
●●●●
"Tunggu dulu, dari mana kau tau kalau aku akan melakukannya atau tidak?" Eric sungguh tak habis pikir akan jalan pikiran Audrey.
"Itu, karena kau membuka baju mu. Apa lagi tujuanmu kalau bukan untuk melakukannya." Sekarang malah suara Audrey yang lebih keras dan sengit dibanding Eric.
"Astaga." Lagi, Eric harus kehilangan kata-katanya.
"Kenapa malah kau yang terkejut?" Sekarang beralih Audrey yang kesal.
"Nyonya Adinatama, dengarkan baik-baik ya. Untuk masalah buka baju, tentu saja untuk ganti baju. Kau mau aku semalaman tidur menggunakan kemeja press body ini? Lalu saat pagi hari kau menjadi janda muda heh!" Tutur Eric dengan senyum mengejek.
"Kenapa aku akan menjadi janda muda? Apa kau akan meninggalkan ku?" Sekarang ia lebih ketus lagi.
"Astaga, tentu saja aku mati karena baju ini begitu sesak Audrey!"
Karena meredam kesal, Eric berbicara dengan mengatupkan semua giginya.
"Ah…iya, iya, kau benar." Soraknya seperti baru mengingat suatu hal yang ia lupakan.
"Astaga…ternyata dia lebih bodoh dibanding Celo yang masih kecil." Gumam Eric pelan.
"Kau bicara apa honey?" Ia seperti mendengar Eric berbicara sesuatu atau mendesis.
"Tidak, tidak. Aku tidak bicara apa-apa." Jawabnya cepat, tak mau memperpanjang masalah.
"Oh…"
"Sudah. Sebaiknya kita tidur ini sudah sangat larut." Imbuh Eric pada istrinya.
"Mmm…"
"Bolehkan aku memeluk mu?" Eric takut ia akan menolaknya juga.
"Boleh, sini bayi besar mama." Seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"honey…" panggil Eric.
"Heumm.…" Audrey hanya bergumam pelan karena ia sudah sangat mengantuk, apalagi setelah ia menangis tadi matanya terasa sangat berat jadinya.
"Jika kau takut sekarang, kenapa saat pagi hari menjelang aku melamar mu kau sangat berani?" Ia sangsi kalau sebenarnya Audrey bukanlah takut, tapi tidak mau melayaninya.
"Itu….waktu itu aku sangat takut akan kehilangan mu, lagi pula aku belum mencari taunya saat itu." Ia berkata seraya menengadahkan kepalanya agar dapat menatap suaminya.
Eric yang balas menatap, sama sekali tak menemukan kebohongan disana.
"Maaf sayang, hampir saja aku meragukanmu." Batinnya.
"Ric, aku sangat mengantuk. Jangan bertanya lagi." Rengek nya dengan mata terpejam.
"Baiklah, tidurlah." Ia mengecup pelan kening istrinya.
••••
"Kapan kita akan menikah sayang? Aku juga mau jadi seorang istri, tidak hanya seorang ibu." Keluh Melodi.
"Tentu saja kita akan menikah, tapi tidak sekarang." Mr. X masih saja sibuk menatap kearah laptop nya.
"Lalu kapan? Menunggu anak ini di cap anak haram dulu!!" Saut Melodi keras.
"Bukan begitu. Lebih baik kita menikah setelah dia lahir, akan susah jika menikah sekarang mengingat kau harus sering berpindah dari negara satu ke negara lain." Sebisa mungkin ia memberi pengertian pada Melodi.
"Terserah! Semua kau yang memegang kendali, aku hanyalah boneka yang bisa kau perlakukan sesuka mu!!" Ucapnya menggebu-gebu.
"Ya. Dan kau pasti mengerti, sebagai boneka apa yang harus kalu lakukan. Duduk manis, tidak membantah dan melakukan semua ingin ku!" Mr. X tak kalah datar dan dingin dengan kata-katanya.
"Kau jahat! Aku membenci mu!" Melodi berucap marah.
"Kau yang jahat! Kau pikir aku mencintai mu? Heh, kau salah ink hanya demi orang-orang yang ku sayangi." Pria itu tersenyum miring melihat kepergian wanita itu.
"Teruslah berperilaku seperti j****g, agar semakin mudah aku mempermainkan mu Melodi." Sambungnya lagi.
••••
"Meski aku tidak mencintai mu, tapi tetap saja aku tidak mau dan tidak bisa pergi dari mu. Aku sangat membutuhkan mu melebihi bayi ini."
"Rasanya hidup ku ini sudah tak ada lagi gunanya. Apa karena aku sudah mempermainkan hati orang? Kenapa Tuhan sepertinya sangat tidak menyukai ku?" Ia menangis tanpa suara, takut jika di dengar oleh prianya dan menimbulkan masalah yang baru.
••••
Zach terbangun lebih dulu pagi ini, tak seperti biasa ia selalu mendapati sisi yang ditempati istrinya selalu saja kosong. Tangan besarnya memeluk lebih erat tubuh Celo, dari jarak yang sangat dekat ia meneliti wajah manis itu. Sungguh adil ciptaan Tuhan, ia tak mendapati sedikit cacat pun diwajah istrinya, mulus dan bersih. Pelan sekali, dibelinya wajah yang selalu membuatnya rindu.
Celo yang merasa sesuatu menyentuh wajahnya, dengan malas dia membuka mata, ia sungguh sangat mengantuk sekali setelah baru tidur dua jam yang lalu.
"Kau terbangun? Maafkan Mas sayang." Sesal Zach telah membuat istrinya terbangun, ia tau istrinya itu pasti sangat kelelahan sekali melayaninya.
"Ini pukul berapa Mas?" Tanya Celo dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Pukul setengah tujuh." Seru Zach enteng.
"Mmm…." Celo kembali memejamkan matanya. Baru beberapa detik mata indah nan mengantuk itu kembali dibuka paksa.
"Pukul setengah tujuh? Astaga." Segera ia beranjak untuk bangun tapi lengan kekar Zach menahannya.
"Mau kemana?" Zach masih saja memeluknya tanpa ada niat untuk melepaskan.
"Mass…lepas. Celo mau bangun, Celo harus ke dapur menyiapkan sarapan." Ia mulai merengek.
"Tidak usah. Kan ada Mami dan juga Bibi, sesekali biar mereka saja." Cegah suaminya itu.
"Tapi tidak enak, kalau jam segini Celo belum turun Mas."
"Mereka pasti mengerti, kita masih pengantin baru lagi pula kita baru bertemu setelah tiga minggu bukan." Segala alasan diungkapkan oleh Zach.
"Mass…lepas…" tak putus asa Celo kembali merengek.
"Baiklah, pergilah sana ke Mami dan lupakan soal anak." Merasa kesal Zach menekankan kata terakhirnya.
"Mas…baiklah. Celo tidak akan turun, tapi Celo mau mandi."
"Mandi? Oke. Ayo kita mandi." Semangat Zach seketika berkobar.
"kita?" Lansung saja Celo melotot kan matanya, kaget akan maksud dari perkataan suaminya.
Belum sempat menjawab terlebih membantah, Celo merasa tubuhnya yang hanya terbalut selimut terangkat dan melayang di udara. Benar saja ternyata Zach lah pelakunya, ia membopong tubuh istrinya ke kamar mandi.
"Mmass…lepass…" akhirnya suara Celo hilang tertelan dibalik daun pintu kamar mandi mereka.
Sementara di luar, Mami mengetuk pintu dan memanggil mereka dengan frustasi, hingga akhirnya beliau paham sendiri.
"Ahh…bagus lah kalau mereka sedang sibuk. Semakin sering malah lebih baik, jadi tidak sabar menunggu hadirnya bayi mungil di rumah besar ini." celetuk Mami sendiri dengan senyum bahagianya.
••••
Waktu mandi yang biasanya hanya dihabiskan selama tiga puluh menit saja, kali ini mereka memerlukan waktu yang lebih lama. Setelah dua jam Zach dan Celo habiskan di kamar mandi, akhirnya Zach membiarkan istrinya tertidur satu jam sebelum mereka berangkat.
"Celo, bangun." Zach mentoel-toel pipi istrinya.
"Eunghh…" mungkin karena terlalu lelah Celo hanya melenguh kecil saja saat di bangunkan.
"Celo bangunn… kita harus bersiap. Nanti terlambat." Seru Zach lagi membangunkan istrinya. Kali ini dengan mengusap wajah Celo lembut.
"Mmm…"
"Ayo bangun…atau Mas tinggal." Perlahan Celo bangun, mendudukkan tubuhnya lalu bersandar dikepala ranjang. Sangat jelas sekali kalau ia kelelahan.
"Kita mau kemana Mas?" Tanyanya dengan mata sayu.
"Kita akan Holland."
••••
Hai teman-teman….
Apa ada dari kalian yang punya gambaran tentang siapa Mr. X sebenarnya??