Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
D-Day



■■■■


Pagi-pagi sekali Celo sudah bangun, karena ini hari pernikahannya dengan Zach pria yang dicintainya. Seperti ucapan pria itu semalam, ia akan menyuruh supir untuk menjemputnya.


"Ayah, nenek, supir mas Zach udah datang. Ayo siap-siap" ajak Celo pada orang tersayangnya.


"Nak, nenek minta maaf nenek tidak bisa ikut. Begitupun ayahmu, kondisinya masih sedikit lemah jangan sampai nanti ayahmu kelelahan disana." Benar yang nenek katakan ayahnya tak boleh lelah.


"Maafkan Celo, karena tidak bisa menunda pernikahan ini…" ucapnya sedih.


"Jangan sedih nak, doa kami akan selalu bersamamu. Jangan menangis, ini hari bahagiamu. Sudah pergi sana, pengantin itu butuh banyak waktu" tutur nenek menyenangkan cucunya.


"Baiklah nek. Ayah Celo pergi dulu, doakan agar semuanya lancar ayah." Celo mengecup punggung tangan ayahnya.


"Tte-nn-tu nna-ak." Beliau tersenyum pada putrinya.


°°°°


Dalam perjalanan menuju kerumah Zach, senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah gadis polos itu. Pernikahan diadakan dikediaman Alterio, karena permintaan mami Zach. Beliau ingin kebahagiaan menyelimuti rumah tersebut.


"Silakan nona, kita sudah sampai."


"Terimakasih pak." Ucap Celo pada supir yang telah menjemputnya.


Disana ia lansung disambut calon ibu mertuanya.


"Sayang…syukurlah. Tadi mami sempat cemas nak..hehee" ucapnya memeluk Celo.


"Mami aja yang parnoan, orang menantu kita baik-baik aja ini." Papi ikut mengomentari istrinya.


"Ayah sama nenekmu mana nak?" Lanjut papi.


"Mm..ayah masih belum bisa terlalu lelah, makanya ayah tidak bisa hadir. Nenek juga harus menemani ayah." Celo sedikit sedih mengatakannya.


"Maaf ya nak, sewaktu ayahmu dirumah sakit kemarin kami tidak sempat mampir." Kali ini mami yang buka suara.


"Tidak apa-apa. Celo sungguh berterimakasih pada semuanya."


"Mi, jangan ngobrol terus, ayo bawa Celo kedalam. Celo harus segera siap-siap mami juga kan." Papi menyuruh istrinya menyiapkan calon menantunya karena jika sudah bicara ia selalu lupa waktu.


°°°°


Mami membawa Celo ke kamar Zach, disanalah ia akan didandani dan mempersiapkan diri. Sebelum dirias Celo diminta untuk istirahat lalu sarapan secukupnya agar nanti dia tak kelelahan. Celo merebahkan tubuhnya sejenak diranjang yang ada dikamar calon suaminya.


"Mas Zach dimana?" Tanya Celo pada dirinya sendiri.


Ceklek


Celo segera menoleh kearah pintu yang terbuka, ia pikir itu Zach.


"Kau!" " Kak Christa" sahut mereka bersamaan.


"Kenapa kau ada disini HAH! Jangan bilang kau yang akan menikah dengan kakakku!" Dengan penuh amarah Christa menunjuk kearah Celo. Christa yang tak lain dan tak bukan ialah adik kandung satu-satunya Zach.


"Mm..y-yya.."


"Kau tidak boleh menikahi kakakku ******!! Pergi dari sini!!" Christa menarik-narik paksa tangan Celo agar ia mau keluar.


"Ada apa ini? Chris kenapa kau menarik-narik Celo? Lepas." Mami datang menengahi.


"Mi..apa mami tidak tau siapa dia? Dia ini wanita penggoda mi!!" Bentaknya lagi tepat dihadapan Celo.


"Jangan sembarang kalau bicara." Mami marah akan tuduhan tak beralasan putrinya. Ia sudah sangat mengenal watak putri satu-satunya itu.


"Dia sudah menggoda kekasih Chris mi. Russel!" Kau ingat itu HAH!!"


"Celo tak pernah menggoda kak Russel kak, Celo hanya membantunya waktu itu." Jelas Celo.


"Chris, keluar sekarang! Jangan ganggu Celo atau mami panggilkan papimu." Dengan aura masih kesal Christa meninggalkan kamar kakaknya.


"Jangan diambil hati ya nak, Christa memang begitu sifatnya."


Celo hanya tersenyum mengiyakan.


"Cah…sekarang siap-siap ya nak. Mereka yang akan membantumu." Mami mengarahkan dua orang MUA untuk melayani calon mantunya.


"Kalau gitu mami turun duluan ya nak."


°°°°


Sudah hampir waktunya, namun Zach belum juga menampakkan batang hidungnya. Di luar sana sudah ramai sekali suara gaduh, lebih tepatnya mereka terdengar panik.


"Shane, kemana perginya anak itu?" Papi Zach bertanya pada Shane, karena mereka bersahabat.


"Shane juga gak tau paman, kemarin Zach berbicara dengan Eric, lalu pergi begitu saja. Bahkan dia meninggalkan Celo bersama kami." Shane jujur, karena ia memang tak tau akan hal ini.


"Dimana Eric?"


"Sepertinya diluar paman."


Papi menghampiri Eric diluar, ia tak kalah paniknya sekarang.


"Ric, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kemana perginya pria pengecut itu?" Papi tak dapat lagi menahan amarahnya. Lalu Eric menceritakan perihal kejadian tadi malam.


"Kita hanya bisa berharap paman. Semoga ia akan kembali sebentar lagi." Eric juga bingung harus apa jika saja ia tidak mencintai kekasihnya ia pasti bersedia menggantikannya.


°°°°


Celo merasa ada yang tak beres dengan pernikahannya dan Zach, mencoba menghubungi Zach.


Tut…tutt..


"Ya.."


"Mas..ini aku Celo."


"Ya, aku tau. Ada apa?"


"Mas dimana sekarang?"


"Dalam perjalanan. Tunggulah sebentar lagi."


"Baiklah mas, tapi mas tidak apa-apa kan?"


"Aku baik-baik saja. Tunggulah."


"Ya mas."


Celo menegakhiri sambungannya dengan zach.


Tak lama setelah itu mami masuk menghampiri Celo. Ia cemas akan nasib gadis malang itu.


"Sayang…menantu mami sungguh sangat cantik. Tak salah jika Zach memilihmu." Mami mengusap bahu Celo pelan, nampak jelas beliau sedang sedih.


"Mami kenapa?"


"…." Mami hanya diam saja, air mata sudah menggenang dipelupuk matanya.


"Mami jangan khawatir, baru saja Celo menghubungi mas Zach, katanya dia pasti akan datang. Kita hanya perlu menunggu."


"Benarkah nak?"


"Ya mi."


"Syukurlah, mami pikir anak itu benar-benar akan kabur. Tunggu sebentar, mami akan beritau orang luar dulu biar mereka tidak cemas lagi." Celo juga ikut tersenyum melihat wajah mertuanya kembali cerah.


°°°°


Waktu kembali bergulir, hingga petang menyapa. Celo masih saja tetap memakai gaun pengantinnya meyakini sudah mulai gerah terlebih gelisah dihatinya.


"Mas, jika benar mas tidak bersedia menikahi Celo tak apa-apa mas. Celo sudah cukup bahagia bisa mencintai mas." Tangis Celo dalam hati.


Drt..drtt…


Kali ini Celo mengangkat panggilan dari Zach dengan tangan gemetaran dan juga keringat dingin membasahi dahinya.


"Celo, maaf. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan pernikahan kita. Maaf."


"Yy-.."


Tut..tut..tut…


Sebelum sempat menjawab Zach telah memutuskan sambungannya. Sebenarnya Celo ingin menangis, namun ia menahannya karena ia tak mau membuat semua orang merasa iba padanya. Satu persatu dicopotnya accessories yang melekat ditubuhnya dan terakhir gaunnya, yang sebenarnya memang hanya pinjaman.


Baru saja akan melangkah keluar, mami masuk kedalam dan juga terlihat beberapa orang yang dikenalnya mengekori mami.


"Mi.." ia masih saja bisa tersenyum.


"Celo…hiks…hikss maafkan mami nak. Mami sudah gagal mendidik Zach, mami gagal nak." Beliau menghambur memeluk Celo dan menangis dalam pelukannya. Celo hanya bisa mengusap punggung wanita yang hampir saja menjadi mertuanya.


"Menangislah nak, mami tau ini menyakitimu, jangan ditahan."


Ucapnya, karena Celo memang menahan tangisnya.


"Tidak ada yang perlu kita tangisi mi, memang sudah begini jalannya kita bisa apa? Lagi pula kita tidak kehilangan siapa-siapa, ini hanya kegagalan." Celo berucap masih tetap dengan senyumnya.


Celo melepas pelukannya, menatap wajah semua orang yang ada disana. Yang gagal menikah dia, tapi kenapa semua orang ikut sedih.


"Sungguh. Celo tidak apa-apa." Gadis keras kepala masih saja mempertahankan senyumnya.


"Mi, Pi, semuanya, Celo pulang dulu, ini sudah malam." Pamitnya.


"Jangan pulang sendiri nak. Biar Shane atau Eric yang mengantar."


"Tidak usah mi, Celo bisa pulang sendiri." Tolaknya halus. Lalu pergi meninggalkan kediaman Alterio.


"Celo, tunggu…" namun tak digubrisnya.


"Mih…biarkan dia sendiri."


"Mami takut dia kenapa-napa pi."


"Bibi jangan khawatir, dia sudah dewasa. Bahkan dia sudah dewasa sebelum umurnya karena keadaan. Jadi dia tidak akan bertindak yang tidak wajar." Kali ini Eric yang bicara, ia bisa melihat bagaimana gadis itu menghadapi masalah.


■■■■