
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Ada apa Dokter? Bagaimana kondisi anak dan istri saya?" Zach sudah seperti orang kebakaran jenggot.
"Tidak apa-apa Tuan, hanya saja ternyata si Baby kembar." Terang Dokter yang tadi sempat membuat mereka deg deg an.
"Kembar? Bayi kami kembar Dokter?" Seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Dokter barusan.
"Ya Tuan. Nyonya mengalami yang namanya Hidden Twin, kondisi di mana salah satu janin bersembunyi sehingga tidak terlihat dalam pemeriksaan USG. Beruntung kita cepat menangkap si baby yang sedang bermain petak umpet dengan kita." Dokter juga tersenyum bahagia dengan penemuannya barusan.
"Kau dengar itu sayang, anak kita kembar." Pekik Zach riang.
"Ya Mas." Balas Celo tak kalah senangnya.
"Tapi Dokter, apa memungkinkan untuk menantu saya hamil bayi kembar?" Bukannya beliau tidak suka, hanya saja Mami mencemaskan keadaan menantunya yang masih terlalu muda.
"Mi, apa maksud pertanyaan Mami barusan?" Zach yang tidak terima dibuat kesal.
"Bukan apa-apa, Mami hanya mencemaskan Celo. Ka-" bermaksud memberikan pembelaan, kata-kata Mami terpotong oleh Dokter.
"Maaf, Tuan, Nyonya, bagaimana kondisinya nanti itu semua tergantung pada si Ibu. Jika si Ibu kuat, semua akan baik-baik saja. Sejauh pengamatan saya hingga sejauh ini, saya lihat Nyonya baik-baik saja buktinya beliau tidak mengeluhkan kram, nyeri dan lain sebagainya." Dokter memuji ketangguhan Celi yang tidak pernah mengeluh seperti kebanyakan ibu muda pada umumnya.
"Ah syukurlah." Terdengar helaan nafas lega dari semuanya.
Ketika hendak keluar karena pemeriksaan Celo sudah selesai, seperti yang dilakukan Mami pada perawat lalu. Beliau juga memberikan sesuatu sebagai rasa terima kasihnya pada Dokter yang selalu memeriksakan Celo.
"Dokter, mohon terima ini sebagai rasa terima kasih saya. Datanglah dan tunjukkan kartu ini." Ujar beliau dengan bahasa halus agar tidak menyinggung Dokter itu.
"Tapi Nyon-"
"Ini tidak ada maksud apa-apa, hanya sebagai ungkapan syukur saya saja makanya saya ingin berbagi." Imbuh Mami tulus.
"Baiklah Nyonya, terima kasih banyak." Saut Dokter tersebut penuh terima kasih juga takjub.
^^^^
Dua bulan kemudian
"Huft huftt arghh…." Pekik seorang wanita menggema disebuah ruang bersalin.
"Terus Nyonya, sedikit lagi." Ujar seorang Dokter yang sedang menangani seorang wanita melahirkan.
"Hosh hoshh…arghh.." lagi wanita itu menghela nafas lalu membuangnya, tak lupa jerit pesakitan
"Sedikit lagi Nyonya, ayo..lebih kuat." Semangat Dokter juga beberapa orang perawat.
"Arrghhh…." Teriakan terakhir menandakan perjuangan terakhir dari seorang Ibu yang melahirkan anaknyam
"Owa owaa…owa…" teriakan bersambut dengan datangnya seorang bayi perempuan cantik kedunia ini.
"Selamat datang didunia ini cantik." Seru Dokter tersebut seraya memangku bayi mungil nan sangat cantik itu.
"Selamat Nyonya bayi anda perempuan dan sangat cantik." Sekilas Perawat yang tadi diserahkan bayi oleh Dokter melihatkan anak itu ke arah ibunya. Wanita itu tak ada respon sama sekali terhadap anaknya bahkan menoleh saja tidak.
"Apa anda sudah mempunyai nama Nyonya untuk anak cantik ini?" Tanya perawat itu lagi, sementara Dokter masih menyelesaikan tugasnya terhadap pasien.
"Tidak. Dan tidak akan pernah sudi menamai anak ha**m itu! Terserah mau kalian apakan?" Marahnya. Sontak saja hal itu membuat siapa saja yang ada disana terkejut juga geram.
"Sejauh perjuangan anda ini, saya tidak menyangka anda menyia-nyiakan begitu saja putri anda Nyonya." Dokter menghentikan sejenak pekerjaannya, dan coba menyadarkan wanita itu.
"Perjuangan? Tau apa kalian? Asal kalian tau saja, sudah dari dulu saya menginginkan bayi s**l ini lenyap, tapi tidak pernah bisa!" Teriaknya frustasi.
"Itu keran Tuhan mau anda merawatnya Nyonya. Dia darah daging anda, terlepas dari anda menginginkannya atau tidak! Sudah selesai, sebaiknya anda beristirahat sejenak." Tukas Dokter tersebut menekan emosinya.
"…." Wanita itu terdiam.
"Melodi, nama anda sangat indah Nyonya tapi sayang anda mengabaikan artinya. Pengertian, tapi anda mengabaikan putri anda yang sama sekali tidak bersalah." Sesaat akan pergi Dokter tersebut menyentak Melodi dengan kata-kata yang menusuk hati siapa saja. Ya, wanita yang berjuang melahirkan bayi perempuan itu tak lain dan tak bukan ialah Melodi.
^^^^
"Sayang, maaf ya Mas lagi-lagi tidak bisa menemani mu dan anak kita bulan ini." Sesal Zach. Meski tidak bisa menemani secara lansung, Zach selalu melakukan sambungan video saat pemeriksaan berlansung.
"Tidak apa-apa Mas, yang penting Mas doakan saja Celo dan anak kita sehat-sehat selalu." Pinta Celo dengan senyum. Beruntung selama kehamilan Celo tidak banyak bertingkah meminta ini dan itu. Ia cukup normal untuk masalah mengidam. Meski terkadang tak sanggup membendung rindu, tapi wanita itu cukup puas hanya dengan sambungan video.
"Pasti sayang." Usai mengikuti serangkaian pemeriksaan Zach dan Celo mengakhiri sambungan mereka karena suaminya harus bekerja selain itu ia juga akan kembali ke rumah bersama Mami.
"Sayang, sebelum pulang kita mampir ke mall dulu ya nak." Ajak Mami.
"Mami mau beli sesuatu?" Celo bertanya balik.
"Bukan Mami, tapi cucu Mami. Kita sudah harus mulai menyicil keperluan mereka sayang." Imbuh Mami.
"Tapi, Celo dengar dari orang-orang katanya belum boleh belanja-belanja sekarang." Ujar Celo karena mendengar beberapa pembicaraan ibu-ibu saat di rumah sakit.
"Mana ada sayang. Mami aja waktu Zach lahir belanjanya bahkan sebelum Mami hamil." Ucap Mami semangat.
"Mami ada-ada saja." Timpal Celo bercanda.
Menuruti kemauan mertuanya, disinilah Celo berada di salah satu mall terbesar.
"Oh ya sayang, kira-kira cucu-cucu Mami laki-laki atau perempuan ya?" Tanya Mami penasaran.
"Celo juga tidak tau Mi."
"Bulan depan saja kita cari taunya. Sekarang kita beli yang warna netral dulu saja." Dengan penuh semangat Mami mulai menggandeng Celo ke beberpa Baby shop.
Drtt drt
"Y Mas." Sapa Celo begitu ia menerima panggilan dari suami tercintanya.
"Sudah sampai di rumah sayang?" Tanya Zach menanggapi sahutan wanitanya.
"Belum Mas, Celo sama Mami mampir ke mall dulu. Kata Mami mau nyicil kebutuhan si kembar." Jelas Celo.
"Ah. Hati-hati, jangan terlalu kelelahan." Ingat suaminya.
"Ya Mas." Sambungan singkat itu berakhir begitu saja.
^^^^
"Terpaksa aku harus memberi mu nama, Auryn." Ucap Melodi acuh namun tersirat kasih sayang disana.
"Nama yang cantik Nyonya." Timpal seorang perawat yang membantu membedong putrinya.
"Auryn Canary Achazia. Bagaimana?" Ucapnya memperhatikan secara dalam putri yang sudah dilahirkannya itu.
"Sangat cantik, sesuai dengan wajahnya. Tapi kenapa nama belakangnya serupa dengan nama anda Nyonya?" Hati-hati perawat itu bertanya.
"Karena dia putri saya dan dia tidak butuh menyandang nama orang lain. Kau tidak butuh siapa pun untuk menjadi ayah mu nak, maafkan Mama." Aneh rasanya mendengar Melodi berkata demikian, apalagi ia menitikkan air matanya.
"Anda wanita hebat Nyonya, kelak anak anda pasti akan kuat seperti anda." Melihat kepiluan Melodi perawat itu ikut terharu.
Sejahat apapun seorang wanita dia tidak akan pernah menyiapkan darah dagingnya sendiri. Lain halnya wanita yang baik, karena tak selalu mereka baik sebab hati seseorang tiada yang tahu.
▪︎▪︎▪︎▪︎
Buat mengisi Lebaran dirumah, kita buka MangToon/ NovelToon yuk
Mana tau Komik/ Novel favorite nya ada yang Up
Jangan lupa beri dukungannya
Tekan LIKE & tinggalkan COMMENT
VOTE juga untuk memberi author semangat
TERIMA KASIH