
"Zach.."
"Heumm.."
"Kenapa kau bisa kembali??"
■■■■
Flashback
"Aiishh…" Zach mengacak rambutnya kasar dengan frustasi.
Zach melihat pramugari yang memang bertugas dibagian first class dan menyampaikan maksudnya.
"Permisi nona, saya mau membatalkan penerbangan saya." Pinta Zach pada salah seorang pramugari yang tepat melintas didepannya.
"Maaf tuan tidak bisa, Sebentar lagi kita akan take off. Jika anda memang akan membatalkan penerbangan anda kenapa tidak dari tadi tuan." Tolaknya.
"Jika saya mendapat kabar dari tadi tentu saya tidak akan naik nona. Begini saja, saya akan bayar berapa saja kerugiannya dan tip untuk anda. Tapi saya sangat minta tolong." Zach sedikit kesal mendengar penuturan si pramugari yang sepertinya nampak kesal padanya.
"Maaf tuan, ini bukan hanya tentang masalah kerugian. Tapi ini tentang keakuratan waktu terbang, jadwal akan kacau jika kita tertunda tuan."
"Biarkan saya turun nona, seseorang sangat membutuhkan saya saat ini. Ini tidak akan memakan banyak waktu." Pinta Zach lagi.
"Sekali lagi kami mohon maaf tuan. Kami akan mencarikan Alternate Aerodrome untuk mendarat di bandara alternatif agar anda bisa mengambil penerbangan kembali kesini." Terangnya.
"Kalau begitu biar saya berbicara dengan pilotnya, tidak mungkin jika tidak ada kebijakan dari pihak perusahaan." Zach yang tak terima dengan penjelasan pramugari tersebut minta untuk dipertemukan dengan pilot atau pihak yang terkait.
"Maaf tuan, tapi anda tidak bisa bertemu pilot kami." Pramugari itu mulai bicara ketus pada Zach.
Perdebatan mereka cukup memakan waktu, beruntung Zach mengambil first class jadi tak ramai orang-orang disana. Sampai salah satu crew pesawat memberitakan hal itu kepada pilot pesawat.
Tak selang beberapa lama, crew yang tadi melaporkan mempersilakan Zach turun dan mohon maaf atas ketidak nyamanannya.
"Tuan, jika memang anda ada kepentingan yang sangat mendesak. Kami memberikan kebijakan, anda diperbolehkan untuk turun tuan. Semoga permasalahan anda dapat selesai dengan baik. Maaf atas ketidak nyamanannya." Crew itu berucap ramah, tak ketus seperti pramugari yang berdebat dengan Zach.
"Baiklah. Terima kasih banyak tuan. Maaf sudah menimbulkan perdebatan." Saut Zach ramah.
"Tidak masalah tuan. Selama anda nyaman dan puas dengan pelayanan kami. Silakan tuan, hati-hati dijalan." Tutur crew tersebut seraya mengarahkan Zach ke pintu keluar darurat. Sementara si pramugari membungkukkan tubuhnya seraya ikut meminta maaf.
Setelahnya, Zach berlari keluar seperti orang kesetanan. Segera ia memanggil taxi untuk membawanya ke rumah sakit.
°°°°
Hampir satu jam perjalanan, Zach sampai dirumah sakit dan ia berlari menuju ruangan ayah dan nenek Celo setelah sebelumnya ia menanyakan pada pihak resepsionis.
Zach sampai diruangan itu dengan nafas yang memburu. Namun ia urungkan niatnya untuk segera menghampiri Celo, ia tak mau memperkeruh suasana. Zach hanya memantau Celo dari jauh, tanpa seorang pun mengetahuinya. Ia tak mau kalau sampai Celo melihatnya dan malah membuat gadis itu ketergantungan dengannya, sementara ia akan tetap pergi jua itu malah hanya akan membuat luka baru untuk Celo.
Terus saja diikuti semua apa yang dilihatnya, hingga kedua jenazah dan semua orang juga ikut kerumah Celo. Disana Zach juga melihat papi dan maminya.
Karena sudah lelah Zach menginap disbuah hotel tak jauh dari rumah Celo. Ia berencana akan kembali lagi ke sana saat pagi-pagi buta. Zach bukannya enggan pulang kerumahnya, tapi ia tak mau jika seorang pun tau. Biarlah orang-orang menganggapnya egois bahkan jahat sekalipun, Zach hanya ingin memastikan bahwa Celo baik-baik saja
Pagi-pagi sekali Zach kembali kearah rumah Celo, seperti katanya semalam. Ia juga mengikuti prosesi pemakaman walau harus mengendap-endap seperti buronan. Setelah semua orang pergi dari sana, Zach masih setia menunggui Celo yang bertahan disana sendiri. Zach melihat tubuh Celo yang akan limbung lansung saja dikejarnya dan ditangkapnya. Hingga ia akhirnya menampakkan diri dan mengantar Celo pulang kerumahnya yang masih ramai olah para pelayat dan beberapa orang terdekatnya.
Flashback off
°°°°
Audrey dan Zach kembali kerumah Celo, mereka mau melihat bagaimana keadaan gadis itu sekarang.
"Zach, kapan kembali?" Tanya mami, yang sebenarnya sudah dari tadi ingin beliau tanyakan.
"Zach kedalam dulu mi melihat Celo." Pamit Zach. Sementara papinya memandang tak percaya pada putranya. Pasalnya, Zach begitu kekeh akan pergi.
"Ya."
Zach memperhatikan wajah gadis itu, masih nampak jelas bekas luka lebam di tulang pipi dan sudut bibirnya. Zach merasa sangat kasihan dan juga marah disaat yang bersamaan, kasihan akan nasib gadis ini dan marah akan perbuatan para penjahat itu.
Diambilnya posisi duduk tepat disamping Celo yang sedang tidur diranjangnya. Dirapikannya helaian rambut yang berserakan diwajah tirusnya.
"Perasaan saja atau memang dia semakin kurus?" Tanya Zach dalam hati.
Tak lama Celo membuka matanya, mungkin saja dia terganggu akan sentuhan tangan Zach dikepalanya. Ia memegangi kepalanya yang sepertinya terasa pusing, saat akan duduk ia merasa sepasang tangan besar membantunya.
"Mass…" begitu menoleh ia mendapati Zach didekatnya dan membantunya. Merasa tak yakin Celo mengetuk kepalanya dan menggeleng-gelengkannya, ia merasa seperti sedang berhalusinasi.
"Ini benar-benar aku." Zach tau Celo sedang bingung, dia membawa telapak tangan gadis itu kewajahnya. Seketika itu pula air mata gadis itu tumpah membasahi wajahnya.
"Maasss…hiks..hikss…" segera saja dia memeluk erat tubuh Zach, seperti takut tubuh itu akan pergi jauh juga meninggalkannya.
Tanpa bersuara, Zach membalas pelukannya dan mengusap pelan belakang kepala gadis itu.
"Menangislah, lepaskan semua sesak itu." Zach membiarkan Celo menangis didadanya, tak memperdulikan jika jacket denim berwarna hitam yang digunakannya basah akan air mata Celo.
°°°°
Lelah menangis Celo akhirnya tertidur kembali kali ini dia tidur dalam pelukan Zach. Zach keluar dari kamar Celo dengan pelan agar tak menimbulkan suara, takut gadis itu akan terganggu tidurnya.
"Mau kemana nak?" Mami bertanya begitu melihat Zach yang akan keluar melewati pintu rumah Celo.
"Mau kehotel dulu mi, ganti baju." Zach mengerti akan kecemasan maminya.
"Oh..setelah itu kembalilah kemari lagi."
"Tentu mi. Zach hanya sebentar." Zach berlalu keluar, disana ia sudah tak melihat papi dan dua sahabatnya lagi.
Drtt drrt
Zach merasa ponselnya bergetar tanda panggilan masuk. Ia melihat nama papinya tertera layar ponselnya.
"Ya pi."
"Tenang saja, papi sudah meminta Bryan mengurus segala urusan disana. Tak usah khawatir." Papinya memang sudah terbiasa bergerak cepat.
"Makasi pi."
"Mmm…" lalu panggilan terputus.
Lansung saja secepatnya Zach kembali kehotel menggunakan mobil yang memang sudah disediakan oleh pihak hotel tempatnya menginap. Ia harus bergegas, takut Celo bangun dan mencarinya.
Tak ada satu orang pun yang tau isi hati dan jalan pikiran orang lakn. Bahkan isi hati kita sendiri pun kadang tak bisa kita ketahui dan mengerti. Dan juga tak selamanya jalan pikiran dan isi hati kita itu sejalan.
■■■■
Dukung dengan LIKE & COMMENT ya teman-teman
VOTE bagi yang mau dan ikhlas saja
Hehehee
Makasii…