
▪︎▪︎▪︎
"Bry, maafkanlah kekhilafan Paman. Beliau memang salah, namun kita juga tidak bisa menghakiminya sebab itulah naluri seorang Ayah." Sesyil menggenggam lembut jemari suaminya.
"Tap,-"
"Sstt... cukup lihat kebelakang, ingat segala jasa dan kebaikan yang beliau tanam kedalam diri mu. Jangan memandang buruknya seseorang, karena dasarnya orang baik akan tetap menjadi orang baik meski mereka juga tidak luput dari kesalahan." Bryan mencerna setiap kalimat yang mengalir dari bibir indah sang istri.
"Baiklah, aku akan memaafkan mereka. Lagi pula kasihan anaknya, bayi dalam kandungan itu tidak bersalah. Shane akan sangat murka jika sesuatu terjadi pada anak mereka." Sorot mata Bryan menatap lurus jauh kedepan tepat ke pintu ruang rawat Chris.
***
Usai penanganan yang membutuhkan waktu cukup lama itu, Chris akhirnya siuman dari tidak sadarkan dirinya. Matanya mengerjap pelan, kemudian terbuka secara perlahan. Kedua iris mata tajam itu, menyesuaikan cahaya yang masuk setelah kemudian menyesiri keadaan sekitar guna memastikan dimana keberadaannya.
"Ughh…dimana aku?" Chris mendudukkan tubuhnya, kemudian beringsut kebelakang bermaksud agar bisa bersandar. Melakukan gerakan sekecil itu saja, membuat wanita yang sudah dua kali mengandung itu kehabisan tenaga. Tampak dari peluh yang membasahi pelipisnya juga nafasnya yang naik turun.
Chris masih belum menyadari bagaimana keadaan kandungannya. ia masih menyeimbangkan kesadarannya hingga bisa kembali berpikir.
ceklek
Pintu terbuka, menampilkan sosok Zach dengan raut wajah yang sulit di gambarkan. Ketika memasuki ruangan rawat adik semata wayangnya itu, sorot mata Zach tidak lepas sedikit pun dari Chris. "Kakak, kenapa kakak menatap ku seperti itu?" seluas senyum terbit di wajah pucat Chris, ia masih belum menyadari keadaan dirinya.
"Tidak. Tidak apa-apa, Kakak hanya teringat Celo di rumah." bohong Zach, ia masih belum bisa memberitahukan hal yang sebenarnya telah terjadi.
"Benarkah?" Chris menyipitkan kedua matanya, seperti orang yang menggoda orang lain ketika mereka berbohong.
"Tentu saja benar. Eum..itu, bagaimana keadaan mu? Apa yang kau rasakan saat ini?" Zach semakin mendekat, ia mengambil posisi duduk di tepi ranjang rawat sang adik tercinta. Kedua belah tangannya menggenggam erat jari jemari Chris.
Deg
Sontak saja, tatapan Chris menunduk, melihat ke arah perutnya. Dan seketika itu juga kepanikan melanda hati juga pikiran Chris. Segala anggapan dan pikiran buruk berputar di benaknya.
"Anak ku! Anak ku di mana Kak? Dia baik-baik saja bukan?" Tanpa menoleh sedikit pun pada sang Kakak, Chris meraba-raba perutnya yang kini sudah tidak membuncit lagi itu. Pun air mata tiada henti mengalir membasahi wajahnya.
"Ishh…" ringisan kecil terdengar dari bibirnya, manakala Chris terus saja meraba-raba perutnya, yang menyebabkan ia tanpa sengaja menyentuh bekas operasi caesarnya yang baru beberapa jam ini ia jalani.
"Kau kenapa Chris? Mana yang sakit? Katakan pada Kakak." Tanya Zach gusar. Ia berdiri dari duduknya kemudian meraih kedua tangan Chris untuk menghentikan adiknya itu terus meraba perutnya.
"Kak…di mana anak ku? Kenapa mereka mengeluarkannya tanpa izin dari ku? Bahkan anak ku belum cukup bulan untuk datang ke dunia ini. Hiks…hikss.." Chris berhenti meronta namun tidak dengan air matanya, cairan bening itu masih saja setia mengaliri wajahnya yang kini tampak pucat pasi.
"…." ingin Zach berkata dan memberitahukan kebenarannya pada sang adik, namun melihat keadaan Chris yang demikian Zach mengurungkannya. Setidaknya sampai adik semata wayangnya itu tenang dan bisa menerima semua hal dengan ikhlas dan lapang dada.
***
Malam menjelang, Zach terus saja mondar mandir di depan kamar sang adik, Chris. Pria yang berstatus ayah 3 orang putra itu, tengah berpikir keras untuk merangkai kata guna menyampaikan kabar buruk yang di alami adiknya itu.
Sementara itu, tidak jauh dari tempatnya berdiri, Zach melihat kepanikan beberapa orang dokter yang berlarian ke ruangan tidak jauh dari kamar Chris. Sepengetahuannya, itu adalah kamar seorang Ibu yang juga barus saja melahirkan beberapa saat setelah Chris, perlahan namun pasti Zach mendekat ke ruangan itu.
"Permisi Tuan, maaf sebelumnya, Apa Tuan yang bernama Tuan Zachery? Jika benar Nyonya yang berada di dalam ruangan ini, meminta untuk di pertemukan dengan anda." Larut dalam bayangannya sendiri, Zach dikejutkan oleh tepukan yang di ikuti suara seorang perawat.
"Kenapa?" Tanya Zach yang tidak mengerti sama sekali.
"Maaf Tuan, Nyonya di dalam memohon untuk di pertemukan dengan anda. Sebaiknya anda cepat, karena sepertinya pasien tidak memiliki banyak waktu lagi." Perawat itu terkesan mendesak Zach untuk segera menemui wanita yang tengah berjuang di dalam sana.
Menuruti naluri kemanusiaannya, Zach melangkah pelan mengikuti perawat itu untuk masuk dalam ruangan. Zach berdiri tepat di samping wanita itu yang kini sudah semakin melemah kondisinya. Dokter dan perawat yang tadi ramai di sana, mereka beranjak keluar untuk memberi mereka ruang privasi.
"Ada apa Anda meminta untuk bertemu saya? Apa kita saling mengenal sebelumnya?" Tutur Zach lirih, ia masih terbawa suasana membayangkan jika wanita ini adalah salah satu dari orang yang pria itu cintai.
Melalui gerakan isyarat, wanita itu meminta Zach sedikit lebih mendekat ke arahnya, kemudian ia membisikkan sesuatu. Entah apa yang di katakan wanita itu, sampai Zach melihat shock dan terkejut.
"Berjanjilah Tuan." Itulah kalimat singkat yang terakhir terucap dari bibir pucat wanita itu yang kemudia diikuti suara denting yang panjang menandakan pasien menyerah dengan keadaannya.
***
Masih dengan Zach, pria gagah itu melangkah gontai ke kamar sang adik. Tatapan matanya kosong, seusai bertemu dan berbicara dengan pasien wanita tadi.
"Kak…Kakak kenapa? Aku perhatikan sedari masuk tadi, Kakak hanya diam dan menatap kosong sembarang arah. Apa terjadi masalah?" Tanya Chris yang tak kalah cemasnya.
"Tidak. Kakak tidak apa-apa, hanya terpikir beberapa pekerjaan di kantor saja." Elak Zach yang tidak mau memberitahu Chris apa yang baru saja ia ketahui.
"Kak…dimana anak ku? Kenapa sampai sekarang belum seorang pun perawat mengantarnya kemari?" Tanya Chris, yang air mata sudah kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Maafkan Kakak Chris. Kakak harap kau siapa dengan segala yang Kakak sampaikan ini. Anak mu, lahir terlalu cepat sehingga dia mengalami shock,-" belum selesai Zach dengan kalimatnya, Chris sudah lebih dulu histeris dan berpikir yang tidak-tidak.
"Tidak kak. Itu tidak mungkin, anak kami pasti baik-baik saja. Dia kuat, sama seperti Ayahnya!" Bentak Chris yang mulai histeris.
"Chris, tenang dulu. Anak mu, dia,-" lagi, kalimat Zach di potong begitu saja oleh Chris.
"Kenapa Kak? Apa kesalahan ku di masa lalu itu tidak layak untuk mendapat pengampunan? Kenapa Tuhan mengambil semuanya? Dulu Kak Shane dan sekarang anak kami. Apa aku tak pantas bahagia? Apa aku tidak berhak meski hanya memiliki kenangan dari Kak Shane, orang yang begitu aku cintai?" Penuh derai air mata, Chris mengungkapkan segala isi hatinya
Sebagai seorang Kakak, Zach hancur melihat keadaan adiknya yang sekarang ini. Tidak hanya hancur, pria yang selalu bersikap tegas itu merasa sudah gagal sebagai seorang yang mana ia tidak bisa menjaga dan membahagiakan adik satu-satunya itu.
"Chris, tenanglah dulu. Dengarkan apa yang akan Kakak sampaikan ini. Anak mu, anak kalian, dia bertahan dan masih bersama kita di sini. Hanya saja karena dia terlahir lebih cepat dari waktunya, jadi butuh sedikit waktu dan perawatan maksimal." Zach berkata lembut sembari memeluk dan mengusap pelan surai sang adik.
Mendengar penuturan dari Zach, Chris seolah habis mendapat keajaiban. Ia mengangkat kepalanya kemudian melepas rangkulan sang Kakak.
"Benarkah? Kakak tidak sedang membohongi ku bukan? Kakak tidak sedang menghibur ku bukan?" Kalimat pertanyaan Chris mengisyaratkan bahwa semua perkataan Zach hanyalah sebuah bualan semata.
"Tentu saja tidak. Kau pikir bagaimana Kakak bisa setenang ini, jika keponakan Kakak sudah tiada? Jadi sekarang tenanglah, pulihkan dirimu dengan begitu anak kalian juga bisa pulih dengan cepat. Secepat mungkin kita kembali dan menunjukkan anggota keluarga baru kita pada seluruh dunia." Zach meyakinkan Chris, padahal kenyataannya berbanding terbalik.
▪︎▪︎▪︎