
●●●●
Tiba juga hari besar bagi Eric dan Audrey, setelah dua minggu mereka mempersiapkan semuanya. Artinya tiga minggu sudah Celo LDR ( Long Distance Relationship ) dengan suaminya tercinta.
Sebenarnya Zach sangat ingin hadir di pesta pernikahan sahabatnya, tapi ada masalah mendesak di kantor yang harus ia sendiri menanganinya. Dengan berat hati Zach menyampaikan ucapan selamat dan doa melalui sambungan video.
Meski sangat sedih, Celo bisa mengerti akan posisi suaminya dalam pekerjaan. Ia tak boleh egois menginginkan suaminya pulang menemuinya, karena di luar sana banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan suaminya itu.
Beruntung Celo dipercaya untuk mengurusi segala sesuatunya, jadi itu bisa mengurangi sedikit kesedihan dihatinya.
"Celo, sini sayang." Panggil Mami dari arah pelaminan.
"Ya Mi. Ada apa?" Tanya Celo.
"Ayo kita berfoto bersama." Ajak beliau.
"Ahh…tidak usah Mi." Tolak Celo pelan.
"Ehh…mana bisa begitu, kita harus mengambil foto keluarga besar." Mami mengapit lengan Celo untuk berdiri disamping Eric setelahnya baru Mami. Sedang di sebelah Audrey berdiri Papi dan juga Shane, mereka berfoto dengan berbagai pose.
Jika ada yang bertanya dimana Christa, anak itu kabur entah kemana. Orang suruhan Papi dan orang suruhan Eric masih terus berusaha mencarinya, biar bagaimana pun Christa tetap anak mereka dan mereka pasti sangat menyayanginya.
••••
Malam semakin larut, para tamu undangan sudah pulang semuanya, yang tersisa hanya kerabat dan teman dekat. Saat ini Celo sedang berdiri di balkon ball room hotel, ia merasa sedikit lelah dan juga merasa bosan.
Sebagian gaun dan anak rambutnya beterbangan tertiup angin malam. Jika diperhatikan, istri kecil Zach itu sangat cantik malam ini sampai-sampai Shane dan Audrey tak henti-hentinya untuk menggoda.
Celo merentangkan tangannya di pagar pembatas dengan mata terpejam. Nampak jelas sekali ia sedang menikmati suasana saat ini. Terlalu larut dalam ketenangan yang ia ciptakan sendiri tanpa diketahui sedari tadi sepasang mata elang terus saja mengawasi dan mengikuti arah gerak geriknya.
Pemilik sepasang mata elang itu perlahan melangkahkan kakinya ke arah Celo. Semakin lama semakin mendekat sampai saat ini ia sudah berdiri tepat dibelakang Celo.
Sementara Celo, tubuhnya menegang begitu merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Bulu kuduk nya meremang seketika dan jantungnya serasa mau copot.
"Mas…." Ucap Celo lirih tanpa memutar atau pun menoleh kebelakang. Ya, ia tau bahwa yang saat ini tengah memeluknya ialah suaminya yang sangat dirindukan dan dicintainya.
"Kenapa berdiri disini? Angin malam tidak bagus untuk kesehatan." Zach masih memeluk Celo seraya mengecupi pucuk kepala istrinya berulang kali. Ia juga melepas jas nya untuk kemudian diselimuti ke tubuh istrinya.
"Disini tenang Mas. Dan disini, Celo bisa merasakan kalau Mas ada disini dan memeluk Celo." Zach terperangah akan ungkapan istrinya.
Apa sebegitu rindu nya ia, sampai ia tak bisa membedakan suaminya yang nyata dan hayalan semata. Perlahan Zach memutar tubuh istrinya untuk berhadapan dengannya. Dengan pelan, Zach mencubit gemas pipi istrinya itu.
"Sakit. Ehh…ini benaran Mas, Celo pikir hanya mimpi." Begitu tersadar, segera ia menerjang tubuh kekar suaminya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang sangat dirindukan nya.
"Dasar bodoh." Ejek Zach namun tetap membalas pelukan istri kecilnya, jujur saja Zach juga sangat merindukan Celo.
"Kenapa Mas bisa ada disini?" Tanya Celo bodoh.
"Tentu saja dengan berjalan kaki." Jawabnya dengan bodoh pula.
"Mass.. bukan begitu. Kemarin kan Mas bilang tidak bisa datang. Tapi sekarang Mas ada disini." Celo sedikit menjauhkan tubuhnya tanpa melepas pelukan nya.
"Lagi pula, tidak mungkin jika Mas tidak datang di hari bahagia Eric. Biar bagaimana pun dia sudah seperti kakak sendiri untuk Mas." Zach menambahkan.
"Apa Mas lansung kesini dari airport?" Celo mengusap pelan wajah suaminya.
"Mm… selama Mas disana apa kau baik-baik saja?" Zach balik bertanya pada istrinya.
"Mm…Mas pasti sangat lelah. Ayo kita pulang saja, Mas harus istirahat." Ajak Celo seraya menggandeng tangan besar suaminya.
Melihat tingkah istrinya yang sudah tak kaku seperti diawal membuat Zach menyunggingkan senyumnya. Ada rasa bahagia begitu melihat senyum tulus terukir diwajah manis istrinya. Tak bisa dibayangkan bagaimana teganya ia pada Celo dulu, demi Melodi ia bahkan rela mengorbankan masa depan wanita yang kini sudah sah menjadi pendamping hidupnya.
Tapi kini, ia sudah memprioritaskan Celo pada urutan pertama untuk di bahagiakannya. Ia akan mengganti semua senyuman yang terenggut di masa lalu Celo, sedangkan Melodi Zach merasa perasaannya pada wanita itu sudah terkikis seiring kebersamaan nya dengan Celo.
••••
"Mas, kita mau kemana? Ini bukan jalan kerumah." Celo bertanya heran pada suaminya.
"Kita akan ke suatu tempat." Sepanjang perjalanan di dalam mobil tangan besar Zach tak pernah lepas menggenggam tangan kecil Celo.
"Tapi ini sudah sangat malam Mas, Mas juga harus istirahat. Belum lagi kalau nanti orang rumah mencari kita." Imbuh Celo.
"Tenang saja. Tadi Mas sudah memberi tau Mami." Jawab Zach enteng. Celo menjadi lega dengan jawaban suaminya itu.
Tiga puluh menit berlalu, Zach menghentikan mobilnya di sebuah tempat seperti tepian tebing besar yang menghadap lansung pada hamparan laut luas.
"Wahh…indah sekali. Mas sering kesini?" Ia berbicara tanpa menatap suaminya karena terlalu terpesona akan alam ciptaan Tuhan.
"Sering. Bersama Melodi."
Deg
Jawaban Zach cukup membuat Celo terpaku, tiba-tiba saja ia merasa sesak di dadanya. Zach yang melihat perubahan air muka Celo menggapai nya dalam pelukan.
"Dengar." Zach memegang kedua sisi wajah istrinya.
"Melodi memang wanita yang sangat Mas cintai, tapi itu dulu. Entah kenapa seiring kebersamaan kita, perlahan perasaan itu mulai terkikis sedikit demi sedikit. Mas membawa mu kesini bukan untuk menunjukkan seberapa besar cinta Mas padanya, dan juga Mas tidak mungkin bisa melupakan dia seutuhnya, maka dari itu,…" Zach menahan kata-katanya, sejenak ia mengambil nafas dalam lalu dikeluarkannya.
"Mas mau kamu menghapus semua tentang dia dihati ini, dan juga menghapus jejaknya disetiap tempat yang sering Mas datangi. Celo Adhisti Alterio, I love You." Celo tersentak akan ungkapan perasaan suaminya, bahkan nama belakangnya juga sudah berubah. Ia menangis sekarang, bukan lagi sedih melainkan bahagia. Penantian dan perjuangannya selama ini tidaklah sia-sia.
"Mas…." Celo memeluk erat Zach, air matanya terus saja mengalir bak air sungai.
"Terima kasih Mas.." Celo benar-benar sangat bahagia malam ini.
Malam itu ditemani cahaya terang rembulan, Zach melabuhkan cintanya pada Celo. Dan malam itu juga, ditempat yang sama dimana ia menyatakan cintanya pada Melodi disana jugalah ia menghapus rasa cintanya dan menggantinya dengan cinta yang baru, cinta yang begitu tulus.
Cinta pertama memang tak selalu akan menjadi cinta terakhir tempat kita melabuhkan nya. Bisa saja cinta pertama yang kita rasakan bukanlah cinta yang sesungguhnya. Sebisanya jangan terlalu mengharapkan cinta pertama, karena cinta sejati lah yang harusnya kita perjuangkan. __Areum Kang__
●●●●