
▪︎▪︎▪︎▪︎
Seperti mimpi, Celo masih tidak percaya jika suaminya akan mengumumkan kehadiran dirinya juga calon anak mereka ke hadapan publik sekalian. Semua moment yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidupnya.
Masih menikmati suasana ramainya pesta, Celo sedikit merasa terganggu karena ia memang tidak terbiasa bahkan tidak pernah menghadiri pesta sebesar ini.
"Tidak apa-apa sayang, mulai sekarang kau harus terbiasa dengan pesta seperti ini. Karena kelak kita yang akan selalu hadir setiap ada pesta mengingat Papi sudah undur diri." Perlahan Zach me rileks kan istrinya yang nampak tegang.
"Mas benar, egois sekali rasanya jika Celo tidak mengikuti gaya hidupnya. Sementara Mas sudah memenuhi segalanya dan juga mengikuti gaya hidup Celo yang sederhana." Batin Celo merasa bersalah.
"Celo akan coba terbiasa Mas, maaf jika ini akan perlahan sekali nantinya." Ucapnya pelan.
"Tentu sayang. Mas akan selalu disisi mu, jadi jangan khawatir." Ia menggapai wajah istrinya, untuk memberi kecupan singkat di bibir yang selalu menjadi angannya.
"Mau berdansa?" Tawar Zach masih dengan tangan melilit erat pinggang Celo.
"Tapi Celo tidak bisa Mas."
"Pelan-pelan saja, ikuti Mas. Kapan lagi kita berdansa berempat bukan?" Godanya mengusap perut buncit wanitanya.
Baru saja mulai bergerak ke kiri ke kanan, semua tatapan mata lansung terfokus ke mereka.
Puas memandangi keluarga kecil bahagia itu, semua tamu undangan yang memiliki pasangan juga ikut menyertakan diri untuk berdansa. Jika Nate bersama kekasihnya Keana, maka Bryan memilih diam ia tak tertarik dengan wanita lain selain kekasihnya Sesyil yang kabur entah kemana. Sementara Chris, ia menerima uluran tangan Shane sahabat Kakaknya. Untuk Eric dan Audrey, mereka tidak ikut hadir karena wanita itu baru saja melahirkan. Hingga tak memungkinkan untuk Eric meninggalkan anak dan istrinya mengingat ada bahaya yang mengintai mereka.
^^^^
Bicara soal Sesyil kekasih Bryan, hari dimana ia memutuskan Brya besoknya ia menghilang tanpa jejak bak ditelan bumi. Bryan sendiri bingung apa hal yang menyebabkan gadisnya seperti itu.
Setiap sudut yang memungkinkan untuk gadis itu bersembunyi telah diacak Bryan. Namun tetap saja, Sesyil tak ditemukannya. Benar-benar seperti ditelan bumi, bahkan perempuan itu juga meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja. Ia hanya menitipkan toko bunga pada teman yang juga karyawan disana tanpa alasan yang jelas.
Oleh karena itu, untuk sementara Zach meminta Bi Welma mengurusnya. Ia tak mau toko yang sangat diinginkan wanita tercintanya terbengkalai begitu saja. Awalnya Zach sempat mencurigai adiknya karena besarnya rasa cinta Chris pada Bryan. Namun semua bukti mematahkan segalanya, Chris tidak pernah bertemu Sesyil karena ia sedang berada di rumah sakit saat itu.
Begitulah kenapa Bryan sangat frustasi sekarang, ia sudah begitu dalam mencintai gadisnya. Tapi malah berakhir dengan ia yang ditinggalkan.
Ditengah keterpurukannya Zach mengakhiri masa hukumannya agar ia bisa fokus bekerja untuk menggantikan Zach kelak. Dengan begitu pula ia bisa sedikit melupakan gadis itu. Mungkin ini yang disebut dengan 'tidak berjodoh' pikir Bryan.
^^^^
Riuh pesta semakin malam semakin meriah saja, karena mereka mendatangkan beberapa idola ternama. Tak ada lagi pesta formal, mereka asyik menikmati malam dengan bersenang-senang.
Tepat ditengah keseruan, tiba-tiba saja terjadi pemadaman listrik. Sontak saja Celo yang selalu di samping Zach semakin merapatkan dirinya. Bukan cuma takut akan gelap, tapi Celo takut dia akan terdorong seseorang yang akan menyebabkan ia dan anak mereka dalam bahaya.
Zach mengusap pelan punggung istrinya bermaksud agar wanita yang sedang mengandung anaknya itu tidak takut dan rileks.
Tak sampai sepuluh menit dalam kegelapan, cahaya kembali menyala. Dan sungguh Zach terkejut dibuatnya, wanita yang sadari tadi di peluk dan di tenangkannya bukanlah Celo istrinya melainkan wanita berpakaian minim yang sangat menor.
"Siapa kau??" Bentak Zach sambil menghempaskan wanita itu untuk menjauh dari tubuhnya.
"Sayang, ini aku istri mu." Dengan senyum menjijikkan wanita itu kembali bangun dan coba untuk menggapai Zach.
"Shitt!! Dimana Celo?" Tanyanya keras lebih tepatnya berteriak.
Semua orang mulai berbisik dan mempertanyakan keberadaan istri sang pewaris. Ada juga yang berargumen Celo diculik saat listrik dipadamkan tadi.
Ia mulai kalang kabut mencari dimana dan siapa yang berani menculik istrinya, Zach mulai kehilangan fokus dan tidak tau harus bagaimana bertindak.
"Hikss..Pi, ayo cari menantu kita. Dia sedang hamil, bahkan Celo sangat kesulitan membawa dua bayi sekaligus dalam perutnya." Tangis Mami pecah saat itu juga. Chris memeluk Maminya, menenangkan beliau.
"Atas ketidak nyamanan ini, kami mohon maaf. Untuk sekarang cukup sampai disini, terima kasih banyak-banyak sudah mau meluangkan waktu berharga kalian untuk kami." Melihat ketegangan yang terjadi terpaksa pesta dihentikan. Paman Lim selaku orang kepercayaan Papi menutup acara dengan rasa segan, mau bagaimana lagi Tuan rumah sedang mengalami musibah.
"Tidak apa-apa Tuan, semoga Nyonya muda segera ditemukan dan baik-baik saja." Ujar kolega Papi yang ikut prihatin dengan apa yang baru saja menimpa mereka.
"Terima kasih Tuan." Tak sedikit dari tamu yang hadir ikut mendoakan Celo.
^^^^
Malam semakin larut, yang tersisa hanya keluarga Besar Alterio saja juga orang terdekat lainnya. Papi sedari tadi sudah menurunkan orang-orangnya begitu juga Eric yang lansung mereka kabari.
"Mau kemana nak?" Tanya Papi begitu melihat putranya berdiri dari duduk.
"Zach tidak bisa tinggal diam dengan duduk tenang disini saja Pi. Sementara Celo istri dan juga anak-anak Zach entah dimana sekarang? Bagaimana keadaan mereka?" Jerit Zach frustasi. Chris yang dari tadi hanya diam memeluk Maminya, melalui ekor matanya sesekali melirik kakaknya.
"Apa saat Chris kemarin kakak juga panik seperti ini?" Cicitnya dalam hati, namun secepatnya ia hilangkan pikiran picik seperti itu karena mereka sedang panik sekarang.
"Tapi kita mau cari kemana Zach? Kita saja tidak tau siapa yang membawa Celo." Dengan nada tentangnya Papi kembali berkata pada Zach.
"Tenanglah,-"
"Mas.." semua orang disana menangkap suara yang sudah tak asing lagi. Mereka serempak menoleh kearah asal suara.
"Celo…" teriak mereka juga serempak.
"Sayang." Dengan tertatih, Celo yang dibantu Nico berjalan mendekati Zach dan semua orang yang pastinya sedang menunggu dirinya.
"Sayang, kau tidak apa-apa bukan? Apa ada yang sakit? Siapa yang membawa mu?" Tergesa Zach menghampiri istrinya lalu melontarkan serentetan pertanyaan.
"Zach, tenanglah. Biarkan Celo istirahat, ingat dia sedang hamil." Nate menyadarkan kepanikan sahabatnya.
"Ah maaf sayang." Menyadari ke bodohannya, Zach memilih membopong Celo ke sebuah sofa besar agar wanitanya bisa lebih nyaman.
"…." Urung untuk kembali bertanya, Zach mengusap sayang kepala juga perut besar istrinya, tak lupa kecupan sayangnya. Sementara Celo, wanita hamil itu memilih memejamkan matanya, mungkin karena kelelahan.
"Arghh…Mas, ss-sakitt." Ringis Celo yang belum lama memejamkan matanya.
"Apa yang sakit sayang? Dimana yang sakit?" Tanya Zach panik.
"Per-rut Celo Mmas, a-nnak kitt-ah." Ujar Celo terbata-bata.
"Nate." Beruntung ada Nate disana, jadi mereka bisa segera mengetahui kondisi Celo.
"Sebentar." Dengan alat yang bisa dibilang cukup lengkap ternyata Dokter tampan itu sudah menyiapkan segala sesuatunya.
"Celo tenang. Tarik nafas, hembuskan. Lakukan perlahan, rileks. Kau sudah aman sekarang oke." Celo mengikuti arahan Nate dan itu membuat ia sedikit tenang.
Nate menarik Zach selaku suami Celo agak sedikit menjauh, ia harus menyapaikan sesuatu.
"Mereka baik-baik saja kan?" Kecemasan mewarnai siapa saja yang mendengarnya.
▪︎▪︎▪︎▪︎