Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Menahan perasaannya



"Ya. nak, kau bebas mulai sekarang. Mami melepaskanmu."


■■■■


"Mi…kenapa mami membuang Zach mi? Apa karena Zach mencintai Melodi? Dimana salahnya Melodi mi?" Tanya Zach terisak.


"Tidak ada yang membuangmu dan juga tidak ada yang salah nak. Berapa kali harus mami katakan, yang salah mami bukan kau. Kami sudah dikalahkan oleh rasa cintamu padanya. Maka itu kejarlah cintamu, tinggalkan semua kekecewaan ini. Berbahagialah bersamanya. Kembalilah sebagai Zach yang dulu, pintu rumah ini akan selalu menunggumu nak. Pergilah. Pergilah sekarang…" suara mami semakin meninggi di akhir perkataannya.


"Mi…." Setelah mendengar semua ungkapan maminya Zach pergi, ia takut akan menyakiti maminya lebih banyak lagi.


"Kau tak tau arti kasih sayang dari seorang ibu nak. Ibu mana yang rela melihat anaknya dipermainkan, dan juga ibu mana yang rela melihat anaknya mencintai wanita wanita lain melebihi ibunya sendiri. Bukannya egois, andai saja wanita yang kau cintai itu orang baik nak. Maaf jika mami harus melepasmu, semoga kedepannya kau bisa belajar lebih banyak pengalaman hidup dan membuka mata tak selamanya cintamu akan membawa kebahagiaan nak. Hiks…hikss" beliau mengungkapkan segalanya sepeninggal Zach, setelahnya mami menekan dadanya kuat, tak lama setelahnya beliau menyerah dan jatuh tak sadarkan diri.


°°°°


Tit…tit..tit….


Suara bunyi alat dari dalam ruang rawat mami terdengar hingga keluar. Nampak jelas disana seorang wanita paruh baya tengah berjuang melawan rasa sakitnya.


"Mi…kenapa jadi begini? Jangan tinggalkan papi mi, papi masih butuh mami untuk membimbing anak-anak kita. Kita juga harus memperbaiki kesalahan putra kita mi. Mami harus bertahan.." Digenggam eratnya tangan wanita yang sudah mendampinginya sebagai istri selama kurang lebih tiga puluh tahun.


"Pi…"


"Zach…" Zach menghampiri papinya yang sedang menemani mami.


"Papi yang kuat, Zach yakin mami pasti akan baik-baik aja. Mami wanita paling kuat yang pernah Zach temui. Bahkan mami bisa menahan perasaannya demi Zach. Ini semua salah Zach, maafkan Zach pi." Zach sangat hancur melihat maminya terbaring lemah di ranjang rumah sakit ditambah lagi, baru kali ini ia melihat papinya menangis. Selama ini ia mengenal papinya sebagai sosok paling kuat bahkan saat mereka terpuruk sekalipun.


Rasa bersalah menggerogoti hati dan pikiran Zach. Bagaimana tidak, maminya collapse setelah pembicaraan mereka. Ia menyesal, seandainya saja ia tak menemui maminya, seandainya ia tak membicarakan tentang pertemuannya dengan Melodi, dan seandainya ia tak mengatakan betapa ia sangat mencintai Melodi. Seandainya, ya hanya seandainya yang terngiang di otaknya sekarang. Kata yang sangat patut disalahkan oleh Zach.


"Ini bukan salah siapa-siapa Zach. Ini ujian untuk keluarga kita, tergantung kita bagaimana akan melaluinya." Papinya memang selalu bijaksana dalam menghadapi semua masalah, beliau tidak akan pernah menyalahkan orang lain dalam suatu masalah terlebih itu masalah keluarga mereka sendiri.


"…."


"Istirahatlah dirumah." Itulah cara papi menyuruh anaknya untuk pulang.


"Ya pi." Zach mengikuti perkataan papinya, ia tak mau menambah masalah dengan menolak perintah.


"Zach, ingatkan Christa untuk tidak berbuat semaunya. Ingat, mami kalian sedang sakit bukan bersenang-senang. Kasihan mami, dan juga papi tidak mau jika harus marah-marah terus." Papi berbicara perihal perangai adiknya, beliau tak mau menambah pusing kepalanya.


"Baiklah pi, nanti Zach ingatkan."


Zach pamit pada papinya, jika beliau menyuruh pulang maka ia harus pulang. Papinya bisa bertindak sangat tegas jika beliau sedang dalam mode terdesak.


°°°°


Baru saja turun dari mobil, Zach mendapati adiknya akan pergi keluar. Sepertinya papi punya ikatan batin yang kuat dengan anak-anaknya.


"Mau kemana Chris?"


"Keluar kak, mau kemana lagi.." Zach menahan adiknya saat akan masuk kedalam mobilnya.


"Tidak boleh, papi melarangmu keluar. Ingat Chris, mami sedang sakit." Cegah Zach.


"Hah…papi berlebihan. Palingan mami cuma tekanan darahnya lagi tinggi. Biasalah kak, mami kan emang gitu kalau kemauannya gak kesampaian." Chris bicara dengan egoisnya dan nampaknya anak durhaka itu tak peduli akan maminya.


"Chris...-"


"Udahlah kak! Jangan berlebihan seperti papi. Orang tua kita itu sama-sama egois." Lagi, perkataan Chris membuat Zach marah padanya.


"Kebahagiaan apa kak? Kita bahagia karena pilihan kita. Aku seneng tuh mami nginap di rumah sakit kalau perlu yang lama. Biar gak ada lagi yang ngatur-ngatur aku." Enaknya ni anak dikuliti kali ya.


"Cukup Chris, cukup!! Sekali lagi kamu bicara begitu, kakak akan kurung kamu!!"


"Hohh..jadi kakak marah sekarang! Ini semua juga gara-gara kakak. Kakak lupa, mami sakit karena kakak batal nikah trus kakak lebih milih Melodi kan! Jangan munafik kak!! Dan juga gara-gara kakak aku yang terkena imbasnya, aku selalu diatur segalanya.!" Bentaknya tak kalah sengit.


"DIAM!!" Teriak Zach.


"Apa?? Kakak mau bilang ke papi? Sudah sana bilang!!" Tantangnya.


"Kakak tak perlu bilang pada papi untuk menindakmu. Asal kau tau kakak bisa bertindak lebih keras dari papi jika kau masih kurang ajar pada orangtua kita. Jika kau masih membantah, itu artinya kau tidak tau siapa kakakmu ini! Dan dengan senang hati akan kakak tunjukkan." Zach, berucap dengan seringaiannya dan tak lupa tatapan tajam matanya.


Zach cukup sabar menghadapi adiknya yang kurang ajar. Rasanya kata-kata saja tak cukup, ia harus menindak tegas adiknya. Zach memang secara tak sengaja menyakiti maminya, meskipun bagitu ia sangat menyayangi orangtuanya dan tak pernah berkata kurang ajar pada mereka bahkan sampai menyumpahi mereka.


Melihat perlakuan adiknya yang seperti itu, Zach benar-benar sangat marah sekarang. Ia menarik adiknya kedalam dan mengurungnya dikamar.


"Kakak, keluarin Chris kak!! Chris ada janji sama teman-teman, jangan berlebihan seperti mami!!" Bentaknya masih belum menyadari kesalahannya.


Kehabisan kesabaran, Zach masuk kekamar adiknya lalu memarahinya.


"Kau bisa diam tidak! Jangan pernah menyalahkan mami lagi kau mengerti!!" Zach mencengkram pipi adiknya, lalu melepasnya dengan kasar.


"Biar. Biar aja mami mati sekalian" tantangnya.


Plakk


Zach, menampar adiknya secara sadar, adiknya harus diberi pelajaran sekarang. Jika tidak, ia akan menjadi lebih kurang ajar kedepannya.


"Ka-kkak…" Chris ketakutan sekarang, ia baru sadar telah membangunkan macan yang sedang tidur.


"Sekarang kau tetap disini dan renungkan kesalahanmu!!" Zach keluar dan mengunci kembali pintu kamar adiknya. Ia tak menyesal telah menampar adiknya, karena itu memang pantas.


°°°°


Dalam kamarnya Zach duduk setengah menyandarkan tubuhnya disandaran tempat tidur. Semua perkataan adiknya masih terngiang ditelinganya. Bagaimana bisa maminya yang sangat baik membesarkan anak ular seperti adiknya itu.


"Mi…maafkan Zach. Zach janji akan kembali ke Zach yang dulu. Zach yang selalu mami sayangi dan mami lindungi, sekarang giliran Zach yang akan melindungi mami bahkan dari Christa adik sekaligus putri mami."


"Zach juga akan mengubah tata krama dan gaya hidup Christa dengan cara Zach sendiri. Zach janji mi."


Ia berucap seorang diri dan berjanji pada dirinya sendiri. Ia tak mau orangtuanya disakiti meski itu oleh adiknya bahkan dirinya sendiri.


■■■■


Teman-teman jangan lupa ya


Like dan Commentnya


Agar Upnya lebih cepat dan semangat.


Bagi yang bersedia silakan Vote


Terimakasih