
▪︎▪︎▪︎▪︎
Saat sekarang ini, entah bagaimana jadinya Bryan dan Sesyil tengah berbaring diatas kasur. Dengan susah payah gadis tersebut menolak tetap saja sekarang ia berada dalam dekapan hangat prianya.
"Bry…"
"Heumm…"
"Aku takut." Suaranya pelan nyaris tertelan suara televisi.
"Kenapa?" Ia mengecup sekilas pucuk kepala gadisnya.
"Aku takut kau khilaf kita berbaring berdua begini." Serunya lagi masih dengan suara pelan namun sedikit lebih keras dari tadi.
Ya, mereka hanya berbaring saja tidak terjadi apa-apa. Mereka sampai berbaring berdua karena Sesyil yang terus memukuli Bryan hingga mereka kelelahan yang berakhir dengan rebahan diatas kasur.
"Kau tenang saja, kan sudah ku bilang aku tidak berhasrat sama sekali terhadap tubuh mu itu." Ia mengacak gemas rambut Sesyil.
"Aishh…kau ini. Awas saja jika suatu saat kau khilaf dengan tubuh ku, akan ku potong milik mu lalu kelemparkan ke kandang buaya untuk di makan mereka." Ucapnya dengan kilat kemarahan.
"Dan ku pastikan juga saat aku khilaf, tubuh mu sudah lebih berisi dan sexy dari sekarang." Ejek Bryan. Entah mengapa tubuh kekasihnya yang tipis itu bisa menjadi hobi baru untuk menggodanya.
"Ishhh…." Ia mendesain melihat kesungguhan Bryan, karena pria itu berkata dengan santainya dan jemarinya yang sibuk mengotak-atik remote televisi mengganti chanel.
"Bry…."
"Apa lagi?"
"Ceritakan bagaimana awal pertemuan mu dengan Celo." Tanyanya seraya mendongak ke arah Bryan.
"Yakin kau ingin tau? Kau tidak akan cemburu bukan?" Godanya.
"Ishh…aku serius."
"Persisnya kapan pertemuan pertama itu aku lupa. Yang paling ku ingat, saat itu Zach menyuruh ku mencarinya karena ia kabur saat setelah pria es itu melamarnya. Dan kau tau Se, waktu itu aku sangat kesal padanya bahkan bisa dibilang membencinya." Cerita Bryan membuka lembaran lama.
"Astaga. Dari semua orang yang menatap kagum sejak awal pertemuan dengan Celo, hanya kau yang bicara bahwa kau membencinya." Sesyil menonjok pelan dada kekasihnya.
"Itu kan dulu. Siapa yang tidak akan berpikir bahwa Celo sama seperti Melodi dan wanita-wanita lainnya, yang mendekati Zach hanya karena harta. Aku hanya kesal saja karena ia terkesan mempermainkan Zach padahal ia berasal dari keluarga kekurangan." Jelasnya lagi.
"Mmm…lalu kapan penilaian mu itu berubah?"
"Entahlah. Aku hanya terus menyelidikinya dan semakin dalam penyelidikan itu aku tau dan yakin bahwa dia bukanlah wanita biasa, dia spesial dengan segala kebaikan yang mengalir dalam dirinya. Sejak saat itu aku memutuskan untuk melindunginya dan menganggapnya sebagai adik ku." Jelas Bryan menatap jauh kedepan.
"Ya. Dan Celo memang pantas mendapatkan itu. Lalu kenapa dia tidak memanggil mu kakak, kan kau jauh lebih tua darinya?" Sesyil menanyakan segala yang terasa dibenaknya.
"Itu permintaan ku. Aku tidak mau dinilai tua oleh orang lain." Ketusnya.
"Eihh….kau memang tua, dasar orang tua tak tau malu." Ejek Sesyil.
"Ya,ya, ya. Dan orang tua ini masih sanggup menghabisi mu di ranjang sekarang ini juga jika kau mau." Tatapannya berubah horor dan seketika Sesyil lansung memukulnya.
"Bry…."
"Apa lagi sih ah?" Ia mengerti Sesyil masih akan bertanya.
"Apa mau menyukai Celo? Maksudku sebagai seorang wanita." Tanyanya serius. Kini ia mulai mendudukkan tubuhnya menatap lekat ke arah pria itu.
"Mau jujur atau bohong?"
"Jujur Bry, aku mau tau semua tentang mu."
"Ya. Bohong jika aku berkata tidak, aku pernah mencintainya tapi itu dulu. Aku pikir, setiap pria yang dekat dengannya pasti merasakan hal itu, karena semua yang kami pria inginkan ada di dirinya." Tak ada kebohongan dari sorot matanya.
"Tapi kau tenang saja, perasaan itu sudah lama hilang. Kau tau kenapa? Karena aku lebih bahagia bila dia bahagia bersama orang yang dicintainya dan itu Zach." Sambung Bryan lagi.
"Bagaimana kalau dia tidak bahagia bersama Zach? Bagaimana kalau Zach menyakitinya?" Rasa cemburu dan takut menyelimuti hatinya.
"Kau cemburu? Kalau begitu akan ku nikahi kalian berdua, jadi yang akur jangan saling iri." Guraunya.
"Si**an Kau!" Ia kembali memukul Bryan.
"Zach tidak akan menyakiti Celo, percayalah."
"Bagaimana kau begitu yakin?" Sesyil sangsi akan ucapan Bryan.
^^^
"Ayo Mas, Celo sudah siap." Ia menoleh ke arah suaminya yang sedang termenung ditepi ranjang.
"Mas..." Celo duduk disamping Zach, ia meraih tangan suaminya karena tak respon saat dipanggil.
"Eh…ah..Maaf sayang. Kamu sudah siap?" Tanya Zach tergagap.
"Sudah Mas." Saut Celo dengan senyum yang sedikit di paksakan.
"Maaf kan Mas sayang." Ia mendekap erat tubuh Celo.
"Celo mengerti Mas. Maaf jika Celo terlalu banyak menuntut." Zach tak lagi menjawab, ia tak mau percakapan mereka seperti orang yang akan berpisah selamanya.
"Mas keluar saja dulu, masih ada yang perlu Celo bereskan." Ujarnya pada sang suami.
"Mm.." sebelum keluar Zach mengecup bibir istrinya.
Puas memandang dan memegang kamar yang beberapa bulan ini ditempatinya Celo melangkah keluar. Ya, dia bukannya membereskan sesuatu, meliankan melihat kamar mereka sebelum pergi.
"Akhirnya, kau paham juga maksud ku." Baru saja menutup pintu, Celo di suguhkan adanya Melodi didepannya.
"…." Tak ambil pusing, Celo berjalan melewatinya begitu saja.
"Hei, aku sedang berbicara dengan mu!" Teriaknya seraya mencengkeram lengan Celo dengan kuat.
"Maaf Nona, saya tidak punya waktu karena sebentar lagi waktu keberangkatan saya. Bukankah Nona yang sangat menginginkan saya pergi?" Tukas Celo bermaknakan sindiran.
"Kau!!" Geramnya.
"Sudahlah. Kau ini kenapa? Bukannya kau sendiri yang menginginkan dia pergi, kenapa kau masih saja mengganggunya?" Chris datang dan melihat Melodi mengganggu Celo.
"Kenapa kau malah berpihak padanya?" Tanya Melodi sengit.
"Aku tidak berpihak pada siapapun, aku berdiri sendiri. Dan kau jangan besar kepala kakak ku akan kembali pada mu." Mendengar kalimat Chris barusan, tanpa sadar Celo menyunggingkan senyumnya.
"Apa kau senyum-senyum? Sudah sana pergi." Melihat Celo tersenyum Chris menyuruhnya pergi.
"Baiklah, Celo pergi dulu. Kak Chris, jaga kesehatan kakak juga kandungannya." Sebelum melangkah pergi, Celo mengusap pelan bahu adik iparnya.
"Heh, dasar penjilat tak tau malu." Ucapnya merendahkan Celo.
"Diam. Seperti kau manusia benar saja, sebaiknya kau pergi dari rumah ini sekarang sebelum ku jabar kau!" Ucap Chris mengusir Melodi. Setelahnya ia kembali masuk ke kamarnya.
^^^
"Mas, seandainya jika Celo hamil, apa Celo tetap harus pergi?" Celo yang berjalan dibelakang Zach menghentikan langkahnya.
"Sayang tunggu Mas sebentar. Jangan berpikir untuk pergi jauh dari Mas karena sampai kapan pun segala pikiran buruk mu tentang perpisahan kita tidak kan pernah terjadi. Percayalah." Zach kembali menenangkan perasaan Celo yang masih gundah.
"Celo tidak butuh janji Mas, buktikan kalau ucapan Mas semua memang benar. Sampai kapan pun Celo akan selalu menunggu Mas." Ia berhambur memeluk suaminya, pria yang sangat dicintainya sepenuh hati.
"I love you my wifey." Ungkap Zach tulus semakin mengeratkan pelukan mereka.
"I love you too my husband, you're mine." Celo berjinjit untuk menyatukan bibir mungilnya dengan bibir sexy suaminya. Meski terkejut Zach sangat senang.
Tak peduli tatapan orang-orang sekitar, mereka menikmati suasana yang mereka ciptakan sendiri. Melepas rindu sebelum rindu yang lain menghampiri saat mereka terpisah nanti.
Cukup lama penyatuan itu berlangsung, Zach baru melepasnya saat tau istrinya hampir kehabisan nafas.
"Sampai jumpa sayang." Zach mengecup lama kening Celo sebelum membiarkan istrinya masuk ke dalam.
"Sampai jumpa Mas, Celo harap kita memang akan berjumpa lagi." Gumam Celo dalam hati seraya melambai kearah Zach, air matanya kembali tumpah.
Jangan pernah memaksakan cinta pada orang yang tidak mencintai kita. Dengan memaksa kita tidak akan bahagia meski orang itu dekat kita. Sebaliknya, kita akan bahagia jika orang yang kita sayang bahagia dengan pilihannya sendiri terlepas dari baik atau buruknya orang pilihannya itu. __ Areum Kang
▪︎▪︎▪︎▪︎
Maaf kalau ngebosenin ya teman-teman, mungkin beberapa eps selanjutnya akan lebih membosankan lagi karena akan menceritakan kilas balik dan juga bagaiman sahabat-sahabat Zach membongkar wajah asli Melodi.
Buat yang masih stay read, jangan lupa LIKE & COMMENT nya sebagai bentuk dukungan.
TERIMA KASIH BANYAK