Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Sangat kasihan



"Maafkan saya sudah kasar menampar teman anda. Dan juga…" Celo berhenti sejenak.


"Maaf karena ****** kecil dan murahan ini sudah menggoda teman anda. Sekali lagi maafkan saya."


■■■■


"Dasar gadis bodoh!!" Kesal Zach dengan suara rendah disertai gemeletuk giginya.


Zach hendak berdiri mengahampiri Celo dan menarik gadis itu dalam dekapannya dan juga memberi pelajaran pada dua orang yang sebenarnya lebih pantas disebut binatang.


"Mau kemana?" Tanya Tommy yang melihat Zach bereaksi pada gadis yang sedari tadi menarik perhatiannya. Ya, ia tau bahwa yang diperhatikan temannya adalah gadis yang sedang terkena masalah itu.


Zach hanya fokus pada Celo dan tak menghiraukan Tommy.


"Kau mengenal gadis itu?" Lagi-lagi Zach hanya mengacuhkannya.


"Dengar, jika kau datang dan memberi pembelaan pada gadis itu. Semua orang akan benar-benar berpikir bahwa wanita itu wanita nakal. Pikir saja, apa semua orang tau bahwa kalian saling mengenal? Bahkan sangat jelas dari tadi kalian tak saling tegur sapa." Zach terdiam mencerna ucapan temannya, benar yang dikatakan Tommy.


"Kau hanya akan membuat dirimu lega karena sudah melindunginya, tapi tidak dengan wanita itu, untuk saat ini mungkin ia merasa terlindungi. Tapi kedepannya orang-orang akan mengingat dan memandang rendah dirinya." Tambah Tommy lagi.


"Sebaiknya kau tunggu waktu yang pas untuk menenangkannya."


"Ya. Kau benar." Zach mencoba untuk tenang, ia kembali duduk meski ia masih diselimuti kemarahan. Ingin rasanya ia menguliti dua binatang tersebut. Bicara soal menguliti, Zach teringat Eric. Ia yakin Eric akan dengan senang hati memberi mereka pelajaran. Zach mengambil ponselnya san secepat kilat menghubungi Eric.


"Ada apa?" Terdengar balasan ketus diseberang sana.


"Aku sedang berada direstoran tempat Celo bekerja. Dan kau harus memberi pelajaran dua orang yang telah mengganggu Celo." Ucap Zach lansung saja. Jika ia betele-tele dan terlalu lama, Eric akan jengah mengingat hubungan mereka yang masih renggang.


"Berikan photo mereka." Sangat terasa kemarahan Eric dari suaranya.


"Dengan senang hati."


Zach menutup panggilannya dan secara diam-diam ia memotret dua orang yang dicapnya sebagai binatang.


"Apa Eric masih bekerja didunia malam?" Suara Tommy.


"Tidak."


"Lalu?"


"Hanya memberi pelajaran pada pengacau." Kata Zach dengan evil smirknya.


"Hah…aku balik ke hotel dulu." Pamit Tommy.


"Tadi katanya mau ke club Eric."


"Tidak jadi, aku tau kau ingin menemui gadis tadi. Dan aku tak ingin jadi nyamuk diantara kalian. Hehee…" ejek Tommy.


"Ada-ada saja kau!!" Balas Zach tertawa kecil.


"Baiklah. See you bro." Tommy melambai sekilas pada Zach.


"Benar kata Tommy aku akan menemui Celo. Dan juga kata Eric aku harus bicara padanya." Zach berkata pada dirinya sendiri. Setelah membayar, Zach pergi meninggalkan testoran itu.


°°°°


"Kau tidak apa-apa?" Tanya teman-teman Celo, mereka sangat khawatir. Mereka tidak percaya, ada ya orang yang seperti mereka tadi. Memaksa orang untuk mengakui kesalahan yang tak diperbuatnya dan mempermalukan Celo seperti itu.


"Kau masih tersenyum. Hah….kau benar-benar seorang malaikat Celo." Ucap teman lainnya dengan simpati.


"Awas saja! Jika mereka kemari lagi akan kuberi mereka obat pencuci perut." Kali ini teman yang lainnya lagi yang bicara.


"Sudah-sudah kak. Ayo kita kembali bekerja." Ajak Celo.


"Kau diam disini saja. Lihat, kakimu masih berdarah. Lagi pula sebentar lagi waktumu pulang bukan."


"Baiklah kak. Terimakasih." Dalam hati Celo sangat bersyukur masih dikelilingi orang-orang baik.


Tepat jam sebelas malam waktunya Celo pulang. Seperti biasa, sebelum pulang kepala Koki selalu membungkuskan Celo sisa makanan. Maksudnya bukan sisa pelanggan, tapi kelebihan saat memasak pesanan pelanggan.


"Terimakasih bi. Celo pulang dulu."


"Ya nak. Hati-hati dijalan." Celo melambaikan tangannya saat akan meninggalkan restoran lewat pintu belakang.


°°°°


Zach yang sedari tadi menunggu Celo dimobilnya, melihat Celo keluar lewat pintu samping. Mungkin memang pintu itu hanya diperuntukkan bagi karyawan. Zach tak lansung menghampirinya, ia mengikuti Celo pelan-pelan karena Celo jalan kaki sementara Zach dengan mobilnya.


"Apa dia akan jalan kaki sampai rumahnya? Bisa-bisanya ia tenang saat menghadapi masalah." Zach tak habis pikir akan jalan pikiran Celo.


Terus saja diikutinya Celo, sampai gadis itu singgah disebuah mini mart. Terus saja Zach menunggui Celo, ia juga sedang menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan gadis itu. Tak butuh waktu lama Celo keluar dari mini mart, ditangannya dia memegang sebuah roti.


Zach terus mengikuti gerak-geriknya. Celo duduk disebuah bangku yang sengaja disediakan dipinggir jalan. Celo mulai menyobek bungkus roti itu dengan tangan sedikit gemetaran. Itu semua nampak jelas dimata Zach.


Baru satu gigitan ditelannya roti itu, Celo memuntahkannya lagi. Tak ada habisnya ia mengeluarkan sisa makanan yang ada diperutnya, sampai ia terduduk lemah dijalanan.


"Celo. Dia kenapa? Apa dia keracunan? Aku harus turun dan menghampirinya." Seru Zach sendiri.


Segera setelah itu ia menghampiri Celo dibantunya gadis itu mengusap-usap tengkuknya. Awalnya gadis itu memang terkejut, tapi setelah ia mendengar dan melihat Zach ia merasa lega dan terbantu.


"Kau kenapa? Sepertinya kau keracunan, ayo kuantar ke rumah sakit." Zach membantu Celo berdiri dan duduk dibangku yang didudukinya tadi.


"…." Celo hanya menggeleng lemah. Ia merasa sangat lemas sekarang, semua tenaganya terkuras habis karena mual tadi.


"Mana rotinya?" Zach mengambil roti yang dimakan Celo, memastikan roti itu expired atau tidak.


"Tidak expired, lalu kau kenapa?" Lagi hanya gelengan yang diterima Zach.


"Ah..kau pasti belum makan bukan? Astaga nona, kau mau mati muda?" Ucap Zach kesal seraya mengusap kasar wajahnya.


"Sekarang kita kerumah sakit." Tawar Zach lagi.


"Tidak usah tuan. Celo baik-baik saja, hanya lelah. Istirahat sebentar juga sudah baikan lagi." Celo masih dengan penolakannya.


"Dasar keras kepala. Istirahat dimobilku saja, lebih aman dan sedikit lebih nyaman." Kali ini Zach tak lagi memaksa membawa ke rumah sakit. Celo menganggukkan kepalanya, dari pada ia harus pulang dalam keadaan seperti ini lebih baik menerima tawaran Zach, toh pria itu juga bukan orang jahat.


Di mobil, Zach menurunkan jok mobil yang diduduki Celo agar gadis itu nyaman beristirahat. Zach menghidupkan pemanas suhu agar Celo tak kedinginan dan merasa hangat. Terus saja diperhatikan raut wajah gadis itu, ia merasa telah menjadi orang paling jahat sekarang karena telah mengacak-acak hidup seorang gadis. Gadis yang sedang mengemban tugas berat disaat semua remaja seusianya tengah menikmati masa muda mereka.


Zach teringat akan adiknya, jika dibandingkan dengan Celo Christa sangat jauh bedanya. Entah apa yang menyebabkan adiknya itu seperti sekarang tak bermoral dan kasar pada semua orang. Ia juga teringat waktu Christa mengatai Celo karena telah merebut kekasihnya, ia merasa tak percaya akan hal itu. Tak mungkin Celo bisa berbuat semurah itu.


Zach melihat Celo meringis dalam tidurnya, ia bertanya apa yang sedang dimimpikan gadis itu. Bahkan dalam mimpi saja dia juga tak bahagia, Zach merasa sangat kasihan akan nasib Celo.


■■■■