Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Sebagai, sahabat



▪︎▪︎▪︎


Atas izin dari kedua orang tuanya, si kembar Aldric dan Archie tidur di rumah utama Alterio. Mereka juga menemani Chris tidur di kamar wanita itu. Berkat si kembar Chris jadi sedikit sibuk untuk mengurusi mereka hingga sedikit melupakan kesedihannya.


"Anak-anak, ayo bangun sayang. Nanti kalian telat ke sekolahnya." Chris membangun kedua bocah kembar itu bergantian. Tidak sulit membangunkan mereka sebab Celo yang selalu mendisiplinkan anak-anaknya, agar bisa mandiri semenjak dini.


"Bibi," suara serak mereka bergantian menyapa pendengaran Chris. Wanita itu tersenyum menyambut sapaan keponakannya.


"Ayo anak-anak, bangun dan mandi. Kalian harus berangkat sekolah sebentar lagi." Chris bersedekap didada memasang raut marah, saat dua bocah kembar itu tak bergerak se inci pun dari posisi mereka semula.


"Bibi, ayo mandikan kami." Rengek Aldric. Mereka tidak takut sama sekali dengan Chris yang berpura marah untuk menakuti mereka.


"Tidak. Bukannya Mommy kalian mengajari untuk mandiri?" Tolak Chris, masih dengan bersedekap didada.


"Bibi, kali ini saja. Disaat tidak ada Mommy, tidak salah bukan jika kami ingin di manja? Ayolah Bi." Aldric terus merengek, namun tidak dengan Archie, bocah itu beranjak dari ranjang kemudian berlalu ke kamar mandi. Sontak, Chris dan Kakak kembarnya di buat terkejut.


"Lihat adik mu Al, dia lebih mandiri dan tidak manja. Lagi pula, apa kau tidak malu jika Bibi yang memandikan mu? Kira-kira, jika Cerry tau bagaimana ya?" Chris meletakkan jari telunjuknya di dagu, dan mengetuk-ngetukkannya disana layaknya orang yang tengah berpikir.


"Bibi. Jangan bilang ke Cerry. Iya, Al akan mandi sendiri." Aldric kecil kesal. Ia turun dari ranjang dengan menghentakkan kakinya keras.


"Hah, dasar." Seulas senyum terbit di wajah Chris menyaksikan sifat keponakan kembarnya yang jauh berbeda.


***


Saat ini, Chris sedang bersimpuh di sisi makan suami tercintanya, Shane. Usai mengantar dua keponakannya ke sekolah, ia singgah sesaat ke makam sang suami sekedar melepas rindu.


"Kak, hingga saat ini aku masih belum percaya Kakak sudah pergi meninggalkan ku. Hancur hati ini rasanya Kak. Bagaimana dengan masa depan anak kita nanti? Bagaimana jika dia menanyakan Ayahnya kelak?" Air mata kembali beruraian di wajah Chris, mana kala wanita itu memeluk erat batu nisan yang bertuliskan nama Shane. Ia menyandarkan kepalanya disana, membuat kesan pilu bagi sesiapa saja yang melihatnya.


Srett


Chris menyadari kehadiran seseorang, saat sebuah buket bunga yang di lapisi plastik hias di letakkan dengan sengaja di batu nisan Shane. Wanita itu menengadahkan kepalanya guna melihat siapa gerangan orang itu.


"B-Bry,-"


Ya, Bryan. Pria itu datang lebih awal dari perkiraan dengan keberangkatan malam itu juga, karena ia tidak jadi mengambil penerbangan pagi. Ia memakai pakaian serba hitam mulai dari sepatu, celana, hingga jacket, ia juga melengkapi penampilannya dengan topi dan kaca mata hitam. Suasana duka begitu lekat di dirinya, mungkin jika dia tidak menggunakan kaca mata hitam, orang dapat melihat matanya yang memerah sebab menahan kesedihan.


"Bry, kau datang." Sapa Chris memastikan. Ia merubah posisinya dengan kembali duduk bersimpuh disamping makan Shane. Ia juga mengusap kasar air matanya, tidak mau terlihat lemah di hadapan pria yang masih mengisi sebagian kecil hatinya.


"Ya." Bryan hanya menjawab sekilas sapaan Chris barusan. Setelahnya, ia melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana bermaksud untuk memberi ruang Chris mengenang suaminya.


Grep


Belum genap lima langkah Bryan meninggalkan makam Shane yang ada Chris disana. Sepasang lengan pucat membalut pinggang hingga ke perutnya, dan itu ialah Chris.


"Apa yang kau lakukan?" Bryan geram atas perlakuan Chris terhadapnya. Bagaimana bisa, seorang istri yang baru saja kehilangan suaminya dengan cara tragis, memeluk pria lain di samping makan suaminya yang tanahnya saja bahkan belum kering.


"Biarkan seperti ini sebentar Bry. Aku membutuhkan mu sebagai,- sahabat." Kata terkahir Chris, nyatanya tidak sesuai dengan pemikiran buruk Bryan.


Sementara itu, di sudut lain tak jauh dari sana sepasang mata berbalutkan kaca mata, memperhatikan mereka dengan raut tak terbaca juga kening yang dikerutkan. Ekspresinya menggambarkan tanda tanya besar.


***


Flashback


"Sehabis mengantar Tuan kecil ke sekolah, Nona muda minta diantarkan ke makan Tuan Shane, Tuan besar." Papi menghubungi supir yang memang dikhususkan untuk Chris semenjak meninggalnya sang menantu. Itu karena beliau tidak mau jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap putrinya, terlebih ia tengah berbadan dua saat ini.


"Kau meninggalkannya disana sendiri?" Papi berdiri dari posisi duduknya, beliau marah pada supir karena mengabaikan tugasnya dengan lalai menjaga Chris.


"Maaf Tuan, namun ini atas permintaan Nona sendiri Tuan besar. Saya sudah berusaha membujuk, tapi tidak berani memaksa takut kondisi Nona akan tertekan kembali." Panjang lebar supir itu menjelaskan dengan suara bergetar karena takut.


"Baiklah."


"Saya akan jemput Nina sekarang juga Tuan dan memastikan Nona muda baik-baik saja."


"Tidak perlu, saya sendiri yang akan menjemputnya." Tukas Papi.


"Baik Tuan."


Papi berdiri dari kursi kebesarannya, dengan sedikit merapikan penampilan, beliau keluar dari ruangan perpustakaan yang diciptakan sendiri di rumah besar utama. Berhubung Mami sedang menemani Celo, jadilah Papi tidak perlu berpamitan pada sang istri.


Flashback off


"Apa yang mereka lakukan? Apa Chris masih mencintai Bryan? Apa pertengkaran yang sempat dibicarakan Chris kemarin ada hubungannya dengan anak itu?" Sekelebat pertanyaan itu memutari otak dan pikiran Papi. Beliau pergi dari sana setelah memastikan Chris akan aman bersama Bryan.


Setelah masuk ke dalam mobil yang beliau kendarai sendiri Papi tidak lansung melajukannya. Beliau meraih ponsel yang berada di saku celananya guna menghubungi seseorang.


"Selamat siang Tuan besar, disini Ane Tuan." Sapa suara dari seberang sana yang baru saja di hubungi Papi.


"Bagus, kau yang menerima panggilan ini Ane. Ada hal yang ingin ku tanyakan dan ketahui, jadi kau jawab dengan jujur tanpa ada yang di tutupi." Tegas Papi. Ane ialah kepala asisten rumah tangga di rumah Chris dan Shane. Rata-rata asisten kepercayaan keluarga Alterio dikenal dengan kejujuran dan kesetiaan mereka.


"Baik Tuan. Saya akan jawab semua yang saya ketahui." Wanita yang bernama Ane itu menyanggupi.


"Apa kau pernah melihat putri dan menantu ku bertengkar?" Papi memastikan melalui pertanyaan itu.


"Tuan,- sebenarnya," Ane menjelaskan tentang keadaan rumah tangga majikannya beberapa waktu belakangan ini hingga saat hari dimana Shane kecelakaan dan meninggal. Bukannya dia bermaksud untuk memguping, itu karena ia memang di tugaskan untuk mengawasi mereka. Begitu pun dengan Celo dan Zach, mereka juga diawasi.


"Astaga. Kenapa kau tidak melaporkannya kepada ku?"


"Maaf Tuan, saat itu suasana sangat memanas. Jadi saya takut untuk melaporkannya. Sekali lagi maafkan saya Tuan." Ane ketakutan karena baru saja ia melakukan kesalahan.


"Hah, baiklah. Lanjutkan pekerjaan mu." Papi mengakhiri sambungan. Pria berumur itu menghela nafas berat, ia juga menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Pikirannya kembali mengembara kemana-mana.


▪︎▪︎▪︎


jangan lupa dukungannya ya teman-teman, berikan VOTE, LIKE juga tinggalkan COMMENT kalian.


bagi yang belum mampir, silakan baca Season 2 nya, disana menceritakan kehidupan anak-anak mereka. bagiamana jika putra Celo bertemu dan menjalin hubungan dengan putri Melodi, orang yang pernah mengacau rumah tangga mereka?


ada juga "ISTRI SIMPANAN DOKTER TAMPAN" cast nya, masih berhubungan dengan Season 2. silakan mampir, lumayan buat nunggu Novel Favorites kalian Update.


ikuti juga saya di IG @areumkang16


TERIMA KASIH