
●●●●
Pesta yang direncanakan secara mendadak terlaksana dengan sederhana namun tetap berkelas mengingat ini syukuran pernikahan putra satu-satunya di keluarga Alterio.
"Zach, Celo, cepat turun nak, teman-teman kalian sudah datang." Mami sedikit berteriak dari arah luar kamar.
"Ya Mi, sebentar lagi. Celo masih di kamar mandi." Zach hanya melongok kan kepalanya saja di pintu kamar.
"Jangan lama-lama. Ingat, jangan bermain dulu." Ingat Mami seraya meledek putranya mengingat kejadian tadi pagi.
"Mih…."
"Ya.. ya…" Mami memilih mengalah dari pada nanti Zach kesal padanya.
Zach kembali menutup pintu kamar dan kembali merapikan pakaiannya.
Ceklek
Zach menoleh sekilas, namun pada akhirnya niat untuk menoleh saja berubah menjadi tatapan intens dan tajam.
"Kenapa kau memilih baju itu? Kan sudah ku bilang jangan pilih baju sexy, ini malah memperlihatkan tubuh atasmu." Zach geram dengan pakaian yang kini tengah dikenakan oleh istrinya.
"Mmm…Mmaaf Mass, tapi ini bukan pilihan Celo. Celo juga heran kenapa bisa jadi yang ini?" Celo merasa bersalah dan menundukkan kepalanya karena takut akan suaminya.
"Apa mungkin bajunya tertukar?" Pikir Celo dalam hati.
"Mas marah? Celo minta maaf Mas, biar Celo ganti saja. Ini juga tidak nyaman." Ucapnya pelan namun masih cukup untuk didengar oleh Zach.
"Tidak apa-apa, tidak usah diganti. Tamu sudah pada datang kita tak punya banyak waktu lagi untuk memesan dan memilih gaun yang baru." Ucap Zach meminta maaf.
"Tapi Mas,-"
"Kau sangat cantik malam ini, karena itu aku tak ingin berbagi pada pria lain di luar sana." Zach meraih Celo dalam pelukannya mengecup mesra bahu terbuka istrinya karena gaun yang saat ini dikenakan istri kecilnya sejenis strapless dress.
"Mas, kita harus turun." Celo coba menghentikan suaminya yang mulai lepas kendali.
"Sebentar lagi." Zach masih saja mengendusi aroma tubuh istrinya.
"Mas…" Celo mulai merengek yang terdengar menggemaskan di telinga Zach.
"Baiklah, tapi tunggu sebentar." Zach menjauhkan diri dari tubuh istrinya ke arah lemari penyimpanan jam tangan mewah miliknya.
Zach mengambil sesuatu disana, lalu berjalan kembali kearah Celo.
"Mas, ini apa?" Celo merasa Zach sedang memasangkan sebuah kalung pada lehernya. Sebuah kalung berlian cantik, berbandulkan butiran salju dengan batu shapphire ditengahnya.
"Seorang wanita Zachery harus selalu tampil sempurna." Lagi, Zach mengecup lembut bahu putih istrinya.
"Ini sangat cantik. Terima kasih Mas." Zach tersenyum, disaat wanita lain akan bersorak girang kala diberi perhiasan mahal, Celo malah tak berhenti berucap terima kasih pada suaminya sendiri.
"Saatnya kita turun." Zach mengulurkan tangannya untuk di gandeng oleh istri kecilnya.
°°°°
Begitu turun, Celo begitu tercengang dibuatnya. Bagaimana tidak, syukuran yang hanya kecil-kecilan saja bisa sangat ramai, apalagi pesta besar.
"Zach, Celo." Audrey, menghampiri mereka pertama ia memeluk Zach kemudian memeluk Celo dengan sangat erat.
"Happy wedding my little Celo. Dan kau juga sangat cantik sayang." Audrey mengucapkannya dengan tulus.
"Terima kasih kak." Celo merasa terharu dengan pelukan yang diberikan Audrey.
Tak hanya Audrey, dibelakangnya tentu saja mengekor Eric dan juga Shane.
"Selamat bro…" peluk Shane sekilas pada Zach.
"Jangan memeluknya." Cegah Zach saat tau Shane sahabatnya yang nakal itu akan beralih memeluk istrinya.
"Wahh…pelit kau Zach." Shane merajuk layaknya anak kecil.
"Sudah sana." Zach sedikit mendorong tubuh Shane menjauh agar tak dapat menjangkau tubuh Celo.
"Thanks Zach." Kali ini giliran Eric, ia mengucapkan kata yang tak terduga sama sekali.
"Why?" Tanpa menjawab Eric mengarahkan dagunya ke Celo.
"Jangan Cemas Ric, aku akan menjaganya." Zach yakin akan janjinya itu.
Eric hanya tersenyum, ia juga yakin akan hal itu. Mereka menikmati pesta, dengan Zach menghampiri satu persatu kolega yang diundang Papinya namun tetap dengan Celo disisinya.
Cukup lama menemani suaminya Celo merasa bosan, ia tak terbiasa dengan keramaian seperti ini. Celo berjalan kearah sudut yang tak terlalu ramai tamunya.
"Kenapa heumm…?" Zach yang melihat istrinya sedari tadi terus menerus melihat ke arah pintu utama.
"Celo menunggu Bibi Mas." Nada suaranya terdengar sedikit sedih.
"Pasti sebentar lagi juga datang. Apa kau tidak senang sekarang?" Tanya Zach lagi.
"Maaf Mas, Celo masih berharap Ayah dan Nenek bisa hadir disini. Sekarang hanya Bibi yang Celo punya, beliau malah tak datang." Setetes cairan bening meluncur disela kelopak matanya.
"Terima kasih Mas." Celo memeluk tubuh tegap suaminya itu, tak menyiakan nya Zach juga balas memeluk istrinya.
°°°°
Semakin malam, pesta kecil-kecilan itu semakin ramai. Namun ada juga beberapa tamu yang undur diri lebih dahulu.
"Zach…"
"Paman." Sapa Zach balik pada Paman Anton.
"Paman sendirian?" Zach melihat beliau hanya sendiri saja.
"Paman bersama Elish, dia masih dibelakang mungkin menyapa kenalannya."
"Ah begitu."
"Ya. Selamat ya Zach, Celo. Semoga kalian utuh sampai Kakek Nenek seperti orang tua mu." Doa tulus Paman Anton ucapkan untuk mereka.
"Terima kasih banyak Paman." Zach tersenyum, begitu pula dengan Celo.
"Paman mau kesana dulu, rindu bertemu dengan Papimu."
"Ya Paman, Papi ada di dalam."
Sepeninggal Paman Anton, Zach dan Celo kembali berdua. Mereka membincangkan hal kecil dengan Zach yang sesekali menggoda istrinya.
"Mas, mau Celo ambilkan minum?" Tawar Celo pada suaminya.
"Boleh."
"Sebentar Mas." Celo beranjak menuju meja yang sudah tersedia berbagai jenis minuman bersoda. Usai mengambil dua gelas, Celo kembali menghampiri Suaminya.
Sekembalinya Celo, alangkah terkejutnya dia melihat pemandangan saat ini. Dimana suaminya tengah berpelukan dengan seorang wanita. Tak hanya itu, wanita itu juga nampak tak segan mengecup mesra pipi suaminya.
Deg
"Siapa wanita itu? Dia cantik sekali." Celo merasa sangat sedih sekaligus kecewa.
Bagaimana jika wanita itu adalah wanita yang batal menikah dengan Zach. Kemudian mereka akan kembali bersama dan meninggalkannya lagi. Segala pikiran buruk merayapi hati dan pikiran Celo.
"Sebaiknya Celo pergi saja." Dia memilih berbalik dan menghindari Zach.
"Celo, kau mau kemana?" Baru saja akan berbalik, terdengar suara Zach memanggil namanya.
"Mmau ambil minum Mm-mas." Jawabnya gugup.
"Bukannya yang kau bawa itu minuman?" Zach heran dengan kegugupan istrinya.
"It-ttu. Itu..Celo tidak suka rasanya. Ya. Tidak suka." Bohongnya.
"Kemarilah." Dengan perasaan takut Celo mendekat ke arah Zach.
"Kenalkan ini Elish, putri Paman Anton. Elish, ini Celo istriku." Zach memperkenalkan mereka berdua. Celo mengulurkan tangannya, tapi diacuhkan oleh Elish. Zach yang melihatnya mengambil alih tangan istrinya untuk digenggam.
"Elish, yang sopanlah pada istriku." Tegur Zach.
"Untuk apa sopan pada orang yang sudah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku." Ketusnya seraya menatap tajam pada Celo.
"Kenapa kau bicara seperti itu? Bukannya kau sendiri yang menolak perjodohan kita dulu." Zach mulai kesal dibuatnya.
"Itu karena kita masih terlalu muda waktu itu Zach." Tak terima disalahkan, Elish membela dirinya.
"Ya. Dan kau tau berapa usia istriku ini? Dia masih 18 tahun saat ini, saat dia mau menjadi istriku." Ketus Zach.
"Itu karena dia tau kau seorang pria sukses sekarang!" Elish sedikit meninggikan suaranya.
"Sudahlah, sebaiknya kau nikmati pesta ini atau keluar sekarang. Tak ku sangka kau bisa bicara buruk setelah tadinya kau berkata manis dihadapan ku." Zach mulai terpancing emosinya.
"Zach…" Elish memilih pergi dengan keadaan menangis.
"Mas…"
"Kau tidak apa-apa?" Kali ini Zach lebih mementingkan perasaan istri keciknya.
"Terima kasih."
"Tentu."
Disaat kita memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidup kita, maka kita harus siap menghadapi segala keadaan yang ada dan kemungkinan yang akan terjadi. Saling terbuka dan melindungi kepercayaan masing-masing adalah kunci bertahannya suatu hubungan, apapun itu jenis hubungannya. Terkadang, mata merasa apa yang dilihatnya adalah benar, tapi pada kenyataannya hati lah yang paling benar karena hati bisa merasakan.
●●●●
**Terima kasih banyak untuk yang sudah memberi dukungan untuk novel saya. Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Up nya novel ini. Tetap dukung novel saya ya teman-teman, sebisa saya tidak akan mengecewakan kalian.
💋💋💋💋💋**