
■■■■
Setelah menyelesaikan meetingnya Zach segera menghubungi maminya untuk persiapan nanti malam. Tentu saja mami sangat senang mendengarnya bahkan beliau yang paling antusias.
Tok tok
Terdengar suara pintu diketuk, setelah ia memastikan siapa yang datang Zach mempersilakan masuk.
"Zach." Sapa Eric, ya Ericlah yang datang kekantornya siang ini.
"Hai bro…apa ada sesuatu?"
"Tak ada. Kebetulan lewat sini sekalian mampir, mau makan siang bareng gak?" Eric mengajak Zach makan siang, jarang sekali mereka bisa makan siang biasanya mereka hanya akan bertemu saat malam.
"Boleh tu. Bentar…" Zach memastikan jadwalnya pada sekretarisnya sebelum bebas untuk keluar karena ia punya tanggung jawab yang besar pada kerjaannya.
"Ok..yok jalan."
Mereka berjalan beriringan membuat semua karyawan Zach yang wanita hampir saja meneteskan liurnya. Namun tetap saja aura yang mereka keluarkan sedingin es berbeda dengan Shane yang selalu tebar pesona sana sini.
°°°°
"Makan di mana nih bro?" Zach yang sedang mengemudi bertanya pada Eric yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Tempat biasa ajalah. Lagi pengen makan yang mentah." Balas Eric dengan diselingi sedikit tawa.
"Okeh..."
Zach dan Eric memang hampir punya selera yang sama, kali ini mereka sama-sama suka makanan Japan.
Usai memarkirkan mobilnya Zach dan Eric memilih duduk disudut restoran yang tak terlalu ramai, karena selain sama-sama suka makanan Japan mereka juga tidak terlalu suka keramaian.
Eric memanggil mba-mba yang sering melayani mereka jika kesana.
"Wahh…udah lama ya mas-mas gak mampir kesini."
"Biasa mba, pria ini lagi sibuk-sibuknya nyiapin pernikahannya." Jawab Eric menunjuk kearah Zach dengan dagunya.
"Bener mase?"
"Mm…" Zach masih sibuk memilih menu apa yang akan disantapnya.
"Selamat ya mase, semoga lancar sampai harinya."
"Makasi mba."
"Ngomong-ngomong mau pesen apa ni mas-mas ganteng?"
"Bingung mba, yang biasa aj lah.." Zach yang dari tadi memilih-milih menu menyerah ia akan tetap memilih menu favoritenya.
"Siapp…tunggu bentar mase, tak ambilkan dulu.." mbanya berlalu mengambilkan pesanan mereka tentunya.
"Jadi, kau bener-bener nolongin mba tadi dari suaminya?" Zach menanyakan sesuatu hal pada Eric.
"Ya. Kau kan tau sendiri siapa aku?" Jelas Eric memperjelas dirinya. Ya, Eric tak pernah suka melihat wanita disakiti terlebih itu seorang ibu. Hari itu Zach, Eric dan Shane tak sengaja melihat mba pelayan itu dipukuli oleh suaminya tentu saja Eric sangat geram. Karena terburu Zach meninggalkan Eric dan Shane makanya ia tak tau dengan cara apa sahabatnya menyelesaikan masalah mba tersebut.
"Ya ya…so, kali ini pakai cara apa?" Zach masih penasaran.
"Santai bro, kali ini cara halus. Ya walau sedikit kasar.."
Mereka tertawa, karena persahabatan mereka sudah seperti persaudaraan. Tak ada rahasia antara mereka, keterbukaanlah salah satu keutuhan persahabatan mereka.
"Jadi…apa masih belum ada kabar?" Mereka kembali serius setelahnya.
"Sudah ada, tapi aku harus memastikannya dulu. Tak akan kubiarkan kau mengacau sebelum semuanya jelas." Eric berucap begitu karena Zach memang selalu gegabah apalagi ini menyangkut melodi, wanita yang sangat dicintainya. Entah kenapa Eric merasa tak suka akan wanita itu.
"Hahh…oke okee!!" Zach sedikit kesal jadinya.
"Zach.."
"Mm…"
"Jadi benar malam ini kau akan melamar gadis itu?"
"Jadi. Kenapa? Kau akan menceramahiku lagi hehh!!" Zach jadi kesal lagi.
"Tidak. Hanya saja jika kau menyakitinya kau akan berurusan denganku." Ancam Eric meski ada senyum disana.
"Maaf Zach, sebenarnya aku sudah tau dimana wanita itu. Namun sebelum semuanya pasti apa alasan dia pergi aku akan merahasiakannya dulu." Ucap Eric dalam hati. Ia sebenarnya sudah tau Melodi dimana tapi karna ada satu hal yang harus ia pastikan makanya ia masih diam.
°°°°
Selepas kerja dari toko bunga, sebelum pulang Celo mampir kerumah sakit untuk ke apoteknya karena obat ayahnya hanya tersedia dirumah sakit.
"Apa kabar Celo manis…mau ambil obat paman ya." Seorang pria menyapa Celo dengan tatapan yang err.. bisa dibilang sedikit menjijikkan.
"Baik kak. Ya, Celo mau ambil obat ayah." Jawab Celo seadanya.
"Biar kak Juan aja ya yang antar, sekalian kita makan. Gimana emm??" Pria bernama Juan itu berkata seraya merangkul pundak Celo.
"Celo bisa pulang sendiri." Tentu saja Celo menolak, dengan sedikit kasar dilepasnya tangan pria itu dipundaknya.
"Ayolah. Sekali ini aja, ntar kakak senengin kamu." Tak mau menyerah terus saja didesaknya Celo.
"Gak. Celo gak mau!!" Melihat kesempatan Celo berlari mengambil langkah seribu .
Celo berlari cukup jauh hingga tanpa sadar ia sudah berada didepan rumah sakit tepatnya ditepi jalan. Namun tetap saja pria itu mengejarnya hingga Celo tak sengaja terserempet mobil.
"Arghh…" Celo mengaduh sedikit kesakitan dibagian sikunya karena terbentur aspal jalan.
Karena menyerempet seseorang sipemilik mobil turun hendak membantunya.
"Kau tidak apa-apa. Ayo berdiri, bukankah sudah kubilang akan kuantar pulang." Pria itu menarik pangkal lengan Celo dengan sangat kasar.
"Maafkan kekasih saya tuan, dia memang sangat keras kepala." Imbuhnya.
Zach yang sedari tadi memperhatikan merasa tak asing dengan wanita itu. Ya, pria yang tak sengaja menyerempet Celo tak lain ialah Zach.
"Tolong saya tuan, pria ini bukan kekasih saya dia pria jahat." Usai mengucapkannya Celo mendongakkan kepalanya terlihat jelas derai air mata dan juga ketakutan disana.
"Celo.." " mmas Zach.." mereka berucap bersamaan.
"Kalian saling mengenal?" Tanya pria itu keheranan.
"Tentu saja. Gadis yang kau kasari dan kau bilang kekasih kau ini Calon istri saya. Lepaskan atau saya habisi sekarang juga!!" Zach mengucapkannya dengan sorot mata yang sangat menakutkan.
"Hahh…baiklah kali ini kau bisa lepas Celo, tapi ingat masih ada lain kali." Hampir saja Zach menghancurkan wajahnya jika saja tak ditahan Celo.
Sepeninggal Juan Zach meraih Celo dalam dakapannya, menenangkan Celo semoga bisa memberikan rasa aman pada gadis itu.
"Terimakk-kassih mass…Celo takut." Ucapnya masih bergetar.
"Sstt…tidak apa-apa. Ada aku disini, aku akan selalu menjagamu." Seumur dia hidup tak ada seorangpun yang memeluknya sehangat ini, hanya ayahnya.
"Mau ku antar pulang?"
"…" tanpa menjawab Celo menganggukkan kepalanya. Zach merangkul pundak Celo masuk dalam mobilnya, anehnya saat Zach yang melakukannya Celo tidak takut sama sekali.
Didalam mobil mereka hanya diam saja, hingga akhirnya Zach buka suara.
"Ada perlu apa kerumah sakit?"
"Celo ambil obat buat ayah mas." Lalu mereka diam lagi.
"Mm…apa selama ayah berobat disana ada perkembangannya?"
"Ada. Walau lambat tapi Celo senang ayah masih bisa berobat."
"Jika kau mau aku bisa membawa ayah ke dokter yang lebih bagus. Kebetulan papi punya teman seorang dokter."
"Mm…itu…nanti saja mas." Zach melihat keraguan dikedua mata Celo.
"Jangan pikirkan hal lain, yang terpenting kesembuhan ayah." Digenggamnya tangan celo memberikan keyakinan. Celo melihat kearah tangannya yang digenggam Zach, ini kedua kalinya Zach menggenggam tangannya dalam seharian ini. Entah kenapa ia tak keberatan malah ia mendapat kenyamanan dan kekuatan disana.
°°°°
#happynewyears
#happyreading
#likeandcomment
🤗🤗🤗