Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Setangkai red roses



●●●●


"Huek…" setiap pagi Chris akan selalu mual dan muntah dan setiap pagi pula Celo berada di sisinya. Entah itu untuk membantunya atau mengusap tengkuk adik iparnya.


"Terima kasih Celo." Chris tersenyum lemah.


"Sama-sama kak. Mm..apa tidak sebaiknya kita ke dokter saja? Celo cemas melihat kak Chris seperti ini, makan hanya sedikit sedangkan kakak mual terus." Ia mengungkapkan kecemasannya.


"Tidak perlu, ini memang sudah bawaannya. Jika kau hamil kelak juga akan seperti ini." Ujarnya seraya dibantu berjalan menuju ranjang oleh Celo.


Mendengar perkataan Chris barusan, perasaan Celo jadi tidak tenang. Melihat dua orang terdekatnya hamil, Celo jadi merasa sedih kapan ia akan merasakan hal seperti itu.


"Jangan bersedih. Semua ada waktunya Celo. Sedangkan yang terjadi pada diri ku sekarang, entah ini disebut kebahagiaan atau sebuah kesialan." Menyadari perubahan mimik wajah kakak iparnya, Chris berusaha menghiburnya.


"Jangan bicara seperti itu, anak adalah anugerah dan pelengkap hidup wanita kak. Anak pulalah yang membuat seorang wanita menjadi sempurna."


Sedari tadi rupanya perbincangan mereka didengarkan oleh Zach yang saat ini tengah bersandar di balik pintu.


"Kasihan istri ku, ia pasti sedih karena belum juga hamil." Batin Zach memperhatikan dua wanita terpenting di hidupnya.


••••


Sebenarnya Celo enggan meninggalkan Chris dirumah, ia takut akan terjadi sesuatu padanya. Tapi balik lagi, karena tokonya masih baru tak mungkin ia lepaskan begitu saja pada karyawannya.


"Celo, usai makan siang nanti kita ke rumah sakit lagi ya." Ajak Zach pada istrinya.


"Untuk apa Mas? Apa Kak Chris sakit?"


"Bukan. Ini soal kita." Celo paham akan maksudnya Zach tak lagi bertanya.


Zach mengantarkan Celo ke depan toko, barulah ia ke kantornya untuk menjalankan rutinitas sehari-hari.


"Garret, buat janji temu dengan Dokter Nate siang ini." Perintahnya begitu melewati meja Garret yang seharusnya Bryan lah yang berada disana.


"Baik Tuan." Sebenarnya ia bingung, tapi takut untuk bertanya karena melihat tampang tak bersahabat Bos nya. Tak ada pilihan lain, ia harus menghubungi Bryan.


"Ada apa?" Terdengar balasan cepat dari Bryan, begitu Garret menghubunginya.


"Tuan meminta ku untuk menghubungi Dokter Nate, di mana contact nya?"


"Biar aku saja."


"Baiklah, terima kasih Bry." Ucap Garret dengan sedikit segan.


"Tak masalah." Mereka memutus sambungan singkat itu.


Tut


"Tuan, saya sudah menghubungi Dokter Nate, beliau menyetujuinya." Ya, usai Bryan menghubungi Nate tadi ia lansung mengkonfirmasikannya pada Garret.


"Baiklah. Terima kasih."


"Yya..Tuan." Garret terkejut karena baru saja Tuannya mengucapkan terima kasih.


••••


Di toko bunga, Celo tengah sibuk menata bunga yang baru saja datang dari perkebunan. Meski punya karyawan, tetap ia akan turun tangan sendiri karena itu adalah hobby nya.


"Miss, kita mendapat pesanan." Ujar salah satu karyawan Celo.


"Baiklah. Bunga apa yang diminta pelanggan?" Ia menghentikan aktivitasnya sebentar.


"Tak ada yang khusus Miss, karena itu saya jadi bingung." Ucapnya malu.


"Ah..baiklah. Ikuti saya memilih beberapa bunga yang cocok untuk dipadu padan kan. Di lain hari nanti, jika saya tidak datang Nona bisa meng handle nya."


"Baik Miss." Karyawan itu tersenyum, selain baik dan ramah, Celo juga cantik ditambah lagi ia tak pelit berbagi ilmu dan pengalamannya. Bagitu lah Celo dimata para karyawannya dan juga pelanggan mereka. Jadi tak di heran kan, meski baru saja di buka toko bunga milik Nyonya Alterio itu akan sangat ramai sekali.


"Oh ya Miss, hampir saja saya lupa. Wanita itu bilang ia sedang hamil, jadi dia mau bunga-bunganya terlihat sangat cantik karena dia mengandung anak perempuan." Jelas karyawan tadi begitu ia terlupakan sesuatu yang penting.


"Begitu kah? Baiklah, kita harus berikan yang terbaik. Menurut orang tetua di tempat asal saya, jika kita membuat wanita hamil berbahagia maka kita juga akan terbawa bahagia dan dilancarkan rezeki kita." Tutur Celo.


"Benarkah begitu Miss?" Ditengah pembahasan mereka tadi, ternyata karyawan lainnya juga ikut mencuri dengar dan penasaran.


"Entahlah, kita coba saja." Celo juga tak yakin akan hal itu.


Tring


Ditengah kesibukan mereka terdengar lonceng berdenting pertanda ada pelanggan. Karyawan yang tadi mencuri dengar menghampirinya.


"Ehh…Tu-an…"


"Sstt…" ia memelankan suaranya ketika Zach memberi isyarat untuk diam.


"Miss Celo berada disana Tuan."


"Baiklah." Saat akan beranjak, Zach meraih setangkai bunga red roses untuk istrinya. Ya, walaupun bunga itu milik istrinya sendiri.


Posisi Celo saat ini tengah membelakangi Zach dan itu menguntungkannya. Sisa karyawan yang berada disana menyingkir, bermaksud memberi ruang pada Bos mereka dengan suaminya. Celo tak menyadarinya karena menikmati suasana menata bunga menjadi secantik mungkin.


Entah kali ke berapa Zach terpesona akan kecantikan istrinya saat sedang serius. Ribuan kupu-kupu beterbangan diperut Zach menandakan perasaan cintanya pada Celo begitu besar.


Zach menyodorkan setangkai bunga tadi tepat ke hadapan wajah istrinya.


"Mass…" Celo menoleh dengan raut terkejut dan juga senang.


"I love you my wifey.."


"I love you too my husband." Balasnya seraya menerima bunga pemberian suaminya


"Tapi ini kan bunga dari toko ini Mas." Imbuhnya diikuti wajah cemberut yang dibuat-buat.


"Karena bunga tercantik memang hanya ada disini." Zach meraih Celo dalam pelukannya.


"Mass…." Merasa malu wanita itu menepuk ringan dada bidang suaminya itu.


"Sayang, Mas tau bunga favorite mu adalah bunga krisan, tapi izin kan setangkai red roses ini masuk kedalam hamparan krisan-krisan itu. Seperti kau mengizinkan Mas untuk masuk kedalam hati mu…" ia berucap dengan tangan yang bertengger setia dipinggang mungil Celo.


"Mass… tanpa Mas minta pun, Celo sudah mengizinkannya." mereka saling tersenyum membuat semua yang ada disana terkagum akan cinta mereka.


"Sayang, kita makan di luar saja ya siang ini. Biar masakan mu tidak mubazir, kasih kan saja ke karyawan-karyawan mu." Dari pinggang tangan Zach beralih ke wajah Celo, membelainya lembut.


"Baiklah. Tapi dalam rangka apa Mas bersikap seperti ini?"


"Seperti apa?" Kini mereka sudah saling menjauhkan tubuh masing-masing.


"Mm…Bersikap manis." Wanita itu menunduk menggigit bibirnya sendiri.


"Sayang, jangan digigit seperti itu bibirnya nanti berdarah." Zach lalu berbisik.


"Kalau kau mau biar Mas saja yang gigit." Goda Zach, yang sukses membuat wajah Celo bersemu merah.


••••


Usai romansa penuh cinta di toko bunga, kedua insan suami istri itu melanjutkannya makan siang di luar. Selepas itu barulah mereka ke rumah sakit untuk konsultasi lanjutan dengan Dokter Nate.


"Bagaimana perkembangannya?" Selalu to the point itu lah Zach.


"Bagus. Sangat bagus. Kalian hanya perlu sabar sampai dia datang." Terang Nate.


"Miss Celo, percayalah. Tak lama lagi kau pasti akan menjadi seorang Ibu, dan dia Ayahnya." Meyakinkan Celo setelah mencibir ke arah Zach.


"Jangan membuatnya banyak berharap bre****k" Zach nampak sedikit marah.


Sekeluarnya mereka dari ruangan Dokter Nate nampak dari kejauhan seorang wanita dengan perut mulai membuncit memperhatikan mereka.


"Zach…"


●●●●


Jangan lupa dukungannya ya teman-teman... jadikan FAVORITE


Dukung dengan LIKE & COMMENT


Juga VOTE jangan lupa FREE kok


TERIMA KASIH