
▪︎▪︎▪︎▪︎
Usai suaminya menghilang di balik pintu kamar mandi, Celo mulai memunguti barang dan pakaian Zach yang berserakan diberbagai tempat.
"Ii-in-nni…." Celo membekap mulutnya sendiri.
Ketika membereskan tas kerja Zach, tak sengaja Celo melihat tiket penerbangan ke negaranya dan itu atas namanya.
"Jadi Mas benar-benar akan membuang Celo?" Tanyanya sendiri diikuti air mata yang jatuh berderai.
Meski begitu, ia tetap menegarkan hatinya untuk melanjutkan pekerjaannya. Meski goyah, Celo coba untuk percaya pada suaminya. Memikirkan semua itu ia duduk termenung di tepi ranjang dengan pandangan mata kosong.
Beda dengan Celo Zach baru saja keluar dari kamar mandi, seperti biasa pria itu hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Ke sexyannya bertambah berkali lipat tatkala Zach sedang mengusap rambutnya yang basah pertanda habis keramas.
Melihat wanitanya termenung dengan tatapan kosong, Zach menghampirinya duduk disampingnya. Entah apa yang sedang di lamunkan Celo sehingga tak menyadari dan merasakan Zach sudah berada disampingnya.
"Hei…kenapa heum?" Karena tak ada respon dari istrinya, Zach mengangkat tangan besarnya untuk membelai wajah manis yang sangat di rindukannya itu.
"Ma- astaga." Tersadar dari lamunannya, Celo menoleh kesamping dan lansung menutup wajahnya.
"Kenapa hem??" Zach meraih tangan mungil yang menutupi wajah istrinya jelas terlihat disana rona merah yang sangat kentara sekali.
"Mas kenapa belum pakai baju? Kan sudah Celo siapkan." Dan kembali membuang muka, tapi Zach menahanny.
"Hey…kenapa seperti itu? Kau sudah sering melihatnya, semua ini milik mu" Tanya Zach yang dilanjutkan dengan menggodanya
"Ce-Cello maluu Mas.." ia memberanikan diri menatap wajah tampan Zach dan semakin membuatnya tercekat mendapati suaminya itu memandangnya dengan lekat dan sulit diartikan.
"Kenapa malu? Ini bukan yang pertama atau kedua lagi sayang." Ia berucap tanpa mengalahkan pandangannya, masih menatap Celo dengan intens.
Melihat reaksi Celo yang hanya diam, perlahan ia memangkas jarak diantara mereka. Tinggal beberapa centi saja untuk bibir mereka saling bertemu.
Cup
Kecupan itu meleset dan malah mendarat di pipi Celo, karena ia memalingkan mukanya Sedang Zach kentara sekali pria itu kecewa dengan penolakan istrinya. Entah mengapa saat ini tak nyaman rasanya untuk Celo berdekatan dengan suaminya itu.
^^^
"Mau sampai kapan kau menginap disini?" Chris bertanya dengan ketus ke Melodi. Saat ini mereka sedang makan malam berdua karena Zach dan Celo belum juga keluar dari kamar.
"Kenapa kau bertanya hal itu? Tentu saja selamanya aku akan tinggal disini?" Ucapnya pongah.
"Dan ku pastikan itu tak akan pernah jadi nyata." Entah kenapa ia jadi berubah pikiran tidak ingin Melodi kembali pada kakaknya.
"Terserah apa pendapatmu karena aku tak butuh itu. Apa yang mereka lakukan di dalam sana? Kenapa lama sekali? Shitt!! Pasti ja***g itu menggoda Zach." Ia mengalih pembahasan ke yang lain.
"Suka-suka mereka. Toh mereka suami istri." Saut Chris acuh yang penuh penekanan.
"Diam Chris! Aku tak mau berdebat dengan mu." Bentak Melodi.
"Kau pikir aku mau? Melihat wajah mu saja aku sungguh jijik. Satu lagi, jangan pernah membentakku." Makan malam mereka terasa panas karena perbedaan dan juga rasa saling menjatuhkan.
"Heh…dasar bocah ingusan. Lihat saja, jika aku dan Zach sudah menikah nanti hal pertama yang akan kulakukan ialah menyingkirkan mu." Rutuk Melodi dalam hati.
"Lihat saja kau, setelah Celo tersingkir kau berikutnya yang akan ku buang." Ia mendelik kesal ke arah Melodi yang tengah asik menikmati makan malamnya.
"Lihatlah. Dasar penjilat. Dia begitu ingin menyingkirkan Celo sementara dia enak-enak saja memakan masakan kakak ipar ku itu. Walaupun aku juga membenci Celo, tapi setidaknya dia wanita yang baik dan tulus." Begitulah perbandingan Chris terhadap dua wanita yang berada disisi kakaknya.
Meski berdebat dan saling mengumpat satu sama lain, mereka tetap saja menyantap segala sajian yang ada.
^^^
Di apartement, Sesyil tengah mengamuk pada Bryan, iamemukul kekasihnya itu secara membabi buta.
"Hei…hei…hentikan." Teriak Bryan.
"Huh…ini…rasakan! Rasakan ini.." lagi dan lagi ia tak mendengar penolakan fan minta ampun tapi tak didengarnya.
"Kau kenapa hah!" Teriaknya lagi, kali ini ia menangkap kedua pergelangan tangan kekasihnya itu.
"Lepaskan aku bre****k mesum." Teriaknya seraya meronta minta dilepaskan.
"Diam Se. Atau benar-benar ku ti**ri kau disini sekarang juga." Baru beberapa lama menjalin hubungan, Bryan sudah tau kelemahan gadisnya. Ia takut akan kelakuan mesum Bryan karena ia masih pe****n.
"Kenapa kau marah heum?" Melihat Sesyil yang sudah bungkam, Bryan menanyakan alasan gadisnya itu marah-marah.
"Kenapa kau biarkan Celo pulang? Kau tau sendirian kalau Chris dan Melodi itu jahat? Juga…juga…" ia ragu untuk mengatakannya.
"Juga apa heumm??" Benar-benar duplikay dari Zach, hanya rupa mereka saja yang beda.
"Aku takut jika harus tinggal berdua saja dengan mu." Imbuhnya malu-malu.
"Hahahaa…kau pikir aku akan tergoda dengan tubuhmu yang..rata itu? Tidak yang bisa ku nikmati." Cibirnya, menelisik tubuh Sesyil dari atas kebawah.
"Bre****k kau B. Lalu kenapa kau meminta ku jadi kekasih mu hah!" Soraknya frustasi.
"Karena aku akan menikahi mu." Jawabnya mantap.
Deg
Tak dapat dipungkiri Sesyil sangat bahagia mendengarnya. Apapun pendapat orang tentang cinta pada pandangan pertama yang jelas bagi Sesyil itu nyata adanya dan dia mengalaminya sendiri.
"Bry, kau….ter-" belum selesai berucap pria itu memotong ucapannya.
"Tapi nanti. Setelah tubuh mu mo**ok dan berisi." Sanggahnya dengan enteng. Karena pernyataan Bryan barusan jadilah sekarang Sesyil kembali memukuli kekasihnya.
^^^
"Kenapa kau menolak? Tidak biasanya istri Mas begini?" Zach yang heran akan perubahan sikap Celo tak bisa diam saja. Saat ini mereka tengah duduk bersisian ditepi ranjang, setelah sebelumnya Zach berpakaian.
"Mas yang kenapa? Kenapa Mas sangat menginginkan Celo pergi?" Lansung saja Celo menanyakan apa yang beberapa hari ini disimpannya.
"Jangan bahas ini oke. Jika saatnya tiba akan Mas jelaskan semua sayang." Zach kembali membelai wajah istrinya.
"Kenapa Mas?" Ulangnya lagi.
"Sayang."
"Jawab Mas kenapa? Apa karena Melodi sudah kembali?" Tak bisa lagi menahannya untuk tidak menumpahkan air matanya.
"Celo…"
"Sampai kapan?" Celo selalu melontarkan pertanyaan yang Zach tidak tau jawabannya bahkan maksudnya saja pria itu tak mengerti.
"Celo seorang istri tapi bukan istri Mas, karena selamanya Celo hanya akan menjadi pengganti." Tak gentar dengan ucapannya, tapi tetap saja air mata itu tetap mengalir.
"Apa yang kau katakan Celo? Apa maksud ucapan mu itu?" Bukannya berpura tak tau atau apa karena suaminya itu benar-benar tidak tau.
"Tadi siang Celo berbicara dengan Melodi, Mas tau apa yang kamu bicarakan? Dia meminta Celo meninggalkan Mas, tapi Celo tidak mau karena cinta ini terlalu besar. Tapi, jika Mas sendiri yang meminta Celo pergi dan melepaskan Celo, berati Celo kalah. Sebagai pengganti, Celo akan mundur perlahan dan mengembalikannya ke pemilik aslinya."
"Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan Celo?" Zach masih saja tak mengerti.
"Baiklah Mas. Celo akan pergi sesuai perkataan Mas, semoga Mas bahagia dengan Melodi." Ujarnya lagi, dan sekarang Zach paham arah pembicaraan istrinya.
"Celo, Mas minta maaf jika kau harus pergi sementara waktu. Setelah semua ini berakhir Mas janji akan menjemput mu lagi sayang. Mas mohon, Mas tidak ingin kau terluka lagi." Zach yang tidak ingin Celo salah paham dan berprasangka buruk hanya bisa mengatakan itu.
"Mass…"
"Sebaiknya kau istirahat. Mas tau tau kau lelah, ayo kita tidur." Zach merebahkan tubuh mereka berdua, lalu memeluk istrinya hingga tertidur.
Semalaman ia terjaga, menjaga agar wanitanya tidak berbuat hal gila dan tak masuk akal seperti saat Zach melamarnya untuk menjadi istri sungguhan dan Celo malah kabur ke kampung halaman ibunya.
Sebagian besar orang memang tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Namun lain lagi halnya bagi mereka yang pernah mengalami. Bahagia atau tidaknya ending dari perjalanan cinta mereka, biarlah itu menjadi judul cerita mereka di masa depan. __ Areum Kang
▪︎▪︎▪︎▪︎