Your Wife Is Not Your Wife

Your Wife Is Not Your Wife
Cinta yang tak akan pernah tergantikan



▪︎▪︎▪︎▪︎


Zach bergegas ke teras belakang dimana adiknya berada. Biar bagaimana pun dia tetap mengkhawatirkan keadaanya. Setibanya di teras Zach melihat Chris bersama seorang wanita.


"Chris…" panggilnya. Tapi yang berdiri bukanlah Chris melainkan seseorang yang sangat ingin di lupakannya.


"Hai Zach…" sapa Melodi. Ialah yang nerdiri dan bukannya Chris.


"Melodi?" Saut Zach dengan suara parau, memang benar ia sudah mencintai Celo, tapi untuk melupakan Melodi meski sudah


Ia lakukan tetap saja sisa cinta itu masih ada sedikit.


"Kenapa kau bisa ada disini?" Perlahan Zach berjalan mendekat, kesempatan itu disambut baik oleh wanita itu dengan memeluk Zach erat.


"Aku sangat merindukan mu Zach." Pria itu pun membalas pelukan wanita yang pernah dicintainya itu.


"Bagaimana kabar mu?" Tanya nya masih dalam posisi saling berpelukan.


"Seperti yang terlihat, perut ku semakin membesar tanpa adanya seseorang yang menjaga ku." Imbuhnya agar Zach merasa iba dan ia akan memanfaatkannya.


"…." Zach melepas pelukan mereka, dengan gerakan pelan Ia meraih wajah Melodi mengusapnya lembut.


^^^


Semua pemandangan ironi itu tak luput dari tangkapan mata Celo yang berdiri tak jauh dari sana. Niatnya mau mencari suaminya, tapi perasaan sesaklah yang diterimanya.


Perlahan ia mundur, memberi ruang untuk Zach berbicara dengan Melodi. Ia percaya pada suaminya karena perjalanan mereka selama ini bertahan karena rasa saling percaya selain rasa cinta mereka.


Celo mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Meski otaknya terus memberi instruksi bahwa semua akan baik-baik saja, tapi tidak dengan hatinya. Istri mana yang tak akan resah jika suaminya bertemu dengan wanita yang pernah sangat dicintainya dan mereka nyaris saja akan menikah.


Ceklek


Sebisa mungkin Celo mengubah raut sedihnya saat tau yang masuk ke kamar mereka ialah Zach.


"Sayang, kenapa masih disini? Ayo turun makan malam." Zach duduk berjongkok dihadapan Celo.


"Ya Mas." Celo hanya mampu menjawab singkat.


"Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Zach heran akan kelakuan Celo yang tak seperti biasanya.


"Tidak ada Mas. Celo merasa kurang enak badan saja." Mendengar penuturan istrinya, Zach mengangkat tangan bermaksud menyentuh dahi istrinya.


"Tidak panas?"


"Celo cuma tidak enak badan Mas. Bukan demam." Ia menepis pelan tangan suaminya itu


"Baiklah. Ayo kita makan, lalu minum obat." Ia mengulurkan tangannya untuk diraih wanita yang dicintainya itu.


"….." Celo menyambut baik uluran itu.


^^^


"Oh ya Celo, kenal kan ini teman ku namanya Melodi." Entah apa yang mereka rencanakan, yang jelas saat ini Chris tengah bermain peran.


"Celo." Celo mengulurkan tangannya agar di jabat oleh Melodi.


"Melodi."


Zach yang duduk tak jauh dari Celo memperhatikan gerak gerik istrinya itu. Ia bingung harus bagaiman menceritakan siapa Melodi pada istrinya itu.


Mereka makan malam dengan banyak diam, hanya sesekali saja terdengar suara Chris berbincang dengan Melodi. Rasanya Celo sedang berada di ruangan asing diantara mereka.


"Sayang, ayo kita ke kamar. Kau harus minum obat dan istirahat." Selesai makan malam, Zach merangkul mesra pinggang istrinya untuk di tuntun ke kamar mereka.


"Shit! Beraninya Zach bersikap mesra seperti di depan ku, apa dia benar-benar sudah tidak mencintai ku lagi?" Umpat Melodi dalam hati.


^^^


Didalam kamar usai memberi obat pada istrinya yang kini sudah tertidur. Zach meraih laptopnya, ia duduk berselonjor di ranjang seraya mengecek beberapa pekerjaan. Tak butuh waktu lama Zach juga ikut bergabung bersama Celo ke alam mimpi, tak lupa ia memeluk erat istrinya setiap mereka tidur.


Di tengah malam Celo terbangun, di lihatnya tangan Zach melingkar erat di perutnya. Senyum mengembang di wajahnya yang sedikit pucat itu.


Sayang, senyumnya seketika urung mana kala ia teringat semua perkataan Melodi dan juga perlakuan hangat Zach pada wanita itu.


Air mata mengalir begitu saja, air mata yang dengan susah payah di bendungnya akhirnya tumpah jua.


"Mas…apa arti Celo untuk Mas? Apa benar Celo hanya pengganti semata?" Lirih wanita itu dalan hati.


^^^


"…." Zach meraba sisi kosong ranjang yang diisi oleh istrinya. Niatnya ingin mempererat pelukan mereka, Zach malah mendapati Celo tak ada di sana.


Ia lantas bangun untuk mencari kemana istrinya itu, tujuan pertama Zach adalah kamar mandi tapi kosong tak ada Celo di dalam sana.


Saat akan ke luar tatapan Zach terarah ke sofa dan disana lah istri kecilnya. Dengan langkah pelan ia mendekat ke sana dan berjongkok didepan Celo yang saat ini tertidur.


"Kenapa kau tidur disini?" Pertanyaan yang pastinya tidak akan di jawab oleh seorang yang sedang tidur. Pelan-pelan Zach meraih Celo dalam gendongannya.


"Mass…" terdengar suara parau Celo yang terbangun karena terganggu pasti.


"Kau terbangun ya? Maafin Mas ya sayang." Wanita itu hanya tersenyum. Zach mendudukkan istrinya di atas ranjang lalu ikut bergabung disana.


"Kenapa bisa tidur disana? Apa yang mengganggu mu?" Zach cukup peka dengan perubahan prilaku Celo.


"Tidak ttau, mmungkin Celo mimpi berjalan. Ya , mimpi berjalan."


Bohongnya dengan tidak masuk akal.


"Jangan berbohong dengan alasan yang tak masuk akal Celo." Tukas Zach.


"Mm…Celo hanya rindu semuanya." Kesedihan jelas terpancar di sorot matanya, tapi bukan kerinduan.


"Jujur pada Mas, apa yang kau pendam itu?"


"Tidak ada Mas. Celo sedang merin-"


Grep


Zach mencengkeram kedua lengan istrinya, ia harus tau apa yang sedang terjadi.


"Tidak ada kejujuran di mata mu." Cetus Zach menatap dalam bola mata indah milik Celo.


"Maaf jika Mas menyakiti mu." Melihat Celo menangis Zach jadi merasa bersalah, ia melepas cengkeraman tangannya. Zach juga beranjak merebahkan tubuhnya hendak melanjutkan tidur, pria itu juga membelakangi posisi Celo saat ini. Bukannya marah, tapi Zach tidak mau memaksa istrinya untuk berbicara jujur.


Celo semakin sedih melihat reaksi Zach, air matanya kembali tumpah. Kesalah pahaman jika tidak di luruskan segera akan menjadi masalah, terlebih lagi jika kesalah pahaman dalam keluarga.


"Kenapa Mas?" Zach yang sudah memejamkan matanya, urung melanjutkannya, namun tetap di posisi yang sama.


"Kenapa Mas, tidak memberi tau Celo kalau Nona melodi itu wanita yang Mas cintai? Sebenarnya apa arti Celo bagi Mas? Apa Celo akan tetap menjadi pengganti?" Ia menguatkan diri untuk menanyakan segalanya, Celo juga butuh kepastian.


"Hikss…." Zach masih tetap di posisinya, ia bingung harus menjelaskan bagaimana.


"Mass…aap-pa ini akhir rr-umah tangga kita?" Kalimat tabu itu terucap begitu saja di bibir mungil Celo.


Deg


Tak mau istrinya terus bicara tak masuk akal, Zach bangun dari tidur nya matanya terlihat penuh kabut amarah.


"STOP Celo! Stop!!" Emosi Zach benar-benar sudah di ubun-ubun sekarang, ia kecewa karena istrinya sendiri meragukan cintanya.


"Hikss…." Reaksi yang di tunjukkan Celo menyadarkan Zach bahwa istri kecilnya trauma akan tindak kekerasan.


"Sayang…hei..maaf, maafkan Mas. Mas hilang kendali barusan." Di dekapnya tubuh mungil yang kini bergetar hebat itu.


"Hikss…hiks.."


"Hushh…hush…maafkan Mas. Maaf." Berulang kali kata maaf terlontar dari bibir Zach.


Di rasa Celo sudah tenang di pelukannya, barulah ia mengutarakan alasannya.


"Kau mau tau kenapa Mas tidak mau memberi tau mu siapa dia? Karena itu tidak penting, dia cuma masa lalu. Masa lalu yang tidak akan pernah menjadi masa depan." Celo tersentak mendengar penjelasan suaminya.


"Kau tau, Mas sangat kecewa pada mu." Imbuhnya pelan.


"Kau tau kenapa?" Celo pun cuma menggeleng pelan.


"Karena kau meragukan pernikahan kita. Apa kau tidak bisa merasakan seberapa besarnya cinta Mas terhadap mu? Cinta yang tak akan pernah tergantikan sampai kapan pun." Zach mengusap lembut wajah Celo, mengusap air mata yang bak sungai mengalir disana.


"Maafkan Celo Mas, karena ketakutan Celo hampir saja merusak rumah tangga kita." Ucapan itu penuh dengan penyesalan.


"Jangan pernah lakukan lagi, ingat kita suami istri sekarang. Setiap masalah, itu berarti masalah kita berdua. Mengerti?" Celo menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


▪︎▪︎▪︎▪︎