
■■■■
Pagi harinya Zach kembali kerumah Celo melihat keadaan gadis itu dan juga untuk membawa gadis itu ketempat pernikahan mereka.
Tok tokk
Tok tokk
"Apa dia masih tidur?"
Tokk tok
"Celo, apa kau didalam? Ini aku Zach." Zach masih berusaha memanggil-manggil Celo yang ia rasa masih tidur.
Tokk tok
Hampir setengah jam Zach menunggu dan mengetuk pintu diselingi panggilan memanggil nama Celo. Ia curiga gadis itu akan berbuat sesuatu yang aneh atau bahkan ia sakit dan tak bisa keluar. Segala hal buruk berburuk berputar-putar memenuhi pikirannya.
"Tidak. Tidak mungkin. Celo…" kali ini suara Zach lebih keras dan juga suara gedoran nya agak mengganggu tetangga sekitar.
Dor dorr
Dorr dorr
"Heii..anak muda. Kenapa berisik sekali? Tetangga bisa marah nanti." Tentu saja. Ini masih kurang pukul tujuh pagi.
"Maaf nyonya. Saya sedang mencari pemilik rumah ini."
"Celo maksudmu anak muda? Tunggu dulu, bukannya kau pria yang menggendong Celo dari pemakaman? Ah..kau pasti kekasihnya. Ya kann."
"Dasar ibu-ibu, mau tau saja urusan orang lain." Ketus Zach dalam hati. Zach hanya menjawab dengan senyum tipis saja, bukannya apa-apa ia sedang resah ingin mengetahui bagaimana keadaan Celo saat ini.
"Anak muda, jangan kau sia-siakan dia. Celo itu gadis yang paik, pintar dan juga pekerja keras yang lebih penting lagi dia sangat jujur." Ucap si ibu panjang kali lebar.
"Ya. Dia sangat jujur dan aku telah merubahnya jadi seorang pembohong besar." Lagi, Zach merutuki dirinya dalam hati.
"Ah ya satu lagi anak muda. Jika nanti kalian menikah, dan gajimu juga cuma pas-pasan sebaiknya kalian jangan punya anak dulu. Pakai pengaman. Sebaiknya kau bantu melanjutkan Pendidikan celo ke Universitas, dia itu sangat pintar. Sayang sekali juga tak melanjutkan pendidikannya." Ibu itu terus saja bicara dan mengoceh, membuat Zach semakin pusing saja.
"Maaf nyonya, apa anda ada melihat Celo keluar rumah?" Zach lansung saja bertanya ia sudah tak kuat lagi jika harus mendengarkan ocehan ibu itu lagi.
"Celo. Dia sudah pergi saat fajar menjelang tadi. Apa dia tak mengabari mu? Kalian pasti sedang bertengkar. Ya kan? Dasar anak zaman sekarang. Sel-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya segera saja Zach menjauh dari sana. Ia harus segera mencari keberadaan Celo.
"Hei anak muda…" samar-samar Zach masih mendengar ibu tadi memanggil-manggil namanya.
"Shit..! Kemana dia pergi? Harusnya dari semalam saja ku ikat dia dengan pernikahan." Gumam Zach dengan kesalnya.
°°°°
Di lain tempat, Celo sedang berada di sebuah bus antar kota. Ia memang berniat pergi jauh dari Zach dan tujuannya saat ini ialah kampung halaman ibunya. Disana beliau masih memiliki sebuah rumah kecil dan juga masih layak huni. Berat sebenarnya ia meninggalkan Zach, terlebih lagi ia pergi diam-diam dan juga pada Bibi kedai yang sudah begitu tulus membantunya selama ini.
"Semuanya maaf kan Celo. Mungkin ini lah jalan yang terbaik untuk Celo jalani kedepannya." Lirih Celo dengan tangisnya.
Pagi-pagi buta sekali tepatnya sebelum fajar Celo pergi dari rumahnya. Ia sudah mengemasi pakaiannya sejak semalam setelah memikirkan semua perkataan Zach padanya.
Di kampung halaman ibunya nanti, ia akan memulai semuanya dari awal. Meski itu di pedesaan ia tak masalah karena dari sanalah ibunya besar dan menjadi seorang ibu dan istri bagi ayahnya.
°°°°
"Siall…" Zach terus saja mengumpat. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Bry…cari keberadaan Celo sekarang!!"
"Memang kemana dia?"
"Jangan banyak bertanya. Kerjakan saja!" Zach meninggikan nada suaranya karena kesal.
"Tapi bagaimana caranya?"
"Aku tidak mau tau! Jika perlu kau retas saja semua CCTV dikota ini!!"
"Secepatnya!!"
Zach memutus sambungan panggilannya dengan Bryan. Karena hanya Bryan lah satu-satunya yang bisa ia mintai bantuan, jika minta bantuan dengan Eric yang ada malah ia akan babak belur nantinya.
Sedang disisi lain Bryan terus saja mengumpat.
"Dasar gadis pembuat onar. Apa ia sengaja ingin menarik semua perhatian orang-orang." Jelas saja dari gerutuannya jika Bryan tak menyukai Celo.
Zach pergi ke rumah Bibi kedai, mungkin saja beliau tau kemana Celo pergi. Zach mempercepat langkah kakinya seolah pelan sedikit saja ia akan kehilangan jejak.
Baru saja sampai didepan toko, Zach lansung bertemu Bibi. Nampak beliau akan pergi ke pasar, jelas dari tas keranjang nya.
"Nak Zach. Baru saja Bibi akan pergi ke pasar. Ada apa?" Bibi melihat Zach yang nampak panik.
"Kemana Celo pergi Bi? Beri tau saya." Ucap Zach memelas.
"Celo pergi?" Bibi tak percaya dengan apa yang di ucapkan Zach.
"Ya. Kemana dia Bi?" Ulang Zach bertanya.
"Bibi juga tidak tau. Setau Bibi dia sudah tidak punya sanak saudara lainnya, dia juga tak pernah mempunyai sahabat bahkan teman sekali pun." Terang Bibi.
"Apa sebegitu sulitnya hidup gadis itu selama ini. Bahkan untuk teman saja dia tak punya." Iba Zach dalam hati.
"Lalu kemana dia?" Gumam zach pelan.
"Cari lah dia nak. Bibi takut ada orang jahat yang nantinya akan memanfaatkan kebaikannya." Bibi berucap seraya menggenggam erat tangan Zach.
"Tentu Bi. Bibi tenang saja, jika Bibi ada sedikit saja info segera beri tau."
"Ya. Tentu saja."
Zach segera pergi dari toko bunga milik Bibi, entah kemana tujuannya sekarang.
°°°°
"I got you." begitu mengetahui kemungkinan keberadaan Celo, segera saja Bryan menghubungi Zach. Ia tak mau jika harus kena amukan lagi.
"Apa yang kau temukan?" Seperti memang sedang menunggu panggilan, hanya dalam sekali dering Zach lansung menyahutnya.
"Sepertinya dia menuju ke kampung halaman ibunya dulu. Di desa xxx, disana masih ada rumah peninggalan kakek nenek dari ibunya." Bryan menjelaskan selengkap-lengkapnya.
"Lalu, dengan siapa dia akan tinggal disana?" Zach jadi penasaran.
"Mana ku tau bos. Tapi dari data yang ku temukan, dia sama selali tak punya sanak saudara bahkan untuk seorang teman pun dia tak ada." Keterangan dari Bryan sama persis dengan apa yang tadi dijelaskan oleh Bibi.
"Baiklah. Susul aku kesana, dan juga bawa Bibi pemilik toko bunga tempat Celo bekerja bersama mu." Zach yang tau Bryan akan bertanya lagi segera saja memutus sambungan. Ia tak mau pusing sekarang, secepatnya ia harus menyusul gadis itu.
"Tunggu sebentar lagi, aku akan mengikatmu Celo." Zach benar-benar sudah memantapkan hatinya untuk mempersunting Celo menjadi istrinya.
Ia tak mau memikirkan apa komentar orang-orang bahkan keluarganya nanti. Biarlah orang berkata dia egois yang jelas saat ini Zach melupakan akan obsesinya pada Melodi entah akan selamanya atau hanya sementara waktu saja.
■■■■
Teman-teman….
Tekan FAVORITE
Lalu dukung dengan LIKE
Tinggalkan COMMENT
Bagi yang bersedia silakan VOTE
TERIMA KASIH