
▪︎▪︎▪︎▪︎
Hamir dua puluh jam Celo melakukan perjalanan udara, hingga akhirnya sampai di negara asalnya. Bukannya tidak bahagia dia kembali, hanya saja wanita itu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja menurutnya.
"Nona, silakan." Garret membukakan pintu mobil yang entah sejak kapan sudah tersedia begitu saja menjemputnya. Seperti kata suaminya hari itu, Garret akan mengantarnya dan disinilah asistennya itu berada sekarang.
"Ya. Terima kasih." Ucapnya ringan.
"Tentu Nona." Dibalas anggukan olehnya.
Selama di perjalanan tak ada suara sama sekali, bukannya apa-apa Celo tak begitu mengenal Garret jadi agak sungkan saja untuk memulai obrolan.
"Nona, apa anda mau mampir ke suatu tempat terlebih dahulu?" Tanyanya seraya melirik melalui kaca spion depan.
"Mm…tidak ada, kita lansung ke rumah Mami saja. Celo sangat merindukan Mami dan Papi." Celo menoleh sekilas menjawab pertanyaan Garret.
"Baiklah Nona." Setelahnya mereka kembali diam.
"Mm…Garret." Panggil Celo.
"Ya Nona."
"Sampai kapan kau disini? Mm…maksudku, apa kau akan tinggal lebih lama disini?" Sedikit ragu, Celo bertanya karena ia harus memastikannya juga.
"Setelah memastikan anda sampai dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, Tuan akan meminta saya kembali Nona." Tukasnya.
"Ah begitu." Keheningan kembali melanda hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti disebuah rumah besar nan indah.
"Nona, kita sudah sampai." Dua jam perjalanan, Garret membangunkan Celo yang akhirnya tertidur tadi.
^^^
Tak ada sambutan atas kepulangan Celo karena memang ini mendadak, tak ada rencana sama sekali.
Ceklek
Terdengar suara orang membuka pintu dari arah dalam rumah, seorang wanita paruh baya yang membuka pintu dan itu Mami.
"Astaga. Celo…" teriak beliau terkejut.
"Mi…" sapa Celo balik melihat mertuanya itu, tak lupa ia memberi senyumannya.
"Astaga. Astaga. Ini benar kamu kan sayang. Ini benaran Celo kan menantu kesayangan Mami?" Beliau menarik Celo lalu memeriksanya, mulai dari mendelik dari atas kebawah sampai memutar-mutarnya.
"Ya ampun. Ini benar kamu, Mami sangat merindukan mu nak." Lepas memastikan bahwa Celo itu nyata Mami memeluknya erat-erat.
"Celo juga Mi." Sautnya membalas pelukan mertuanya.
"Sendiri saja sayang? Zach mana?" Tanya beliau memperhatikan belakang Celo, yang ada hanya Garret disana.
"Mmm…itu. Mas sangat sibuk Mi, nanti akan menyusul katanya."
"Dasar anak itu. Ayo masuk sayang, Celo pasti lelah." Mami menggiring Celo masuk ke dalam rumah diikuti Garret di belakang seraya menggotong barang bawaan istri Bos nya.
Dibelahan dunia lainnya, Zach sedang uring-uringan menunggu kabar dari wanita tercintanya.
"Kenapa sampai sekarang Celo belum menghubungi ku juga ya?" Ia berbicara dan bertanya sendiri.
"Arghh…ini pasti karena Mami nih, pasti Mami menempeli Celo terus." Rutuknya mengingat kebiasaan Maminya satu itu.
^^^
Seminggu sudah Celo dirumah mertuanya dan sudah beberapa hari juga Garret kembali ke Holland.
"Bi, Mami mana? Dari tadi Celo belum melihat Mami." Tanya Celo saat menuruni tangga ia berpapasan dengan Bibi.
"Nyonya pergi keluar Nona, kalau tidak salah ada suami teman beliau yang meninggal." Jelas Bibi.
"Begitu ya."
"Iya Nona. Maaf jika tidak ada lagi Bibi mau kebelakang dulu." Pamitnya sopan
"Ya Bi."
"Ini saat yang tepat." Gumam Celo sendiri, ia bergegas masuk kedalam kamar untuk mengepak barang-barang yang sekiranya akan dia butuhkan.
"Maaf Mas, Celo harus pergi jauh dari Mas. Celo tau Mas pasti akan membawa anak Melodi ke keluarga kita. Biarlah Celo egois, karena sungguh tidak sanggup rasanya jika harus membesarkan anak yang bukan darah daging kita terlebih itu anak perempuan lain yang merupakan wanita yang pernah sangat Mas cintai." Entah dari mana datangnya pemikiran bodoh seperti itu hingga Celo memilih untuk pergi.
Ia keluar seperti biasa, karena Celo tau pasti di rumah sebesar ini dilengkapi dengan cctv. Akan mencurigakan jika ia pergi dengan mengendap-endap seperti maling.
Apakah ini keberuntungan atau apa, yang jelas Celo keluar dari kediaman Alterio tanpa seorang pun yang tau. Mungkin hanya cctv saja yang merekamnya.
"Maafkan Celo Mi, Pi, ini yang terbaik untuk semua." Sebelum benar-benar pergi Celo menatap dalam gerbang tinggi yang membentengi rumah megah itu.
^^^
Setelah kepergian Celo, Zach bisa lebih leluasa bergerak karena istrinya sudah pasti aman disana tanpa takut akan ada orang menyakitinya.
Sudah beberapa hari berlalu saat Zach meminta seseorang untuk menyelidiki siapa ayah dari anak yang dikandung Melodi. Entah kenapa ia merasa ada yang tak beres dengan wanita itu, terlalu banyak pria disekitarnya membuat Zach jadi penasaran.
"Tuan, ada seorang yang ingin menemui anda." Lapor Garret saat ada orang yang minta bertemu.
"Siapa?"
"Oh. Suruh masuk saja."
"Baik."
Tok tok
Sebelum masuk memang sudah menjadi tata krama untuk mengetuk dulu sebelumnya.
"Masuk, silakan duduk." Saut Zach dari bangku kebesarannya.
"Ya Tuan." Sapa orang itu.
"Bagaimana? Apa yang kau temukan?" Tanya Zach to the ponit.
"Sebenarnya sangat sulit menemukannya Tuan, karena seperti yang Tuan bilang wanita itu licin layaknya belut." Imbuhnya memulai pembicaraan.
"Katakan dengan jelas, siapa?" Zach tak suka berbelit-belit.
"Ayah dari bayi itu…."
"Apa? Kau tidak salah orang bukan?" Geramnya sangat marah saat tau kenyataan yang sebenarnya.
"Benar Tuan, dan semua info saya akurat. Bahkan selama wanita itu berpindah tempat pria itulah yang mengaturnya. Sesekali dia mengunjungi wanita itu dan juga memenuhi segala kebutuhannya."
"Kau boleh keluar." Zach sudah tidak bisa lagi menahan gejolak amarah dalam dirinya. Sekeluarnya orang suruhan tadi, Zach membabi buta menghancurkan segala yang ada didepan matanya.
"Pengkhianat! Mereka semua sama saja!!" Kecam Zach pada orang yang dilaporkan orang suruhan tadi.
Bergegas ia meraih kunci mobilnya, meninggalkan segala pekerjaan yang ada. Baginya saat ini adalah memberi pelajaran pada si penghianat.
"Tuan, anda mau kemana?" Tanya Garret, ia melihat Bos nya keluar dengan terburu dan wajahnya seperti akan memakan orang.
"Tuan, anda ada meeting siang ini dengan Tuan Oishira." Ucap Garret sedikit berteriak." Berhasil, Zach menghentikan langkahnya.
"Kau yang handle. Atau kau batalkan saja jika tidak sanggup." Titahnya datar.
^^^
Didalam mobil, Zach menghubungi seseorang yang menurutnya penghianat itu.
Tutt
"Ya Zach. Ada ap-" jawab suara diseberang sana.
"Dimana kau?" Sebaliknya Zach bertanya dengan nada seolah mengajak orang itu untuk berkelahi.
"Aku sedang di hotel kenapa?"
"Jangan kemana-mana. Tunggu aku disana!" Ujarnya cepat sarat akan perintah.
"Baiklah, tapi disini sedang ad-"
Tut
Zach memutus sambungan secara sepihak.
^^^
Dengan menyetir seperti orang kesetanan, Zach sampai di hotel tempat orang yang akan ditemuinya dengan waktu yang lebih cepat. Sangat terburu sekali, ia bergegas memasuki lift yang akan mengantarnya kelantai dimana si penghianat berada.
Dor dorr dorr
Bukannya mengetuk, Zach malah menggedor pintu itu dengan sangat keras dan kasar. Ia sudah tak sabar akan menghancurkan orang didalam sana.
"Zach, cepat sekali kau samp-"
Bugh bughh
"Kau kenapa hah?" Bentak pria tersebut setelah mukanya dihantam dua pukulan sekaligus oleh Zach hingga jatuh tersungkur.
Bug bugh
Melihat lawannya kembali kokoh berdiri, Zach kembali memukulnya. Kali ini bukan lagi di wajah melainkan perut.
"Kau kenapa bre****k?" Tanya nya lagi tak habis pikir.
"Kenapa? Aku yang seharusnya bertanya, kenapa harus kau orangnya? Kenapa harus kau ayah dari bayi yang dikandung Melodi Shane?" Dengan mata yang sudah memerah Zach buka suara.
"Zach…"
"Kau penghianat Shane! Kau dan dia sama saja!" Bentak Zach dan mengarahkan telunjuknya ke arah Nate yang memang kebetulan berada disana juga. Saat baru masuk kekamar Shane, Zach sudah menangkap sosok siluet Nate sedang duduk di sofa.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Akhirnya Mr. X ketahuan juga ya, Shane orangnya.
Jika bosan boleh gak baca kok, buat yang penasaran jangan lupa dukungannya dengan tekan LIKE & tinggalkan COMMENT kalian teman-teman.
VOTE juga sangat disarankan agar Author lebih semangat lagi.
TERIMA KASIH