Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Malang tak dapat di tolak, untung tak dapat diraih



▪︎▪︎▪︎▪︎


Tit titt tit


Suara layar monitor di ruangan ICU sebuah rumah sakit terdengar nyaring bagi siapa saja yang menunggui pasien. Ya, saat ini Garret tengah terbaring lemah di ranjang pesakitan.


Selama berada di dalam ICU ia akan dipantau selama 24 jam penuh oleh dokter, perawat, dan staf khusus dari rumah sakit yang sudah kompeten mengingat kondisinya yang terluka sangat parah. Tak hanya itu, tubuh pria itu juga terpasang peralatan medis melalui selang dan beberapa kabel.


Setelah tadi Eric menanyakan juga minta izin untuk melihat Garret, disinilah pria itu berada sekarang. Ya, Eric sudah lebih dulu sampai dari Zach. Saat pagi itu ia marah pada Zach, ia memilih lansung kembali setelah melalui beberapa pertimbangan dengan istrinya.


"Garret, kau bisa bicara?" Bukannya tidak kasihan atau jahat hanya saja, Eric sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Celo. Cukup dengan Chris dan Garret saja, jangan sampai Celo juga celaka seperti mereka.


"Mmm…"


"Masih orang yang sama? Cukup gerakkan jari mu jika benar." Sesuai instruksi Garret menggerakkan jarinya pertanda musuh mereka masih orang yang sama.


"Istirahatlah. Akan ku pastikan dia akan membayar segalanya, kau tenang saja. Berjuanglah Garret, di luar sudah ada beberapa orang berjaga jadi jangan khawatir." Ia kembali menggerakkan jarinya sebagai respon dari ucapan Eric.


Selepas mengorek informasi dari Garret, Eric segera bergerak ke tempat mencurigakan yang sebelumnya sudah diselidiki oleh Nico (orang kepercayaan Eric, di eps Tolong).


^^^^


Di lain tempat kondisi miris lebih tepat dikatakan untuk keadaan Celo saat ini. Bagaimana tidak, wanita itu tengah diikat dengan tangan disatukan keatas, juga kakinya direndam dalam satu wadah berisikan air es tak lupa mulutnya juga ikut disumpal.


"Bangun!!" Teriak si pria tua seraya mengguyur Celo dengan air.


"Wao…ternyata kau lebih s**y dibanding dua wanita hamil itu." Ia berjalan mengelilingi Celo tatkala melihat tu**h istri Zach itu begitu men****a ketika basah karena memperlihatkan secara jelas le**k tubuhnya.


"Mmff…mffhh…" Celo berusaha untuk bicara namun percuma melihat mulutnya yang tersumpal erat.


"Apa sayang, kau mau bicara apa? Hah, sayang sekali harus menunggu Melodi untuk menikmati tu**h mu ini. Aku tidak takut padanya, hanya saja ia akan mengurangi jatah ran**ng ku jika melanggar ucapannya." Curhat si tua dengan wajah me***nya.


"Kau tau Nona, meski wanita ku melarang untuk menyakiti suami mu. Sayang, sebaliknya aku malah menginginkan kematiannya karena apa? Karena wanita ku sangat menginginkan pria itu." Sedikit ia membelai wajah Celo yang masih basah.


"Mmh..mfhh…"


"Begini saja suara mu sungguh indah, apa lagi saat men****h di bawah kungkungan ku. Astaga, bisa gila aku." Soraknyanya dengan raut wajah aneh nan mengerikan itu.


"Bos, ada panggilan dari Nona Melodi Bos." Salah satu anak buahnya menghampiri pria tua itu.


"Benarkah? Semoga berita baik dan kita akan bersenang-senang Nona muda." Sebelum pergi ia sempatkan untuk mencolek dagu Celo yang sukses membuat istri Zach itu menggelinjang karena jijik.


Hampir semalaman Celo berada ditempat yang seperti neraka ini. Seluruh badannya sudah mati rasa karena dingin air es yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi Celo mempertahankan kesadarannya takut-takut pria tua itu akan berbuat sesuatu padanya.


"Mas, Celo takut. Tolong jemput Celo Mas." Batinnya dengan air mata yang setia menemani.


^^^^


"Hmmfh.." Celo coba berteriak tatkala seseorang melepaskan ikatanya.


"Tenang Nona saya Nico, Eric sudah menunggu anda di luar." Tukas Nico melihat Celo ketakutan, pertama ia melepas kain yang menyumpal mulut Celo.


"Anda tidak berbohongkan?" Pertanyaan Celo hanya dijawab gelengan saja.


Celo jatuh terkulai begitu pria itu melepas ikatan tangannya. Kakinya sudah tak sanggup menopang tubuhnya karena terlalu lama berendam di air dingin. Merasa iba, Nico membopongnya tak lupa dalam hati ia merapalkan doa.


"Semoga, Zach tidak mengamuk istrinya ku gendong seperti ini." Ya, seperti yang ia tau, Zach tak akan membiarkan siapapun menyentuh miliknya.


"Kau tidak apa-apa?" Eric sangat prihatin melihat keadaan Celo, wajahnya pucat pasi begitupun kakinya.


"Mm…" seperti tak mempunyai tenaga lagi, ia hanya bergumam sebagai jawaban. Eric membalut tubuh mungil nan ringkih itu dengan mantel besar miliknya lalu membaringkan di bangku belakang.


^^^^


Selama diperjalanan Eric hanya diam saja, otaknya berpikir keras.


"Kenapa tidak banyak anak buah pria itu disana? Apa yang sedang direncanakan?" Untuk kali ini ia gagal memprediksi rencana musuh, mungkin karena ia terlalu fokus ke Celo.


Benar saja, belum setengah perjalanan ia menangkap sesuatu yang sangat ia kenali.


"Nic, berhenti didepan sana. Minta yang lainnya untuk sesegera mungkin ke mari." Instruksinya jelas.


"Ingat, apapun yang terjadi jangan berhenti." Pesan Eric lagi.


"Saya mengerti Bos." Ia sangat tau apa yang akan dilakukan oleh Bos nya itu.


Eric turun sepelan mungkin agar Celo tidak terbangun, bahaya jika wanita itu terbangun mengingat sepasang suami istri itu sangat keras kepala jika menyangkut orang yang mereka cintai.


Usai Bosnya turun, sesuai instruksi tadi Nico kembali melajukan mobilnya. Tepat saat itu Celo terbangun lalu duduk dari posisinya berbaring.


"Kenapa berhenti?" Dengan suara serak ia bertanya.


"Bukan apa-apa, sebaiknya Nona kembali istirahat perjalanan kita masih lumayan jauh." Nico mengalihkan perhatian Celo.


"Baiklah." Sebelum kembali rebahan, ia menelisik sekitar, tak sengaja sama seperti Eric ia menangkap sosok yang sangat ia kenali juga sosok yang sangat dirindukannya, suaminya, Zach.


"Berhenti. Itu Mas Zach, suami Celo." Nico mengabaikan permintaan Celo, karena Eric menyuruhnya tetap jalan.


"Berhenti kak! Celo bilang berhenti!!" Pekiknya sekuat tenaga.


"Maaf Nona, Eric meminta ku untuk tetap jalan apapun yang terjadi." Tegasnya.


Perlahan tapi pasti mobil itu terus melaju sampai pemandangan Zach dan Eric bersama kerumunan orang-orang menghilang dari tangkapan mata Celo.


"Kembali…Celo mau bertemu Mas.." ia terus memohon disepanjang perjalanan.


^^^^


Eric menghampiri orang-orang yang kini tengah mengepung sahabatnya Zach. Meski masih kesal, tetap ia tak akan pernah mengabaikan sahabatnya.


"Ric, dimana istri ku?" Disaat seperti ini pun ia masih sempat-sempatnya menanyakan kabar istrinya.


"Celo sudah baik-baik saja. Sebaiknya kita habisi mereka semua sekarang terutama si bre****k itu." Ujar Eric seraya menunjuk ke arah si pria tua.


"Kau siap Zach?"


"Tak pernah se siap ini sebelumnya." Saut Zach semangat.


Satu per satu lawan mereka lumpuhkan dengan mudah. Bukan Eric namanya jika ia tak melampiaskan kekesalannya yang kebetulan bertemu sekelompok berandalan ini.


Sekejap saja sudah lebih dari separuh anak buah pria tua itu mereka tumbangkan. Sialnya, mereka malah semakin bertambah, entah berapa banyak anak buah yang ia punya.


"Zach, nampaknya mereka bukan hanya dari satu kubu saja. Kau lihat itu, itu pria yang sudah menyerang Celo serta Nenek dan Ayahnya." Imbuh Eric memperhatikan musuh mereka.


"Apa? Bukannya sudah kau bereskan?" Zach terkejut juga tak percaya.


"Hanya membereskan, bukan menghabisi Zach. Ku pikir setiap orang punya kesempatan untuk berubah, ternyata tidak semua begitu." Eric menyesal karena masih membiarkan pria itu hidup meski sebelumnya sudah ia buat sekarat.


Sekarang mereka seimbang karena orang-orang Eric sudah sampai disana. Bagusnya, sampai saat ini belum satu pukulan pun mengenai mereka.


"Wahh..hebat juga mereka. Tidak lelah sedari tadi, apa lansung saja kita habisi?" Zach sedikit terengah karena lelah, mungkin efek dari perjalan jauh.


"Suka-suka kau sajalah!" Seringai Eric. Kini mereka tengah menghampiri dua pria tua yang menjadi dalang dibalik semua permasalahan ini.


Malang tak dapat di tolak, untung tak dapat diraih. Seperti pepatah itu, baru beberapa langkah mendekat pria tua itu melepaskan tembakan.


Dor dorr


"Zach!!" "Masss!"


▪︎▪︎▪︎▪︎


Jangan lupa dukungannya ya


Tekan LIKE & tinggalkan COMMENT


VOTE juga di haruskan karena sekarang hari Senin.


TERIMA KASIH