
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Selamat Tuan, Nyonya, kurang lebih delapan bulan lagi dari sekarang kalian akan menjadi orang tua." Ujar seorang Dokter kandungan.
"Orang tua?" Tanya Celo lagi tidak percaya.
"Ya Nyonya. Selamat atas kehamilan anda." Dokter tersebut tersenyum melihat reaksi Celo yang berbeda dari kebanyakan ibu hamil lainnya.
"Mas, dengarkan apa yang Dokter katakan tadi, Celo hamil Mas." Pekiknya girang, layaknya anak kecil dibelikan ice cream.
"Ya sayang. Selamat ya." Ingatan Zach menerawang pada yang terjadi beberapa waktu sebelumnya.
Flashback
"*Apa ini Mas?" Dengan cemas Celo menerimanya, segala pemikiran buruk yang beberapa waktu belakangan tersimpan di otaknya kembali menyeruak.
"Apa mungkin ini?" Batin Celo bertanya pada diri sendiri.
"Tidak! Ini tidak mungkin." Jeritnya keras tapi tidak bisa keluar.
"Mas.." Celo menoleh kearah Zach yang kini tersenyum penuh arti padanya
"Ya sayang, disana dikatakan kau hamil." Senyum berbinar penuh harap, lagi jelas tercetak.
"Kenapa? Sepertinya kau tidak senang dengam kehamilan ini." Semua senyum tadi sirna oleh rasa kecewa melihat reaksi Celo yang tampak murung.
"Bukan begitu Mas, Celo hanya takut terlalu berharap." Ia menatap sendu kearah suaminya itu.
"Biar lebih jelas, kita periksakan saja lansung mumpung di rumah sakit ini." Seru Zach lebih semangat, sayang Celo tetap lesu
"Apapun hasilnya, Mas tidak akan mempermasalahkan. Hanya saja, jika benar positive Mas takut bayi kita akan kenapa-napa." Mendengar penuturan Zach yang ada benarnya, jadilah Celo mau menurutinya*.
Flashback off
Mereka sudah berada diruangan inap Zach saat ini, usai memeriksakan keadaan bayi mereka juga beberapa hal yang patut diperhatkan.
"Benar sayang, kau tidak pernah merasakan apa-apa?" Tanya Zach heran, mengingat adiknya sampai tak sadarkan diri karena mual dan muntah.
"Mm…hanya saja terkadang, Celo sering kelelahan juga sangat malas. Terakhir Celo sangat menginginkan makanan manis juga dingin." Ia teringat, hari dia dikejar dan disekap niat awalnya hanyalah mencari makanan apa yang diinginkannya.
"Kasihan istri Mas. Baby, jangan nyusahin Mommy ya nak, kasihan Mommy." Zach mengusap penuh sayang perut istrinya yang kini sudah tumbuh buah cinta mereka.
"Hehee…" bukannya terharu, wanita itu malah tertawa seraya menahan rasa geli.
"Ingat pesan Dokter sayang, jangan terlalu banyak kegiatan dulu, kau tidak boleh lelah anak kita masih rentan juga kau yang masih terlalu muda." Zach sedikit menyesal diakhir kalimatnya.
"Mass, Celo kuat kok. Meski masih muda, tapi Celo janji akan jaga diri dan juga anak kita baik-baik." Ia meyakinkan suaminya bahwa semua baik-baik saja.
"Terima kasih sayang." Zach menarik Celo ke pangkuannya, cukup sabar menunggu Maminya pergi, sampai akhirnya Zach bisa kembali mencicipi bibir manis istri kecilnya.
^^^^
"Bry, apakah mungkin untuk ku masuk kedalam hati mu?" Chris yang hari ini dikunjungi oleh Bryan, akhirnya punya kesempatan untuk berbicara berdua empat mata.
"Tidak!" Inilah yang dia malas untuk menemui Chris, wanita itu terus saja ber drama untuk menarik simpatinya.
"Tapi kenapa wanita itu bisa sedangkan aku tidak! Apa alasannya?" Chris mulai menangis mengingat sering kali cintanya tak bersambut.
"Karena cinta itu tidak harus memiliki alasan Chris." Bryan sedikit meninggikan suaranya, setiap bertemu adik Bosnya itu bawaannya selalu saja kesal.
"Kenapa cinta ku harus ada alasan Bry?" Tak ada habisnya Chris bertanya, dan tak habis pula ia membuat pria di hadapannya sekarang emosi.
"Siapa bilang harus ada alasan? Hanya saja, kita tidak akan pernah mungkin bersama Chris." Ia mulai melunak, menghadapi Chris tidak.
"Berikan aku satu alasan saja yang bisa ku terima, ag-" belum selesai berkata, Bry menariknya mendekat lalu menyatukan bibir mereka.
Semua kejadian tak terduga itu ikut disaksikan sepasang mata yang baru saja akan masuk ke dalam ruangan itu. Tak mau melihat lebih jauh pemilik sepasang mata itu pergi begitu saja.
"…." Chris hanya menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona kemerahan di pipinya.
"Kau tau? Apa yang kau rasakan sekarang, tidak sama sekali terasa pada diriku." Bukannya jahat, tapi memang itulah yang sebenarnya terjadi karena cinta tak dapat dipaksakan.
"Setidaknya kasihan lah pada ku Bry." Mendapat hantaman barusan, Chris kembali histeris.
"Aku mau meski hanya sebagai pelampiasan mu, aku mau meski hanya sebagai permaianan bagi mu. Yang terpenting kita bisa bersama." Chris melanjutkan kalimatnya dengan hal yang tidak masuk akal.
"Stop Chris!! Jika kau masih seperti ini terus, mungkin ini akan jadi kali terakhir kita bertemu." Tak mau emosinya meledak, Bryan bergegas keluar dari sana, meninggalkan wanita itu dalam kepedihan nan mendalam.
"Apa sebegitu fatalnya kesalahan ku di mata mu Bry? Tidakkah sedikit maaf teruntuk pada ku?" Seorang diri, Christa hanya bisa menangis pilu tanpa ada seorang pun disisinya.
^^^^
"Hei..kenapa tadi tidak jadi menyusul ku ke rumah sakit? Kan sudah ku bilang akan mengenalkan mu pada Chris?" Bryan menghampiri Sesyil ke toko karena gadisnya tidak memenuhi janji temu mereka.
"Di sini sangat sibuk. Lagi pula aku sudah kenal dengannya, dia adik ipar Celo bukan?" Nada bicaranya terkesan mengacuhkan Bryan.
"Ya, aku mengenalnya tidak hanya sebagai adik ipar Celo, tapi juga sebagai wanita yang kau cintai. Aku kalah Bry, mau nersajng dari segi apapun aku tetap akan kalah darinya." Batin Sesyil pedih. Ya, yang tadi melihat Bryan mencium Chris tak lain dan tak bukan adalah Sesyil.
"Kau kenapa heumm? Apa lagi harinya?" Bryan yang menyadari perubahan sikap kekasihnya menganggap itu hanya efek dari hari para wanita.
"Tidak apa-apa." Lalu pergi meninggalkan Bryan begitu saja.
"Maaf Bry, sepertinya tak ada kesempatan untuk hubungan ini." Gumam Sesyil sendiri yang bersandar dibalik pintu ruangan Celo, air mata ikut mengalir disela matanya. Selama Celo pergi, ia menyerahkan toko itu sementara waktu ke Sesyil.
"Kenapa dengannya? Apa wanita memang selalu begitu?" Heran Bryan sendiri.
Tanpa diketahui olehnya, kesalahan besar telah terjadi. Niat untuk membuktikan perasaannya pada Chris malah menjadi masalah di hubungannya yang sebenarnya.
^^^^
Kembali ke pasangan yang tengah berbahagia, Zach dan Celo masih belum memejamkan mata. Mereka masih larut dalam membagi keseharian selama tidak bersama.
"Sayang, nanti kalau mengidam jangan yang aneh-aneh ya." Imbuh Zach membelai lembut rambut istrinya yang kini bersandar di lengannya dalam posisi berbaring.
"Itu kan tergantung permintaan anak kita Mas." Celo juga tidak terpikirkan akan mengidamkan hal aneh atau bukan nantinya.
"Maksud Mas, Mas pasti akan selalu memenuhi permintaan kalian. Hanya saja, jangan aneh seperti Audrey yang menginginkan anaknya mirip dengan orang lain. Padahal itu kan anaknya." Ujar Zach kesal dengan kelakuan Audrey.
"Hush..tidak boleh mencela orang. Bagaimana kalau nanti malah anak kita yang mirip Kak audrey?" Timpal Celo.
"Apa? Bagaimana bisa seperti itu?" Pria yang akan menjadi ayah itu semakin tidak mengerti dibuatnya.
"Iya. Nenek pernah bilang dulu "dimasa depan jika Celo hamil kelak jangan pernah mencela apalagi membenci seseorang, karena kelak anak kuta yang lahir akan mirip dengan orang yang kuta benci." Itu kata Nenek Mas." Terang Celo mengingat kenangan bersama Neneknya.
Malam itu, entah pukul berapa mereka tertidur. Sepanjang waktu mereka hanya bercengkrama saling berbagi cerita juga membahas masa depan anak mereka nanti.
Untuk memulai memang cinta tak perlu alasan, tapi mengapa untuk mengakhirinya beberapa orang harus mencari-cari alasan. Seperti kata orang kebanyakan, cinta memang tak ada logika. Jika ada alasan untuk mengakhiri, maka masih bisakah kita sebut itu cinta? __ Areum Kang
▪︎▪︎▪︎▪︎
Maaf telat teman-teman, Maklum sibuk bebenah mau lebaran.
Walaupun wabah Covid-19 membuat lebaran kita tahun ini terasa berbeda, tapi kita tetap mesti menyambutnya dengan suka cita.
Karena ini Lebaran, setiap kita akan terlahir kembali dan menjadi sesuatu yang baru, yang lebih baik lagi kedepannya.
Aamiin 🙏🙏🙏
Jangan lupa LIKE & COMMENT nya ya teman-teman.
Ga maksa kok, tapi saling menghargai saja..
TERIMA KASIH