
▪︎▪︎▪︎▪︎
Hari ini Celo memeriksakan kandungannya dengan ditemani mertuanya yang berarti sudah satu bulan pula Zach kembali ke Holland. Mami kekeh mengantarkan Celo karena beliau ingin tau perkembangan cucu pertamanya.
Senyum semuringah menghiasi disepanjang langkah wanita yang sebentar lagi akan menjadi nenek itu.
"Nyonya Celo Adhisti Horrace." Panggil seorangnlerawat begitu masuk antrean Celo.
"Celo Adhisti Alterio, dia menantu saya. Jadi jangan pernah salah lagi Nona." Jelas Mami yang tak mau orang salah menganggap menantunya.
"Maaf Nyonya, saya akan ingat itu." Sesal si perawat.
"Bagus." Saut beliau tersenyum, lalu menggandeng Celo masuk ke ruang periksa.
"Selamat siang Nyonya Alterio, silakan berbaring disini sebentar." Seorang perawat atas arahan Dokter meminta Celo berbaring di ranjang untuk melakukan USG.
"Bagaimana kabar cucu saya Dokter?" Tanya Mami antusias.
"**-tunggu-h!" Seseorang membuka paksa pintu ruang pemeriksaan itu dengan nafas tersengal-sengal.
"Zach." "Mmass…" saut Celo dan Mami berbarengan.
"Hah hah, periksalah Dokter." Ujar Zach usai menstabilkan nafasnya. Lalu, Dokter mulai melakukan pemeriksaan.
"Bagus. Kita dengarkan detak jantungnya ya." Celo terharu, didalam perutnya hidup nyawa baru dan ia sangat bahagia akan hal itu. Ditambah lagi, suaminya khusus datang dari jauh untuk menyaksikan tumbuh kembang anak mereka yang masih dalam kandungan.
Saat ini, pria itu tengah berdiri setia disebelah kanannya seraya menggenggam erat tangan Celo. Sementara di kiri terdapat layar monitor dan Mami yang duduk ditempat semula memperhatikan dari sana.
"Bagus, semua normal dan baik-baik saja bahkan si kecil sangat kuat." Puji Dokter usai menyelesaikan pemeriksaan USG nya.
"Ah syukurlah." Desah lega Mami juga Zach bersamaan.
"Meski demikian, Nyonya harus tetap memperhatikan segala sesuatunya, makanan, kegiatan, dan kondisi tubuh." Terang Dokter.
"Ya Dokter. Terima kasih banyak." Rasanya rasa terima kasih itu tak cukup untuk mengungkapkan rasa bahagia Zach saat ini.
"Sama-sama Tuan, Nyonya. Meski semua baik-baik saja, Nyonya masih harus tetap minum vitamin yang saya resepkan." Dokter tersebut nampak menuliskan sesuatu di kertas resep, ia juga tersenyum melihat cinta antara suami istri itu. Bagaimana tidak, sampai saat ini Zach masih setia berdiri disampung Celo dan menggenggam tangan istrinya itu.
"Ini untuk mu." Begitu keluar dari ruang pemeriksaan Mami melihat perawat yang tadi, beliau menyerahkan kartu namanya, sebagai bentuk apresiasi kesopanan wanita perawat itu.
"Datanglah, pilih sesuka mu dengan memperlihatkan kartu ini." Ucap beliau senyum
"Terima kasih banyak Nyonya." Balas perawat itu penuh sungkan.
^^^^
"Kapan Mas datang?" Sekarang ini sepasang suami istri yang akan jadi orang tua itu, sedang berada didalam mobil yang dibawa sendiri oleh Zach. Kalau Mami, beliau pergi dengan supir yang tadi mengantar mereka ke rumah sakit.
"Dua jam yang lalu, kenapa sayang?" Zach menatap sekilas istri tercintanya.
"Celo bahagia Mas." Imbuhnya membalas genggaman tangan Zach yang masih saja menggenggam tangannya.
"Terbalik sayang. Justru Mas yang sangatt bahagia." Ujarnya berirama.
"Terima kasih, semoga Mommy juga Baby selalu sehat-sehat ya." Lanjut Zach dengan kata-katanya disertai mengecup tangan wanitanya setelah sebelumnya mengusap perut Celo.
"Sama-sama Daddy."
"Baby mau kemana? Hari ini Daddy akan menemani kalian kemana saja." Ujar Zach.
"Benarkah?"
"Mm…"
"Kita ke taman saja Dadd."
"Oke. Siap meluncur."
Seharian itu Zach benar-benar memenuhi keinginan istrinya, walaupun Celo tak banyak kemauannya. Karena esok paginya, Zach harus kembali lagi mengingat ia pulang hanya untuk menemani istrinya check up.
^^^^
Beralih ke Chris, mengikuti titah Papi ia menetap di Holland. Selagi Zach masih di sana, ia tinggal dirumah Zach Bersama kakaknya itu.
"Kak, Chris merindukan mereka. Kapan Chris bisa pulang?" Tanyanya sendu.
"Bersabarlah." Hanya itu yang bisa dikatakannya untuk menenangkan adik semata wayangnya.
"Chris sungguh sudah berubah kak, tapi kenapa Papi masih saja menghukum Chris Kak?" Terbawa emosi, air mata berderai begitu saja.
"Tidak ada yang menghukum mu, Papi meminta Kakak untuk melatih mu disini agar saat Kakak menggantikan Papi nanti kau bisa mendampingi Bryan disini." Jelas Zach.
"Maaf Chris, kalian bersama kelak bukan berarti berjodoh. Jangan pernah memaksakan sesuatu yang diluar kehendak kita. Dengar, laki-laki tidak hanya Bryan, banyak diluar sana laki-laki yang lebih darinya. Itu bukan berarti Bryan tidak baik, tapi dia sudah menempatkan hatinya pada pilihannya sendiri." Perlahan ia menasehati adiknya
"Belajarlah dari pengalaman, jangan jadi seperti Melodi kau paham maksud kakak bukan?" Ia mengusap lembut kepala adiknya itu.
"Ya Kak, Chris menyesal. Maaf." Ia berhamburan menubruk tubuh besar kakaknya.
Pemandangan sendu itu terjadi begitu pilu dimana Chris sudah menyadari kesalahannya disaat semua sudah menjauh.
^^^^
Waktu terus bergulir, ini sudah kali keempat Celo memeriksakan kehamilannya. Selain ditemani mertuanya, Zach juga selalu mengusahakan untuk kembali.
"Sayang.." panggil Zach melihat istri juga Maminya masih diruang tunggu. Lega rasanya, ia datang disaat Celo belum terpanggil.
"Mas.." dengan perut yang sudah mulai membuncit, Celo berjalan pelan menghampiri Zach menyambut kedatangan ayah dari anaknya.
"Sayang, tidak usah berdiri Mas juga akan menghampiri mu." Meski begitu ia tetap merentangkan tangannya menyambut istrinya.
"*Wahh…suaminya sangat tampan"
"Dia muda sekali untuk menjadi seorang istri bahkan sebentar lagi menjadi ibu. Pasti dia menggoda pria dewasa*." Tak sedikit omongan belakang terdengar ada yang baik dan tak sedikit juga yang buruk.
"Kurang ajar sekali dia, beraninya membicarakan menantu Mami!!" Beliau bersiap hendak melabrak orang-orang tersebut. Menyadari Maminya akan bertindak, Zach bergegas mencegahnya.
"Mi, sudahlah. Jangan membuat Celo stress, kasihan cucu Mami. Lagi pula apa yang mereka bicarakan tidaklah benar." Zach menenangkan Maminya itu.
Beruntung nama Celo terpanggil, jika tidak bisa saja Mami semakin panas dibuatnya.
"Apa ada keluhan Nyonya?" Dokter memulainya dengan bertanya pertanyaan kecil.
"Tidak ada Dokter." Saut Celo.
"Baiklah, ayo kita mulai." Celo berbaring, bersiap untuk melakukan USG seperti biasa. Seperti biasa juga Zach selalu setia menggenggam dan mendampingi disisi istrinya.
"Mm…bagus, semua juga normal sekarang kita dengar detak jantungnya ya Tuan Nyonya." Dokter tersebut memperdengarkan detak jantung anak mereka.
"Aneh.." sungut Dokter tersebut berupa gumaman.
"Kenapa Dokter?" Zach yang melihat perubahan raut wajah Dokter itu sedikit cemas.
"Sebentar." Dokter itu kembali memeriksa untuk memastikan sesuatu.
"Istri dan anak kami baik-baik saja kan Dokter?" Zach seketika panik, ia takut jika hal buruk akan terjadi pada dua orang tercintanya.
"Nyonya, apa anda sering mengalami kram perut yang sedikit berlebihan?" Tanya Dokter kembali memastikan.
"Y-yya Dokter. Tapi tidak terlalu sering." Celo takut akan membuat semua orang cemas.
"Kenapa tidak bilang sayang?" Mami berdiri, ikut menghampiri menantunya.
"Eumm…Celo pikir itu wajar Mi, jadi tidak Celo keluhkan." Ia jujur akan hal itu
"Apa Nyonya juga sering merasakan nyeri didada?" Celo mengangguk.
"Apa Nyonya juga sering kelelahan dan buang air kecilnya sering?" Celo kembali mengangguk. Hal itu sontak saja membuat Mami dan Zach semakin panik.
"Iya Dokter, saya perhatikan menantu saya sangat mudah kelelahan dan wajahnya juga pucat." Mami menimpali anggukan Celo agar mereka cepat tau bagaiman kondisi Celo saat ini.
"Ah, benar rupanya." Seru Dokter seperti mendapatkan sesuatu.
"Ada apa Dokter? Bagaimana kondisi anak dan istri saya?" Zach sudah seperti orang kebakaran jenggot.
"Tidak apa-apa Tuan, hanya saja-
▪︎▪︎▪︎▪︎
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. . .
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H mohon maaf lahir dan bathin. 🙏🙏🙏
Taqobballahu Minna wa Minkum...
Maaf baru sempet Up teman-teman, masih dalam suasana lebaran soalnya. Hehe
Jangan lupa THR buat para Author berupa VOTE yah..
Jangan lupa juga dukungannya dengan memberikan LIKE dan COMMENT sebagai bentuk penyemangat.
TERIMA KASIH