
▪︎▪︎▪︎
Hari berganti, tidak terasa sudah seminggu semenjak kepulangan Bryan dari kanada untuk mengucapkan selamat tinggal pada Shane. Meski Papi Zach sudah tak lagi mendatangi dan menghubunginya, tetap saja perasaan Bryan masih belum tenang.
"Baby, aku berangkat ke kantor dulu ya." Bryan mengecup kening istrinya lama. Wanita itu tidak ke toko bunga hari ini karena tidak enak badan, alhasil ia masih berbaring di atas ranjang mereka.
"Mm…hati-hati." Sesyil melengkungkan bibir pucatnya sebagai jawaban. Ia menggenggam sejenak tangan Bryan yang masih memegang sebagian wajahnya saat mencium keningnya tadi.
"Kenapa?" Bryan urung melangkahkan kakinya. Pria itu duduk di tepi ranjang, di sisi istrinya. Sudah beberapa hari ini ia perhatikan Sesyil selalu murung dan tidak bersemangat. Bryan pikir, ini mungkin bentuk perubahan hormon wanita hamil yang sebelumnya pernah di sampaikan oleh Dokter.
"Tidak ada. Pergilah, bukannya kau bilang ada meeting penting pagi ini." Sesyil menggenggam kedua tangan suaminya, mengusap pelan menyalurkan kekuatan dari sana.
"Kau yakin tidak apa-apa Baby?" Bryan memastikan, entah kenapa firasatnya tidak baik jika harus meninggalkan sang istri.
"Tidak apa-apa. Toh di rumah juga ada Bibi Wu ini." Sesyil meyakinkan suaminya itu. Ia tidak mau jika Bryan sampai melalaikan kewajibannya di kantor hanya karena dirinya.
***
Siang ini, Bryan baru kembali ke kantor sehabis meeting di luar. perasaannya semakin tidak menentu, pikirannya terus saja terbayang wajah sang istri yang pucat dan tidak bersemangat.
"Kau kenapa Bry? Ku perhatikan sedari tadi kau sangat gelisah." Felix menyadari sikap Bryan yang tidak seperti biasanya.
"Entahlah, aku teringat Sesyil di rumah. Ia sedang tidak enak badan saat aku tinggal tadi." Keluh Bryan. Ia mengusap kasar wajahnya lalu memijit-mijit kecil pangkal hidungnya.
"Sebaiknya kau pulang saja, dari pada terus kepikiran seperti ini. Toh tidak ada meeting penting lagi hari ini, untuk pekerjaan lain biar aku yang handle untuk sementara." Bryan bersyukur dengan adanya Felix, sahabatnya itu begitu bisa ia andalkan dan banyak membantunya.
"Baiklah. Terima kasih Felix." Usai berterima kasih, Bryan mengemasi tas kerjanya. Tidak banyak yang ia bawa untuk kemudian keluar dari ruangannya dan kembali ke rumah sesegera mungkin.
Drrt
Baru saja mobil Bryan memasuki jalan raya, Ponsel pria itu bergetar. Ia meraih earphone yang memang sengaja ia letakkan di dashboard mobil untuk kemudian di selipkan ke lubang telinganya.
"Ya Bibi Wu, ad,-"
"T-tu-an, ss-saya di rumah s-sakit sekarang Tuan. N-nyonya,-" kalimat Bibi Wu yang terputus-putus di sela cepat oleh Bryan. Bisa di bayangkan bagaimana ekspresi pria itu, raut wajahnya menegang, tangannya yang menggenggam setir mobil dengan sangat erat bahkan hingga buku jarinya memutih, ditambah lagi wajahnya yang pucat pasi.
"Rumah sakit mana?" Di tengah ekspresi ketakutannya, Bryan masih bisa berucap datar yang menyebabkan Bibi Wu menciut nyalinya.
"Rumah sakit xxx Tuan, karena itu yang paling dekat dengan rumah."
"Baiklah, lima menit lagi saya tiba disana." Tidak perlu menunggu sahutan dari asisten rumah tangganya itu, Bryan memutus panggilan. Ia menyetir dengan kecepatan penuh, beruntung jalanan lengan karena masih dalam jam kerja.
***
"Apa yang terjadi sebenarnya Bi?" Bryan yang sejak sedari tiba sudah mondar mandir bak setrikaan, kini berhenti. Ia tidak habis pikir kenapa istrinya itu bisa mengalami pendarahan, perasaannya cemas karena segala pikiran buruk terus saja berputar di benaknya. Karenanya, mata Bryan memerah, entah karena takut atau menahan tangis.
"Maafkan saya Tuan, bagaimana pastinya saya juga tidak tau. Yang saya temukan, Nyonya sudah terduduk di lantai tepat di bawah ranjang dan,- dan darah terus saja mengalir dari sela paha Nyonya." Bibi Wu yang memang sangat peduli dan menganggap mereka sebagai anak-anaknya, pun menjatuhkan air matanya. Ia tak kalah takutnya di bandingkan Bryan.
"Ini salah saya Tuan. Salah saya tidak menjaga Nyonya dengan baik." Bibi Wu, menunduk dalam hingga terlihat titik air dari sudut matanya jatuh menimpa lantai.
"Ini bukan salah Bibi Wu, tidak ada yang salah dalam hal ini. Kita berdoa saja, semoga Sesyil dan anak kami baik-baik saja." Tanpa membandingkan status, Bryan merengkuh wanita yang berusia sudah tiga perempat abad itu dalam pelukanya. Memperlakukannya layaknya anak memeluk sang ibu dan menenangkannya.
Flashback
"Argh…kenapa sakit sekali. Kenapa kau nak?" Sesyil meringkuk di atas ranjang memeluk erat perutnya. Lama ia dalam posisi itu, namun keram yang ia rasakan tak kunjung mereda. Di sibaknya selimut yang selalu setia menemaninya diatas ranjang itu. Dengan gerakan perlahan, Sesyil coba bangkit bermaksud turun dari ranjang dan memanggil Bibi Wu.
"Argh…Bi, Bibi Wu…to-long Sesyil B-bi." Sebagian tenaga Sesyil sudah terkuras untuk bangkit dari tidurnya tadi, hingga untuk mengeluarkan suara saja ia sangat kesulitan. Sesyil beringsut hingga posisinya bersandar di tepi ranjang. Sebelah tangannya, masih setia mendekap erat perutnya yang masih rata meski ada satu nyawa didalamnya.
"Bertahanlah nak. Kita harus kuat." dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya, ia berucap sendu sembari menggigit kuat bibir bawahnya hingga sedikit luka.
"Arghh…shh.." di tariknya nafas dalam-dalam lalu di keluarkan pelan, begitu seterusnya. Berharap agar rasa sakit itu samar dan perlahan memghilang. Namun ia salah, rasa sakitnya malah semakin menjadi hingga ke hulu hati.
"Maafkan aku Bry,-" disisa kesadarannya, Sesyil meminta maaf pada sang suami yang entah apa maksud dari kata maaf itu.
Tidak berselang lama, Bibi Wu masuk hendak mengantarkan sarapan untuk Nyonya nya itu. Seketika mata beliau membola dan nyaris saja menjatuhkan nampan yang sedang ia genggam beruntung tangan keriput itu masih bisa mengendalikannya.
"Nyonya. Bangun Nyonya. Anda kenapa?" Usai meletakkan nampan berisi makanan tadi di atas meja rias karena itulah tempat terdekat darinya. Bibi Wu menghampiri Sesyil dengan gerakan berlari, beliau memangku Sesyil di atas paha lalu menepuk-nepuk ringan pipinya guna membuatnya sadar.
"Nyonya. Sadarlah Nyony,- astaga!" Rasa panik tadi kini berganti rasa takut manakala mata yang sudah tidak terlalu jernih itu menangkap darah yang mengalir di kaki majikan wanitanya itu.
Flashback off
Di rasa wanita sepuh itu sudah tenang, Bryan perlahan melepas rengkuhannya. Ia bantu Bibi Wu untuk duduk di kursi tunggu yang memang tersedia disana.
"Tuan,-"
"Tidak apa-apa." Saat Bibi Wu kembali buka suara, Bryan menghentikannya. Di genggamnya erat jemari keriput itu, menenangkan namun ia sendiri entah bagaiman perasaan yang sebenarnya. Tampak di luar Bryan begitu kuat dan tabah, sementara di dalam, perasaannya hancur. Gambaran terburuk telah terlukis di benaknya. Namun siapkah dia menghadapinya, jika itu benar terjadi?"
▪︎▪︎▪︎