
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Mau kemana Bry?" Tanya Shane melihat pria itu berdiri dari duduknya.
"Mau memastikan sesuatu." Sautnya dingin.
"Biar aku ikut bersama mu." Timpal Shane lagi.
"Bry, biar polisi yang mengurusi ini semua, sebaiknya kita tetap diam disini." Cegah Eric yang tau Bryan mau apa.
"Ini tidak semudah yang kau pikirkan Ric, orang ini berbahaya dia gila!!" Suaranya menyerupai bentakan.
"Lalu kau mau apa? Apa kau punya bukti Hah!!" Bentak Eric, ia tak mau Bryan terlibat masalah dan malah semakin mempersulit keadaan.
"Karena aku punya makanya aku berani Ric!" Tak mau dicegah lagi, ia segera mengangkat kakinya dari sana.
"Aku ikut, aku juga mau tau siapa orang jahat itu." Audrey berdiri dari duduknya.
"Tidak Dry, kau lebih aman disini, ada Zach, Eric juga Nate. Jangan sampai ada lagi Chris kedua." Ujarnya lirih tanpa menoleh kebelakang dan terus melanjutkan langkahnya.
"Kau yakin tidak akan melibatkan polisi?" Shane ragu dan tak yakin dengan langkah yang diambil Bryan.
"Tentu kita harus melibatkan polisi, sebelum itu kita bersihkan dulu mereka." Sorot mata tajam penuh dendam kentara sekali di matanya.
"Ya. Itu yang mau aku dengar." Shane tak kalah marahnya
Bryan melajukan mobilnya kembali ke rumah Zach, bagi mereka menemukan penjahat recehan seperti itu tidak lah sulit hanya saja untuk menyerahkan ke polisi harus ada bukti kuat.
^^^^
Meski masih dalam pemantauan, Chris sudah bisa dipindahkan ke ruang rawatan. Tak tanggung-tanggung Zach menempatkkan adiknya di kamar vvip dan juga menempatkan dua orang pengawal diluar.
Melihat pemandangan miris dihadapannya membuat nafas Zach tercekat, serasa dicekik. Infus yang memusuk kulit tangannya, selang oksigen di hidungnya belum lagi alat yang tersambung ke Pasien Monitor, semua menjelaskan keadaan Chris yang tidak baik-baik saja.
Dengan mata memerah khas orang habis menangis, digenggamnya tangan dingin adiknya. Air mata kembali tumpah tatkala Zach memerhatikan secara lekat wajah chubby Chris semenjak kehamilannya. Bibir itu tak lagi merona ditambah lebam dan sedikit lecet disudut bibirnya.
"Chris..maafkan kakak tidak bisa menepati janji. Lagi-lagi kau terluka tanpa bisa kakak cegah. Maaf, kakak selalu mengecewakan mu dan tidak pernah membuat mu bahagia. Hiks…" Zach menangis bukan karena cengeng atau tidak jantan, hanya saja siapa yang bisa menahan air mata jika salah satu orang paling berharga di hidupnya sedang berjuang untuk hidup.
"Bangunlah, ucapkan sumpah serapahmu pada kakak. Lawan kakak lagi Chris, ungkapkan semua ketidak sukaan mu." Ia menggenggam erat tangan adiknya yang bebas dari infus.
"Bangunlah sayang…" Zach menunduk meletakkan keningnya di tangan Chris yang ia genggam. Meski sudah tak lagi menangis, Zach bahunya masih naik turun karena terisak.
"Khakk…" pendengaran Zach menangkap suara lirih adiknya.
"Chris…" ia berdiri dari duduknya lebih mendekat dan memberi kecupan hangat di dahi wanita lemah itu.
"Apa yang sakit? Sebentar, kakak panggil Dokter dulu." Dengan gerakan kilat Zach berlari ke pintu meminta Dokter memeriksa adiknya. Sementara yang lainnya yang menunggu di luar sedikit lega saat tau Chris sudah sadar.
"Bagaimana Dokter?" Baru saja Dokter memeriksakannya, Zach sudah lebih dulu bertanya.
"Sejauh ini cukup bagus. Tapi saya sarankan jangan ungkit dulu kejadiannya pahit itu, buat pasien senyaman mungkin untuk sekarang." Terdengar helaan nafas lega.
"Saya permisi dulu Tuan, jika ada apa-apa jangan sungkan memanggil saya di ruang sebelah. Satu lagi, untuk masalah kandungan pasien sudah kami serah kan ke Dokter Nate."
"Ah baiklah, memang lebih baik begitu. Terima kasih Dokter."
"Sama-sama Tuan."
Karena perkembangan Chris cukup bagus, Zach bisa menitipkannya pada Audrey dan Bi Welma. Tak lupa ia menambah lagi pengawal yang berjaga dan mereka semua orang-orang terpilih. Ditambah lagi ada Nate yang akan selalu menjaga mereka karena dia Dokter dan memang bertugas di rumah sakit walau sebenarnya bukan disana rumah sakitnya.
^^^^
"Bagaimana penelusuran kalian?" Orang itu menghubungi seseorang melalui ponsel dengan rokok terpaut disela jari tengah dan telunjuknya.
"Maaf Bos, kami belum menemukannya." Saut suara diseberang sambungan.
"Bodoh!! Bagaimana bisa Hah!!" Teriaknya membentak.
"Memang harusnya begitu! Kalian pikir uang yang aku keluarkan untuk kalian itu sedikit Hah!!" Ucapnya tajam.
"Baik Bo-"
Tutt tut
"Arghhh, dasar anak buah bodoh. Semuanya tidak ada yang becus." Ia membanting botol minuman yang ada di depannya.
"Hei..heii…itu mahal harganya." Seorang pria paruh baya menginterupsi emosinya.
"Lalu apa? Bukankah aku sudah membayar segalanya sampai kau puas dengan tu**h ku. Kau pikir berapa harga diri ku ini heumm??" Dengan gerakan sensual ia mendekati pria tua bertubuh tambun itu.
"Kenapa kau masih mempertahankan anak kita? Dia membuat kita tidak leluasa sayang." Gerakan menggoda itu disambut baik oleh si pak tua, tak lupa tangan yang mulai keriput itu menjalar kemana-mana.
"Woou…tidak ada da***an? Aku suka itu. Berapa pun yang kau inginkan akan ku berikan asal setiap bertemu kau seperti ini sayang." Selanjutnya kegiatan kotor itu berlangsung.
"Jika bukan karena uang, jijik sekali rasanya harus melayani pria tua maniak ini. Anak ini bukan anak mu pria tua, anak ini milik Shane." Pekik Melodi dalam hati. Ya, wanita ja**ng yang sedang melayani pria tua itu ialah Melodi.
Sampai saat ini ia masih belum tau bahwa Shane sebenarnya mengetahui segalanya. Meski licik, tapi gerakannya mudah terbaca oleh lawan.
^^^^
Malam ini Zach mengambil alih menjaga adiknya sendirian. Audrey dan Bi Welma juga butuh istirahat, terlebih Audrey si wanita hamil yang keras kepala dan berbuat semaunya untuk mengusik Eric.
"Celo…Celo…jang-anh…" Zach melihat Chris mimpi buruk, keringat dingin membasahi dahinya juga tangannya menggenggam erat selimut.
"Chris…hei, sadarlah. Kakak disini, bangunlah." Ia mengguncang pelan tubuh bergetar adiknya.
"Kau bisa bangun?" Tanyanya.
"Ssakith kkak.." keluhnya dengan suara berat.
"Tiduran saja." Ia mengusap sayang kepala Chris agar kembali terlelap.
"Kkak, Cce-lo ddalam bahaya Kkak." Ujarnya pelan terdengar lirih.
"Jangan khawatir, itu hanya mimpi buruk. Celo pasti baik-baik saja disana, sekarang tidurlah." Zach tidak mau Chris khawatir dan malah memperburuk keadaan mentalnya.
"Tapi wanita itu bilang dia juga akan menghabisi Celo kak." Chris sedikit mengeraskan suaranya agar lebih jelas.
"Jangan dipaksakan. Sampai kapan pun, kakak tidak akan membiarkan kalian dalam bahaya lagi. Percayalah." Ia merengkuh Chris dalam pelukan.
"…." Tidak kuat lagi bicara, Chris hanya bisa mengangguk.
Cukup lama terdiam dan Chris juga sudah mulai tenang. Sampai sesuatu mengganggu pikirannya.
"Kak, bayi Chris kemana? Siapa yang membawanya?" Ia tersadar bahwa sudah tidak ada kehidupan lagi dirahimnya.
"Maafkan kakak, dia, dia..sudah pergi ke surga." Zach menatap iba adiknya.
"Kenapa? Apa karena dia tidak punya ayah? Atau karena Chris orang jahat?" Dia bertanya lirih.
"Tidak Chris, semua sudah digariskan oleh Tuhan, dia ingin kau bahagia dan melanjutkan kebahagiaan mu." Zach mengusap wajah Chris, menghapus air matanya.
"Benar begitu kak?"
"Ya…"
"Chris mau pulang kak. Apa Mami Papi masih mau menerima Chris yang seperti sekarang?"
"Tentu. Tanpa kita sadari mereka selalu mencemaskan kita disaat kita jauh." Ya, Zach tau dan sekarang ia paham akan apa yang dirasakan kedua orang tuanya.
Dibalik ketegaran Chris, dalam hati ia menyimpan banyak penyesalan. Ia berjanji pada diri sendiri untuk menjadi lebih baik lagi.
▪︎▪︎▪︎▪︎