
●●●●
Di kantor pencatatan sipil, Zach dan Celo lansung saja menemui kolega Papi yang tadi sempat beliau hubungi.
"Ah Zach, lama tak berjumpa ya nak. Sudah besar saja kau sekarang." Pria tersebut menyapa Zach seraya memeluknya.
"Paman Anton.."
"Ya.."
"Apa kabar Paman?"
"Beginilah, seperti yang kau lihat. Paman bertambah tua tak seperti Papi mu yang selalu awet muda." Canda pria yang tadi bernama Anton.
"Paman bisa saja."
"Heii…siapa ini? Apa ini istri mu?" Tanya Paman Anton melirik sekilas ke arah Celo.
"Hampir saja Zach lupa. Iya Paman, kenalkan ini istri Zach. Celo. Celo, kenalkan ini Paman Anton teman Papi. Beliau yang akan membantu kita mengurusi segala sesuatu tentang buku nikah kita." Celo menyapa Paman Anton dengan sopan.
"Jadi ini gadis yang diceritakan Papi mu, sampai-sampai kau mengejarnya sampai ke kampung halamannya dan memaksa menikahinya heumm..." goda beliau lagi.
"Hahaha…begitulah Paman." Zach tak mengelaknya sama sekali. Hal itu membuat Celo tersipu malu.
"Nak Celo, apa kau tau dulu hampir saja Zach ini jadi menantu Paman. Ternyata sekarang dia menikahi gadis yang sangat manis." Ucapan beliau sukses membuat Celo semakin memerah.
"Jadi, Mas pernah di jodohkan ya?" Tanya Celo dalam hati.
"Paman, itu sudah lama berlalu. Meski begitu kita tetap menjalin hubungan erat bukan."
"Ya kau benar. Hahaa… aduh, sampai lupa Paman. Mari ke kantor Paman." Karena terlalu asyik saling menyapa, mereka jadi lupa akan maksud dan tujuan Zach datang kesana.
"Baiklah, semua berkas sudah lengkap." Paman berucap usai memeriksa kelengkapan surat-menyurat pasangan pengantin itu.
"Apa bisa selesai dengan cepat Paman? Zach juga akan mengurus berkas kepindahan Celo ke Holland." Tanya Zach.
"Paman usahakan dulu. Apa istri mu juga ikut kau kesana?" Beliau balik bertanya.
"Tentu saja Paman. Bukankah istri harus selalu mendampingi suaminya. Hahaa…" ucapan Zach diselingi tawa.
"Kau ini. Baiklah besok akan Paman kabari."
"Kalau begitu Zach dan Celo pamit dulu Paman. Ah satu lagi, jika tidak keberatan nanti malam akan ada makan malam di rumah Paman." Zach sekalian mengundang beliau.
"Baiklah. Nanti malam Paman datang bersama Elish."
Usai berpamitan Zach dan Celo pergi ke kantor imigrasi.
°°°°
"Mas, tadi Mas bilang Celo akan pindah ke Holland?" Saat ini mereka masih di dalam mobil dalam perjalanan ke kantor imigrasi.
"Iya." Melihat jawaban Zach yang singkat, Celo tak bertanya lagi, ia takut akan memancing emosi suaminya.
Selama di perjalanan mereka hanya diam, hanya ada suara mesin mobil dan suara mp3.
Tiga puluh menit berdiaman, akhirnya mereka sampai di kantor imigrasi.
"Kita sampai, ayo turun."
Mereka berdua berjalan bersisian, tak sedikit dari wanita di luar sana tertarik akan seorang Zach. Merasa risih, Zach merangkul pinggang kecil istrinya agar semua orang tau bahwa dia sudah ada yang punya.
Bukannya berkurang, tatapan orang-orang malam semakin menjadi. Tak sedikit dari mereka yang iri pada Celo dan tak sedikit pula yang memuji keberhasilan Celo bisa bergandengan dengan Zach.
Setelah mengambil no antrian, seraya menunggu mereka duduk di bagian sudut agar tak terganggu.
"Setelah makan siang kita mampir ke boutique dulu sebentar." Ucap Zach membuka keheningan antara mereka yang terjadi sejak di mobil tadi.
"Ya Mas." Sejenak Zach memperhatikan wajah istrinya. Tangan Zach terulur untuk merapikan anak rambut istrinya yang tadi sempat berserakan karena angin saat mereka di luar.
Banyak orang yang tengah memperhatikan mereka berbisik-bisik kecil.
"*Wahh…suaminya sangat keren."
"Palingan wanita itu yang menjeratnya."
"Bukannya itu tuan Zachery ya. Pengusaha muda itu loh*."
Begitulah kira-kira suara kicauan mereka. Belum puas mendengar, no antrian Zach di panggil dilayar monitor.
"Celo tunggu disini saja ya Mas." Melas Celo.
"Ini kan berkas mu, jadi kau ikut." Terang Zach.
"Mm…baiklah."
Zach kembali merengkuh Celo saat berjalan dikeramaian menuju counter yang di anjurkan.
Hampir satu jam mereka disana dan mengisi segala sesuatunya dan melengkapi berkas yang sudah ada.
°°°°
Seperti kata Zach tadi, saat ini mereka sedang makan siang di restoran favorite Zach, restoran jepang.
"Mau pesan apa?" Tanya Zach menyerahkan buku menu ke istrinya.
"Mmm….terserah Mas saja. Celo tidak mengerti." Ucapnya jujur seraya menunduk malu.
"Siang mase.. ini pasti istrinya ya. Manis sekali. Omong-omong, selamat ya mase…"
"Makasi mba, kenalin istri saya Celo." Lalu Celo dan mba itu saling bersalaman.
"Saya yang selalu melayani mase dan sahabatnya kalau ke sini lo mba cantik." Celo hanya tersenyum memdengarnya.
"Catat Mba, kita mau balik soalnya."
"Oke…"
"Yamokuzushi, sukiyaki, yakisoba, yakitori. Lalu, edamame juga mochi. Untuk minumnya, hot green tea, dan iced green tea latte."
"Cukup mase?"
"Cukup."
"Siap, beberapa menit lagi datang." Sebelum berlalu sekali lagi mba itu tersenyum pada Celo.
"Apa tidak kebanyakan Mas?" Tanya Celo ragu.
"Tidak. Kau harus coba, rasanya gurih semua." Jelas Zach dengan senyum.
"Celo, dua hari lagi aku akan pergi ke Holland. Setelah semua berkasmu selesai, kau akan di antar Eric atau shane untuk ke Holland juga. Sementara waktu, tinggal bersama Mami dulu. Maaf aku baru membicarakannya sekarang." Zach menjelaskan apa yang dibicarakan dengan Papinya semalam.
"Tidak apa-apa Mas. Tapi apa Celo harus ikut?"
"Tentu saja. Bukankah baru tadi pagi aku berkata pada Paman Anton, bahwa istri harus selalu mendampingi suaminya." Sebelah tangan Zach menggenggam tangan Celo sedang tangan satunya lagi mengusap pelan wajah istrinya, merasakan lembutnya kulit wajah istri kecilnya.
"Jika itu keputusan Mas, Celo ikut saja." Mereka tersenyum dan saling pandang satu sama lain, hingga hidangan siap santap mereka datang.
Mereka makan dengan santai seraya Zach menjelaskan perihal hidangan mereka satu persatu.
"Enak kan?" Celo hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena mulutnya masih memproses makanan yang dilahapnya.
Dua jam sudah waktu yang mereka habiskan untuk santap siang mereka. Kemudian Zach membawa Celo ke boutique langganan Mami nya untuk membeli gaun yang akan di pakai istrinya nanti malam.
"Pilih mana yang kau suka, tapi ingat jangan yang sexy dan terbuka."
"Untuk apa Mas?"
"Untuk makan malam nanti." Setelah bicara Zach berjalan mendekati sofa yang tersedia di sudut ruangan.
Celo mulai berkeliling mencari dan memilah gaun apa yang pantas untuk gadis miskin sepertinya.
"Selamat siang, nona mencari yang seperti apa?"
"Yang sim-." Belum sempat menjawab salah satu karyawan menghampiri mereka.
"Sebelum kau layani, sebaiknya kau tanya dulu, nona ini punya uang atau tidak?" Karyawan tersebut terkesan menghina Celo.
"Maaf nona, saya memang tidak punya uang, tapi suami saya punya uang. Dan saya rasa uangnya cukup untuk membeli boutique milik bos kalian ini." Bukannya ingin sombong, tapi Celo tidak mau jika dia harus dihina dan berakhir mempermalukan suaminya.
"Yang mana suami nona? Apa om-om gendut berkumis?" Ia masih saja melecehkan Celo dengan kata-katanya.
"Saya suaminya." Zach yang kebetulan baru saja kembali dari toilet tak sengaja mendengar suara istrinya. Dalam hati Zach bersorak gembira melihat istrinya berani melawan dan mengatas namakan dirinya sebagai suami.
"Tuan Zachery. Maafkan saya tuan, nona." Karyawan tersebut segera saja lari terbirit.
"Maaf Mas, Celo tidak bermaksud begitu." Ia merasa bersalah sekarang.
"Hei..jangan begitu. Memang begitulah seharusnya wanita milik Zachery .
"Nona, kemari sebentar." Zach memanggil karyawan satunya lagi.
"Saya tuan."
"Tolong carikan istri saya gaun yang cocok untuknya. Tapi jangan yang sexy."
"Baik tuan, sebentar." Beberapa saat pergi, karyawan tersebut kembali dengan membawa beberapa gaun cantik ditangannya.
"Silakan, nona suka yang mana?"
"Mm…yang ini saja bagaimana mas." Celo bertanya pada suaminya, jujur ia jarang memakai gaun seindah dan semahal ini.
"Terserah kau saja."
"Baiklah. Yang ini saja nona."
Selesai dengan gaun, mereka kembali ke rumah untuk membantu mempersiapkan pesta pernikahan kecil-kecilan mereka.
●●●●
**FAVORITE ❤
LIKE 👍
COMMENT 🖊
VOTE 🗳 (Seikhlasnya saja 🤭🤭🤭)
THANKS 💞💞💕💕💕
LOVE YOU ALL 💋💋💋**