Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Pernikahan Bryan-Sesyil



▪︎▪︎▪︎


"Nona Sesyilia, maukah kau menikah dengan ku?" Disela ciuman lembut mereka, Bryan melamar Sesyil. Ia harus cepat atau gadis itu akan kabur lagi.


"B, ini terlalu cepat. Beri aku waktu." Pintanya, ragu.


"Sekarang, atau tidak sama sekali." Dengan yakinnya, Bryan mendesak gadis yang dicintainya itu.


"B, aku, aku, maaf tapi aku,-" Bryn dengan raut cemasnya menanti jawaban yang akan keluar dari bibir manis gadisnya.


"Ya B. Aku mau." Sesyil memalingkan wajahnya sebab malu.


"Apa? Aku tidak dengar, suara mu terlalu pelan." Goda Bryan. Pria itu mengapit dagu Sesyil dengan jarinya untuk di tolehkan ke arahnya.


"Aku mau. Aku mau. Aku mau menikah dengan mu, menjadi istri mu, mengandung dan melahirkan anak-anak mu!!" Nafasnya terengah-engah setelah mengeluarkan kalimat panjang dalam satu tarikan nafas. Sementara Bryan yang melihatnya, tersenyum bahagia dan itu jelas tergambar dari sorot matanya.


"…." Bryan tersenyum, ditatapnya lekat-lekat wajah yang selama enam tahun ini selalu menguras emosi juga pikirannya. Lain dengan Sesyil, ia menatap kesal ke arah Bryan, setelah tadi ia melamarnya lalu dia hanya tersenyum saja setelah mendengar jawaban gadis itu.


"Kenapa kau tersenyum hah? Apa kau hanya mempermainkan ku? Kau mau membalas keran aku sudah meninggalkan mu!" Satu tamparan juga suara keras Sesyil menyadarkan Bryan dari lamunan bahagianya.


"…." Lagi, Bryan hanya tersenyum. Satu tangannya terangkat untuk membelai lembut wajah sang gadis.


"Tersenyum lagi, ku bunuh kau!" Gertak Sesyil dengan wajah khas orang marah.


"Tidak. Cukup satu kali kau membunuh ku, tidak untuk yang kedua kalinya lagi, Baby." Bryan berucap sendu, tidak bisa ia bayangkan bagaimana jika mereka tidak pernah bertemu lagi. Sesyil melihat ke sendua pria dihadapannya, membuat rasa bersalah yang ada pada dirinya semakin dalam.


"Maafkan aku Bry, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu." Air mata menggenang di pelupuk matanya, siap mengalir kapan saja jika mereka masih melanjutkan pembahasan ini.


Grep


Bryan menarik Sesyil dalam pelukannya, menyeruakkan wajahnya diceruk leher gadis itu.


"Berjanjilah satu hal padaku. Apapun yang akan terjadi dimasa depan kelak, jangan pernah untuk meninggalkan ku lagu. Aku bisa gila hidup sendiri tanpa mu Se." Bryan dengan suara berat dan seraknya, memohon disela pelukan mereka.


"Ya Bry, aku berjanji. Cukup enam tahun ini aku dihukum karena telah meninggalkan mu." Sesyil menangis, sebab Bryan merasakan baju yang dikenakannya basah. Apalagi jika bukan air mata gadisnya yang sebentar lagi akan ia ikat dalam ikatan suci pernikahan.


Bryan yang sudah menganggap Zach sebagai Kakaknya, segera membagi kabar bahagia ini. Zach dan Celo mengambil alih untuk mempersiapkan segalanya, sebagai bentuk dukungan juga ikut bahagia atas kembalinya mereka bersama.


***


Tidak butuh waktu lama untuk mempersiapkan segalanya bagi Zach dan Celo, terlebih mereka di bantu oleh para sahabat. Dua minggu, mereka hanya butuh waktu selama itu. Itu pun karena ada beberapa berkas yang harus mereka lengkapi dan bolak balik antar negara untuk menyelesaikannya.


"Tidak bisa ku gambarkan Shane, aku sangat bahagia bisa menikahi gadis yang ku cintai. Terima kasih." Bryan berdiri dari duduknya, lalu memeluk Shane. Pelukan ala lelaki juga pelukan persahabatan.


"Semoga kau selalu bahagia." Shane membalas ucapan terima kasih Bryan.


"Kau juga." Timpal Bryan lagi. Pelukan mereka sudah terlepas, disusul dengan Zach dan Eric yang turut masuk kesana.


"Wah, akhirnya kau menyusul juga adik kecil." Eric merangkul Bryan cukup erat hingga pria itu menyeruak ke salah satu ketiaknya.


"Ric! Kau merusak tatanan rambut ku." Oceh Bryan masih berusaha melepas rengkuhan Eric yang tenaga bisa dikatakan sangat kuat.


"Baiklah. Karena kau akan jadi pengantin hari ini, maka ku lepas." Tidak membiarkan Bryan lega begitu saja, usai melepas rengkuhannya Eric kembali mengacaukan penampilannya dengan mengacak rambutnya.


"Eric!!" Pekik Bryan kesal setengah mati. Mereka tertawa melihat kelakuan dua sahabatnya, entah kapan terakhir kali mereka bisa tertawa lepas seperti ini.


***


Pernikahan Bryan dan Sesyil berakhir sejak dua jam yang lalu. Saat ini, para pria bersahabat itu tengah menghabiskan malam sebelum istri-istri mereka memanggil. Di mini bar yang memang disediakan di hotel tersebut, mereka kembali melepas dan mengenang masa lalu mereka.


"Apa ini Shane?" Tanya Bryan. Shane memberikan sebuah amplop yang entah apa isi didalamnya. Kecuali Bryan, mereka tersenyum melihatnya sembari menikmati minuman yang sudah diracikkan oleh seorang bartender berpengalaman.


"Buka saja." Tukas Shane singkat. Bryan membukanya untuk menjawab sendiri pertanyaannya tadi.


"Ini,-" melihat isinya, Bryan tersentuh. Tidak menyangka mereka benar-benar mempersiapkan segalanya hingga tempat untuk honeymoon.


"Terima kasih." Bryan penuh haru. Tidak pernah terpikir sebelumnya, keluarganya yang tidak pernah ia ketahui sama sekali kini tergantikan dengan keluarga baru yang pastinya sangat hangat dan saling peduli satu sama lain.


Disisi lain, para wanita pun tidak mau kalah. Mereka juga berkumpul disalah satu kamar tepatnya kamar Celo, mereka mengadakan pesta piama. Aneh memang, disaat kebanyakan pengantin mengadakan pesta lajang, Bryan dan Sesyil justru mengadakan pesta beberapa jam setelah pernikahan mereka.


"Sesyil, kau masih mau bukan membantu ku mengurusi toko bunga kita yang ada di Holland?" Kini Celo tengah duduk bertatap muka dengan pengantin baru tersebut. Ia sangat ingin jika toko bunganya dilanjutkan oleh wanita itu seperti sebelumnya.


"Baiklah Nona. Maaf, waktu itu saya pergi begitu" saja." Tukas Sesyil menyanggupi diikuti ucapan maafnya. Ia merasa bersalah telah mengabaikan kepercayaan wanita yang telah bagitu baik terhadapnya.


"Tidak apa-apa. Ah ya, jangan menggunakan panggilan formal lagi, kita saudara sekarang." Timpal Celo tidak terima dengan panggilan Sesyil yang masih mengunakan embel-embel Nona.


"Baiklah Celo." Usai pembicaraan singkat itu, mereka kembali bergabung bersama Audrey juga Chris. Ke empat wanita itu menghabiskan setengah malam hanya untuk berbincang dan terkadang bergosip.


▪︎▪︎▪︎