
▪︎▪︎▪︎
Hati Bryan hancur mengetahui keadaan yang menimpa calon anak dan istrinya. Kenyataan pahit manakala calon anak mereka yang masih berusia lima minggu harus di kuretase sebab sang istri mengalami keguguran. Ingin rasanya pria jangkung itu menangis meratapi kesedihannya, namun ia harus tetap tegar demi sang istri tercinta.
Dengan langkah pelan, nyaris tak terdengar, Bryan memasuki ruang rawat Sesyil. Setelah tadi menjalani proses kuretase dan recovery kurang lebih lima jam, Sesyil akhirnya siuman.
Meski matanya terbuka, namun ia hanya diam saja layaknya orang mati, tidak bergerak juga tidak berbicara sama sekali.
Masih dengan gerak pelan, Bryan meraih bangku kecil untuk ia pakai duduk di samping ranjang dimana sang istri berbaring lemah. Dengan Kedua belah tangan kekarnya, di genggam tangan dingin Sesyil. Memberikan wanita itu kekuatan melalui genggamannya.
Sesyil merespon. Ia menatap suaminya, dan tak lama air mata mengalir bebas dari kedua sela matanya. Tangis kepedihan juga rasa bersalah.
"Jangan menangis." Kalimat pendek pertama yang keluar dari bibir Bryan setelah tadi mereka saling membisu. Di lepasnya satu tangan yang tadi menggenggam jemari sang istri untuk mengusap air mata wanitanya itu. Sementara tangan satunya lagi tetap menggenggam.
"Maafkan aku Bry." Bukannya tenang, tangis Sesyil semakin pecah. Bryan berdiri lalu memeluk tubuh wanita tercintanya. Mereka berpelukan dengan Sesyil masih berbaring di atas ranjang.
"Sshhh…tidak apa-apa, tidak apa-apa.." Bryan bangun dari posisinya, pria itu memilih untuk duduk di ranjang disisi sang istri. Dengan setia, tangannya tiada henti mengusap lembut tangan juga pucuk kepala sang istri.
"Bry,-"
"Shh…tidurlah. Kau harus istirahat." Tangannya yang tadi mengusap kepala Sesyil kini beralih meletakkan jari telunjuknya ke bibir sang istri mengisyaratkan wanita itu untuk tidak berbicara. Bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin wanita yang dicintainya itu terus menyalahkan diri sendiri atas kehilangan calon anak mereka.
"Jangan tinggalkan aku." Sesyil berucap lirih manakala matanya menangkap pergerakan dari tubuh sang suami.
"Tidak Baby. Aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya bergeser sedikit, agar lebih leluasa memeluk mu." Benar saja, pria itu ikut berbaring di ranjang berukuran cukup luas itu sebab mereka berada di ruang VVIP. Ia ingin memeluk wanitanya agar tidak merasa sendiri dan kembali hanyut dalam kesedihan.
Tidak berselang lama, Sesyil tertidur dalam dekapannya, namun hal itu tidak membuat Bryan ikut terpejam matanya. Iris pria itu menatap kosong langit-langit kamar, tanpa ia sadari air mata jatuh dengan sendiri melalui salah satu sudut matanya. Tidak ingin Sesyil mengetahui keadaannya, secepat kilat di hapus air mata itu dengan cara mengusap kasar menggunakan punggung tangannya.
Flashback
Ting
Suara gesekan pintu geser terdengar menandakan ada orang yang akan keluar dari ruangan dimana Sesyil sedang di tangani. Bryan berdiri dari duduknya disusul Bibi Wu yang sedari tadi setia menemaninya.
"Dokter. Bagaimana istri dan calon anak kami?" Tidak sabaran memang tipikal Bryan, sontak saja ia menanyakannya begitu seorang Dokter muncul dari balik pintu tersebut.
"Sebaiknya kita bicarakan ini di ruangan saya saja Tuan. Mari." Dokter tersebut yang baru saja melepas masker medisnya, tidak di buat heran karena memang seperti itulah sebagian besar reaksi dari keluarga pasien. Dokter itu mempersilakan Bryan untuk mengikutinya.
"Lansung saja Dokter. Bagaimana keadaan istri dan kandungannya?" Wajah Bryan mengeras, ia mempersiapkan diri untuk menerima kabar terburuk sekalipun.
"Maaf Tuan, kami tidak berhasil menyelamatkan janin dalam kandungan istri anda. Lebih jelasnya, Nyonya Sesyil mengalami pendarahan cukup hebat hingga mengakibatkan pasien keguguran. Untuk itu kami bari saja melakukan prosedur kuretase untuk membersihkan rahim pasien guna mencegah penyakit lainnya. Sekali lagi maafkan kami Tuan." Nampak Dokter itu menunduk takut sebab Wajah Bryan yang tak bersahabat. Bagi seorang Dokter juga berat menyampaikan kabar serupa ini, karena tugas utama mereka ialah untuk menyelamatkan dan menyembuhkan.
"Apa penyebabnya?" Nada suaranya terkesan dingin dan datar. Tangannya yang sedari tadi bertumpu di atas meja kerja Dokter itu, mengepal kuat.
"Maaf sebelumnya Tuan, dari riwayat kehamilan Nyonya Sesyil yang saya baca. Kandungan pasien memang salam kondisi lemah, kemudian di dukung dengan stress dan tertekan hingga berdampak buruk bagi janin." Penjelasan Dokter barusan, sontak saja Bryan terperangah di buatnya. Dari yang ia tau, istrinya itu selalu tampak baik-baik saja dan tidak ada sedikit pun tanda-tanda bahwa ia sedang stress.
"Tapi,- bagaimana bisa? Ia terlihat baik-baik saja semenjak kami mengetahui kehamilannya." Tentu saja Dokter yang berada di hadapannya itu tidak tau harus menjawab apa.
"Sebaiknya di bicarakan nanti Tuan setelah Nyonya Sesyil siuman."
Flashback off
***
Dua hari berlalu, keadaan Sesyil sudah semakin pulih. Keberadaan Bryan disisinya benar-benar sangat berarti bagi wanita itu. Rasa bersalah juga kesedihan atas kehilangan calon anaknya, sedikit tersamarkan dengan dukungan yang tidak pernah putus di berikan oleh pria yang amat dicintainya itu.
Terhitung semenjak Sesyil di bawa ke rumah sakit, sejak hari itu pula lah Bryan tidak datang ke kantor. Sepenuh waktunya ia curahkan hanya Untuk istri tercinta, sementara pekerjaan ia serahkan pada Felix yang beruntung pria itu mengerti kondisi Bryan saat ini.
Seperti halnya saja saat ini, pria itu tengah mengupaskan buah atas permintaan sang istri. Di rasa keadaan sudah memungkinkan, Bryan memberanikan diri untuk bertanya hal apa gerangan yang membuat wanita itu stress hingga tertekan.
"Baby, maafkan jika aku harus menanyakan hal ini." Tanya Bryan dengan hati-hati. Meski matanya fokus memperhatikan jemarinya yang sibuk dengan kegiatan mengupas buah, namun tak jarang pula ia mengintip ekspresi sang istri melalui ekor matanya.
"…." Sesyil tidak menjawab. Ia memilih diam sedangkan matanya sudah berembun dan siap meneteskan cairan bening itu. Bryan yang menangkap hal itu seketika menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan buah-buahan itu ke atas meja kecil di samping ranjang. Kini tatapannya fokus ke sang istri, menggenggam jemarinya dengan mengusap sesekali.
"Jika kau tidak mau bercerita, aku tidak akan bertanya. Kedepannya, aku tidak akan bertanya lagi." Imbuh Bryan dengan menampilkan senyumnya. Untuk Sesyil, wanita itu menangis saat melihat senyum di wajah suaminya tersebut.
"Hei. Kenapa menangis? Maafkan aku heum…" di hapusnya air mata itu. Sungguh, Bryan lebih baik di pukul ratusan kali di banding harus melihat wanita yang paling dicintainya ini menangis.
"Tidak Bry. Jangan minta maaf. Akulah seharusnya yang meminta maaf, aku sudah menyembunyikannya dari mu. Aku, aku juga minta maaf karena demi aku juga anak kita, kau memendam segalanya sendiri. Aku,- hiks, aku,-" Sesyil mengucapka kalimat cukup panjang yang sama sekali tidak di mengerti oleh Bryan. Terlihat dari pria itu mengerutkan keningnya.
"Apa maksud mu Baby? Apa yang sedang kau bicarakan? Bicaralah yang jelas." Tukas Bryan masih mengernyit heran.
▪︎▪︎▪︎