
▪︎▪︎▪︎▪︎
5 tahun kemudian
Semua orang tengah di sibukkan dengan persiapan ulang tahun si kembar. Ya, hari ini genap lima tahun usia mereka. Meski Celo tidak terlalu suka ide ulang tahun ini tapi ia juga tidak tega untuk membantah keinginan Grandma si kembar, Mami mertuanya.
"Sayang sebaiknya istirahat dulu, Mami perhatikan dari tadi wajah mu sangat pucat." Ujar Mami, yang memang memperhatikan wajah pucat menantu yang sudah dianggap putri kandung sendiri olehnya.
"Celo tidak apa-apa Mi, hanya saja tadi pagi Celo sedikit masuk angin." Ia segan jika harus beristirahat sementara mertuanya lah yang mengurusi pesta kedua putranya.
"Ya sudah. Kalau sakit bilang Mami, jangan dipendam." Imbuh beliau penuh perhatian.
"Ya Mi." Saut Celo.
"Momm…." Terlihat bocah tampan berlari kearah Celo, dan itu Aldric si anak sulung.
"Ya sayang." Sambut Celo berjongkok dihadapan putranya. Tak lama dari belakang datang satu lagi Archie si adik.
"Kapan Bibi Chris datang?" Tanyanya khas aksen anak umur lima tahun yang belum terlalu lancar berbicara.
"Mommy juga kurang tau nak. Coba minta Daddy untuk menghubungi Bibi kalian." Ujar Celo.
Meski Aldric yang duluan lahir, namun Archie lah yang berlaku sebagai kakak karena Aldric sedikit manja. Sedikit info, sifat Aldric lebih mengikuti Celo yang lembut dan penyabar, banding terbalik dengan Archie yang meng copas semua sifat Daddy nya, Zach.
"Sudah lah Al, mungkin Bibi sedang sibuk." Dari segi bicara pun, Archie sudah jauh lebih lancar dari kakak kembarnya. Dan juga cara berpikir Archie yang terkadang melewati anak se usianya.
"Tapi Ar, Bibi sudah berjanji pada kita." Keluhnya lagi.
"Kita tunggu dan lihat saja. Lagi pula kan masih beberapa jam lagi." Archie membujuk kakak kembar nya agar tidak lagi merengek pada Mommy mereka yang nampak sangat kelelahan.
Archie selalu berhasil membuat Aldric mematuhi segala arahannya bak ialah kakak disana.
Melihat kedua putranya melangkah menjauh, Celo geleng-geleng kepala seraya senyum tak pernah lepas dari wajah cantiknya. Dalam hati ia bersyukur di karunia anak-anak yang baik seperti mereka. Karena selama hampir lima tahun ini, bisa dikatakan mereka tidak pernah bertengkar satu sama lain.
^^^^
Tiga Jam sebelum acara di mulai terlihat Eric datang bersama keluarga kecilnya. Juga sekarang mereka telah memiliki sepasang anak yang hanya selisih dua tahun. Jika anak pertama mereka bernama Cerry maka anak ke dua mereka bernama Hendery.
Cerry dan si kembar sangat dekat, bisa dikatakan mereka juga bersahabat seperti orang tua mereka.
"Kalian sudah datang?" Dari arah dalam Zach menyambut kedatangan mereka setelah tadi melihat Cerry menemui si kembar.
"Baru saja." Saut Eric seraya memberikan pelukan khas pria pada sahabatnya, lalu bergantian dengan Audrey.
"Hai jagoan." Sapa Zach sambil mengambil alih Hendery kecil dari gendongan Audrey.
"Mana Celo?" Tanyanya begitu melepas putra kecilnya ke pelukan Zach.
"Ada di dapur bersama Mami." Ujarnya singkat seraya sibuk menciumi pipi gembul Hendery. Zach begitu gemas dengan putra sahabatnya itu karena bertubuh bulat dan gembul mungkin karena mendapat Asi penuh dari ibunya, sementara si kembar dulu harus meminum susu formula karena Celo yang kesulitan memproduksi Asi.
"Berhenti menciumi putra ku!!" Kesal Eric melihat putra bungsunya itu nyaris akan menangis karena terus diciumi Zach.
"Kau ini pelit sekali." Sungut Zach kesal. Mereka berjalan ke halaman belakang dan melanjutkan perbincangan disana.
"Daaddd…" baru saja mendudukkan diri, Zach sudah disambut rengekan putra sulungnya Aldric.
"Jangan berlarian Al, nanti kau terjatuh." Ingat Zach.
"Maaf Dad."
"Ada apa? Mana adik mu?" Zach yang tidak melihat Archie menanyakannya.
"Di kamar bersama Cerry. Mommy, bilang minta Daddy untuk menghubungi Bibi Chris." Jelasnya.
"Tadi sudah Daddy hubungi, tapi tidak tersambung. Mungkin Bibi masih di perjalanan, bersabarlah nak." Terang Zach sambil mengusap kepala putranya.
"Mm…" jawabnya lesu.
"Hei jagoan, jangan cemberut. Sini." Eric menariknya ke dalam pangkuannya.
"Apa yang kau inginkan sebagai kado ulang tahun kali ini?" Tanya Eric.
"Al mau adik." Dengan tegas ia mengutarakan kemauannya.
"Huk hukk." Zach terbatuk karena tersedak mendengar ucapan anaknya.
"Kenapa?" Tanya Eric lagi, ia ingin menggoda Zach sebenarnya.
"Al mau punya adik seperti Cerry yang punya adik Paman." Jawabnya polos.
"Astaga, Al sayang. Kau kan sudah punya adik, Archie itu adik mu." Zach menjelaskan perlahan.
"Mana ada adik yang sama lahirnya Dadd?" Meski manja, tetap saja Aldric juga mempunyai otak yang encer.
"Hah..sudah sana bermain bersama adik mu juga Cerry." Suruh Zach yang mulai kehabisan jawaban jika Aldric terus saja bertanya. Dengan mengerucutkan bibirnya, Aldric turun dari pangkuan Eric dan berlari menjauh dari sana.
"Kenapa kau tidak mau punya anak lagi?" Eric masih penasaran dengan alasan Zach.
"Bukan tidak mau, kasihan saja Celo sampai menderita begitu."
"Saat itu usianya masih sangat muda, lain sekarang Zach." Entah kenapa mereka malah jadi berdebat masalah memberi adik untuk si kembar.
^^^^
Sore itu di kediaman Alterio begitu ramai karena pesta sedang berlansung. Beruntung Chris datang setengah jam sebelum acara bersama suaminya Shane.
Sama-sama sendiri dan juga sudah saling mengenal, akhirnya mereka mencoba untuk menjalin hubungan hingga ke jenjang serius yakninya pernikahan. Tapi sayang sudah dua tahun mereka hidup bersama, namun belum juga dikaruniai anak. Dokter bilang karena Christa pernah mengalami keguguran dimasa muda, maka agak sedikit sulit untuk hamil lagi.
Beruntung cinta mereka kuat, jadi ada atau tidaknya anak bukanlah masalah di rumahtangga mereka. Karena itulah, Chris sangat menyayangi keponakannya.
Lima tahun merubah segalanya, tak hanya Chris dan Shane. Nate dan kekasihnya Keana juga sudah menikah dan memiliki satu orang putri yang baru berusia delapan bulan. Itulah kenapa mereka tidak dapat menghadiri hari jadi si kembar.
Sementara Bryan, ia masih mencari keberadaan Sesyil. Sungguh, tidak ada satu wanita pun yang mampu menggantikan gadis itu di hatinya termasuk Chris sekali pun.
^^^^
Di lain tempat, di pelosok kota Holland, terlihat seorang gadis kecil menangis sekembalinya dari sekolah. Bajunya juga kotor dan lusuh seperti habis berkelahi.
"Ibu…" tangisnya terisak begitu menemukan Ibunya di dapur rumah kecil itu.
"…." Sayang, si Ibu masih saja sibuk dengan kegiatannya.
"Hiks…Ibuu…hik hik.." panggilnya lagi yang kini masih tersedu-sedu.
"Kau kenapa lagi hah!! Apa kau akan terus menangis setiap hari sampai kantung air mata mu itu kering??" Bentaknya tanpa menoleh ke arah putrinya.
"Berapa kali harus ibu bilang, jangan pedulikan mereka. Memang apa peduli mereka jika kau anak h***m atau bukan? Sudah. Jangan mengadu lagi, bisa-bisa aku mati kerena pikiran bukan penyakit." Geramnya yang sebenarnya bukan untuk putrinya.
"Cepat ganti baju mu, lalu cuci sampai bersih. Ibu lelah jika harus mencuci lagi." Suruhnya pada Auryn.
Sepeninggal putrinya, Melodi terduduk lemas. Air mata mengalir deras di wajahnya yang kini tirus, dia sudah tidak seperti dulu lagi wajahnya pucat dengan tubuh kurus. Usai melahirkan putrinya, Melodi memutuskan untuk berubah, ia merawat anaknya dan hidup dengan baik hanya saja ia mengidap anemia sehingga sering sakit-sakitan.
"Maafkan Ibu nak, karena kesalahan Ibu dimasa lalu kau lah yang harus menerima karmanya. Bertahanlah, dan berjuanglah untuk hidup mu di masa depan. Ibu sangat menyayangi mu Auryn." Lirihnya, dengan kasar di hapusnya air mata yang tadi mengalir, ia tak mau jika sampai anaknya melihat dirinya menangis dan lemah.
Melodi kembali melanjutkan pekerjaannya memasak cemilan yang akan di jualnya di toko-toko terdekat. Meskipun tidak seberapa, setidaknya itu cukup untuk menghidupi dirinya juga putrinya.
Ia juga tidak menikah, padahal ada beberapa orang yang melamarnya. Melodi takut untuk memberi ayah sambung untuk putrinya, bagaimana jika orang itu tidak menyukai Auryn dan malah membuat putri satu-satunya itu menderita.
^^^^
Selesai pesta semua tamu juga sudah membubarkan diri, yang tersisa hanya kerabat saja. Zach dan Eric juga Shane sedang asyik mengobrol diruang tengah, sementara para wanita beberes rumah.
Brukk
Ditengah kegiatan semua dikejutkan dengan jatuhnya Celo, memang sudah seharian ini wajahnya pucat dan lemas.
"Celo.." pekik mereka bersamaan.
"Panggilkan Zach, cepat!" Teriak Mami. Chris bergegas menghampiri kakaknya di ruang tengah.
"Kak.. Celo, Celo pingsan di dapur Kak." Dengan nafas tidak beraturan ia memberitahukan ke kakaknya.
"…." Tanpa bertanya, Zach berlari menghampiri istrinya.
"Celo sayang, kau kenapa?" Ia meraih Celo dalam pelukannya, lalu menepuk pelan pipi wanita itu untuk menyadarkannya.
"Celo kenapa? Kenapa dia bisa pingsan begini?" Tanya Zach panik.
"Entahlah. Dari pagi Mami lihat dia juga sudah pucat, saat Mami minta dia istirahat, Celo malah tidak mau katanya cuma masuk angin saja." Jelas Mami seperti yang tadi suruhkan kemenantunya.
Dua puluh menit kemudian Dokter Max, yang memang Dokter keluarga mereka juga sepupu Papinya bergegas naik ke kamar mereka. Tak banyak yang beliau periksa.
"Apa kau mual dan muntah?" Tanyanya pada Celo yang sudah siuman.
"Ya Paman." Jawab Celo lemah
"Celo sakit apa Paman?" Serobot Zach cepat dengan cemasnya.
"Menurut pemeriksaan Paman Celo tidak sakit, ini seperti gejala awal kehamilan. Untuk lebih jelasnya periksakan ke dokter kandungan saja." Jelas beliau.
"Baiklah Paman. Terima kasih." Ucao Zach datar.
"Momm, Mommy kenapa? Mommy sakit karena kami nakal ya?" Tanya Aldric sambil merangkak naik ke atas ranjang orangtuanya.
"Al, Mommy kita kelelahan. Ayo kita keluar, biarkan Mommy istirahat." Archie menjalankan perannya sebagai kakak yang bijak terbalik dari posisi aslinya.
"Baiklah. Kami ke kamar dulu Momm." Pamit Aldric. Celo yang melihat kekhawatiran kedua putranya sangat bahagia, ditambah lagi kabar bahagia yang baru saja di dengarnya.
^^^^
Seperti saran Dokter Max, Zach membawa Celo ke dokter kandungan yang dulu memang menangani istrinya. Menurut hasilnya, Celo memang positif hamil tujuh minggu. Celo bahagia bukan main mendengarnya, tapi tidak dengan suaminya yang hanya diam dan memasang wajah datarnya.
"Mas, Mas kenapa diam saja? Mas tidak suka Celo hamil lagi?" Lirihnya Sedih. Tiba-tiba saja, Zach menghentikan laju mobilnya.
"Mass.." jerit Celo terkejut.
"Maaf sayang, sebenarnya Mas sangat bahagia kita bisa memberikan adik untuk si kembar. Tapi Mas takut, takut kau akan kesakitan lagi." Jelasnya, matanya sedikit memerah.
"Takut kenapa Mas?"
"Melihat kehamilan mu saat si kembar, kau mengalami kehamilan dengan berat badan kurang dan itu sangat berbahaya sayang. Mas tidak mau itu terulang kembali." Ia mengungkapkan semua ketakutannya.
"Mas, Celo janji dikehamilan sekarang akan lebih memperhatikan makanan. Celo juga tidak sendiri lagi sekarang, ada Mas disamping Celo dan anak-anak." Ia meyakinkan suaminya bahwa ia bisa melalui semua ini.
"Maafkan Mas sayang." Zach mendekap erat tubuh mungil istrinya yang sebentar lagi juga akan membuncit perutnya.
"I love you my wifey." satu kecupan di sapukan ke bibir tipis Ibu dari anak-anaknya.
"I love you too my husband." Celo membalas kecupan suaminya, pria yang sangat dicintainya dan pria yang sudah memberikannya kebahagiaan.
"Bagaimana? Apa benar Celo hamil?" Begitu sampai di rumah, mereka sudah disambut dengan pertanyaan yang sama.
"Ya Mi, sudah tujuh minggu." Sekarang senyum tak pernah lepas lagi di wajah tampan Ayah dua anak itu.
"Wahh…semakin besar saja keluarga kita." Riuh Chris.
"Selamat Celo." Audrey dan yang lainnya bergantian memberikan ucapan selamat pada keluarga kecil itu.
"Momm, Dadd, benar Al dan Ar akan punya adik?" Si kembar muncul secara tiba-tiba.
"Ya nak, apa kalian senang." Tanya Celo balik.
"Tentu Momm, terima kasih." Aldric yang paling antusias memeluk Mommy nya.
"Selamat Momm." Sekarang gantian Archie memeluk Celo, meski terkesan cuek tapi senyumnya menggambarkan ia juga bahagia.
▪︎▪︎▪︎▪︎END OF STORY ▪︎▪︎▪︎▪︎
Kebahagiaan tidak dapat di ukur hanya melalui materi saja, meski di zaman sekarang itulah kenyataanya. Namun, kebahagiaan sebenarnya datang dari diri kita sendiri juga orang terdekat kita, juga bagaimana kita menyikapi segala masalah hingga akhirnya kita tetap bahagia. Terdengar seperti bualan semata, tapi cobalah dan nikmati hasilnya. __ Areum kang
▪︎▪︎▪︎▪︎
***Hai, Hai….
Udah End nih teman-teman, terima kasih banyak atas semua dukungannya.
Maaf jika tidak sesuai dengan apa yang kalian inginkan, maklum saya juga manusia biasa dan setiap manusia tidak memiliki pemikiran yang sama***.
Jangan lupa ya bagi yang masih stay read, meski sudah END tetap beri dukungannya.
Tekan LIKE dan sertakan COMMENT.
Sampai jumpa di SEQUEL dan JUDUL lain selanjutnya.
TERIMA KASIH
LOVE YOU ALL
SARANGHAEYO