Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Mensyukurinya



■■■■


Nampaknya keberuntungan sedang berpihak pada Celo, siang ini toko bunga tak terlalu ramai jadi ia bisa minta izin keluar untuk mencari pekerjaan tambahan seperti yang telah ia rencanakan.


"Mm…bibi, apa Celo boleh pergi keluar? Toko kita tidak sedang ramai bukan…" pintanya setengah membujuk.


"Mau pergi kemana anak nakal? Ingat kau sudah jadi istri orang sekarang." Bibi berkata dengan mencubit hidung Celo.


"Celo ingat itu bi. Celo hanya mau mengunjungi rumah mami mas Zach." Ia terpaksa berbohong karena tak ada pilihan lain.


"Ah…benar juga. Pergilah. Ingat bawa buah tangan saat mengunjungi mertuamu."


""Tentu bi. Bibi tenang saja." Segera ia mengambil tas selempangnya lalu dipakai bersiap melangkah keluar.


"Ini. Bawalah uang ini, beli sesuatu yang pantas. Jangan sampai mempermalukan dirimu." Bibi merogoh kantong celemeknya, mengeluarkan beberapa lembar uang.


"Jangan bi, tidak usah. Lagi pula Celo kan sudah menikah, kemarin sebelum pergi mas Zach ninggalin uang untuk kebutuhan Celo." Terang saja ia tak mau, karena semua hanya kebohongan.


"Baiklah, hati-hati kalau begitu."


"Ya bi." Celo melambai sekilas sebelum pergi.


°°°°


"Mau cari kerja dimana ya?" Celo mulai bingung sekarang.


"Tidak mungkin bukan aku melamar pekerjaan dikantoran? Mau kerja apa aku disana?" Ia semakin bingung.


"Sebaiknya coba tanya-tanya direstoran saja." Gadis itu terus melanjutkan langkahnya mencari peruntungan baru.


Celo melihat sebuah restoran yang cukup ramai, ia coba masuk kedalam dan mengutarakan maksudnya.


"Maaf nona, kami memang sedang membutuhkan tenaga, tapi yang bisa bekerja full time, bukan part time. Maaf nona, kami tidak bisa menerima anda."


"Baiklah tuan, tidak apa-apa." Celo keluar dari restoran tersebut dengan wajah sedikit ditekuk.


"Hah….semangat Celo, ini baru satu. Masib banyak restoran dan kedai lainnya." Ia tetap semangat dan tak patah arang.


Sudah tiga kedai yang disambangi Celo, namun tak satupun dari mereka yang menerimanya. Berbagai jawaban didengar gadis itu, mulai dari apakah dia punya orang dalam, atau hanya memperkerjakan pekerja full time.


Hampir saja dia menyerah, tapi karena ia sudah bertekad ia harus berusaha lagi. Saat mengistirahatkan tubuh disalah satu bangku taman Celo bertemu seorang kenalan.


"Celo…" mendengar namanya disebut, lansung saja dia menoleh pada sipemilik suara.


"Kak Russel." Ucap Celo nyaris tak terdengar. Ia hendak segera beranjak dari duduknya, tapi sayang pria bernama Russel itu lebih cepat darinya, Russel mencekal pergelangan tangannya.


"Tunggu sebentar. Kenapa kau begitu takut melihatku?" Russel heran kenapa Celo selalu menghindarinya setiap mereka tak sengaja bertemu.


"**-tiddak. Tiddak appa-apa kak. Celo hannya terburu-buru, ya…begitu." Celo coba melepas cekalan tangan Russel.


"Bisa kita bicara sebentar?" Pintanya.


"Cce-llo buru-burru kak. Lepas."


"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kita bicara." Ucapnya tegas dan sedikit menarik Celo mendekat.


"Tidak mau. Lepaskan Celo kak." Gadis itu hampir saja menangis karenanya.


"Tenang, tenang… aku tidak akan menyakitimu, aku hanya mau biacara sebentar. Janji.." Russel masih saja meyakinkan Celo.


"Jangan kak, Celo takut nanti kak Christa salah paham lagi." Ucapnya. Ya, ia ingat terakhir kali ia bertemu Christa di rumah Zach dihari yang paling menyedihkan baginya. Disana Christa memarahi dan mencacinya karena Christa berpikir ia dan Russel mempunyai hubungan.


"Chris…jadi ini semua gara-gara Christa? Dengar, aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya." Russel coba menjelaskannya pada Celo karena sejujurnya ia menyukai gadis polos itu.


"Tapi tetap saja. Karena kita juga tidak mempunyai hubungan kak." Celo masih saja coba menolak, beruntung kini Russel sudah melepaskan tangannya.


"Aku hanya ingin membalas pertolonganmu waktu itu. Apa aku salah?" Russel menatap kedalam mata Celo.


"Aku tau kau sedang membutuhkan pekerjaan paruh waktu." Lanjutnya lagi.


"Dari mana kakak tau?" Ucap Celo terkejut.


"Biarkan aku membantumu kali ini." Celo berpikir sejenak. Russel yang melihatnya terus menatap gadis itu, gadis yang berhasil menarik perhatiannya.


"Bagaimana?" Tanyanya seperti sebuah desakan.


"Hah…baiklah kak. Tapi jangan yang jauh-jauh, sayang biaya transportnya."


"Okk..mau pergi sekarang?" Tanpa menjawab Celo hanya mengangguk.


Russel memberi tumpangan pada Celo dan mengantar gadis itu kesebuah Restoran dimana Celo akan bekerja. Ya, Russel membawa Celo kerestoran, dimana restoran itu milik bibinya dan ia yakin bahwa bibinya pasti akan setuju mempekerjakan Celo.


"Kakak yakin, aku akan diterima direstoran besar seperti ini? Dan lagi aku hanya bisa bekerja paruh waktu." Tanya Celo masih ragu.


"Percaya saja, aku kenal baik dengan pemiliknya. Ayo masuk." Russel turun terlebih dahulu lalu berjalan memutar berniat membukakan pintu mobil untuk Celo, namun sayang gadis itu sudah keluar duluan.


"Wahh…besar sekali. Pasti pengunjungnya ramai, semoga mereka mau mempekerjakanku dan semoga saja upahnya juga lumayan." Celo berkata dalam hati, ia memandang takjub setiap interior restoran tersebut sambil berharap dalam hati.


"Celo, kau tunggu disini sebentar, aku akan menemui pemilik resto ini dulu. Kau pesan saja apa yang kau mau pada pelayan. Aku yang traktir." Ucap Russel, lalu pergi meninggalkan Celo untuk menemui bibinya.


°°°°


Cukup lama menunggu, Celo merasa was-was. Bagaimana kalau mereka tak mau mempekerjakan pekerja paruh waktu sepertinya?


Semua semakin jelas tampak saat Russel berjalan semakin mendekat kearahnya. Lain halnya dengan pria itu, ia berjalan dengan senyum mengembang diwajahnya.


"Bagaimana kak? Apa pemiliknya mau menerima Celo?" Tanyanya cepat.


"Tentu saja. Kau bisa mulai bekerja besok, jam kerjamu di jam 6 sore hingga jam 11 malam. Bagaimana? Apa kau sanggup?" Russel balik bertanya.


"Sanggup kak, Celo sanggup..hehehehe…" dia bersorak pelan karena kegirangan dan tanpa sadar ia menggenggam jemari Russel. Membuat sang empunya jari deg-degan.


"Mmaaf kak. Celo gak sengaja, maaf." Celo tersadar, segera melepas genggamannya.


"Tidak apa-apa, santai saja." Sebagai balasan Russel mengacak sedikit rambut Celo.


"Apa kau tidak memesan makanan?" Dia bertanya pada Celo karena melihat meja dihadapannya masih kosong hanya ada satu cangkir coklat dan itupun sudah habis.


"Celo tidak lapar kak." Bohong Celo, sebenarnya ia segan karena Russel terlalu banyak membantunya.


"Mana mungkin, aku mengikutimu dari tadi sebelum waktu makan siang dan sekarang sudah hampir sore." Ucap pria itu bersedekap.


"Benar kak, Celo tidak lapar." Bukan Celo namanya jika ia menerima tawaran orang lain dengan mudah.


"Baiklah. Dasar gadis keras kepala." Sungutnya.


°°°°°


Karena menolak dibayarkan makan, sebagai gantinya Russel memaksa Celo untuk mau diantarkan pulang. Namun sebelum itu, diperjalanan Russel juga membelikan beberapa cemilan yang katanya untuk nenek dan ayah Celo. Dan selama diperjalan itu pula mereka tak banyak bicara, hanya sepatah dua patah kata saja.


"Terimakasih kak atas bantuannya hari ini." Ucap Celo begitu ia turun dari mobil Russel.


"Mm…kau tak menawariku mampir?" Candanya diselingi kekehan.


"Tidak!!" Jawabnya cepat.


"Mmaaf…maksud Celo ini sudah malam." Ia sedikit menyesal dengan penolakannya barusan.


"Aku hanya bercanda. Sudah, sana masuk." Ucap Russel.


Celo melambai sekilas sebelum benar-benar pergi. Dalam hati, Celo sangat bersyukur karena ia sudah menemukan pekerjaan tambahan, meski akan lelah ia tetap mensyukurinya.


■■■■


Maaf kemarin ga sempet Up ya readers-nim 🙏🙏🙏


Favorite kan ya riders-nim


Terus Like, Comment dan juga Vote ya


Makasih semuanya….