'tidur' dengan Chris?" Ia sedikit menekankan pertanyaannya.


"Ap-a? A-kku?" Zach semakin yakin dengan kegugupan orang kepercayaannya itu.


"Cukup. Aku sudah tau jawabannya."


"Maaf Kak." Sesak Bryan.


"Untuk sementara kau tinggal di apartement dulu, kalian tidak bisa jika harus satu rumah." Tegas Zach tak terbantahkan.


"Sampai kapan?" Bryan yang mengerti Zach kecewa padanya hanya menurut saja.


"Setelah dua bulan saat Chris sudah pulang ke rumah. Garret akan mengganti kan mu sementara." Ucapan Bosnya itu mutlak tak bisa dibantah. Dan itu artinya Bryan akan dirumahkan sementara waktu.


"Baiklah." Ia berlalu ke kamar yang selama ini ditempatinya untuk berkemas.


"Maaf Bry, ini yang terbaik untuk saat ini. Aku percaya pada mu, karena aku yang sudah membentuk mu. Untuk menangkap satu burung, aku harus mengorbankan satu burung kesayangan ku lebih dulu." Sesal Zach dalam hati.


••••


"Mas…kenapa Mas mengusir Bryan? Apa tidak bisa kita bicarakan dulu secara baik-baik?" Ia coba mengubah keputusan yang sudah dibuat suaminya itu.


"Sebaiknya kau tidur sayang, ini sudah larut. Ingat, kita harus jaga kesehatan agar kesuburan kita semakin meningkat." Ia mengalihkan pembicaraan dan mengusap halus perut istrinya.


"Mas…"


"Sayang, Mas sedang pusing. Jangan menambah masalah lagi, Mas tidak mau kalau sampai kau tersakiti karena emosi Mas. Mengerti sayang?" Dari perut Celo, tangan Zach beralih ke pipi Celo.


"Maaf Mas."


"Sayang, Mas menginginkan mu. Obati lelah Mas malam ini." Celo tak bisa menolak keinginan suaminya karena ia sangatlah mencintai pria itu.


Zach bukanlah seorang maniak, tapi jika bersama istrinya ia akan selalu ingin dan ingin bersama. Menghabiskan waktu dengan penuh rasa cinta yang mendatangkan bahagia.


Jika biasanya mereka akan berbincang sebelum tidur, kali ini tidak. Mereka lansung tertidur, selain karena kegiatan mereka barusan mereka juga lelah karena persoalan Chris.


Lain halnya dengan sepasang suami istri itu, Chris tengah meringkuk diatas ranjang nya. Ia menyesal telah mengaku-ngaku bahwa Bryan lah ayah dari janin nya. Akibatnya ia harus kehilangan pria itu.


Jika ia tadi tak menjawab, sudah dipastikan Bryan masih tinggal satu atap bersamanya. Walaupun mereka tak bisa bersama karena kebencian Bryan, setidaknya ia bisa puas melihat wajah tenang pria yang sudah mencuri hatinya tersebut


••••


"Jika aku tidak salah duga, Zach pasti tengah merencanakan sesuatu. Apa dia percaya pada ku?" Bukannya pulang ke apartemnt, Bryan malah singgah ke sebuah Night Club.


Pemuda itu bermaksud untuk melepas penat dan juga stressnya. Bukan berarti juga ia akan bermain bersama para ja**ng disana.


"Ya begitulah sepreti yang kau lihat, sesekali melepas penat." Jawabnya tanpa menoleh.


"Melepas penat atau menenangkan diri?"


"Terserah apa pendapat mu, aku tak peduli." Bryan yang tadinya kesal bertambah kekesalannya.


"Santai Bry, aku hanya bermaksud baik menyapa mu."


"Nate, kau seorang spesialis kandungan bukan?"


"Ya, kenapa? Apa kau juga mau melakukan program kehamilan tepat seperti Bos mu itu?" Nada ejekan jelas kentara disana.


"Jadi Zach benar-benar sudah mencintai Celo. Baguslah." Pikir Bryan.


"Aku butuh bantuan mu sebagai teman lama." Didikan dari Zach membuatnya mempunyai sifat nyaris serupa dengan tuannya itu.


"Bagaimana jika kau tidak mau?" Nate menunjukkan senyum miring yang menantang.


"Aku bukan bertanya. Aku mau kau membantu ku!" Ucapan itu memang datar namun terkesan sangat menakutkan.


"Ya, ya, duplikat Zachery. Apa yang bisa ku bantu?" Bukannya takut, ia hanya menghargai pertemanan.


"Aku mau kau melakukan DNA test terhadap seorang wanita hamil."


"Apa kau menghamili anak perawan orang terus kau meragukannya?" Cemooh nya.


"Bre****k kau!!" Bryan lebih sering mengumpat malam ini.


"Baiklah. Berapa usai kandungan wanita itu?" Akhirnya mereka terlibat pembicaraan serius.


"Lima minggu."


"Berarti butuh lima atau tujuh minggu lagi untuk bisa melakukannya."


"Apa? Kenapa lama sekali?" Ia tidak sabar untuk membongkar siapa ayah dari bayi itu.


"Jika kau mau dapat hasil akurat. Ya." "Tapi jika tidak, terserah kau." Nate meneguk gelas yang tadi ia pesan untuk di racik oleh sang bartender.


"Huhh! Sombong."


"Aku bisa mendengarnya tuan duplikat." Ejekan ia layangkan lada Bryan yang sedang mengumpat layaknya ibu-ibu penggosip.


"Aku bukan duplikat, kau saja yang Dokter pencari kesempatan?"


"Pencari kesempatan? Apa maksud ucapan mu itu hah?" Nampaknya aura perang dingin jelas dirasa disana.


"Bagaiman bisa seorang pria menjadi Dokter kandungan bagi para wanita? Apa namanya jika bukan mencari kesempatan? Kesempatan untuk melihat para wanita-wanita itu." Kali ini giliran Bryan yang mengejek Bryan.


"Hah. Apa Tuan mu tidak ikut melatih mulut mu untuk berbicara sopan Huh!"


Lelah berdebat, mereka memilih diam. Sampai Nate kembali buka suara dan bertanya.


"Siapa?"


"Christa."


"Apa? Chris- maksudmu Christa, adiknya Zach?"


"Ya."


"Aku tidak bisa membantu mu Bry. So sorry." Nate berdiri dari duduknya, bersiap melangkah untuk meninggalkan Bryan.


"Kenapa? Kau takut?" Melihat kepergian lawan bicaranya, Bryan tersenyum penuh ejekan.


"Cukup sekali aku disebut pengkhianat oleh nya." Ia memberhentikan langkahnya dan berbicara tanpa memutar balik tubuhnya.


"Aku akan membantu mu." Ia memberikan tawaran yang sepertinya sangat menarik untuk Nate. Tiba-tiba saja terlintas ide gila di otak Bryan yang akan membuat keuntungan untuk mereka satu sama lain.


●●●●


Teman-teman stay read terus ya sama Novel ini…


Dijamin konfliknya gak terlalu berat kok, gak akan ada pelakor juga…


Terima kasih buat yang sudah setia menunggu dan memberi dukungan ya…


Jangan lupa tetap berikan LIKE dan COMMENT dan itu semua gratis kok 🤭🤭🤭


VOTE sangat dibolehkan dan saya sangat ber **TERIMA KASIH.


LOVE U ALL**